Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Tidak ada pilihan lain


__ADS_3

"Bos!, target sudah keluar dari penginapan, dan sepertinya sedang menuju ke terminal KD. Mungkin mereka akan menyeberang ke pulau S, dan kembali ke tempat lama dulu." Lapor salah seorang penguntit rombongan nenek Elina itu


"Terus awasi!. Jangan sampai kehilangan jejak." Jawab orang di seberang telepon dengan tegas


"Baik bos!" Sambut orang tersebut cepat


Sementara itu, taksi online yang mereka pesan itu, saat ini tengah melaju di jalanan yang ramai, menuju ke terminal KD


Sedangkan dua buah mobil yang mengikutinya, terus memantau arah, kemana mobil itu akan pergi, dalam radius yang tidak terlalu jauh


Setengah jam kemudian, mobil yang ditumpangi oleh nenek Elina dan keluarganya itu, berhenti persis di depan pintu gerbang terminal KD


Setelah membayar ongkos taksi online tersebut, mereka langsung masuk ke dalam terminal, dan menuju ke loket pembelian tiket bus, untuk memverifikasi tiket pembelian online yang telah mereka beli sehari sebelumnya


Lebih 2 jam mereka duduk di terminal bus itu, karena bus yang akan mereka tumpangi, berangkatnya pada pukul 3 sore, sedangkan mereka keluar dari penginapan sebelum jam 12 siang


"Lapor bos!. benar seperti perkiraan. Mereka pergi ke terminal KD, untuk membeli atau memverifikasi tiket bus, yang akan menuju ke pelabuhan M, dan tujuan mereka, ingin menyebrang ke pulau S." Ucap seseorang dari rombongan penguntit itu melalui sambungan telepon


"Kalian berdua boleh kembali, jangan lagi mengikuti mereka, karena posisimu akan digantikan oleh orang lain!" jawab orang di seberang telepon itu


"Siap bos!" Jawab penelepon itu semangat


"Berikan telepon ini pada komandan mu itu. Aku ingin bicara!" Perintah seseorang dari seberang telepon dengan tegas


"Baik bos!" Jawab lawan bicaranya itu cepat, kemudian memberikan telepon tersebut kepada komandannya


"Selamat sore bos!" Ucapnya hormat


"Posisi Dana dan Raka, akan digantikan oleh orang lain, karena mungkin wajah mereka sudah dikenali oleh mereka. Jadi kalian bersepuluh yang akan mengikuti kemana nenek Elina itu akan pergi." Perintah tegas orang yang berada di seberang telepon sana


"Baik bos! akan kami kerjakan sebaik mungkin!." Jawabnya patuh, kemudian menutup teleponnya


"Dan!, sepertinya, bus yang mereka tumpangi itu akan berangkat!" Ucap salah seorang penguntit atau mata mata itu kepada komandannya


Roger, nama komandan tersebut, mengalihkan pandangannya dari handphone yang sejak tadi dipegang, ke arah bus yang ditumpangi oleh nenek Elina dan keluarganya tersebut


Posisi mobil mereka agak terlindung, dan jauh dari pintu gerbang terminal tersebut, ditambah lagi, di depan pintu gerbang terminal itu, banyak lokasi parkir yang tersedia


Jadi walaupun mobil mereka sudah terparkir dari tadi, tidak akan menimbulkan kecurigaan bagi siapapun


Begitu bus yang ditumpangi oleh nenek Elina keluar dari pintu gerbang terminal, dan sudah bergerak sekitar 50 meter, kedua mobil yang ditumpangi oleh mata mata tersebut itupun bergerak, dan mengikuti bus tersebut dari belakang


***


Setelah menempuh perjalanan sejauh 107.9 kilometer, dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam 48 menit, bus yang ditumpangi oleh nenek Elina dan keluarganya itu, sampai di pelabuhan M, dan langsung menuju ke tempat parkir


Dengan berjalan kaki, mereka berlima menuju ke loket penjualan tiket kapal penyebrangan tersebut


Tak lama sesudah itu, mereka langsung memasuki kapal penyeberangan, karena 15 menit lagi kapal itu akan berangkat


Dua buah mobil yang dari tadi mengikuti nenek Elina, juga ikut masuk ke dalam kapal penyeberangan itu, setelah salah seorang dari mereka membeli tiket kapal di loket pelabuhan


Lima belas menit kemudian, kapal penyeberangan itu pun berangkat, dan diperkirakan sampai di pelabuhan B sekitar pukul jam 7, 30 malam

