
"Sungguh ini sangat gila sekali. Kita harus membuat pertemuan antar kelompok gangster dan mafia kawasan Asia. Jika tidak mereka tidak akan pernah tahu obat-obatan terlarang seperti ini. Bisa-bisa seluruh generasi selanjutnya rusak gara-gara mereka!" Geram Martin.
"Kakak benar. Jika kita tidak melakukannya sekarang maka kapan lagi. Mereka sudah memiliki sakit jiwa yang parah. Kalau begitu kita harus berkoordinasi dengan Kak Gio dan Kak Lampard," tambah Ibra.
Sambil menunggu tes DNA itu, mereka memutuskan untuk bermain game di dalam ponsel. Sejam berlalu Agatha dan Raka kembali ke ruangannya. Mereka melihat kedua pria berbeda generasi itu bermain game. Mereka sangat heboh sekali ketika bermain game tersebut.
"Lagi pada ngapain mereka? Hingga membuat keributan terdengar keluar," tanya Agatha yang duduk di sofa single.
"Itu biasa. Mereka adalah penyuka game. Kalau waktu senggang begini mereka memutuskan untuk bermain game sambil menunggu waktu luang. Begitu juga dengan para petinggi Black Horizon dan para pengawal. Mereka juga bermain game. Yang lebih parahnya lagi Kak Gio dan Alexa sering mengadakan kompetisi hampir setiap bulannya," jelas Raka. "Itung-itung mereka sedang berlatih."
"Kok aku baru tahu ya? Sekelas Martin Snowden seorang CEO besar. Ternyata menyukai main game. Di tempatku sana mereka dilarang untuk bermain game ketika waktu kosong. Karena hal itu bisa memecah konsentrasi otak pada mereka. Mau tidak mau aku melarang mereka main game. Sebagai gantinya Aku memiliki penangkaran kucing-kucing lucu dan menggemaskan. Aku melepaskan kucing itu dan berkeliaran di mana-mana. Sebab kucing-kucing itu bisa meredakan kebosanan mereka terhadap pekerjaan," jelas Agatha.
"Sepertinya itu ide yang sangat bagus. Aku akan melakukannya. Tapi aku harus bilang kepada istriku terlebih dahulu. Aku tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat," sahut Martin.
"Memang ide itu sangat efektif sekali. Karena para kucing yang aku pelihara bisa membuat mereka mengurangi stres dalam pekerjaannya. Coba saja kalau begitu," tambah Agatha
Beberapa saat kemudian asisten Raka mengetuk pintu. Lalu Raka berteriak untuk masuk. Setelah Raka berteriak asisten itu masuk ke dalam sambil membungkukkan badannya.
"Tuan Raka," panggil asisten itu.
"Iya Roses," sahut Raka sambil mengangkat wajahnya. "Apakah hasil tes DNA itu udah keluar?"
"Sudah tuan," jawab Roses sambil menyodorkan amplop itu ke arah Raka.
"Kalau begitu terima kasih. Pergilah keluar," usir Raka sambil memegang amplop tersebut.
Roses akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Wanita itu pergi untuk mengurus yang lainnya. Sedangkan Raka membuka hasil tes DNA itu. Ternyata teh DNA itu mengatakan kalau sembilan puluh sembilan persen Agatha adalah orang tua biologis si kembar. Dengan senyum sumringah Agatha bisa memberikan bukti itu kepada kedua putrinya.
__ADS_1
"Terima kasih Raka," ucap Agatha dengan tulus.
"Sama-sama," balas Raka.
"Aku harus membayar ini semuanya. Di mana aku harus membayarnya?" tanya Agatha.
"Tanyakan saja pada kak Martin. Aku hanya melakukan prosedur yang harus aku jalani," jawab Raka sambil membuang wajahnya.
Jujur Raka hanya ingin membantu Agatha. Dirinya tidak mengambil uang sepeserpun kepada Agatha. Meskipun Agatha adalah pengusaha kaya yang berpengaruh pada Jepang, Raka tidak memperdulikan itu. Bahkan Raka sudah memberlakukan Agatha seperti lainnya.
"Kalau begitu ayo kita pulang. Aku tahu Adelia dan Stella sedang menunggu," ajak Martin sambil mengalihkan perhatiannya ke lainnya.
