Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Oh.. Hanya Pingsan.


__ADS_3

Hatori membuka matanya sambil melihat ke sekelilingnya. Matanya menelisik dan terkejut ketika tersadar sudah berada di dalam kamar. Hatori segera bangun lalu mendengar suara ribut-ribut di depan. Ia berdiri sambil memegangi punggungnya.


"Bu,'' panggil Hatori sambil keluar dari kamar.


"Lha, sudah sadar?'' tanya pemuda itu.


"Memangnya aku kenapa Jo?'' tanya Hatori.


"Kamu tadi pingsan kan?'' tanya Paijo nama pemuda itu dengan logat Jawa.


"Oh... pingsan,'' ucap Hatori yang membuat keempat temannya menepuk jidatnya secara bersamaan.


"Beneran kamu pingsan tadi,'' sahut Asep pemuda satunya sambil menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana aku pingsan tadi ya?" tanya Hatori yang menatap wajah Bu Gita.


Bu Gita bingung sama anak laki-lakinya itu. Jujur saja baru kalin mini ada orang pingsan tapi tidak mengakuinya. Ingin rasanya Bu Gita memukul Hatori karena telah membuatnya cemas.


"Baru kali ini ada orang pingsan tidak mengakuinya. Ini sangat aneh sekali,'' celetuk Asep.


"Kamu kenapa sih?" tanya Dirga nama pemuda bertubuh gempal itu.


"Iya... kamu kenapa Hatori?" tanya Bu Gita yang masih cemas memandang wajah anaknya itu. "Jangan buat ibu khawatir.''


"Aku enggak apa-apa Bu. Aku tadi merasakan punggungku tertusuk besi panas sebanyak dua kali,'' jawab Hatori.


"Berarti kamu enggak apa-apakan sekarang?" tanya Windu.


"Aku enggak apa-apa,'' jawab Hatori. "Kalian enggak kerja?"


"Hari ini Sabtu tau!" geram Paijo yang menatap wajah Hatori.


"Kalau begitu ayo kita pergi mancing!" ajak Hatori.


"Mancing keributan maksudnya,'' ujar Paijo.


"Ya enggaklah. Mancing ikan,'' jawab Hatori.

__ADS_1


"Bu,'' panggil Dirga ke arah wajah Bu Gita.


"Ada apa?" tanya Bu Gita.


"Lebih baik ibu jaga anak nakal itu. Jangan sampai keluar rumah. Jika sampai keluar rumah kami tidak bisa kencan sama pacar kami. Jika itu terjadi pacar kami menjadi ngambek dan ujung-ujungnya putus,'' ucap Windu yang malas dengan ajakan Hatori.


"Bilang saja marger,'' ketus Hatori.


"Edisi kencan bro malam Minggu. Memangnya lu dari lulus SMA sampai detik ini jadi jomblo,'' kesal Windu.


Bu Gita hanya tersenyum melihat perdebatan Hatori dan teman-temannya itu. Memang sedari SD mereka sudah bersama. Mereka sangat kompak sekali seperti adik kakak.


Adel yang sedang bersama bersama Sean sangat sedih. Entah kenapa dirinya tidak tenang ketika mengetahui Stella tertembak. Wajahnya sangat pucat dan gelisah. Beberapa saat kemudian datang Alexa yang membawakan bubur untuk Sean. Alexa menaruh bubur itu di atas nakas. Tiba-tiba saja Alexa tidak sengaja melihat wajah Adel gelisah. Alexa mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa kak,'' jawab Adel. "Bagaimana kabar Stella?"


"Aku belum tahu kabarnya bagaimana? Semoga baik-baik saja,'' jawab Alexa dengan nada lemah lalu matanya tertuju ke Sean.


"Kak,'' panggil Adel. "Sean sedari tadi diam saja."


Alexa segera mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia menarik tubuh mungil Sean dan memeluknya. Seketika Sean menangis kencang karena takut kehilangan Stella. Alexa hanya bisa menghembuskan nafasnya. Kenapa kejadian ini terjadi di depannya anak-anak. Ia berharap kalau anak-anaknya tidak mengalami trauma berat.


Sementara di rumah sakit Lampard, Jacob dan Nathalie larut dalam pikiran masing-masing. Mereka sangat terkejut, mengapa kejadian ini terulang lagi. Bahkan sekarang lebih parah karena peristiwa ini terjadi di depan anak-anak.


Nathalie menatap Lampard dengan wajah datar. Ia segera mendekat dan bertanya, "Apakah perlu aku turun tangan mencari siapa yang melakukannya?"


