
"Salam tuan muda! Maaf kalau kami mengganggu" Sapa Burgon yang didampingi oleh Hans itu datang menyapa
"Ya!. Apakah ada yang ingin kau sampaikan mata dewa?" Respon Dion cepat, karena kalau Burgon datang, pasti ada sesuatu yang terjadi
"Ada tuan muda. Barusan saya dihubungi oleh Irvan, manager Paradise Restoran, yang mengabarkan, bahwa malam tadi, telah terjadi peristiwa yang memalukan terhadap tamu restorannya." Jawab Burgon cepat
"Maksudmu, restoran yang dikhususkan bagi anak muda itu. Memang ada masalah apa disana?" Tanya Dion penasaran
"Pengunjung restoran itu melaporkan, bahwa telah terjadi kasus pelecehan terhadap mereka, yang dilakukan oleh seorang pria, dan ironisnya, menimpa 6 orang wanita sekaligus." Jawab Burgon apa adanya
"Apa!, bagaimana ini bisa terjadi?" Reaksi Dion kaget bukan kepalang
"Itulah kenyataannya tuan muda." Jawab Burgon cemas, karena khawatir jika Irvan terkena imbasnya
"Hans, cepat kau panggil Irvan. Sekarang!" Reaksi Dion cepat
"Baik tuan muda!" Jawabnya patuh
"Dan kau mata dewa!, selagi menunggu Irvan datang, coba ceritakan, siapa korban kejahatan orang itu. Kalau mereka masih ada di kota ini, cepat kau jemput mereka dan bawa kesini!" Perintah Dion tegas
"Mereka 6 orang gadis yang pernah datang ke sini, bersama dengan 6 orang pria temannya itu tuan muda." Jawabnya
"Apakah berita itu kau dapatkan dari Irvan juga ?" Tanya Dion ingin tahu
"Benar tuan muda!"
"Lalu selama di kota ini, dimana mereka tinggal?" Tanya Dion terus menerus
"Mereka tinggal di hotel Anastasia, tidak jauh dari Paradise restoran tersebut." Jawab Burgon cepat
"Kalau begitu!. Perintahkan pada Anjani dan yang lain, untuk menjemput mereka, dan bawa semuanya ke sini. Aku ingin mendengar secara langsung dari mulut mereka." Respon Dion tegas
"Baik tuan muda!" Jawab Burgon sambil mengangguk kan kepalanya kearah Dion, kemudian buru buru pergi mencari Anjani, untuk menyuruhnya menjemput rombongan Riska dan yang lain itu
"Ada ada saja masalah yang timbul. Pergi satu datang yang lain pula!" Gerutu Dion kesal
"Masalah sekecil ini sebenarnya bisa diselesaikan oleh anak buah ku saja, tapi karena ini menyangkut nama baik kota Golden City, Aku tidak mau lepas tangan. Walau bagaimanapun, aku harus bisa menyelesaikannya dengan caraku sendiri!" Guman Dion pada diri sendiri, lalu mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang
"Ivo!. Apakah kau sedang sibuk?" Tanya Dion melalui saluran telepon kepada Ivory, sesaat setelah dia bergumam sendiri tadi
"Tidak honey!. Apakah ada hal penting yang ingin disampaikan?" Jawab Ivory keheranan
"Ya!. Kalau bisa, secepatnya kau datang ke vila, aku menunggu!" Sambut Dion penuh misteri
Baik!" Jawab Ivory singkat, Kemudian bersiap siap untuk pergi ke kota Golden City
"Sebaiknya aku beritahu kan masalah ini kepada kakek, agar dia bisa membantu memecahkan masalah ini, tanpa menyisakan masalah yang lain." Ucap Dion sedikit keras
"Untuk apa kau ingin menemui ku Dion?" Tanya seseorang yang datang tiba tiba itu
"Kakek!. Baru saja Dion ingin menemui kakek, eh ternyata kakek yang datang duluan." Sambut Dion senang
"Memangnya ada masalah apa, hingga membuatmu sesenang ini?" Tanya tuan Birawa penasaran
"Dion bukan senang kek, tapi kecewa, kesal dan geram, karena nama baik kota Golden City, terutama Paradise Restaurant itu bisa tercemar." Jawab Dion apa adanya
"Paradise Restaurant?. Memang ada masalah apa di sana?" Tanya tuan Birawa keheranan
"Itulah masalahnya kek!.Karena Dion belum begitu jelas mengetahui duduk perkaranya, maka Dion meminta agar kakek bersabar sedikit, karena Dion sedang memanggil orang orang yang terkait dalam masalah itu, untuk datang ke sini."
