
Keesokan harinya. Semua persiapan sudah selesai dilakukan. tinggal menunggu keberangkatan saja
Lima helikopter super puma, dan dua helikopter H155, serta satu helikopter H225 atau EC225 sebelumnya. Sekarang sedang terparkir di helipad milik Birawa Group dan sudah siap untuk dibawa terbang
Seratus enam puluh orang pengawal, mengikuti rombongan tersebut, seluruhnya menaiki helikopter itu
Sementara Burgon dan 40 anak buahnya, sudah sampai duluan di sana. Mereka telah mengkonfirmasi akan kedatangan Dion, dan calon pewaris perguruan tersebut
Berita kedatangan mereka, tentu saja membuat pimpinan perguruan juga puluhan guru pengajar menjadi kalang kabut, apalagi murid muridnya itu
Dengan sigap mereka membersihkan sebuah lapangan besar, tempat mendaratnya helikopter mereka nanti
Lapangan itu memang sudah ada sebelumnya, dimana tempat tersebut selalu digunakan sebagai tempat latihan masal, bagi murid murid perguruan itu
Tepat pukul 9 pagi. Delapan buah helikopter telah mengudara seluruhnya, yang tentu saja keberangkatan dan kedatangan mereka ke kota S, provinsi B itu, sudah di mintakan ijinnya pada otoritas setempat
Setelah menempuh penerbangan sejauh 135, 3 kilometer, dan
waktu tempuh kurang lebih 15 menit, Dion dan rombongannya, sudah sampai di perguruan itu, dan langsung disambut oleh pimpinan, guru guru, juga seluruh murid yang ada
Begitu Dion dan yang lainnya itu turun, serta mesin helikopter sudah dimatikan seluruhnya, seseorang segera menghampiri mereka, lalu menyapa Dion dan rombongannya dengan suara ramah
"Selamat datang tuan tuan dan nyonya!" Ucapnya cukup sopan sekali, kemudian mendekati Dion dan menyapanya
"Apa kabar jawara cilik?" Sapa orang yang barusan tadi mendekatinya, lalu membuka cadar yang terus menutupi wajahnya itu
"Pak Sambudi!" Respon Dion kaget, setelah Dion melihat wajah orang tersebut dengan jelas, lalu buru buru menyalami dan mencium tangannya dengan sikap hormat
"Ya ini aku!" Jawabnya singkat
"Jadi yang selalu memanggil anak ku itu adalah Guru?" Tanya Dion keheranan
"Benar sekali Dion, dan akulah orangnya!" Jawabnya enteng
"Bagai mana bisa kebetulan begini?' Tanya Dion penasaran
"Untuk mengetahui jawabannya, mari kita masuk dulu ke paseban perguruan." Respon Sambudi, atau yang lebih dikenal dengan nama pendekar Genta, ataupun Gentala dengan ramahnya
"Oh kalau begitu mari guru!. Tapi sebelum kita ke sana, kenalkan dulu. ini kakek ku Mahesa Birawa, dan ini istriku Ivory, serta yang gagah itu adalah Dragon atau Draco anak kami!"
"Mereka berlima adalah pengawal utama keluarga ku. Yang paling kanan adalah Iron, Hans, Leon, Burgon, serta yang paling kiri dan muda adalah Bumi."
"Salam kenal tuan dan nyonya, pemimpin muda Draco! dan yang lainnya" Ucap Gentala sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada
"Oh terima kasih!" Jawab tuan Birawa senang, begitu juga dengan Ivory, dan yang lainnya itu, tapi tidak termasuk Draco. Entah kenapa bisa terjadi demikian
"Kakek, Ivo dan Draco, kenalkan ini pak Sambudi atau Gentala pendekar naga di daerah ini, bahkan di nusantara. Beliau adalah guruku beberapa belas tahun lalu." Ucap Dion memperkenalkan siapa Gentala itu
"Oh jadi anda adalah guru oleh pernapasan, juga guru olah tubuh cucu ku?" Respon tuan Birawa penasaran
"Benar sekali tuan, tapi hanya sempat mengajarnya selama empat tahun saja, itupun belum seluruhnya di ajarkan padanya."
