
“Jadi kamu tidak ingin menikah?” tanya Raka.
“Mau menikah gimana? Aku sendiri nggak punya keluarga yang jelas. Nggak ada yang mau dekat sama aku. Sewaktu di rumah aku jarang keluar rumah. Mana cowok nggak punya. Sekalinya punya cowok malah dijual. Nasib saya apes,” kata Stella yang membuat Frida menahan tawa.
Tak sengaja mata Stella menangkap sang suster sedang menahan tawa. Kemudian setelah hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Memang benar apa yang dikatakan Stella itu tidak ditutup-tutupi. Lalu Stella berkata, “Suster... Ketawa saja nggak usah ditahan. Bukankah nasib kita sama? Suster juga tidak memiliki pacar.”
“Gimana mau punya pacar? Setiap hari memegang pisau dan gunting,” kesal Frida yang membuat Raka tertawa kembali.
“Kalau begitu suster cari saja dokter yang tampan. Sepertinya itu lebih baik agar suster bisa menikah dengan cepat,” saran Stella.
“Tidak semudah itu mencari dokter tampan setiap bertemu dengan dokter tampan mereka sudah menikah. Jadi aku harus mencari seorang pria yang memiliki profesi lainnya kemungkinan besar aku akan mencari seorang artis atlet atau musisi. Atau juga seorang pria mapan yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan,” ucap Frida yang memiliki mimpi menikahi orang kaya.
“Kejar terus sampai dapat. Aku mendukungmu seratus persen. Atau aku buat challenge khusus buatmu,” ujar Raka yang memberikan semangat kepada sang suster.
“Apa itu dok?” tanya Frida.
“Jika kamu bisa menaklukkan kakeknya Sean, aku memberimu sebuah rumah dan mobil,” jawab raga yang membuat Frida menelan salivanya dengan susah payah. “Oh iya kalau kamu bisa menikahinya tambah lagi satu apartemen di Snowden Group.”
“Dok, yang bener saja ngasih challenge di kandang buaya. Lebih baik dokter ngasih aku challenge untuk mengejar Tuan Leon,” ucap Frida yang mundur duluan.
“Payah kamu. Sebenarnya aku sudah menyediakan hadiah itu buat kamu. Tapi kamu menolaknya terlebih dahulu Ya sudahlah aku simpan lagi,” ejek Raka.
“Dok, lebih baik aku tidak mengejar Tuhan Lampard. Jika ada jalan seperti itu mengenai Kakak tampan saya menyerah dok. Lebih baik saya mundur alon-alon ketimbang mengajar yang tidak pasti. Bukannya dokter sudah sering memberikan challenge kepada teman-teman saya? Terus nasib mereka berakhir dengan tragis,” ucap Frida dengan gantung.
“Apakah Tuan Lampard adalah kakak tua itu?” tanya Stella penasaran.
“Iya,” jawab berapa yang selesai memeriksa Stella. “Beberapa hari ke depan kamu jangan terlalu banyak bergerak. Posisi kamu seperti ini. Kamu belum bisa duduk untuk sementara waktu. Tetaplah posisi seperti ini,” saran Raka kepada Stella.
“Kalau tubuhku merasa pegal lalu berganti posisi Bagaimana dok?” tanya Stella.
__ADS_1
“Kamu bisa meminta suster Frida atau Sinta membantu berganti posisi. Apakah kamu mau duduk?” tanya Raka. “ketika kamu duduk jangan dibiasakan untuk bergerak ke sana kemari. Karena tulang ekormu hampir keserempet peluru.”
Seketika mata Stella membola dengan sempurna. Dirinya harus menangis atau tertawa karena sang peluru masuk ke dalam tubuhnya bagian bawah, “Apakah itu benar dokter?”
“Ya itu benar. Sekarang kamu berhati-hati saja. Jangan banyak bergerak. Jika bergerak kamu akan merasakan peri yang tak tertahankan seperti orang patah hati,” jawab Raka yang cukup menghibur Stella agar tidak bersedih.
“Ternyata dokter bisa ngelawak ya?” tanya Stella yang terhibur dengan Raka.
“Bukannya seorang dokter harus bisa menghibur pasiennya jika sedang sakit?” tanya Raka balik.
“Sepertinya sih dok. Aku jarang ke rumah sakit bahkan nggak pernah sama sekali. Paling sakit pakai obat warung,” celetuk Stella.
“Malang sekali nasibmu. Bukannya kamu adalah seorang ahli waris Kurumi, bisa-bisanya tidak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik dari keluargamu itu,” batin Raka.
“Setelah ini kamu akan dirawat mereka. Aku pergi terlebih dahulu,” pamit Raka yang sudah selesai memeriksa Stella.