__ADS_1
"Oh kalau begitu kakek akan sabar menunggu." Jawab tuan Birawa enteng saja
"Apakah Ivory tidak kau panggil?" Tanya tuan Birawa lagi
"Sudah kek!. Tadi Dion sudah menghubunginya, mungkin saat ini dia sedang dalam perjalanan." Jawab Dion datar
Tak lama setelah Dion mengucapkan kata kata itu, Irvan dan beberapa orang karyawan hotel datang dengan tergopoh gopoh, mereka berjalan dibelakang Hans
"Salam tuan besar! Salam tuan muda!" Ucap Irvan dan tiga anak buahnya itu penuh hormat. Begitu juga dengan Hans
"Silakan duduk dan langsung pada intinya saja. Apakah benar, malam tadi telah terjadi peristiwa yang sangat memalukan, pada 6 orang gadis, yang menjadi pelanggan restoran mu?" Tanya Dion dengan sikap tegas
"Benar tuan muda!. Pagi tadi mereka telah melaporkan kejadian itu padaku." Jawab Irvan takut takut
"Tapi kenapa kau tidak langsung melaporkannya pada ku, atau setidak tidaknya pada Burgon ataupun Hans dan yang lainnya?" Tanya Dion kesal
"Maafkan kami tuan muda! bukan kami tidak mau melaporkan masalah itu, tapi kami perlu mencari bukti dulu, dan setelah itu, rencananya baru akan melaporkannya kepada tuan muda." Jawab Irvan takut takut
"Mungkin apa yang kau katakan itu akan sedikit terlambat, karena mungkin pelakunya sudah kabur, atau sudah melarikan diri dari kota Golden City ini!" Sanggah Dion masih tetap marah
Irvan dan yang lain, tidak berani berkata apa apa lagi. mereka menyadari bahwa mereka salah, karena terlambat melaporkan masalah itu kepada pemilik kota tersebut
Dion benar benar kesal dengan sikap bodoh dari orang orangnya itu. Ingin rasanya saat itu juga, Dion menghajar mereka, agar tidak mengulangi lagi kebodohannya tersebut
Ketika Dion ingin terus melampiaskan kekesalannya, rombongan Riska, Mona, Raymond dan yang lain pun datang, diiringi oleh Anjani, 3 gadis Shanghai, dan 4 gadis karateka, yang akhir akhir ini, menjadi pengawal favorit Dion, selain Awan, Bumi dan Langit, juga Eric tentunya
Setelah semuanya datang . Suasana menjadi hening, tak ada satu orang pun yang berani berbicara mendahului tuan Mahesa Birawa atau Dion. Mereka tetap setia menunggu, apa yang akan disampaikan oleh Dion sebagai pemilik kota Golden City itu
"Ayo silakan duduk!" Ujar Dion ramah, dan tidak lagi menampakkan aura yang menakutkan
"Terima kasih tuan muda!" Jawab Raymond, Riska, Mona dan yang lain serempak, kemudian masing masing memilih tempat duduk, yang ada di depan Dion dan tuan Mahesa Birawa
"Langsung saja pada intinya!. Apakah kalian bisa menceritakan kronologis kejadiannya?" Tanya Dion tanpa membuang waktu lagi
"Oke kalau begitu, ceritakan dengan jelas, agar permasalahan ini bisa diselesaikan dengan baik, dan pelakunya bisa ditangkap, serta mendapatkan hukuman yang setimpal!" Ujar Dion tegas
"Baik tuan muda!" Jawab Riska patuh. kemudian meminta Mona untuk menceritakan duduk permasalahannya
"Beberapa hari yang lalu, setelah kami sampai di kota ini, kami menginap di hotel bintang 4 Kota Golden City ini, dan kami memutuskan untuk pergi ke Top Sky restoran." Ucap Mona memulai penjelasannya
"Tapi sebelum pergi itu, telah terjadi sedikit masalah, antara mona dan Tommy. Dia sesumbar, bisa menempati ruang VIP utama di restoran kelas 1 itu."
