
"Kalau itu keputusan nenek, kami akan ikut!" Jawab Jasmine mantap, mewakili mereka semua, lalu bertanya lagi..
"Tapi nek! Bagaimana nenek sampai sebegitu yakinnya, akan bisa melaksanakan niat nenek itu?, bukankah selama ini kita masih tetap diawasi?" Tanya Jasmine menyambung pertanyaannya tadi
"Kalian tenang saja!. Orang yang ditugaskan oleh Dion keparat itu!, sekarang sudah menjadi orang orangnya nenek, karena nenek telah berhasil menyuap mereka, dan mempengaruhinya dengan iming iming tinggi
"Lagipula, selama ini mereka bukanlah orang orang yang Dion langsung, cuma masih ada hubungannya dengan salah satu anak buahnya di sana"
"Dengan telah bergabungnya mereka pada kelompok kita, akan memudahkan langkah nenek, untuk mewujudkan rencana itu, walau butuh pengorbanan uang yang cukup banyak"
"Dari mereka juga lah nenek mengetahui, ada sebuah perusahaan kecil yang sedang terancam bangkrut, dan sedang membutuhkan uang dalam jumlah banyak."
"Jaminannya adalah perusahaan, atau aset mereka berupa tanah seluas 38 hektar, yang tempatnya sangat strategis kabupaten ini"
"Jadi tanpa sepengetahuan kalian, nenek menggunakan uang yang diberikan oleh Dion keparat itu, untuk memberi pinjaman pada mereka, karena nenek yakin, mereka tidak akan mampu untuk mengembalikan pinjaman dari nenek itu dalam waktu dekat"
"Dan nenek tidak bodoh!. Nenek meminta jaminan berupa sertifikat tanah tersebut kepada pihak perusahaan, saat memberi pinjaman itu, dan saat ini, sertifikat tanah itu sudah ada di tangan nenek."
"Perkiraan nenek ternyata benar, karena letak tanah itu sangat strategis, sudah ada pihak pengembang yang berminat ingin membeli tanah tersebut dengan harga tinggi, tapi nenek masih belum mau melepaskannya, karena masih menunggu batas jatuh tempo pemilik perusahaan tersebut, untuk mengembalikan uang pinjaman nya kepada nenek."
"lagipula, mereka belum memenuhi tuntutan nenek, dengan membayar tanah itu, dengan harga jauh lebih tinggi dari harga yang mereka tawarkan sebelumnya."
"Dan sepertinya mereka sedang merundingkan masalah itu dengan pihak internal perusahaan. Dalam masa dekat ini, pihak mereka akan menghubungi nenek, dan saat itulah, nenek akan menjual tanah tersebut kepada mereka."
"Lalu bagaimana dengan orang orangnya Dion yang lainnya nek?. Apakah mereka saat ini tidak mengawasi kita lagi." Tanya Everly ikut nimbrung dalam pembicaraan itu
"Beberapa bulan ini, ibu melalui orang orang bayaran nenek itu mengetahui, bahwa ada satu atau dua orang yang masih setia pada Dion, datang mengawasi kita, tapi akhir akhir ini, mereka tidak terlihat lagi di sekitar tempat ini." Jawab nenek Elina masih ragu ragu
"Mungkin mereka mengira, bahwa kita telah sepenuhnya patuh terhadap larangan dari tuan mereka yang berengsek itu!" Sambungnya lagi sambil menghina Dion
"Lalu kapan nenek berencana akan pindah ke luar negeri?" tanya Brian juga ikut nimbrung dalam pembicaraan antara mereka itu
"Tujuh bulan dari sekarang, saat perayaan tahun baru, kesempatan itulah yang akan kita gunakan, untuk lari ke luar negeri dengan alasan, ingin ziarah ke leluhur nenek yang ada di sana." Jawab nenek Elina enteng
"Sejak kapan ibu mempunyai leluhur disana?" Tanya Danish penasaran
__ADS_1
"Kau tidak perlu tahu Danish! yang perlu kau tahu adalah, ibu bukan berasal dari negara ini. ayahmu Wolf itu, membawa lari ibu ke negara ini, baru dinikahinya." Jawab Elina sedikit emosi
"Ternyata begitu!. Tapi kenapa kami selama ini tidak mengetahuinya bu?" Tanya Danish lagi, ingin mengetahui lebih banyak informasi dari ibunya tersebut
"Sudahlah!. Kau tidak perlu tahu masalah itu, karena ibu malas untuk membahas kisah sedih itu." Jawabnya Elina dengan wajah sedih
"Lalu bagaimana dengan tempat ini nek?. apakah akan kita tinggalkan begitu saja?" Tanya Brian terkesan khawatir, dan menyayangkan keputusan nenek mertuanya itu
"Kalian tenang saja, rumah ini sudah nenek beli dari orang kepercayaan Dion dengan harga tinggi, karena dulunya rumah ini adalah miliknya, tapi karena dia pindah ke kota, maka rumah ini dibiarkan begitu saja, atau disewakan kepada orang lain." Ucap nenek Elina bangga
"Menggunakan uang yang diberikan oleh Dion yang lumayan banyak itu, nenek berhasil menguasai rumah ini, dan sertifikatnya pun sudah berubah atas nama nenek Sambungnya lagi sambil tersenyum
"Pada masanya nanti, rumah ini akan nenek jual juga, untuk menambah modal kita, pindah ke luar negeri, dan membuat perusahaan baru di sana." Ucapnya enteng saja
