
Di ruangan sebelah Patty, Lina dan Diva melihat Stella yang berada di dalam lift itu. Mereka tertawa terbahak-bahak karena sangat senang menghukum Stella. Memang, mereka sengaja melakukannya karena ingin menghukum Stella yang sedang berkeliaran.
"Mampus lo!" tegas Patty lalu melanjutkan tawanya.
"Bagus kan ide gue. Untung saja mall ini adalah milik Diva. Jadi kita nggak perlu saya susah payah meminta maintenance untuk mengerjai Stella," jawab Lina.
"Kalau begitu gue suka gaya ini. Gue harap Stella akan membusuk di dalam sana," ucap Diva yang mendoakan Stella membusuk di dalam lift.
Setelah tertawa mereka memutuskan pergi dari pusat perbelanjaan itu. Mereka meminta para maintenance untuk tidak cerita kepada siapapun. Jika sampai cerita Diva akan memencet mereka satu persatu. Mau tidak mau mereka akhirnya menurut dan lepas tangan.
Waktu bergulir sangat lambat sekali. Stella yang masih berada di ruangan itu memutuskan untuk diam. Ia sengaja duduk di lantai lift itu. Diam-diam hatinya berdoa agar ada orang yang menyelamatkannya.
Tepat empat sore. para pegawai menenan yang bertugas tadi pagi memutuskan untuk pulang. Mereka sengaja membiarkan Stella di dalam lift itu. Lalu anggota maintenance yang baru saja datang langsung memeriksa keadaan semua lift.
Sang kepala maintenance masuk ke dalam ruangan CCTV. Satu persatu kepala maintenance itu mengecek seluruh lift. Ia berharap tidak ada yang rusak hingga malam nanti.
Tiba-tiba saja sang kepala menemukan ada lift yang sengaja berhenti. Ia mengerutkan keningnya sambil melihat seorang gadis sedang kelelahan menangis. Lalu dirinya memutuskan untuk ke sana dan menyelamatkannya. Untung saja Stella saat itu bisa diselamatkan.
Flashback off.
"Kamu masih ingat di mana pusat perbelanjaan itu berada?" tanya Asmoro.
"Masih. Tapi aku dengar dari Kak Alexa kalau pusat perbelanjaan itu sedang mengalami guncangan hebat," jawab Stella.
"Guncangan hebat. Aku tahu itu. Sebentar... Aku akan mencari data-datanya terlebih dahulu. Aku harap kamu nggak trauma lagi dengan lift," pinta Asmoro sambil mencari data-data siapa pemilik pusat perbelanjaan ketika Stella terdapat di dalam lift.
"Aku nggak bisa janji," ucap Stella dengan sendu.
"Harusnya kamu janji sama aku. Kamu akan melupakan trauma itu. Lagian kamu akan masuk ke dalam lift bersama banyak orang," ujar Asmoro.
__ADS_1
"Baiklah. Aku berjanji hanya untukmu. Oh ya... Bagaimana dengan data-data yang tadi itu?" tanya Stella.
"Aku menemukannya. Dia namanya Diva Adrianto. Kelihatannya sang pemilik memiliki wajah angkuh. Dia juga temennya Patty. Dia sering membully kamu secara verbal," jawab Asmoro.
"Kenapa dia menyekap ku seperti itu?" tanya Stella yang menunduk dengan sendu.
"Kemungkinan besar saat menyekap mu di sampingnya pasti ada saudaramu itu. Jika tidak kenapa dirinya mau-mau saja menyekapmu? Apalagi saat itu kamu menjadi sasaran empuk bagi mereka," jawab asmara yang mulai menganalisa keadaan. "Pusat perbelanjaan itu memang mengalami guncangan hebat. Sang pemilik diam-diam mengambil uang kas milik pusat perbelanjaan Itu demi memuaskan hasratnya untuk belanja. Sekarang dirinya tidak bisa mengembalikan uang itu. Cepat atau lambat perusahaan itu akan mengalami kebangkrutan."
"Kalau bangkrut bagaimana?"
"Ya sudahlah. Nggak usah dipikirkan. Lagian juga perusahaan itu bukan milikmu."
"Bener juga sih. Tapi hatiku sangat mirip sekali melihat mereka seperti itu."