"Karena merasa tertarik, maka kami mengadakan taruhan, jika Tommy berhasil mendapatkan ruang VIP pribadi tersebut, maka Mona .."
Mona tidak sanggup untuk meneruskan kata katanya karena malu. tapi Dion bisa mengetahui, apa yang akan diucapkan oleh Mona selanjutnya itu
"Baik!, masalah itu jangan bicarakan, tapi lanjutkan apa yang terjadi selanjutnya!" Ucap Dion menutupi kegugupan Mona itu
"Karena merasa tertantang, Tommy menyanggupi taruhan itu, untuk membayar ku sebesar 2 miliar rupiah, jika dia kalah. Tapi jika dia menang, maka dia akan mendapatkan ku." Ucap Mona akhirnya berterus terang, walau malu yang tidak tertahankan lagi
Tuan Birawa, Dion dan yang lainnya tercekat diam, mereka tidak menyangka, ada taruhan yang seperti itu, tetapi mereka tidak mau berkomentar, karena tidak mau menyinggung perasaan Mona, yang saat ini tengah diwawancarai oleh tuan mudanya itu
"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Dion ingin tahu
"Setelah sampai di restoran tersebut, ternyata Tommy tidak mampu untuk mendapatkan ruang mewah itu, dan kulihat, dia sangat kecewa sekali, padahal sebelumnya, sudah kami ingatkan, bahwa tidak ada seorangpun yang akan bisa masuk ke situ tanpa izin dari pemiliknya." Jawab Mona jujur
"Karena dalam taruhan itu dia kalah, maka atas desakan dari Riska ini, dia akhirnya mentransfer sejumlah uang yang dipertaruhkan tersebut, tapi ada kata kata mona yang menyinggung perasaannya."
"Sejak dari saat itu, sikap Tommy berubah kepada kami, terutama pada Mona. Tapi malam tadi, dia mentraktir kami untuk makan di Paradise Restaurant, dan sialnya! tanpa kami sadari, ternyata Tommy telah membuat jebakan, dengan menaruh obat tidur dosis tinggi ke dalam minuman yang kami minum itu."
__ADS_1
"Satu setengah jam kemudian, kami semua tertidur di ruang VIP pribadi tersebut, dan setelah mona bangun, Mona mendapati, pakaian teman teman Mona semuanya telah terbuka, walau di bagian atasnya saja."
"Peristiwa tersebut, tentu saja membuat kami shock dan tidak percaya, bahwa ada orang yang tega melakukan perbuatan keji seperti itu kepada kami di ruang VIP pula."
"Pagi harinya Riska melaporkan kejadian itu kepada manajer Irvan untuk ditindaklanjuti."
"Berdasarkan bukti bukti yang ada, setelah melalui uji forensik dan laboratorium, diketahui, perbuatan asusila tersebut, dilakukan oleh teman kami sendiri, yaitu Tommy!" Ucap Mona panjang lebar menjelaskan kronologi kejadian pelecehan tersebut
"Di mana Tommy sekarang?. Apakah dia masih bersama dengan kalian?" Tanya Dion geram, karena kejadian pelecehan itu, terjadi di restoran kebanggaan kota Golden City miliknya itu
"Dia sudah pulang ke daerah asalnya tuan muda, yaitu kota M, pulau S."