__ADS_1
"Karena dia harus pindah ke tempat lain, dan melanjutkan cita citanya di tempat itu."
"Tapi tidak disangka, hari ini kami dipertemukan lagi dengannya dalam situasi lain." Jawab Gentala berterus terang
"Baguslah kalau begitu!. Kedua keturunan ku, semuanya berguru pada orang hebat seperti anda. Aku senang mendengarnya!" Respon tuan Birawa senang
"Ah, tuan terlalu meninggikannya!" Respon Gentala merendah
"Oh ya!. Mari segera ke paseban itu, kebetulan sebentar lagi matahari akan naik!" Ucap Gentala sopan
"Silakan guru!" Jawab Dion dengan lemah lembut, Kemudian mengikuti langkah Gentala dan lainnya, untuk menuju paseban, atau aula pertemuan perguruan itu
Sepanjang perjalanan, Dion dan yang lainnya itu, berkenalan dengan guru guru lain, termasuk juga dengan murid muridnya
Suasana akrab, terasa kental sekali diantara mereka. Banyak perbicangan yang memuji penampilan Dion dan rombongannya, karena datang ketempat itu dengan menggunakan delapan buah helikopter besar
Tentu pemilik nya, bukan orang sembarangan, apalagi setelah melihat keakraban guru besar mereka dengan Dion, dan setelah mereka mendengar bahwa Dion juga murid guru besar itu, kekaguman mereka semakin besar
Kalau Dion pernah berguru pada guru besar mereka, berarti Dion adalah senior seluruh murid murid yang ada, termasuk lima jawara perguruan tersebut
Tidak terasa perjalanan yang cukup jauh itu, terasa dekat bagi mereka, hingga tak lama kemudian, Dion, tuan Birawa, Ivory, Draco, Iron, Hans, Leon, Burgon dan Bumi, saat ini sudah masuk kedalam aula tersebut, dan langsung di tempatkan pada posisinya masing masing
Sedangkan ratusan orang orangnya, tetap menuggu diluar, berjaga dari segala kemungkinan yang ada
"Langsung saja pada intinya guru.!." Ucap Dion sesaat setelah duduk dan seperti biasanya langsung to the poin saja
"Apakah benar bahwa anak ku Draco, adalah pewaris perguruan ini, hingga dia dititipi sebuah batu mistik, yang tidak sembarangan orang bisa mengangkatnya?" Tanya Dion apa adanya
"Dari sekian banyak garis keturunannya, termasuk juga guru mu ini, hanya dia yang dipilih oleh leluhur untuk meneruskan perguruan ini."
"Namun bukan harus menetap selamanya di sini Dia bisa meninggalkan perguruan, karena beberapa alasan."
"Dengan hadirnya dia di sini, berarti perguruan telah mempunyai pemimpin yang sah, dan tidak bisa diganggu gugat lagi."
"Tapi sebelum prosesi pengangkatan ketua, atau pemimpin perguruan tersebut. Tuan pemimpin muda harus dilatih dulu dalam beberapa tahun."
"Jadi intinya adalah, pemimpin muda harus bisa menyelesaikan beberapa rangkaian tes, agar kedepannya nanti bisa memimpin perguruan ini." Jawab Gentala apa adanya
"Jadi kapan anak ku ini, bisa memulai pendidikannya itu?" Tanya Dion ingin tahu
"Seperti yang ada dalam petunjuk melalui mimpi, pemimpin muda harus memulainya ketika genap berusia 7 tahun."
"Saat itulah wahyu takwa akan memasuki tubuh juga jiwanya."
"Setelah masuk maka resmilah pemimpin muda menjadi pemimpin di perguruan ini" Jawab Gentala cukup jelas
"Tunggu sebentar guru!. Dari tadi guru terus menyebutkan, bahwa anak ku ini adalah pemimpin muda di perguruan ini?. Padahal dia baru saja datang kesini?" Tanya Dion menyela perkataan gurunya itu
"Bagi siapapun yang terpilih memiliki batu itu, dan kuat mengangkat serta menyimpannya, maka dialah pemimpin berikutnya di perguruan silat ini."
