
"Ibu tetap ingin membeli rumah itu apapun kata orang!" Ucap nenek Elina tidak mau tahu, dan tidak percaya berita tentang rumah yang ingin dibeli nya tersebut, saat Danish menemuinya di kamar hotel
"Tapi bu!. Ini sudah banyak terjadi. Siapapun yang tinggal di rumah itu pasti akan mati!" Bantah Danish mencoba mengingatkan ibunya
"Hanya orang kampung yang mempercayai cerita seperti itu!. Kita ini orang kota, orang tepelajar. Kau masih saja percaya dengan cerita cerita seperti itu!" Bentak ibunya marah dan terkesan merendahkan orang lain
"Ini bukan hanya sekedar cerita bu!, tapi ini benar benar nyata!. Makelar yang ditugaskan untuk menawarkan rumah itu, pun tidak berani masuk ke dalam rumah tersebut. Dia hanya berdiri di luar, sedangkan aku disuruh masuk sendiri ke dalam rumah itu." Ucap Danish menjelaskan, serta teringat peristiwa apa yang dia alami nya waktu didalam rumah kosong itu
"Jadi maksudmu, kita tidak usah beli rumah itu, begitu?" Jawab ibunya marah
"Kalau kita batal membeli rumah itu, lalu rumah mana lagi yang akan kita beli?" Ucapnya kesal
"Bukankah kau yang mengatakannya sendiri, bahwa rumah itu sangat murah?. Dengan ukuran 14 × 20 meter, bukankah itu cukup besar, ditambah lagi dengan tanahnya yang luas itu?"
"Kapan lagi kita bisa mempunyai rumah seperti itu, apalagi memiliki lahan yang begitu luas." Ucap ibunya tetap ngotot
"Sekarang permasalahannya bukan itu bu!, tetapi keselamatan kita!. Jika tetap nekat tinggal di rumah itu, Danish khawatir, salah satu dari anggota keluarga kita akan mati." Bantah Danish tetap mengingatkan ibunya itu
"Memangnya ada apa di dalam rumah tersebut, sehingga orang orang bodoh itu takut untuk tinggal di sana?" Tanya nenek Elina penasaran
"Jangankan pemiliknya, orang orang kampung saja, tidak berani mendekati rumah itu, karena keadaannya sangat suram menyeramkan." Jawab Danish apa adanya dengan bulu kuduknya merinding
"Menyeramkan bagaimana?" Tanya nenek Elina tetap ngeyel
"Bukan hanya di malam hari, tapi di siang hari pun, kadang kadang ada penampakan di sana bu!. Percayalah!, jangan beli rumah itu!" Desak Danish tidak mau menyerah
"Para warga, yang mengetahui tentang akan adanya transaksi jual beli itu, pun menasehati, agar Danish membatalkan pembelian rumah tersebut, karena mereka khawatir, akan terjadi apa apa pada keluarga kita." Ucapnya lemah
"Ibu tidak mau tahu!. Ibu tetap mau rumah itu. jika memang ada apa apa di sana, ibu tidak takut!" Bantah nenek Elina yakin
"Masalahnya bukan itu bu! Tapi.."
"Hah sudahlah!. Pokoknya besok!. Kau datang kembali ke kota itu, dan langsung bayar harga rumah tersebut, dan minta kepada orang orang yang mau kita bayar, untuk membersihkan dan menata rumah itu hingga bersih!" Sanggahnya ketus dengan muka menyebalkan
"Jangan lupa! bersihkan semua halaman di sekitar rumah tersebut, dan tebang semua pohon pohon yang ada. Jika perlu, buang semua barang barang yang ada didalamnya, kemudian bakar!" Ucap nenek Elina semangat sekali
"Danish tidak berani bu!" Jawab Danish tidak semangat
"Kau lebih mempercayai perkataan orang orang bodoh itu!, tapi kau tidak mau mendengar apa yang ibumu katakan ini. Ha!" Bentak ibunya kecewa
"Kau mau pilih mana, ibu atau mereka?" Tanya ibunya lagi
"Tentu saja Danish lebih memilih ibu, tapi.."
"Sudah! sudah!. Jangan dibahas lagi. Keputusan ibu sudah bulat!. Besok kau bayar rumah itu, dan hari berikutnya kita pindah. Mengerti?"