"Sayang sekali!. Kalau tidak, aku bisa meminta pertanggung jawabannya, atau sekurang kurangnya, anak buah ku bisa mengajar si badjingan itu!" Respon Dion kesal, sambil mengepalkan tinjunya erat erat
"Tommy dari kota M, pulau S, sepertinya aku pernah mendengar nama itu!" Ucap tuan Birawa tiba tiba
"Apakah kakek mengenalnya?" Tanya Dion penasaran
"Coba kau sebutkan! siapa nama orang tua Tommy itu!" Ucap Birawa kepada Mona
"Nama ayahnya kalau tidak salah adalah Agam, kalau ibunya saya kurang tahu tuan besar." Jawab Mona jujur
"Agam! Ternyata kau orangnya, dan Tommy itu anakmu. Aku harus memberi pelajaran pada mu!" Respon tuan Mahesa geram
"Apakah kakek mengenal ayah Tommy?" Tanya Dion ingin tahu
"Bukan kenal lagi, tapi sangat kenal, karena dia dulu adalah anak buah kakek, yang bekerja di perusahaan Birawa Group, menangani kilang minyak yang ada di pulau tersebut." Jawab tuan Birawa apa adanya
"Tapi setelah bekerja selama 17 tahun, dia resign dan membuka usaha sendiri di bidang properti, ritel dan lain lain di kota kelahirannya."
"Kalau begitu akan sangat mudah untuk menekan nya, agar Tommy mau datang kesini, atau sekurang kurangnya memberikan hukuman yang setimpal pada Tommy, karena anaknya telah berbuat kurang ajar seperti itu."
"Kau jangan kuatir!. Kakek akan segera menghubungi si Agam, agar memberi sanksi kepada Tommy anaknya yang kurang ajarnya itu."
"Lalu apakah ada tuntutan kalian, kepada pihak pengelola Paradise Restoran, atau kepada ku?" Tanya Dion terus terang, sampai membuat Riska Mona dan lain lainnya itu terkejut
"Kami tidak berani tuan muda!. Semua kami serahkan kepada anda." Jawab Mona yang terkenal pandai bicara itu
"Kalian katakan saja, tuntutan apa yang ingin kalian berikan kepada si Tommy kurang ajar itu. maka aku akan mewujudkannya!" Ucap Dion tegas
"Kami hanya ingin, agar dia mendapat hukuman yang setimpal saja!" Jawab Riska menimpali
"Hukuman yang setimpal itu seperti apa?. Apakah harus mati, atau dibuat cacat?" Desak Dion terus menerus
"Bukan itu maksud kami tuan muda. meminta maaf secara langsung kepada kami itupun sudah cukup." Sela Mona mencoba menengahi
"Tapi saya sudah bersumpah, ingin membuat matanya buta tuan muda!" Ucap Riska tidak terima
"Kenapa tidak langsung kau habisi saja si Tommy itu?" Tanya Dion kepada Riska, karena dia melihat Riska lah yang paling marah sekali terhadap pelecehan tersebut
"Kalau itu memang bisa saya lakukan, maka akan saya lakukan tuan muda." Jawab Mona diplomatik
"Bagaimana menurut Kakek, apakah Tommy itu harus kita habisi?"
"Tidak perlu!, karena Tommy itu anak satu satunya dari si Agam. Kalau dia mati, tentu tidak ada yang akan mewarisi perusahaan si Agam tersebut."
"Yang kakek khawatirkan bukalah tentang kematian Tommy, tapi tentang bagaimana perasaan si Agam itu, karena kakek tahu, Agam begitu sayang kepada anaknya tersebut, sehingga apapun yang diinginkan oleh Tommy, akan dikabulkan saat itu juga."
"Kasih sayang yang kebablasan!" Ucap Dion mencibir
__ADS_1
"Apa yang kau katakan itu benar, kakek juga merasa seperti itu."
"Oh ya! Apakah kalian mau, agar Tommy memberikan kompensasi, atau ganti rugi kepada kalian?" Tanya tuan Birawa tegas