
Tidak ada satu orang pun yang tau tentang permainan takdir hidup masing masing. Semuanya mengalir bagai air di sungai atau tempat tempat lain
Ada yang mengalir deras, ada pula yang mengalir perlahan. tergantung debit air, lokasi, faktor pendukung dan lain sebagainya
Jika alirannya deras dan dalam jumlah banyak, maka apa saja yang dilaluinya akan terseret habis
Tapi jika mengalirnya perlahan apalagi tenang, maka benda benda yang dilaluinya tidak akan terpengaruh oleh terjangannya, malah membuat rumput, akar, dahan, ranting, daun dan sampah akan meliuk indah di atasnya
Seperti itulah kehidupan Dion saat ini
Di kehidupan nya yang kedua setelah berpisah dengan Jasmine. Untuk sesaat, nasibnya bagai daun yang terombangambing di atas air, tanpa arah tanpa tujuan pasti
Hidup terasa berat, langkah tiada pasti. Masa depan terlalu suram, hidup benar benar terpuruk, tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain berharap
Dalam ke terombang ambingnya itulah, sebuah tangan maju terulur, mencoba menariknya keluar dari atas air yang mengalir deras
Basah kuyup daun yang diambilnya, tidak dihiraukan sama sekali oleh sang penolong daun itu
Dengan tekun dan telaten, daun yang basah tersebut di keringkan dengan tangannya sendiri
Setelah kering, daun itu menjadi ringan, lalu terbang tertiup angin, dan jatuh ke pangkuan seseorang
Dengan sigap orang tersebut mengambil daun itu, mengamati, menimang kemudian mencoba menciumnya. Tapi tiba tiba orang pertama yang menemukan daun itu datang, dan mencoba merebutnya kembali
Karena merasa bukan pemilik daun itu, dia segera menyerahkannya, kemudian bergegas pergi
"Tunggu Maya!" Teriak seseorang yang berusaha menghentikan nya untuk tidak melanjutkan langkahnya
Orang yang dipanggil Maya mendadak berhenti, ketika mendengar panggilan itu, kemudian menoleh kearah sang pemanggil tersebut, menunggu apa yang akan dikatakannya
"Aku merasa ini bukan salah mu, ini permainan takdir, kalau dua orang wanita seperti kita, harus mencintai satu orang pria yang sama."
"Aku tidak mau bersikap egois yang mau menang sendiri dan menguasai segala yang ada"
"Kita orang lemah, yang berada di posisi yang tidak menguntungkan satu sama lain
"Tapi jika kita ikhlas menjalaninya, maka ketidakberuntungan itu akan berubah menjadi satu anugerah yang sangat besar."
"Untuk itu, mari sambut tangan kakak ini, dan bimbing orang yang kita cintai dengan sepenuh jiwa." Ucap Ivory menumpahkan isi hatinya selama
Maya yang mendengarkan kata kata bijak itu menjadi terharu, kemudian tanpa di minta, berlari kearah Ivory, kemudian memeluknya erat erat
"Kakak Ivory!. Sungguh aku tidak menyangka, di kehidupan ku ini, akan bisa mencintai satu pria yang sama dengan wanita lain. Apakah takdir telah mempermainkan kita kak?" Tanya Maya sembari memeluk tubuh Ivory erat erat
"Bukan begitu dek!. Itulah suratan kita sebagai seorang wanita, yang telah ditakdirkan untuk berbagi kasih sayang pada pria yang sama. Apakah kau keberatan?" Tanya Ivory mencoba menebak isi hati calon madunya itu
Ditanya seperti itu, Maya langsung melepaskan pelukannya di tubuh Ivory, kemudian berkata..