"Dari sekian banyak murid, tidak satupun yang bisa mengangkat batu tersebut, termasuk juga guru."
__ADS_1
"Walaupun bisa mengangkatnya, tapi cuma dalam beberapa detik saja. Setelah itu jatuh ketanah karena berat." Ucapnya berterus terang
"Jadi karena pemimpin muda bisa mengangkat, bahkan menyimpannya, maka secara hukum leluhur, tuan Draco lah yang berhak memimpin perguruan ini, dan itu sudah ketentuan yang berlaku."
"Jika demikian adanya, Aku jadi paham, dan kami semua juga paham."
"Cuma masalahnya adalah. kondisi perguruan ini sudah sangat usang dan kurang mendapat sentuhan modernisasi."
"Bagaimana kalau Dion merubah keseluruhan bangunan yang ada, dan menggantinya dengan bangunan yang sedikit layak serta modern?" Ucap Dion memohon
"Kalau itu tidak menyusahkan anak Dion, kenapa kami harus menolak nya, Toh nantinya, semua keputusan ada ditangan pemimpin muda, dan kami harus patuh pada keputusannya, sepanjang itu tidak bertentangan dengan wasiat leluhur" Jawab Gentala cukup bijaksana
"Burgon!, bagaimana tugas yang aku berikan padamu, apakah kau sudah melakukannya?" Tanya Dion tiba tiba
"Sudah tuan besar!, dan lokasi tanah itu kebetulan tidak jauh dari perguruan ini, jadi sangat mudah di akses dari arah mana saja." Jawab Burgon mantap
"Tanah siapakah itu?" Tanya Dion ingin tahu
"Kalau untuk masalah tersebut, silakan tuan besar tanyakan pada guru tuan ini, karena dia yang mengetahui secara persis tanah tersebut." Jawab Burgon apa adanya
"Guru?" Ucap Dion seperti sedang mengajukan pertanyaan pada Gentala, gurunya itu
"Ya, aku tahu sejarah tanah tersebut, dan siapa pemiliknya."
"Kalau kau ingin membeli tanah itu, sebaiknya kau batalkan saja, karena pemiliknya sangat sombong dan mata duitan."
"Ditambah lagi dia mempunyai banyak anak buah, yang rata rata kuat dan sok jagoan!"
"Sudah banyak kali murid murid perguruan ini bentrok dengan mereka, disebabkan masalah sepele, tapi akhirnya bisa diselesaikan juga."
"Tanah tersebut didapatkannya dengan cara merampas dari pemilik asli, karena dia terlilit hutang yang sangat banyak,"
"Karena tidak mampu membayar, maka tanahnya diambil alih secara paksa olehnya."
"Bukan hanya itu saja. bahkan anak gadis orang tersebut, di ambilnya secara paksa juga, dan sekarang tidak tahu apa kabarnya."
"Kami dari perguruan ini, ingin menolongnya, tapi apalah daya, kami tidak bisa menebus dan membayar hutang hutangnya itu."
"Maka terpaksalah kami diam saja, tapi tetap terus berusaha menolong orang tua tersebut semampu yang kami bisa."
"Ada juga orang kaya dari kota, yang ingin membeli tanah itu, tapi begitu mendengar harganya, dia mundur secara teratur. dan sampai sekarang tidak tahu kabarnya"
"Sampai saat ini. sudah banyak orang yang ingin membeli tanah tersebut, tapi tidak satupun yang sanggup untuk membayarnya, karena harganya yang sangat tinggi, dan tidak masuk akal."
"Katakan saja siapa orang nya!" Respon tuan Birawa kesal, ketika mendengar cerita tersebut
"Juragan Braga Harimurti!" Jawab Gentala takut takut
"Braga!" Teriak Dion terkejut
"Kakek!" Panggil Dion kuat, ingin mendapatkan kepastian itu darinya
__ADS_1