
"Aku bingung dengan kakak," jawab Stella.
Alexa akhirnya paham apa yang dikatakan oleh Stella. Alexa akhirnya membuka suara lalu menceritakan kenapa dirinya bisa berbaur dengan mereka. Saat bercerita kenapa dirinya bisa berbaur hati Stella damai. Menurut Stella jarang ada wanita karir seperti Stella mau turun ke dapur dan membantu pekerjaan para pelayan. Adapun itu jarang dilakukannya. Selain itu juga Alexa sengaja tidak berkumpul dengan suami dan anak-anaknya karena memberikan mereka ruang untuk mengobrol. Alexa ingin sekali anak-anaknya dekat dengan papanya.
Di tempat lain Lampard yang sudah sampai kantor bersama Ian hanya bisa menghela nafasnya. Sore ini dirinya terjebak macet parah. Mau tidak mau Lampard harus merelakan waktu meeting dengan beberapa anak pemasaran.
"Untung saja mereka sudah pulang," ucap Lampard.
"Untung bagi mereka. Kalau kita?" tanya Ian yang tersenyum.
"Kita juga beruntung tidak perlu mengeluarkan ide ketika kehabisan waktu," jawab Lampard.
"Enak banget kerja disini. Tanpa harus capek mikirin ide berat. Semua orang bisa mengungkapkan perasaannya. Jika enggak setuju langsung saja bisa diskusi. Di tempat lain mana ada seperti itu?" tanya Ian.
"C'mon.. jangan biarkan mereka ilfil sama yang namanya atasan. Gue jamin atasan disini baik semuanya dan enggak akan menggigit," celetuk Lampard.
"Bisa-bisanya kamu bilang semua atasan menggigit? Memangnya kami drakula," kesal Ian yang benar-benar capek.
"Gue laper," celetuk Lampard.
"Ke mansion Alexa. Kita numpang makan. Aku harap Alexa mau menerima kehadiran kita," ujar Ian.
"Sekalian aku ingin mengunjungi Scar. Aku rindu sekali sama Scar," balas Lampard yang beranjak dari duduknya.
Mereka sepakat untuk pergi ke mansion Alexa. Di sana mereka akan mengunjungi ketiga bocil. Mereka rindu akan celotehannya yang membuat gemas.
Sepanjang perjalanan menuju ke mansion tatapan dan telinga Ian sangat awas. Mereka tidak lengah sedikitpun. Ketika ingin berbelok Rinto menghentikan mobilnya dan melihat beberapa mobil hitam yang berada di ujung sana. Rinto sengaja mematikan mesin mobilnya.
"Ada apa kita berhenti disini? Gelap tahu kita disini?" tanya Ian.
"Itu lihatlah ada beberapa mobil yang terparkir. Mereka membuka bagasi mobil. Aku enggak tahu apa yang mereka lakukan," jawab Rinto.
Meskipun pencahayaan minim mereka bisa melihat dengan jelas. Rinto sengaja mematikan mobilnya secara total. Rinto tidak mau ketahuan sama mereka.
Mata mereka membulat sempurna karena melihat orang-orang tersebut membuat mayat sebanyak lima orang. Kemudian mereka akhirnya pergi meninggalkan area itu.
Melihat mobil itu pergi Lampard menghembuskan nafasnya. Lampard memijiti keningnya sambil bertanya, "Kenapa mereka membuang mayat seenaknya?"
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ian.
"Tidak usah ikut campur. Biarkan mayat itu menjadi viral," jawab Lampard dengan kesal. "Jalan!"
__ADS_1
Rinto akhirnya menjalankan mobilnya menuju ke mansion Alexa. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Namun tidak bagi Lampard, Lampard ingin tahu dari mana orang yang membuang mayat itu. Tak lama Ian menoleh dan menatap Lampard.
"Sepertinya kamu kepo?" tanya Ian.
"Iyalah. Aku memang kepo. Baru kali ini di sini ada orang yang membuang mayat seperti membuang sampah. Mereka pikir di tempat ini adalah tempat pembuangan mayat apa?" kesal Lampard.
"Kalau begitu pelakunya adalah mafia," tebak Rinto yang masih fokus pada mobilnya.
"Mafia," ucap Lampard.
"Apakah kakak enggak tahu kalau disini ada mafia?" tanya Ian.
"Aku tahu itu. Tapi siapakah mereka?" tanya Lampard.