"Sebagai seorang wanita, bohong kalau aku tidak cemburu, ketika melihat lelaki ku bersama orang lain, tapi sebagai sesama wanita, seharusnya kakak lah yang harus tidak terima, karena hadirnya orang yang tidak tau diri ini di kehidupan tuan muda." Jawab Maya tidak enak hati dan penuh dengan penyesalan
Ivory menjadi terharu, ketika mendengar kata kata itu, lalu membalas perkataan tersebut dengan tenang
"Pada awalnya, aku memang sakit hati dan cemburu, ketika melihat kedekatan mu dengan tuan muda, bahkan sangat marah sekali pada mu." Ucap Ivory sambil pikirannya menerawang jauh, teringat saat pertama kali melihat kedekatan Dion dengan Maya dulu, tak lama kemudian dia menyambung perkataannya kembali
__ADS_1
"Begitu juga yang terjadi pada Emily, gadis yang dikenal tuan muda sejak lama, bahkan jauh sebelum tuan muda jadi seperti ini." Kenangnya menyesali keegoisannya itu
"Namun seiring berjalannya waktu, aku jadi menyadari, bahwa tuan muda bukanlah milik ku, karena perhatian yang ku tunjukan padanya selama ini, dianggap tidak pernah ada." Ucapnya lagi dengan ekspresi lemah
"Sejak saat itu, aku mulai merubah sikapku, karena bagaimanapun, tuan muda bukanlah kekasihku, tetapi atasanku"
"Tapi ketika kau hadir, rasa tidak suka, marah, benci dan cemburu itu datang lagi, mau marah pada siapa, padamu?, kau tidak salah, pada tuan muda, apalagi!, jadi aku hanya bisa memendam perasaan itu dalam hati." Ujarnya sedih
"Dan puncaknya ketika tuan besar Birawa mengumumkan perjodohan kalian itu. Saat itulah hatiku benar benar hancur, dan berniat ingin keluar saja dari perusahaan Birawa Group, lalu pergi sejauh jauhnya dari kehidupan kalian."
"Tapi ternyata takdir berkata lain, tuan muda Dion terus memberikan semangat kepada ku, dengan ucapan ucapannya yang menyejukkan hati."
"Puncaknya adalah, ketika perseteruan antara tuan muda Dion dengan tuan besar, gara gara perjodohan itu. Tapi syukurlah, permasalahan itu bisa selesai, karena tuan besar mau menerima kenyataan yang ada."
"Tidak ada yang dipilih diantara kita, tapi kita dipilih dua dua nya. Bukankah itu yang namanya takdir!"
"Aku ingin menolak saat itu, tapi ucapan tuan besar tidak mampu aku tolak. Begitu juga dengan tatapan lembut tuan muda Dion, akhir nya hatiku luluh, dan mau menerima kondisi seperti ini."
"Jadilah kita sekarang dalam posisi yang serba salah. Untuk itu, mari kita belajar untuk saling berbagi dek!. Saling melindungi, saling menyayangi, dan saling mendukung orang yang akan menjadi suami kita nanti." Ucap Ivory tenang, terkesan sangat luas kebijaksanaannya
"Terima kasih kak Ivo! ternyata kakak orang yang sangat baik sekali!" Ucap Maya sambil memeluknya lagi erat erat
***
"Dimana kedua anak itu kenapa tidak bergabung dengan kita menikmati teh ini." Ucap tuan Birawa, sesaat setelah menyeruput teh kesukaannya itu
"Maaf tuan besar!, tadi sebelum saya ke sini, Maya ada mengatakan, bahwa dia ingin duduk duduk di gazebo tepi laut itu, katanya ingin menikmati pemandangan indah di sana." Jawab Tiger sopan
"Dasar anak itu!. Disaat saat seperti ini, bukankah sebaiknya kita berkumpul, sambil menikmati teh dan makanan makanan yang ada di sini?" Respon tuan Birawa terkesan tidak senang
"Kau ini pun satu!. Tujuan Kakek datang ke sini adalah untuk melihat keakraban kalian berdua, kok sekarang malah jauh jauh an!" Sanggah kakeknya dengan nada kesal
Tiger yang melihat visualisasi seperti itu, menjadi tercenung sendiri, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran tuan besar Birawa, yang terus menerus memaksakan kehendaknya. "Benar benar orang tua yang aneh!" Batinnya dalam hati
"Jadi tunggu apalagi! segera susul si Maya itu!, jangan biarkan dia kedinginan di sana, dan jangan lupa cari juga Ivory, siapa tahu dia juga ada di sana." Titah kakeknya tegas pada Dion
"Baiklah kakekku yang cerewet!" Jawab Dion meledek kakeknya itu, kemudian buru buru pergi tanpa menunggu respon dari kakeknya tersebut
"Dasar anak muda!. Dikasi tahu baik baik, malah meledek kakeknya yang ganteng ini!" Ucap tuan Birawa bersungut sungut kesal
Tiger yang melihat pemandangan itu sekali lagi menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul, dia tidak menyangka, bahwa tuan muda Dion akan berani meledek kakeknya yang terkenal garang itu, tapi perbuatannya tertangkap mata tuan Birawa, jadi karena sudah tahu, dia bertanya pada Tiger
"Kenapa kau malah senyum senyum sendiri?.Apakah kau juga senang calon menantu mu itu bersikap kurang ajar sama kakeknya?" Tanya tuan Birawa semakin kesal
"Maaf tuan besar, bukan maksud saya untuk mentertawakan kejadian tadi, tapi saya malah berpikir, bahwa kedekatan tuan besar dengan tuan muda membuat saya iri." Jawab Tiger apa adanya
"Ah sudahlah, kamu itu sama saja dengan Dion!" Ucap tuan Birawa ngambek, kemudian pergi entah kemana
***
"Eemm!" Bunyi sebuah suara cukup keras, pertanda memberikan kode kepada orang yang ditujunya itu
Ivory dan Maya memutar kepalanya ke samping, untuk melihat siapa yang tadi berdehem seperti itu
__ADS_1
"Tuan muda!"