"Sungguh Aku tidak menyangka, kalau ibuku masih menaruh dendam yang begitu dalam kepada Dion, lalu sampai kapan masalah ini akan berakhir?" Batin Danish dalam hati
"Ternyata mertuaku ini, hanya pura pura baik dan tunduk kepada Dion, tapi di belakangnya, mempunyai rencana jahat!. Sungguh sifat yang harus ditiru!" Batin Everly pula dalam hati
"Bagus juga rencana nenek mertuaku ini, kalau aku terus mendukung rencananya, maka aku yakin, di tempat baru nanti, aku bisa menjadi orang kaya, dan menguasai perusahaan nenek tua bau tanah ini, hehehe." Kekeh Brian dalam hati
***
Waktu terus berjalan, tidak terasa hari telah berganti. di penghujung Minggu ini, Dion saat ini tengah berada di resor miliknya, yang terletak di desa BS
Kunjungannya kali ini tidak disertai oleh Ivory, karena dia tidak ingin membuat Ivory teringat kembali akan kejadian yang telah menimpanya di desa itu
Jadi Dion memutuskan pergi ke sana hanya ditemani oleh Iron dan Robin, sementara Hans dan Leon, tetap berada di kota B dan kota Golden City
Sedangkan James dan Erisha sudah ada di resor itu beberapa jam sebelum Dion sampai
Dion dan rombongannya, pergi ke resort tersebut dengan menggunakan helikopter super puma, yang pernah digunakan oleh Ivory untuk pergi ke sana
Di resort di pantai tersebut, terdapat pelabuhan yang sangat besar, tempat menampung kapal kapal, baik besar maupun kecil, yang akan digunakan oleh para pelancong, yang ingin berlibur ke sana
Resor itu juga di lengkapi dengan landasan helikopter yang cukup banyak, jadi ketika Dion pergi ke sana, helikopter yang membawanya, mendarat di salah satu landasan tersebut
__ADS_1
Begitu Dion dan rombongannya sampai, Dion langsung disambut oleh James dan Erisha, tak lupa pula Tiger dan Maya
"Selamat datang tuan muda!" Ucap mereka serempak sambil membungkuk ke arah Dion
"Terima kasih." Jawab Dion singkat sambil melirik ke arah Maya, kemudian menyapa Tiger yang tak jauh darinya itu
"Apa kabar Paman tiger dan kamu Maya?" Sapa Dion sedikit canggung
"Kabar kami baik baik saja tuan muda!" Jawab mereka serempak, walau terlihat kalau Maya sedikit canggung, ketika menjawab pertanyaan itu, karena saat ini, dia sedang berhadapan dengan Dion dalam jarak cukup dekat
Mendadak bunga yang sempat tumbuh di hati Maya dulu, dan belum mati, kini mekar kembali, bagai tersiram air dingin, ketika disapa oleh Dion, lelaki idamannya tersebut
Dion dan Maya saling berpandangan, walau tidak lama, sehingga keduanya tersipu malu, namun di tengah aksi mereka tersebut, tiba tiba terdengar sebuah suara yang mengagetkan mereka
"Mari tuan! kita pergi ke tempat peristirahatan yang sudah disiapkan untuk tuan muda dan rombongan!" Ujar seseorang yang ternyata adalah Erisha
"Oh baiklah, terima kasih!" Jawab Dion sedikit kesal pada Erisha, karena momen langka itu di buyarkan olehnya begitu saja, lalu melangkah mengikuti Erisha, yang berjalan duluan menuju tempat peristirahatan yang dikhususkan untuk Dion
"Oh Maya!. apakah masih betah bekerja pada ayahmu?" Tanya Dion asal bicara, padahal dia tahu pertanyaan itu tidak bermutu
"Maksud tuan muda?" Jawab Maya malu malu tapi keheranan
"Oh tidak ada. Hanya sekedar bertanya saja." Tangkis Dion pura pura tidak butuh jawaban, tapi wajahnya sempat kelihatan gugup, ketika ditanya balik oleh Maya yang cantik rupawan itu
Kejadian yang singkat tersebut, sempat ditangkap oleh mata Tiger, Iron dan yang lainnya, kecuali Erisha, tapi mereka hanya tersenyum, ketika melihat kelakuan tuan muda mereka, yang malu malu tersebut ketika berbicara pada Maya
Sementara Maya sendiri pun demikian juga, hanya sekedar disapa oleh Dion dengan kata kata biasa, wajahnya sudah memerah sedemikian rupa
Kelakuan dari Maya tersebut, kalau diibaratkan seperti bunga, tanaman yang hampir layu, tapi begitu disiram dengan air dingin, langsung segar kembali, begitulah yang terjadi pada Maya saat ini
"Suasana mereka berdua yang saat ini sedang berjalan berdampingan dalam jarak dekat, terasa canggung sekali
Dion Sang Penguasa, terkuat dan berpengaruh, orang terkaya nomor 2, bahkan mungkin nomor satu di dunia, saat ini, sedang tidak berkutik, ketika berhadapan dengan Maya yang cantik jelita itu
Uh sungguh misteri kekuatan cinta, auranya saja, tidak mampu dilawan, bahkan oleh dewa terkuat sekalipun, apalagi Dion, sang penguasa harta dan kekuasaan dunia
__ADS_1