"Tapi aku harus membayarnya," ucap Agatha.
"Ayolah pulang. Apakah kamu masih ingin di sini? Mereka hanya butuh bukti itu," seru Martin yang mencoba membohongi Agatha.
"Beres itu. Tapi siapa asisten Tuan Lampard itu?" tanya Agatha.
"Sepertinya asistennya tidak ikut berkumpul. Kemungkinan besar orang itu sedang memantau keadaan melalui cyber. Atau enggak tidur lelap di apartemen," jawab Martin dengan jujur.
Agatha semakin aneh dengan kehidupan mereka. Bisa-bisanya jam sibuk sang asisten pun tidur lelap. Namun kenyataannya iya. Mereka sudah menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Kemudian mereka memutuskan untuk tidur meskipun pekerjaan banyak.
"Kalian hebat. Jam jam sibuk bisa dibuat tidur," puji Agatha.
"Kami nggak seperti itu. Terkadang kami sering begadang sampai pagi hanya untuk mencari informasi yang berhubungan dengan dunia bawah tanah. Jam jam seperti itulah yang sangat nyaman sekali. Ditambah lagi kami mengerjakan tugas-tugas kantor. Itulah yang membuat kami bisa menyelesaikan deadline tepat waktu. Selain itu aku juga tidak bisa menyalahkan mereka. Mereka juga butuh waktu tidur dan makan secara teratur," jelas Martin yang membuat Agatha menganggukkan kepalanya.
"Janganlah di sini terus. Ayolah buatlah anakmu percaya. Jika Kakak benar-benar ayahnya, maka tunjukkanlah surat itu," ucap berapa yang membakar semangat Agatha.
__ADS_1
Akhirnya Agatha meminta Martin untuk mengantarkannya ke Mansion Gio. Untung saja Martin tidak melewati jalanan sepi itu. Martin sengaja tidak melewati itu karena takut Agata menjadi sasaran selanjutnya.
Sesampainya di Mansion Martin mengajak Agatha ke kamar Stella. Di sana ketiga saudara itu masih mengobrol. Entah apa yang diobrolkan itu. Mereka sangat akrab sekali hingga membuat Agatha mengulas senyum.
"Aku bersyukur mereka bisa menjadi akur. Jujur mereka tidak memiliki dendam sama sekali," ucapan kata kepada Martin.
"Mereka tidak memiliki dendam karena belum ada yang mengotorinya. Tindakanmu saat itu sangat tepat sekali. Andaikan mereka dipegang oleh John, mereka bisa menjadi alat pembunuhmu. Coba saja kamu pikir. John bisa memperalat mereka dengan seenaknya. Atau juga John bisa menyuruh mereka menghabisinya," jelas Martin.
"Kamu benar. Tapi hatiku masih merasa bersalah," sahut Agatha.
"Jangan pernah bersalah seperti itu. Minta maaflah kepada mereka. Dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tahu masalah ini sangat sepele. Tapi mereka berhak tahu," tambah Martin. "Kalau begitu mari kita masuk."
Dengan terpaksa Martin mengajak Agatha masuk ke dalam. Kemudian Martin membubarkan obrolan mereka sementara.
"Bolehkah aku bergabung dengan kalian?" tanya Martin.
"Boleh," jawab Adelia yang penuh dengan senyum.
"Begini, Tuan Agatha sudah memiliki hasil tes DNA. Jika Tuan Agatha adalah papamu. Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Martin yang penuh harap kepada mereka agar mau menerima Agatha.
"Aku tidak tahu itu Tuan," jawab Adelia.
"Aku tahu kamu masih marah. Aku tahu hati kamu masih menolak itu. Sekarang aku ingin kamu memaafkannya. Karena masalah ini sangat berat sekali. Cepat atau lambat kamu akan mengetahui apa yang terjadi yang sebenarnya? Yakinlah papamu itu adalah orang yang sangat baik sekali," jelas Martin.
"Jujur saja kami tidak memiliki dendam kepada Papa. Kami bisa menerimanya. Tapi aku bingung," sahut Stella yang mencoba untuk duduk sambil meringis kesakitan.
"Kamu kenapa?" tanya Agatha dan Hatori secara bersamaan.
__ADS_1