Selesai memeriksa Stella, Raka mulai menganalisa keadaan Stella bersama Ibra. Di klub malam, Leon sudah mengajak para pengawalnya berkumpul private room. Leon menyuruhnya bersantai dan bersenang-senang. Setelah itu ia langsung pergi ke ruangan Imron. Di sana Leon bertemu dengan Lampard, Gio dan Martin.
“Imron sedang belajar acting untuk menarik Patty masuk ke dalam lingkarannya,” jawab Martin.
“Saranku jangan kak Imron deh. Seandainya Patty melaporkan kasus ini ke polisi, karir Kak Imron sedang terancam,” saran Leon yang membaca situasi ke depan.
Lampard yang sedang membuka majalah terkejut dengan pengakuan Leon. Apa yang dikatakan Leon adalah benar. Apalagi posisi Imron adalah seorang asistens CEO. Yang di mana jabatan itu sangat penting dan terhormat. Lalu mata Lampard tertuju pada Leon. Ia segera meraih ponselnya untuk menghubungi Imron. Sedangkan Leon merasakan perasaan yang tidak enak. Jangan-jangan dirinya yang kena dan menjadi umpan selanjutnya.
“Saatnya berganti posisi. Aku harap kamu bisa menggantikan posisi Imron. Apakah kamu mengerti Leon?” Tanya Lampard dengan serius.
Gio dan Martin yang masih setia di ruangan itu hanya bisa menahan tawanya. Menurutnya kejadian ini sangat lucu dan menarik. Jika Lampard menjadi kepala operasi lapangan semuanya menjadi kacau balau. Contohnya kasus ini, seharusnya posisi si a dan si b sudah benar, maka dengan cepat Lampard merubahnya. Akan tetapi perubahan itu memberikan dampak positif bagi misinya. Sering sekali Gio, Imron, Jacob, Alexa, atau Ian sangat kesal dan ingin menghajar sang ketua itu.
“Sepertinya kamu yang menjadi sasaran selanjutnya,” ledek Martin.
__ADS_1
“Untung saja kamu tidak masuk dalam organisasi. Jika kamu masuk, kamu akan merasakan sensasi gila dari kakak angkatmu itu. Setelah rencana disusun dengan rapi. Setelah menyusun rencana kami langsung terjun ke lokasi. Satu detik dua detik hingga beberapa detik langsung mengubah posisi. Kami sebagai anggota dan dia ketuanya ingin menghajar sampai babak belur,” kesal Gio kepada Lampard.
“Tapi posisi begitu sering berhasil,” sahut Lampard tanpa memiliki dosa sama sekali.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Imron masuk ke dalam dan melihat keempat pria bertubuh kekar itu sedang diskusi. Imron menatap Lampard dan merasakan ada sesuatu yang aneh.
“Ada apa?” tanya Imron yang stress karena tidak bisa akting.”
“Sepertinya kamu harus berganti posisi mengingat memiliki jabatan penting di kantor. Jika kamu tidak berganti posisi maka kalau karirmu akan tamat. Apakah kamu paham Imron?” tanya Lampard balik.
“Maksud kakak? Jujur aku nggak tahu maksudnya apa?” tanya Imron yang menggelengkan kepalanya.
“Gini. Barusan saja Leon berkata, jika kasus ini mencuat ke permukaan akan sangat ramai. Dan kamu yang meminta si Patty menghibur para pengawal, maka Patty bisa menuntutmu. Ditambah lagi Kamu adalah seorang asisten yang dikagumi dan dinilai para cewek. Lalu Patty akan melaporkan kamu ke orang tuanya dan ujung-ujungnya ke aparat. Udah gitu aja. Pokoknya kamu harus berganti posisi,” Saran Lampard.
Yang dikatakan Leon dan lambat itu benar. Mereka sudah memikirkan nasib Imron. Jika Patty lapor ke pihak berwajib, bisa dipastikan karir Imron selesai. Imron pun tampak berpikir sejenak hingga menemukan jawabannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mundur dalam merayu Patty.
“Lalu siapa yang menjadi eksekutornya?” tanya Martin.
“Dengan terpaksa aku memutuskan untuk menunjuk Leon,” jawab Lampard dengan serius.
Leon membelalak sempurna dan menggelengkan kepalanya. Dengan cepat tangan Leon diangkat lalu menaruhnya di dada. Simbol itu menandakan bahwa sang eksekutor menyerah. Tanda itu hanya ditemukan di Black Horizon.
“Kenapa kamu menyerah Leon?” tanya Lampard yang curiga.
“Maaf Kak, sepertinya aku menyerah kalau disuruh mengajak kerjasama Patty. Dia bukan Wanita biasa. Dia sangat terobsesi pada pria tampan setampan aku. Jika disuruh membersihkan markas, maka saya akan mengerjakannya,” jawab Leon yang malas bertemu Patty.
__ADS_1
“Apakah kamu mau bonus dariku?” tanya Gio.