"Kamu jadi orang terlalu baik banget. Aku sudah bilangin sama kamu. Jangan jadi pribadi yang terlalu baik sama orang. Karena zaman sekarang adalah zaman di mana saling memanfaatkan keadaan. Aku harap kamu tahu apa maksudku?"
"Aku harus bagaimana?"
"Bagaimana dengan keadaanku ini?"
"Jika sembuh kamu bisa berlatih. Kalau soal urusan airsoft gun. Aku serahkan pada Alexa. Anak angkatku itu memilikisuatu kelebihan yang di mana setiap wanita tidak bisa memilikinya. Kecuali wanita itu masuk ke dalam militer."
"Bagaimana dengan ilmu bela diriku?"
"Biar aku yang mengajarimu. Kamu jangan meledekku kalau aku adalah pria tua yang lemah."
"Kamu nggak tua kok. Kamu masih muda. Usiamu saja masih di bawah dua puluh tahun.''
Seketika Asmoro terkejut mendengar pernyataan dari Stella. Lalu Asmoro melemparkan senyumnya sambil berkata, "Jika aku sudah tua. Apakah kamu masih mau bersamaku?"
__ADS_1
"Aku tidak menjadi masalah. Soal umur itu sudah biasa. Ya nggak biasa adalah jika aku mempunyai istri, Apakah kamu mau bersamaku?" jawab Stella yang membuat Asmoro menggelengkan kepalanya.
"Jika aku punya istri. Aku tidak akan pernah merayumu seperti ini. Karena aku akan setia pada istriku."
"Bagaimana aku merebutmu dari istrimu itu?"
"Nggak usah merebut. Katakan saja tujuanmu dengan baik sama istriku itu."
Satu kata buat Stella adalah diam. Jujur Baru kali ini Asmoro berkata blak-blakan. Ia menggelengkan kepalanya dan tidak akan mungkin melakukannya.
"Aku nggak akan mungkin melakukan seperti itu," ucap Stella.
"Kenapa? Bukankah pelakor itu melakukannya secara terang-terangan di depan istri pacarnya itu?" Tanya Asmoro.
"Ish... Kamu itu ada-ada saja. Bagaimana bisa aku mau minta izin untuk menjadi kekasihmu itu. Malahan aku yang dilabrak habis-habisan di depan umum," jawab Stella dengan kesal.
"Nggak usah kesal gitu. Lebih baik kamu jujur saja. Siapa tahu istriku berbaik hati dan memintamu untuk dijadikan istri kedua," celetuk Asmoro.
"Itu tidak baik sekali buat aku. Akulah orang yang pertama dilabrak oleh istrimu. Jam sudah menunjukkan mau masuk makan siang. Bekerjalah. Jangan menggangguku terus dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh itu," kesel Stella kepada Asmoro.
"Kamu tahu nggak kalau aku memberikan opsi terbaik di dalam hidupku itu?" Tanya Asmoro yang membuat bola mata segala membulat sempurna.
"Aku nggak peduli itu. Pokoknya jika pria sudah beristri. Aku tidak akan memintanya untuk dijadikan kekasihku," jawab Stella yang mereka tahu dengan Asmoro.
"Kalau istriku menyukaimu dan mengizinkan menikah denganku bagaimana?" tanya Asmoro yang mulai mengetes Stella.
"Enak di kamu nggak enak di aku. Kamu itu kalau lagi bahas rumah tangga sangat cepat sekali. Memangnya kamu sering melihat drama rumah tangga?" tanya Stella balik.
"Ini lagi trend di kalangan semua lapisan masyarakat. Banyak cerita-cerita seperti itu dari anak-anak lainnya. Lalu aku ingin berdiskusi denganmu. Apakah kamu tidak mendengar soal itu?"
__ADS_1
"Aku nggak peduli soal itu. Karena aku sendiri bukan seorang pelakor. Kalaupun pelakor Aku tidak akan tinggal di sini lagi. Kemungkinan besar tinggal di luar negeri."
"Kenapa harus tinggal di luar negeri? Bukankah kamu harus mengakui tentang usahamu itu merebut seorang pria yang sudah beristri?" tanya Asmoro yang mulai memancing emosi Stella.