__ADS_1


Jarak pelabuhan M dengan pelabuhan B di pulau seberang itu, sejauh 30,6 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 2 sampai 3 jam


***


Kamar mewah resor Teluk Berlian


Saat ini Dion sedang duduk di sofa kamar mewahnya, sambil meminum segelas air putih, yang dituangkannya dari botol kemasan, kemudian duduk melamun dengan pikiran menerawang jauh ke masa lalu


Tiba tiba kakeknya masuk, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karena kamar Dion sudah terbuka dari tadi


"Apa yang sedang kau lamunkan Dion?" Tanya seseorang tiba tiba datang menemui Dion


"Salam kakek!" Jawab Dion sedikit terkejut


"Jawab pertanyaan kakek tadi!, jangan mengalihkan pembicaraan!" Sanggah kakeknya kesal


Entah kenapa pembawaannya sekarang gampang marah dan cepat kesal seperti itu


"Dion sedang mengenang perjalanan ku, setelah diberi kepercayaan untuk mengendalikan Birawa Group, dan mewarisi perusahaan kakek itu." Jawab Dion apa adanya


"Maksudmu? Tanya kakeknya keheranan


"Dion sudah banyak menghabisi orang orang yang berusaha ingin menjatuhkan Dion dan perusahaan kita, walaupun bukan langsung melalui tangan Dion, tapi setidaknya, Dion bertanggung jawab dalam masalah itu." Ucapnya seperti menyesal


"Pada awal awal Dion mewarisi perusahaan kakek, Dion sudah berencana akan mengembangkannya secara jujur, aman dan tenang."


"Tapi dalam perjalanannya, tidak sesuai seperti yang Dion harapkan. Karena ada saja orang yang berusaha untuk menjatuhkan Dion dengan berbagai macam cara."


"Jadi mau tidak mau, Dion harus bertindak tegas, memberi pelajaran, atau tepat nya memberantas serta menundukkan orang yang berniat jahat itu."


"Sekarang Dion mau bertanya kepada kakek. Apakah tindakan Dion itu benar atau salah?" Tanya Dion meminta pembenaran dan jawaban dari kakeknya itu


Kakek Birawa tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, tapi malah mengalihkan pandangannya ke tempat lain, seperti sedang berpikir


Tak lama kemudian, tuan Birawa pun berkata. "Ada kalanya kita harus bersikap lembut kepada orang yang bersikap baik, tapi di sisi lain, jika orang itu bersikap kasar kepada kita, apalagi telah berani mengancam keselamatan dan nyawa kita, maka kita wajib membela diri atau mempertahankannya."


"Sebagai contoh, ada orang yang ingin memasuki sebuah hutan belantara, yang didalamnya terdapat banyak sekali binatang buas. Apakah penghuni hutan belantara tersebut akan diam saja?"


"Jawabannya tentu saja tidak!"


"Dan bagi orang yang ingin masuk, apakah dia akan masuk begitu saja, dan membiarkan dirinya diterkam oleh binatang buas tersebut?"


"Sekali lagi jawabannya tentu saja tidak. Dengan berbagai macam cara, penghuni hutan, juga orang yang ingin masuk itu, tentu akan mempertahan kan daerah kekuasaan, juga kepentingan orang yang ingin masuk itu."


"Orang tersebut harus mempertahankan hidupnya, dan membekali diri dengan senjata tajam, atau senjata otomatis, gunanya untuk apa?"


"Senjata yang di bawanya itu, gunanya adalah untuk mempertahankan diri, jika sewaktu waktu di serang oleh bintang buas."


"Begitu juga dengan keadaanmu Dion. Pada awalnya tujuanmu memang sangat mulia, tetapi kau lupa, bahwa persaingan bisnis dan usaha ini sangat kejam"


"Masing masing orang ingin menjatuhkan satu sama lain, dan itu termasuk kau sendiri. dan semuanya menganggap bahwa dialah yang paling benar!"


"Kau diibaratkan seperti orang yang ingin memasuki hutan belantara, sedangkan penghuninya adalah pesaing mu, gangster, preman atau mafia, yang tidak terima, kalau ada orang lain yang masuk ke dalam daerah kekuasaannya."

__ADS_1


"Maka jadilah saling serang, bahkan saling bunuh satu sama lain, demi untuk mempertahankan wilayah kekuasaan masing masing."


