Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Ada Apa Dengan Adelia 2?


__ADS_3

“Cih... Tidak mengenal segala! Lu nggak kenal gue!” bentak wanita itu.


“Sungguh aku tidak tahu kamu siapa?” tanya Adelia yang menahan kesakitan.


“Serius lo?” tanya wanita itu sambil menendang Adelia.


“Beneran aku nggak tahu,” jawab Adelia menahan kesakitan.


Wanita itu tertawa terbahak-bahak. Kemudian wanita itu mendekati Adelia dan menarik rambutnya dengan kuat. Dengan wajah geramnya wanita itu memukul wajah Adelia.


“Lo hebat. Hampir dua bulan keluar dari rumah, lu lupa ama gue!” geram wanita itu.


Adelia menangis kesakitan dan tidak bisa berteriak. Mulutnya sudah mengeluarkan darah dan kepalanya pusing. Di waktu bersamaan suasana toko itu sedang sepi. Karyawan yang berada di sana hanya sedikit. Setelah buka toko para karyawan masih briefing di ruangan bosnya. Jadi saat wanita itu menganiaya Adelia tidak ada yang tahu sama sekali.


Wanita itu terus menganiaya hingga Adelia tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu berteriak kesetanan dan memanggil Adelia memakai nama Stella. Sontak saja Adelia terkejut. Meskipun lemah Adelia masih tetap mengingat Stella. Entah kenapa hatinya berdenyut hebat ketika memakai Stella. Ia tidak menyangka wanita itu ternyata saudaranya Stella.


“A.... A... A... Aku bukan Stella,” ucap Adelia lirih.


“Lu bohong kan demi menghindari gue. Lu make nama orang lain! Gua bilangin papa biar dibawa ke bos mafia sekarang juga!” bentak wanita itu.


Wanita itu tetap saja menganiaya hingga wajah Adelia berdarah. Adelia merantau-ronta kesakitan agar wanita itu tidak menyerangnya lagi. Namun wanita itu tidak berhenti malah semakin menjadi. Selesai menerima telepon, Ian masuk ke toko itu. Mata Ian membelah sempurna karena melihat Adelia disiksa. Ian tidak terima dengan perlakuan wanita itu langsung menendangnya.


Brugh!


Ian langsung menampar wanita itu dengan keras. Iya tidak menyangka kalau sang kekasih mendapat perlakuan tidak baik. Pria itu langsung menatap tajam bagai pedang siap menghunus jantung sang korban. Dengan nada beratnya Ian langsung membentak wanita itu.


“Kenapa kau siksa pacarku! Apa salahnya padamu! Apakah kamu tahu di sini itu negara hukum! Menghakimi orang! Jika kamu pria pasti aku sudah menghajarmu sampai mati! Camkan itu!” bentak Ian dengan wajah memerah.


Ian segera mengangkat tubuh gadisnya dan membawanya ke rumah sakit. Ya sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar yang mulai ramai. Jika wanita itu menuntut maka ia akan menuntut balik. Meskipun Ian jarang ke Indonesia namun dia mengerti hukum negaranya sendiri.


Di dalam perjalanan Ian meminta Leon untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Ian memberinya tugas untuk meminta CCTV ketika Adelia dihajar. Leon pun menurutinya dan langsung melaksanakan perintah tersebut.


“Adel... Bangunlah... Janganlah kamu begini. Jika nona mudamu bertanya aku harus jawab apa?” tanya Ian yang melihat wajah Adel sudah berdarah.


“Jawablah sekenanya. Jangan beritahu keadaanku. Karena jika Nona muda tahu, maka Nona muda tidak mau makan dan menangis,” pesan Adelia sambil terbata-bata.

__ADS_1


Ian menahan rasa sesak di dada karena tidak bisa menjaga Adelia. Beberapa bulan yang lalu ia diajak pulang sama Adelia ke Surabaya. Di sana Ibu Adelia menyambut hangat kedatangan Ian. Tak tanggung-tanggung ibunda Adelia mencurahkan kasih sayangnya Kak Ian. Setelah itu ibundanya meminta untuk menjaga Adelia dengan baik. Namun sang Ibu tidak mengatakan cara mendetail, Ada apa dengan Adelia?


Ian merutuki kesalahannya karena tidak membawa pengawal sama sekali. Ia terlalu bodoh ketika Rinto menyediakan pengawal namun ditolak. Seharusnya ia menerima untuk menjaga Adelia. Sambil memeluk Adelia, Ian baru sadar kalau kekasihnya dalam bahaya. Pria itu mulai berpikir dan bertanya-tanya.


Saat masuk ke dalam, Ian mendengar wanita itu berteriak nama Stella. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya dalam apakah ini semua ada kaitannya dengan Stella? Bahkan tadi wanita itu menyebut kata-kata Stella akan dijual pada mafia.


Setelah sampai rumah sakit yang membawa Adelia ke ruangan khusus. Ia memanggil Ibra untuk menanganinya. Sementara wanita itu yang masih diam hanya bisa menangis kesakitan. Wanita itu segera meninggalkan toko tersebut dengan jalan tertatih-tatih. Ketika berjalan wanita itu berpapasan dengan Leon. Leon pun sempat melihat dan merekam wajah wanita itu dengan cepat. Sesampainya di sana Leon memeriksa seluruh CCTV. Untungnya toko tersebut adalah milik Winda. Dengan leluasa Leon bisa memeriksa satu persatu.