"Tidak perlu. Aku sudah menyuruh Imron dan Ian menyelidikinya. Aku tahu serangan ini adalah orang yang sama dan kelompok mafia yang sama juga,'' jawab Lampard.


"Papa serius?" tanya Nathalie.


"Iya aku serius. Bahkan kemarin rumah sakit ini diserang oleh orang tidak dikenal,'' jawab Lampard.


"Apa?' pekik Nathalie.


"Iya. Merdeka memiliki sebuah tato berlambang X di belakang leher. Aku tidak tahu motifnya apa?" jawab Lampard.


"Ya... aku paham sekarang,'' ucap Nathalie.

__ADS_1


" "Maksudnya apa?'' tanya Jacob.


"Organisasi dunia bawah tanah yang ada lambang X nya adalah Exodus. Mereka adalah mafia berbahaya. Dia pernah bergesekan sama aku hanya hal yang sepele. Lalu mereka menyerang markas dan hampir membakarnya. Untung saja Kak Alexa dan Kak Martin berada di sana untuk menolong. Jika tidak maka habislah Red Immortal,'' jelas Nathalie.


"Mereka yang bersalah tapi enggak terima? Maksudnya bagaimana ya? Seharusnya mereka yang meminta maaf bukan ngajak perang,'' kesal Lampard.


"Mereka gengsi meminta maaf. Jika mereka meminta maaf akan ada badai besar,'' tambah Nathalie.


"Amazing sekali rupanya,'' celetuk Jacob yang melihat lampu ruangan operasi mat.


Selang berapa detik Raka keluar dengan raut wajah kecewa. Raka bergegas mendekati Lampard sambil berkata, "Aku kehabisan darah B positif,'' ucap Raka to the poin.


"Bisakah aku memberikan darahku untuknya?" tanya Lampard.


"Maaf kak... darahmu adalah A positif. Kakak enggak bisa mendonorkan darah ke Stella,'' jawab Raka.


"Kalau aku?" tanya Nathalie.


"Kamu memiliki darah dengan golongan B negatif. Maaf enggak bisa,'' tolak Raka dengan sendu.


"Raka, tolong selamatkan Stella. Ini demi ketiga cucuku,'' pinta Lampard.


"Suruh hubungi orang mansion yang memiliki darah B positif! Keadaan Stella semakin kritis!" titah Raka.


Nathalie menganggukan kepalanya lalu meraih ponselnya. Nathalie segera menghubungi Alexa untuk memberitahukan kejadian yang sebenarnya. Setelah itu Nathalie mematikan ponselnya dan mulai berdoa untuk keselamatan Stella.


Di mansion Alexa segera mengumpulkan para pelayan dan pengawalnya. Alexa menatap wajah mereka yang ketakutan. Sebelum berbicara Alexa memejamkan matanya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kemudian Alexa membuka mata dan berkata, "Aku disini tidak akan memarahi kalian apalagi menegur. Kejadian tadi pagi adalah musibah yang tidak dapat dihindari. Aku ingin meminta sama kalian secara sukarela mendonorkan darahnya untuk Stella. Apakah kalian bersedia?"


Mata mereka membulat sempurna. Mereka tidak menyangka kalau keadaan Stella sangat kritis sekali. Mereka baru mengenal Stella dalam hitungan hari. Namun Stella memberikan kesan tersendiri. Menurut mereka Stella adalah gadis yang sangat baik dan ringan tangan. Mereka semuanya bersedia memberikan darahnya walau hanya seliter.


"Aku bersedia non,'' seru kepala pelayan.


"Enggak bisa semuanya ikut. Aku hanya memilih orang yang memiliki golongan darah B positif,'' sahut Alexa.


Adellia yang sedari tadi menunduk sedih mendengar apa yang dikatakan Alexa. Ketika Alexa mengumumkan darah apa yang dimintanya Adelia langsung maju beberapa langkah sambil berkata sesenggukan, "Aku bersedia kak. Golongan darahku dengan Stella juga sama."


Alexa terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Adelia. Alexa langsung memintanya kesini. Setelah itu ada beberapa pengawal yang memiliki golongan darah yang sama. Alexa langsung memintanya ke rumah sakit. Namun sebelum pergi Nano dan Giovanni datang dengan memakai baju serba hitam. Mereka berdua yang akan mengawal mereka ke sana. Alexa segera membubarkan para pelayan dan pengawalnya. Ia segera mendekat lalu bertanya, "Apakah papa yang akan mengawal mereka?''

__ADS_1


__ADS_2