***
"Cepat katakan!. Siapa orang yang telah membayar kalian?. kalau tidak, orang orang ku akan mematahkan tangan mu". Ucap Danu tidak main main
"Seribu kali pun kau patahkan tanganku!. Aku tidak akan pernah mengatakannya!" Jawab Barry tidak kenal takut
__ADS_1
"Oh ternyata hebat juga kau!" Respon Danu sinis
"Bawa belati itu kesini, dan potong jari jarinya!" Perintah Danu dengan niat menggertak Barry
"Baik dan!" Jawab anak buah Danu cepat, kemudian melangkah mendekati Berry, dengan aura mengintimidasi
Craasshh!
"Aaaarrkkh!" Teriak Barry kesakitan saat jari kelingkingnya dipotong dengan cara sadis dan tiba tiba
"Masih belum mau buka mulut!. Potong lagi jari lainnya!" Perintah Danu sambil menyeringai
Ketika tangan anak buah Danu bergerak ingin memotong jari Barry yang lain, tiba tiba Barry berteriak kuat
"Baik! baik!. Aku akan mengatakannya!" Ucapnya gugup dan takut, sambil menahan sakit, dan menekan jari yang putus itu dengan bajunya
"Dasar bodoh!. Sudah hilang satu jarimu, baru mau mengatakannya. Atau bagaimana, jika harta berharga mu itu, dipotong saja!" Ucap Danu menakut nakuti Barry
"Jangan! jangan!. Aku akan mengatakan semuanya. Jadi tolong, jangan kau potong anggota tubuh ku lagi!" Jawab Barry ketakutan
"Baik kalau begitu!. Sekarang kau katakan!, siapa orang yang telah membayar mu itu?" Teriak Danu keras
"Prasetio atau Pras. Dialah orang yang telah membayar ku." Jawab Barry ketakutan
"Prasetio! siapa dia?" Tanya Danu penasaran
"Aku juga tidak tahu siapa dia. Sungguh aku tidak tahu. aku hanya dihubungi oleh nya melalui telepon, dan belum pernah bertemu dengannya!" Jawab Barry jujur dan apa adanya
Tidak ada seorang pun yang menjawab, karena mereka tidak berani bersuara, tapi akibat dari kebodohan mereka itu, tubuh beberapa orang diantara mereka ditendang kuat kuat oleh anak buah Danu, hingga membuat mereka terjengkang kebelakang
"Jangan hanya tutup mulut!. Cepat katakan!. Apakah ada yang tahu siapa si Prasetio itu?" Teriak Danu marah
Salah seorang dari mereka memberanikan diri berkata." Kami tidak tahu dan!. Sungguh kami tidak tahu. Kami hanya diajak oleh bos kami, untuk pergi ke sini. Mengenai orang yang membayar kami, kami tidak kenal." Ucapnya lancar
Dari ucapan orang itu, Danu mendapati, tidak ada kebohongan sedikit pun darinya. Mereka ternyata benar benar tidak tahu, siapa si Prasetio itu
"Baiklah kalau begitu. Karena kalian telah berani mengganggu ketentraman perusahaan Birawa Group, maka kalian tidak akan kami lepaskan begitu saja, sampai ada keputusan dari tuan muda kami!" Ucap Danu mengancam, kemudian memerintahkan kepada seluruh anak buahnya, untuk memasukkan perusuh itu kedalam gudang, dengan terlebih dahulu mengambil handphone mereka
Danu khawatir, jika mereka dilepaskan, maka mereka akan mengadu kepada orang yang bernama Pras itu, dan tentu saja Pras akan melarikan diri atau mengantisipasinya
Setelah mengurung Barry. Danu segera melaporkannya kepada Hans, dan menceritakan tentang duduk perkaranya
Berdasarkan informasi itu, Hans langsung menemui tuan muda Dion, dan tuan besar Birawa, untuk menceritakan apa yang telah terjadi di perusahaannya, yang berada di kota S
Dion memerintahkan agar perusuh itu tetap dikurung, sampai terkuak, siapa dalang yang telah membayar mereka itu
***
Hari berikutnya
Danish sudah membeli rumah yang diinginkan oleh ibunya itu, dengan menggunakan uang patungan antara Jasmine dan Chalista, sampai tinggal sedikit
__ADS_1
Hari itu juga, Danish membersihkan rumah tersebut. Tapi orang orang yang dibayarnya, bukanlah yang berasal dari kota tersebut, tapi berasal dari kota lain, yang tidak tahu menahu, cerita tentang rumah itu