“Ada apa Leon?” tanya Winda. “Sepertinya kamu serius sekali?’


“Maaf Kak. Tadi ada penyerangan Adelia oleh wanita yang tidak dikenal,” jawab Leon yang membuat Winda terkejut.


“Apakah kamu serius? Kok aku nggak tahu ya?” tanya Winda.


“Tadi kata Kak Ian seluruh karyawan sedang briefing di kantor kakak. Jadinya Kak Ian leluasa memilih pernak-pernik anak-anak. Saat kejadian tersebut suasana di toko masih sepi. Kemungkinan toko belum buka sama sekali,” jawab Leon.


Sontak saja Winda terkejut. Ia tidak tahu ada penyerangan di ruangan itu. Jujur tadi Winda sedang briefing tentang produk baru. Mau tidak mau pindah juga bertanggung jawab atas penyerangan ini.


“Kakak nggak usah tanggung jawab seperti itu. Karena Kakak sedang sibuk. Kemungkinan besar dengan bukti yang aku ambil dari sini bisa membuat sang penyerang tidak main-main dengan Kak Ian. Dan jika ada yang memviralkan kejadian ini aku akan menghapusnya secara langsung,” ucap Leon.


“Baik kak,” jawab Leon.


Selesai mendapatkan CCTV tersebut, Leon memperlihatkan sesuatu ke Winda. Winda sangat terkejut karena tahu siapa pelaku sebenarnya. Winda menceritakan bahwa sang pelaku adalah seorang model terkenal di dunia. Ia tidak menyangka orang yang dikenalnya alim ternyata mempunyai tabiat buruk. Di depan kamera sikapnya sangat manis dan membuat fansnya terkagum-kagum.


“Kamu tahu itu siapa?” tanya Winda.


“Tidak tahu kak,” jawab Leon dengan jujur. “Memangnya siapa dia?”


“Dia adalah Patty Smith. Dia adalah model terkenal dan setiap wawancara sangat ramah kepada semua orang,” jawab Winda dengan geram. “Aku mempunyai pekerjaan untukmu.”


“Pekerjaan apa Kak?” tanya Leon.


“Tolong cari informasi ini dengan sejujurnya. Lalu kamu serahkan berkedudukannya kepadaku nanti sore,” perintah Winda dengan nada lembut.


“Siap Kak.... Akan aku lakukan. Kalau begitu aku ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memberitahukan Kak Ian,” balas Leon.

__ADS_1


Saat itu juga Leon pergi dari toko pernak-pernik anak-anak. Dengan wajah yang sulit diartikan Leon melihat wanita itu bersama pria berseragam hitam. Leon pun berhenti sejenak dan mengambil ponselnya. Kemudian Leon berpura-pura menghubungi seseorang. Namun telinganya mendengar pembicaraan mereka.


Selama lima menit mereka akhirnya bubar. Leon tersenyum smirk dan segera meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut. Ion yang sedang menunggu Ibra mengobati Adel sangat gelisah sekali. Ia memikirkan masalah tadi dengan perkataan wanita tersebut.


“Kenapa wanita itu memanggil Adelia menjadi Stella ya? Ada apakah ini?” tanya Ian dalam hati sambil mengingat-ingat Adelia dan Stella.


Ian berteriak sambil menarik rambutnya karena frustasi. Semakin lama pikirannya berkecamuk tidak karuan. Ada Apakah sebenarnya ini? Beberapa saat kemudian Leon datang kemudian mendekati Ian. Pria bertubuh jangkung itu menatap Ian sangat frustasi. Leon menunduk kemudian bertanya, “Ada apa? Sepertinya Kakak frustasi.”


“Eh... Leon,” ucap Ian.


“Gimana kabar Adelia?” tanya Leon.


“Ibra belum keluar dari ruangan. Kemungkinan wajah Adelia sangat parah sekali. Aku nggak tahu kenapa ini terjadi pada Adelia. Padahal tadi aku mengajaknya jalan-jalan untuk memberikan bando buat Nona muda,” jawab Ian.


“Untung saja, tokoh yang kamu datangi adalah milik kak Winda,” puji Leon.


“Aku memang sengaja mengajaknya ke sana. Di tempat itu banyak sekali pilihan yang sedang dicari oleh Adelia. Ketika aku mendapat telepon dari seseorang, aku sengaja meninggalkannya. Aku terima telepon cukup lama. Kemudian aku masuk dan melihat Adelia sedang dihajar oleh wanita gila,” ucap Ian semakin frustasi.


“Kakak tahu itu siapa?” tanya Leon menghempaskan bokongnya di samping Ian.


“Aku nggak tahu. Dan aku tidak memperdulikannya,” jawab Ian.


“Kakak harus tahu dia siapa. Dia adalah otak penembakan Stella,” ujar Leon yang membuat Ian terkejut.


“Apakah kamu serius?” tanya Ian.


“Ya aku serius. Kak Winda yang memberitahukannya secara langsung. Sepertinya kak Winda mengenal baik wanita itu,” jawab Leon.


“Mengenal baik,” geram Ian.


“Iya. Dia adalah seorang model terkenal di dunia yang memiliki sifat ramah di mata fansnya,” jawab Leon.


“Maksudnya ramah?” tanya Ian sambil mengepalkan tangannya.


 

__ADS_1


__ADS_2