
"Apakah itu benar?" tanya Lampard.
"Iya itu benar," jawab Ian.
"Rasanya ada yang lebih sadis dari aku," ucap Lampard sambil tersenyum smirk.
"Ke mana Agatha?" tanya Ian.
"Agatha sedang mencari istrinya yang telah hilang," jawab Lampard yang membuat kedua pria itu menganga.
"Kenapa kamu menganga seperti itu?' tanya Lampard.
"Memangnya kemana istrinya?" tanya Leon balik.
"Di Surabaya. Ibunya Stella berada di sana," jawab Lampard.
"Apakah Stella tahu di mana sang ibu berada?" tanya Leon.
"Stella dan Hatori baru mengetahui di mana sang ibu berada. Mereka mendapatkan informasinya dari aku," jawab Lampard.
"Satu kata buat keluarga Tutik yaitu sadis. Tutik berani sekali membuat keluarga Stella hancur berantakan seperti itu," kesal Leon.
"Ya… memang sengaja. Tapi mereka tidak tahu siapa Agatha sebenarnya? Kalau dihitung-hitung aset Ayashi dan Kurumi besaran Ayashi," Ian sengaja membeberkan sebuah fakta yang membuat Leon dan Lampard tercengang.
"Berarti?" tanya Lampard.
"Agatha bukan orang sembarangan di Jepang. Di sana Agatha memiliki nama besar. Dia adalah seorang pebisnis hebat di segala sektor manapun," Ian menjelaskan siapa Agatha sebenarnya.
"Ternyata calon mertua Kak Ian bukan orang yang sembarangan ya," puji Leon ke Ian.
"Kamu tidak memberiku selamat?" tanya Lampard ke Leon dengan wajah kesal.
"Maksudnya apa?' tanya Leon yang lupa dengan status Lampard.
"Agatha juga calon mertuaku!" geram Lampard.
"benarkah itu?" tanya Leon yang lupa dengan status Lampard yang sebentar lagi melepas masa lajang.
"Ian!" teriak Lampard sambil membuang wajahnya ke sembarang arah.
"Iya kak," sahut Ian yang mengambil pulpen dan kertas di meja.
"Bulan depan potong gajinya sebesar tiga puluh persen!" titah Lampard.
Jederrrrrrr.
__ADS_1
Bagai petir di siang bolong. Leon mendapati kenyataan yang di mana gajinya bulan depan dipotong sebesar tiga puluh persen. Lalu pria bertubuh jangkung itu memelas sambil berkata, "Jangan potong gajiku kak. Istriku di rumah sedang marah-marah."
"Sejak kapan kamu memiliki istri?" tanya Roth yang baru saja datang.
"Aish… habislah aku… sekarang aku tidak bisa mengelak lagi," ucap Leon dalam hati.
"Baguslah… kamu sudah membuka kedok Leon itu," puji Lampard yang menatap Leon sambil mengintimidasinya.
"Sedari dulu kalau ada perempuan gatal selalu saja berbohong," kesal Roth.
"Memang… bahkan memanipulasi gajinya paling pandai," Lampard tertawa lebar melihat Leon yang menderita.
"Kalau enggak begitu bukan namanya Leonardo. Pria tertampan di antara banyaknya pengawal," ucap Leon dengan penuh percaya diri.
"Iya aja deh… ketimbang ngambek nggak mau tugas sama sekali. Nanti berabe," kesal Lampard yang disambut dengan gelak tawa Ian dan Roth.
"Ya… udah deh kak… aku mau pamit dulu… aku mau latihan bersama dengan William," pamit Leon.
"Pergilah," usir Lampard.
Leon bergegas meninggalkan ruangan itu sambil tersenyum manis. Leon adalah kepala pengawal yang memiliki strategi perang mumpuni. Sedari dulu Leon memang dilatih oleh Gio dan Lampard untuk dijadikan kaki tangan mereka. Di samping itu Leon adalah pria yang memiliki kelicikan tingkat dewa. Ditambah dengan memanipulasi data-data tiga perusahaan dengan cepat. Leon diangkat sebagai anak emas Black Horizon.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Lampard.
"Aku ada perlu dengan kalian," jawab Roth.
"Masalahnya bukan itu. Blue Diamond di kawasan Manila terancam. Exodus sering menyerang markas Blue Diamond di sana," jawab Roth. "Sedangkan Kak Martin sibuk melindungi keluarganya. Kak Martin nggak bisa keluar dari sarangnya."
Mendengar markas Blue Diamond diserang, Lampard terdiam. Entah kenapa akhir-akhir ini markas Blue Diamond diserang oleh Exodus. Kalau dilihat dari riwayat penyerangan, Blue Diamond nggak pernah menyerang terlebih dahulu. Dari dulu Blue Diamond memang memilih damai.
"Kamu benar. Marten tidak bisa kemana-mana. Ketiga cucuku sedang dalam bahaya. Kapan saja Exodus akan menyerang dengan brutal. Itulah yang aku takutkan sekarang," ucap Lampard sambil mengepalkan tangannya.