"Rinto," panggil Ian.
"Apa kak?" sahut Ian.
"Jangan sampai Alexa tahu. Jika tahu Alexa akan memburunya dan menghancurkan mereka dalam sekejap!" perintah Ian.
"Baik kak," balas Rinto.
"Di mana Willy dan Leon?" tanya Lampard.
"Baguslah. Makin cepat makin baik," kesal Lampard.
"Apakah kita akan melibatkan Alexa?" tanya Ian.
"Alexa harus tahu siapa Exodus. Kita tidak akan menutupi semuanya. Kalau kita menutupi ini semuanya, bagaimana dengan Sean, Scar, Ed dan Rara. Aku enggak mau mereka terjebak dalam bahaya," jelas Lampard.
Sesampainya di mansion Alexa, Lampard mencari keberadaan Scars. Namun ketika mencarinya, Sean lebih dulu memanggilnya sehingga Lampard menghentikan langkahnya.
"Kakek," panggil Sean.
Lampard tersenyum sambil berlutut menatap Sean. Lampard memegang tangan mungil Sean sambil bertanya, "Apakah kamu hari ini tidak nakal?" tanya Lampard.
"Aku enggak nakal. Tapi aku hampir tidak mengakui kalau Martin itu adalah bapakku," jawab Sean polos.
Lampard terbengong mendengar apa kata Sean. Baru kali ini ada seorang bocah yang hampir melupakan bapaknya itu. Sedetik, dua detik dan tiga detik akhirnya tawa Lampard meledak. Begitu juga dengan Sean yang ikut-ikutan tertawa terbahak-bahak. Ah... Sean... Kamu ada-ada saja masa kamu melupakan Martin nama bapak kamu?
Beberapa saat kemudian Martin lewat dan matanya memandang dua pria berbeda generasi itu. Martin hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya pergi. Saat Martin pergi, Lampard bertanya lagi kepada Sean.
__ADS_1
"Kamu benar-benar lupa dengan Martin Snowden?" tanya Lampard.
"Kalau ingat nama itu kepalaku langsung pusing," jawab Sean dengan polos.
Lampard tertawa semakin keras. Lampard menganggap Sean sangat lucu sekali. Sangking lucunya Lampard tidak bisa diam tertawa. Lalu bagaimana dengan Martin? Martin hanya bisa mengelus dada karena kelakuan sang putra.
Martin akhirnya membalikkan badannya sambil mendekati Sean dengan aura dingin. Saat Sean ingin bercerita, Sean merasakan aura dingin.
"Kek.... Disini kok dingin banget ya?" tanya Sean.
"Kamu tahu kenapa hawa disini dingin?" tanya Lampard.
Sean menganggukkan kepalanya sambil mencium aroma parfum Martin. Lalu Sean menepuk jidatnya dan langsung pergi meninggalkan kedua pria itu. Lampard hanya menggelengkan kepalanya sambil berdiri, "Masalah gawat."
"Masalah apa?" tanya Martin.
"Sepertinya kita enggak usah bicara di sini," jawab Lampard.
"Baiklah kalau begitu. Aku harap anak-anak enggak tahu," ujar Martin.
"Jangan lupa ajak Alexa juga!" suruh Lampard.
"Mama dan papa akan kesini," ujar Martin.
"Apakah mereka akan menginap?" tanya Lampard yang mulai serius.
"Iya... mereka akan menginap dan ingin bersama anak-anak," jawab Martin.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Lampard dengan serius.
"Sepertinya kakak gelisah, ada apa sebenarnya?" tanya Martin.
"Nanti aku akan cerita," jawab Lampard. "Apakah Stella menyusahkan kakak dan Alexa?"
"Tidak. Stella tidak menyusahkan kami. Bahkan Stella adalah gadis yang sangat baik buat anak-anak," jawab Martin. "Kenapa memangnya?"
"Enggak apa-apa," jawab Lampard. "Kalau begitu aku akan pergi ke belakang."
"Scar sedang mencarimu," ucap Martin.
"Oke," balas Lampard.
__ADS_1
Di dalam tempat gelap, ada seorang pria paruh baya sedang menikmati malam bersama perempuan-perempuan. Pria itu sedang memandangi mereka sedang menari tanpa busana. Tak lama kemudian ada seorang pria muda segera mendekatinya. Pria muda itu membungkukkan tubuhnya sambil memberikan hormat, "Selamat malam Tuan John."