"Perusahaan Birawa Group, bisa juga diibaratkan sebagai penghuni hutan belantara tersebut, yang dengan sekuat tenaga, mempertahankan eksistensinya di hutan itu


"Sedangkan para gangster, mafia, preman dan lain sebagainya, adalah orang yang ingin masuk serta mengganggu penghuni hutan tersebut."


"Apakah penghuni hutan itu hanya diam saja, dan menonton ketika orang orang memburu, bahkan membunuh penghuninya satu persatu?"


"Jawabannya tentu saja tidak bukan?"


"Dengan berbagai macam cara, penghuni hutan tersebut, harus bertahan dari kekejaman pemburu yang ingin membunuhnya, sekaligus mempertahankan eksistensinya di hutan itu, maka jadilah mereka saling bunuh atau satu sama lain."


"Dengan menghabisi lawan lawan nya, walaupun tidak sesuai dengan norma norma yang ada, tapi itu terpaksa dilakukan, agar nyawa mereka selamat, dan bisa mempertahankan apa saja yang mereka miliki, demi orang orang yang mereka sayangi."


"Dunia bisnis memang licik, kejam dan tak kenal belas kasihan Dion!"


"Mungkin tidak ada yang benar benar bersih, aman dan berjalan apa adanya. Pasti ada saja orang yang berusaha ingin menjatuhkan, melemahkan bahkan menghancurkan usaha lawan bisnisnya."


"Jadi menurut kakek, tindakan mu itu separuh dikatakan benar, separuh lagi dikatakan salah."


"Benarnya di mana?. yaitu ketika kau bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku."


"Sedangkan salahnya adalah, ketika kau bertindak di luar kewajaran."


"Kenapa itu bisa terjadi?. itu karena di sekeliling mu terdapat orang orang kuat, yang siap kapan saja untuk membela mu."


"Jadi ketika kau diancam oleh orang lain, tentu saja mereka secara refleks akan membela mu, dengan taruhan nyawa mereka. karena itulah prinsip dari seorang pengawal. Dia tetap akan mengutamakan keselamatan orang yang dikawal nya itu."


"Jadi mulai sekarang, jangan kau ragu lagi. Kakek rasa musuh musuh mu sudah mulai berkurang, dan akhir akhir ini, usaha mu semakin lancar, karena tidak ada gangguan yang berarti yang kau temui, dan itu merupakan hal yang bagus."


"Kedepannya kakek minta, kau lebih berhati hati lagi. Jangan bertindak ke gegabah. Kenali dulu permasalahannya, baru kau bisa bertindak."


"Katakan juga dengan orang orang mu, agar mereka bertindak sesuai dengan prosedur yang ada, jangan sedikit sedikit main tangan, kemudian menghabisi nyawa orang lain, kecuali kalau memang orang itu juga menginginkan nyawa kita, maka wajib kita mempertahankan nya. Itu menurut pendapat kakek."


Untuk sesaat Dion terdiam, mencerna apa saja yang telah dikatakan oleh kakeknya itu, dan menurutnya itu masuk akal


Tidak mungkinlah seseorang yang mau masuk ke dalam hutan, akan merelakan tubuhnya diterkam oleh binatang buas, setidaknya dia harus melawan untuk mempertahankan nyawanya itu


Begitu juga bagi Dion, karena banyak sekali pihak pihak yang menginginkan dia jatuh, apakah itu gangster, mafia atau kelompok preman lain


Karena sikap mereka barbar dan mau menang sendiri, serta memaksakan kehendaknya, maka mau tidak mau, Dion bertindak atau melawan kehendak mereka itu, dengan mengandalkan orang orang terkuat nya


Tapi karena hal itu, Dion dicap sebagai mesin pembunuh, padahal yang sebenarnya, dia tidak mau menginginkan itu, dia hanya menginginkan semuanya lancar lancar saja


Namun sebagai orang yang diumpamakan, sebagai penghuni hutan belantara, sekaligus seseorang yang ingin masuk hutan, maka Dion terpaksa harus mempertahan kan eksistensinya di hutan itu juga tempat lain


Dia harus menyingkirkan orang orang yang ingin memburu nya dengan segala macam cara


Orang tidak bisa mengatakan, bahwa Dion itu adalah mesin pembunuh. Mungkin kalau


kita berada di posisi nya itu, kita juga akan berbuat hal yang sama


Atau jika ada tetangga, orang, kenalan, ataupun orang lain yang tidak kita kenal, mengganggu rumah tangga kita, keluarga kita dan lain sebagainya. Apakah kita harus diam saja?

__ADS_1


Jawabannya tentu saja tidak!


__ADS_2