Selama mereka bekerja, membersihkan lahan dan seluruh ruangan di rumah itu, tidak ada kejadian aneh yang mereka alami. Semuanya berlalu begitu saja, sampai pukul 4 sore, pekerjaan tersebut sudah selesai
Semua pohon pohon sudah ditebang dengan menggunakan mesin pemotong kayu, dan dibakar di tempatnya
Begitu juga dengan rumput rumput panjang, yang tumbuh di sekitaran rumah tersebut, juga sudah dibersihkan dan dibakar
Barang barang yang tidak berguna di dalam rumah tersebut pun dikeluarkan, lalu dibuang atau langsung dibakar begitu saja, hingga tidak tersisa
Kini keadaan rumah itu sudah bersih, tidak ada satupun barang yang tertinggal, semua perabotannya, termasuk barang pecah belah semua sudah dikeluarkan, lalu dibakar, atau dibuang ditempat lain, walaupun kondisinya masih terlihat bagus, tetapi atas perintah Danish, semua barang barang yang ada di rumah itu harus dibakar atau dibuang
Maka dengan cara bergotong royong, tetapi mendapat bayaran yang cukup tinggi, 20 orang yang dibayar untuk membersihkan seluruh areal rumah tersebut, bekerja bahu membahu, menyingkirkan, membersihkan semua barang yang menggangu
Sampai sore hari, rumah itu sudah kelihatan bersih, dindingnya juga sudah dicat, sehingga kelihatan baru dan berseri, dan tidak terlihat suram lagi
Tidak ada lagi pohon pohon yang berdiri di sekitaran rumah itu, semuanya sudah ditebang dan dibakar
Asapnya memenuhi angkasa, begitu juga asap yang ditimbulkan dari pembakaran perabotan rumah tangga, yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya
Tapi tanpa mereka sadari, ada 3 bayangan yang tidak terlihat, sedang mengawasi mereka, dengan tatapan marah
Mata mereka memancarkan aura kebencian dan dendam yang teramat dalam, karena telah berani mengusik dan membakar barang barang mereka
Tapi karena mereka kasat mata, lagipula saat itu hari masih siang, mereka tidak bisa berbuat apa apa, saat itu pun, mereka berlindung di sebuah pohon rindang yang belum sempat ditebang, karena tumbuhnya tidak dilahan yang Danish beli itu
Karena pekerjaan membersihkan lahan dan rumah tersebut, berikut memolesnya, membutuhkan waktu seharian, maka nenek Elina dan keluarganya itu, belum bisa pindah, sesuai rencana, besok baru mereka bisa menempati rumah yang baru mereka beli tersebut
Aliran listrik yang sudah diputus oleh pihak penyedia layanan penerangan, hari itu juga sudah tersambung kembali
Mereka langsung diminta bantuannya, untuk memasang lampu lampu di seluruh ruang dan pekarangan rumah itu
Bukan hanya itu saja, lampu lampu tersebut juga dipasang di areal yang jauh dari rumah tersebut, termasuk juga di gudang, yang di dalamnya, ternyata masih menyimpan sebuah misteri besar
Pada malam harinya, rumah tersebut menjadi terang benderang
Warga sekitar yang melihat perubahan rumah itu, menjadi kagum dan takjub pada orang yang berani berbuat nekat seperti itu
Di dalam hati mereka bertanya, siapa sebenarnya orang yang telah berani membeli dan merombak rumah tersebut, hingga menjadi seperti itu
Para warga yang penasaran pada perubahan rumah itu, malam ini melihat dari kejauhan, apa yang akan terjadi di rumah tersebut. Tapi sampai menjelang pukul 11 malam, tidak ada apa apa yang terlihat mencurigakan yang terjadi di sana
Karena sudah merasa lelah dan mengantuk, maka warga yang penasaran itu, segera membubarkan diri
Kehadiran mereka walau dalam radius 100 meter dari rumah itu, tapi sempat diperhatikan oleh 3 bayangan, yang saat itu menyebar di seluruh areal rumah tersebut
***
Keesokan harinya, lampu yang dipasang di rumah tersebut, masih tetap menyala terang, sampai pukul 10 pagi, saat nenek Elina dan keluarganya datang dengan menggunakan mobil carteran
Sesampainya di sana, Jasmin merasakan seolah olah dirinya sedang ditatap oleh seseorang, tapi dia tidak tahu siapa orang tersebut. Begitu juga dengan Chalista adiknya itu
__ADS_1