"Tuan muda!"
Ucap Maya dan Ivory serempak, kemudian bergegas berdiri menyambut kedatangan Dion tersebut
"Apakah aku tidak mengganggu acara kalian?" Tanya Dion basa basi saja
"Tidak tuan muda! sama sekali tidak." Jawab Ivory tidak enak hati
"Mari silakan duduk tuan muda!" Sambung Maya mengajak Dion untuk duduk di seberangnya
"Tentu ada hal penting yang telah kalian bicarakan, padahal kakek mencari kalian cari tadi!" Ucap Dion setelah dua duduk
"Maaf tuan muda!, kami hanya sekedar duduk duduk saja di sini, sambil menikmati indahnya panorama Teluk Berlian ini." Respon Ivory cepat
"Wah baguslah kalau begitu. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak percaya kalau tidak ada apa apanya antara kalian ini." Bantah Dion hingga membuat Ivory dan Maya mengerutkan keningnya
"Percayalah tuan muda, kami baik baik saja dari tadi!" Tangkis Ivory berkelit
"??"
"Baiklah kalau begitu!. Karena kalian merasa terganggu dengan kehadiran ku, maka sebaiknya aku pergi saja!" Ucap Dion merajuk
"Tidak tuan muda!. Baik !baik !, kami akan jujur!" Respon Ivory gugup
"Itu jauh lebih baik!" Sambut Dion senang
"Sebelum nya, mohon maaf tuan muda, jika Ivo lancang
"Ya katakanlah!, aku tidak apa apa." Jawab Dion enteng
"Baik tuan muda!" Sambut Ivory sudah mulai lega
"Sejujurnya dari tadi, kami membicarakan tentang tuan muda, dan kemungkinan kemungkinan apa yang akan kami hadapi, jika kita menikah nanti." Kata Ivory ragu ragu, dan menunggu bagaimana respon dari Dion
"Apakah kalian berdua saling bertengkar?" Tanya Dion penasaran
"Tidak tuan muda!. Kami malah baik baik saja, dan sudah sepakat akan menerima kondisi ini apa adanya, dan kami ikhlas menjalaninya." Kali ini Maya pula yang menjawab
"Maksud kalian, kalian mau hidup dimadu seperti itu nanti?" Tanya Dion tanpa ditutup tutupi
"Benar tuan muda!, kami berdua tidak merasa keberatan, karena kami menyadari, inilah suratan takdir kami yang harus kami jalani, karena mencintai satu pria yang sama."
"Jadi?"
"Perkiraan tuan muda benar, kami sudah ikhlas untuk saling dimadu!." Jawab Ivory tanpa ragu ragu lagi
"Sekarang terserah bagaimana tanggapan tuan muda terhadap kami. Apakah menilai kami terlalu rendah atau bagaimana, kami akan terima tuan muda!" Sambung Maya mencoba menenangkan diri
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?. Aku tidak memikirkan ego sendiri. Aku sudah membuang jauh jauh rasa trauma ku, dan aku sudah memutuskan, akan memilih kalian berdua, dan memperlakukan keduanya dengan baik." Ucap Dion memberi keputusan
"Terima kasih tuan muda!" Jawab mereka serempak, kemudian berdiri dan duduk di samping kanan kiri Dion, lalu memeluknya erat erat
__ADS_1
"???"