"Aku ke sini meminta bantuan kamu. Derek juga nggak bisa kemana-mana. Dia sedang berjaga di markas," ucap Roth.
"Kamu benar. Menjadi Derek sangat berat. tanggung jawabnya besar," timpal Ian.
"Kalau begitu aku akan menarik seluruh pasukan Blue Diamond! Kalau diteruskan bisa-bisa anggota Blue Diamond habis!" geram Lampard.
"Maafkan aku kak! Aku nggak bisa pergi kesana," ujar Roth dengan wajah penyesalan.
"Aku tahu itu. Salah satu harus turun tangan membereskan masalah seperti ini. Jujur aku enggak mau ada pertumpahan darah konyol," kata Lampard.
"Kembalilah ke perusahaanku! Nanti aku info selanjutnya," usir Ian.
"Baiklah," balas Roth sambil pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Melihat kepergian Roth, Lampard menghela nafasnya. Semakin lama Exodus semakin menjadi. Namun Lampard belum menyatakan perang. Ia sebisanya menekan pertarungan antar mafia agar tidak menimbulkan peperangan.
"Kapan aku akan menikah?" tanya Lampard.
"Seminggu lagi," jawab Ian.
"Baiklah," balas Lampard sambil melepaskan dasinya dan jam tangannya. "Siapkan jet tempur! Aku akan menghabisi markas Exodus dari udara! Aku tidak akan membiarkan mereka hidup!"
"Baik," sahut Ian dengan tegas,
"Kamu… siapkan evakuasi para pengawal agar mereka selamat! Sudah cukup anggota Blue Diamond diserang habis-habisan!"
Ian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum iblis. Ian langsung mempersiapkan tiga jet pribadi milik Lampard. Hari ini Lampard akan menghabisi markas Exodus melalui awan.
"Hubungi Jacob! Lacak markas Exodus melalui map!" titah Lampard.
"Siap!" balas Ian dengan semangat.
Sebelum mereka pergi, Ian menghubungi Jacob untuk melacak keberadaan markas Exodus di Manila. Namun Jacob sudah tiba di hadapannya. Jujur Ian sangat terkejut sekali melihat Jacob hadir.
"Baru mau aku hubungi. Tiba-tiba saja sudah muncul. Untung saja kamu bukan jelangkung," Ian menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Ada apa?" tanya Jacob.
"Kak Lampard meminta aku melacak keberadaan markas Exodus yang berada di Manila. Akhir-akhir ini Exodus sering menyerang markas blue diamond dengan membabi buta. Baru saja Roth ke sini untuk melaporkannya," jawab Ian.
Sebelum menjawab Lampard keluar dari ruangan itu. Ia tidak sengaja melihat kedatangan Jacob. Kebetulan sekali Lampard bisa memberikan sebuah perintah. Yaitu ikut membantu evakuasi para pengawal Blue Diamond.
"Apakah kamu sedang sibuk?" tanya Lampard.
"Untuk hari ini tidak. Makanya aku bisa berjalan-jalan untuk melihat kondisi dan situasi di kota ini," jawab Jacob dengan jujur.
"Kebetulan sekali. Aku memintamu untuk ikut mengevakuasi para anggota Blue Diamond. Karena akhir-akhir ini Blue Diamond sering diserang oleh Exodus," jelas Lampard.
"Itu lagu lama bro. Dari kemarin memang begitu. Tapi yang aku tahu sekarang bertambah parah. Mereka tidak mengenal waktu ketika terjadi penyerangan itu. Yang penting para mafia atau gangster yang menempati daerah Asia harus pergi!" Jelas Jacob.
"Kalau begitu habislah kita!" gertak Lampard.
"Kita belum habis bro. Kita masih ada waktu untuk membuat strategi agar terjadi penyerangan secara brutal dari pihak Black Horizon. Secara mereka selalu saja membuat ulah di mana-mana. Kemarin aku mengadakan meeting dadakan bersama para mafia lainnya. Mereka mengeluh atas kedatangan Exodus di tanah mereka masing-masing," sambung Jacob.
"Jujur ini sangat berat sekali bagi kita dan semuanya. Kalian sudah berani mengambil alih daerah Asia. Kalau begitu kita harus mengambil alih markasnya. Jujur saja kita sudah muak mendapatkan banyak berita tentang mereka. Sebagian orang banyak mencintai mereka ketimbang punya kita sendiri," ujar Ian.
"Kita nggak perlu untuk disayangi maupun dicintai oleh masyarakat. Kita membangun mafia ini tujuannya melindungi perusahaan. Kalau kayak gini ya sudahlah. Cepat atau lambat mereka akan menyerang kita habis-habisan," timpal Lampard dengan serius.
"Yang Kakak katakan itu benar apa adanya. Kenapa kita terlalu mengusik para anggota mafia lainnya? Lebih baik kita hidup damai dan sejahtera bersama-sama di muka bumi ini," Jacob menyetujui apa yang dikatakan oleh Lampard.
__ADS_1
"Jam berapa kita berangkat?" tanya Lampard dengan serius.