
"Entahlah," jawab Lampard.
Tiba-tiba saja Ian mendapatkan sebuah ide. Sambil menatap wajah sang bosnya itu, Ian mulai merangkai kata-kata untuk menyampaikan ide tersebut. Sebelum mengutarakannya, Jacob bertanya kepada Lampard tentang perubahan wajahnya itu yang menjadi muda, "Kenapa wajah Kakak menjadi muda seperti itu? Apakah kakek terkena bom nuklir? Kok aku merasa nggak ada bom nuklir di sini?"
"Orang yang terkena bom nuklir itu, tubuhnya langsung hancur berkeping-keping. Ini bukan bom nuklir melainkan ada sesuatu yang aneh di dalam tubuh kak Lampard," jawab Ian
Pria paruh baya itu pun mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada tubuhnya. Kemudian lempar mengingat kalau dirinya sudah meminum air di sumur tua ketika mengecek pesawat. Namun dirinya langsung pingsan dan tak sadarkan diri selama tiga jam lamanya. Untung saja sang pengingat dalam otaknya itu sangat kuat. Coba saja usia sudah mencapai kepala lima, dirinya masih mengingat kejadian
apa yang telah terjadi yang baru saja dilaluinya itu.
"Itulah yang terjadi pada diriku setelah pengecekan pesawat. Aku hanya meminum air di sumur itu," jelas Lampard yang baru saja bercerita.
"Kemungkinan besar?' tanya Jacob yang memulai menganalisa keadaan Lampard.
"Kemungkinan besar apa?" tanya Lampard.
"Entahlah, aku lupa.sepertinya aku harus mencari jawabannya lewat internet," jawab Jacob yang tidak tahu apa-apa
"Sepertinya kamu meminum air yang membuatmu menjadi muda. Itulah jawabanku sebenarnya," sahut Ian.
"Sebentar... Kisah gue kok kayak di dongeng-dongeng zaman dulu ya? Kenapa tiba-tiba saja habis minum air sumur itu, wajah gue berubah muda? Ini tidak mungkin. Ini hanya khayalan," Lampard berusaha mengenyahkan pikirannya itu dari hal-hal yang buruk.
"Memang sih? Nggak masuk akal menurut gue sama yang lainnya. Lu minum air sumur itu dan tiba-tiba saja berubah menjadi muda. Sangking mudanya lu berasa anak sekolahan deh. Jangankan lu yang nggak masuk akal. Gue juga ngerasa nggak masuk akal. Kalau gitu gue mau nyoba ke sana," pinta Jacob yang penasaran dengan sumur tua itu.
__ADS_1
"Gue nggak mau ke sana dulu. Soalnya gue takut berhalusinasi yang nggak-nggak," balas Lampard dengan serius.
"Terserah lu mah. Jujur lu kayak anak sekolahan sekarang," ejek Jacob.
Tak lama kemudian Ian menatap wajah Lampard sambil tersenyum menakutkan. Seketika Lampard menatap senyuman sang asisten lalu menggarukkan kepalanya, "Kenapa lu berubah kayak gitu? Jangan-jangan lu ikut-ikutan berubah ya?"
"Ya enggaklah. Mana mungkin aku berubah drastis hanya karena melihat wajah kamu habis gitu menjadi aneh," jawab Ian. "Aku punya ide."
"Ide apa itu?" Tanya Lampard.
"Setelah pulang dari sini, kamu harus mengganti identitasmu. Nama apa aja yang kamu pakai terserah. Aku yakin dengan ideku ini, kamu bisa berkamuflase menjadikan orang lain. Kamu bisa membuat strategi perang tanpa harus memakai nama Lampard. Nama Lampard yang di mana yang sedang dicari-cari oleh Exodus. Aku tahu mereka sedang mencarimu. Oleh karena itu kamu bisa memakai nama lain," jawab Ian sambil mengusulkan sesuatu yang baru buat Lampard.
Jacob berteriak kegirangan. Entah kenapa ide Ian sangat berguna sekali. Ia orang pertama yang menyetujui ide Ian. Oleh karena itu Jacob langsung berteriak setuju tanpa ada persetujuan dari Lampard.
"Bagus sih bagus. Entah kenapa perasaanku kok nggak enak ya jika mendapatkan ide dari kalian?" tanya Lampard.
"Maksud kamu apa?" tanya Ian balik.
Lalu Lampard menyadari kalau idenya Ian itu sangat bagus sekali. Kenapa dirinya tidak mencoba sesuatu hal yang baru? Bisa saja Lampard menggunakan ketampanannya itu untuk menghancurkan markas musuh. Apalagi semua orang mengenal Lampard adalah pria tua yang dianggap lemah. Sebenarnya tidak lemah, namun mereka menganggap dirinya sangat lemah. Sepertinya anggapan itu salah besar. Karena raganya saja yang sudah tua. Tapi jiwanya masih sangat muda. Hingga detik ini Lampard adalah seorang pemimpin perang yang diandalkan di Black Horizon.
"Idemu itu sangat bagus sekali. Okelah... Ketampananku ini akan aku buat untuk mencari informasi. Apalagi aku pernah hidup di usia segini. Kemungkinan besar aku mencoba untuk menjadi pria culun. Hanya demi mengelabui musuh. Bagaimana menurut kalian?" tanya Lampard serius.
"Terus kamu berpura-pura lemah di hadapan para musuh. Terus kamu pura-pura nggak bisa diandalkan begitu? Terus kamu kembali ke sekolah untuk mencari ilmu baru lagi?" tanya Ian secara bertubi-tubi.
__ADS_1
"Nomor satu dan nomor dua itu benar. Tapi nomor tiganya aku tidak setuju. Kenapa kau harus kembali lagi ke sekolah? Lebih baik aku kembali ke pekerjaanku saja. Seharusnya kalau aku kembali ke sekolah, nilaiku sangat bagus sekali ketimbang nilaiku yang terdahulu," kesal Lampard.
"Kalau begitu ya sudahlah. Rencana malam ini jadikan?" tanya Jacob.
"Ya jadilah. Kenapa juga batal? Setelah melemparkan rudal ke bawah, aku akan kembali ke Jakarta. Kalau kalian balik mending sore ini saja. Nggak usah lama-lama. Aku tahu sebentar lagi akan ada penyerangan. Jika tempat ini diserang kemungkinan besar tempat mereka akan hancur berantakan. Aku lebih suka itu," jelas Lampard.
"Itu sangat bagus sekali. Kalau begitu mari kita laksanakan semuanya. Aku akan mempersiapkan semuanya dan menghubungi para pengawal berkumpul di lapangan. Sebagian ada yang ikut aku, sebagian ada yang ikut Jacob. Aku harap ada ini akan sukses besar," tambah Ian.
Setelah berdiskusi mereka akhirnya bubar dan melaksanakan tugas masing-masing. Jacob dan Ian
langsung meminta para pengawal untuk berkumpul di lapangan. Lalu Lampard meminta para pilot untuk bergabung dengan Ian dan Jacob. Kemudian Lampard meninggalkan markas tersebut.
"Sepertinya aku penasaran sekali sama yang namanya sumur tua itu. Di musim kemarau ini airnya sangat jernih sekali dan enak. Jujur aku sangat menyukai air di sana. Hingga akhirnya aku ingin meminumnya lagi," ucap Lampard dalam hati.
Lampard berangkat co pilot. Di dalam perjalanannya mereka sempat mengobrol dengan kocak. Untung saja co pilot sudah diberitahukan identitas asli Lampard. Jadi co pilot tersebut tidak canggung lagi dan bercanda seperti biasanya.
"Sepertinya kamu terkena sihir deh?" tanya pria itu.
"Terkena sihir apa?" tanya Lampard.
"Aku sama sepertimu. Bahkan usiaku aslinya adalah seratus tiga puluh tahun. Ketika aku menemukan sumur itu, usiaku sekarang dua puluh lima tahunan hingga detik ini. Aku nggak tahu kenapa usiaku seperti ini. Aku ngecek ke dokter juga percuma. Mereka tidak bisa menganalisis penyakitku ini. Mereka hanya bisa bilang memang ini kenyataannya Anda usia aku yang merasakannya sangat aneh sekali," jelas pria itu.
"Oh Evan.... Sepertinya aku jengkel dengan perubahan wajahku ini. Lihat saja usia lima puluh dua tahun berubah menjadi tujuh belas tahunan. Ini sangat aneh sekali. Ada apa denganku? Aku semakin bingung sekali. Harusnya tubuhku sudah menjadi tua renta," tanya Lampard ke Evan.
__ADS_1