
""Aku tidak tahu. Sepertinya aku menaruh curiga kepada mereka," jawab Asmoro yang mulai curiga dengan Harlem dan John.
"Aku ingin keluar," pinta Stella.
"Kamu nggak bisa keluar dari sini. Mereka akan mengenalimu dan menculik mu kembali untuk dijual ke para mafia itu," ucap Asmoro.
"Lalu Kenapa mereka ke sini? Kalau nggak mencariku," tanya Stella.
"Kamu di sini saja. Nggak usah keluar dari sini. Jika kamu keluar dari sini. John dengan cepat akan menangkapmu. Apalagi John mengajak Harlem," jawab Asmoro yang melihat gerak-gerik mereka.
"Untung saja aku memakai mobil yang ini. Jika tidak kita akan ketahuan," keluh Ian.
"Menurutku sering-seringlah memakai mobil seperti ini. Karena mobil ini sangat berguna sekali buat kita semua," saran Asmoro yang masih tetap dalam posisi sama.
"Sepertinya seluruh mobil yang kita punya harus dimodif seperti ini. Jika kamu setuju, kemungkinan besar aku akan memanggil para pengawal untuk melakukannya," sahut Ian yang membuat Asmoro terkejut.
"Jadi, kamu tidak membawa mobilmu ke dalam bengkel untuk dimodifikasi?" tanya Asmoro.
"Itu nggak perlu. Lagian juga kita memiliki pengawal yang sangat kreatif sekali. Kenapa kita tidak memanfaatkan mereka? Sekalian kita memberikan upah yang layak buat mereka," jawab Ian yang mengambil ponsel di dalam kantongnya.
"Ide kamu sangat bagus sekali. Kita hanya membeli bahan-bahannya saja lalu mereka yang memasang. Kalau begitu jadwalkan mobilku satu-satu untuk dimodifikasi!" perintah Asmoro.
"Siap," balas Ian.
Mereka sengaja di dalam mobil dan tidak keluar. Mereka menatap ke depan untuk melihat gerak-gerik Harlem dan John. Asmoro mulai curiga terhadap John dan Harlem. Kemudian Asmoro menatap Stella sambil bertanya, "Apakah di rumahmu itu ada sebuah atau beberapa dokumen penting?"
"Aku tidak memiliki dokumen apapun. Semenjak aku keluar dari rumah itu. Aku tidak membawa apapun kecuali beberapa baju saja," jawab Stella yang membuat Adelia terkejut.
"Lalu bagaimana dengan uangmu? Masa kamu keluar dari rumah itu tidak membawa uang?" tanya Adelia.
"Tenang saja. Aku sudah membawa uang itu dalam bentuk ATM. Mereka tidak bisa mencurigainya. Sementara itu atm-nya aku titipkan ke bosku. Jadinya aku bisa melenggang bebas saat keluar dari rumah itu," jawab Stella sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Rasanya kamu menjadi wanita sangat licik sekali. Bisa-bisanya kamu memiliki pikiran seperti itu. Ada benarnya juga kamu melakukannya. Jika tidak mereka akan merampokmu terlebih dahulu sebelum keluar dari rumah," puji Asmoro.
"Itulah jalan satu-satunya yang bisa aku andalkan. Aku sudah meminta bosku untuk memegang ATM milikku hanya untuk sementara waktu. Jujur mereka sangat licik sekali. Sangking liciknya mereka selalu membuatku susah," kesal Stella.
"Itu benar. Aku tidak bisa membayangkan jika dirimu tidak memiliki uang sebesar maupun ketika keluar dari rumah itu," ucap Adelia.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu? Apakah ibumu pernah bercerita tentang keluarga Tuti kepadamu?" tanya Ian.
"Jujur enggak. Ibuku nggak pernah cerita soal mereka. Jika aku bertanya siapa keluargaku sebenarnya. Ibuku mengatakan kalau aku memiliki seorang paman laki-laki yang tinggal di Barcelona sana. Pamanku menatap di sana semenjak kuliah dan nggak pulang ke sini. Aku harap pamanku pulang dan membantu ibuku. Tapi harapanku musnah semuanya. Jadi aku putuskan untuk pergi dari Surabaya menuju Jakarta bekerja di kediaman Nyonya Alexa," jelas Adelia.
Memang benar Anita tidak menceritakan siapa itu Tutik sebenarnya. Malahan Anita memilih untuk diam tanpa bicara. Mungkin karena kesalnya Anita terhadap adik perempuannya itu. Jadinya Anita tidak bercerita kepada Adelia.
Selang sejam John dan Harlem pergi dari rumah itu. Stella sangat lega melihat kepergian Harlem. Jujur saja kalau dirinya bertemu membuatnya semakin menderita. Andai saja Stella memiliki kekuatan. Stella akan melawan mereka habis-habisan.
"Kalau begitu kita keluar dari sini.Aku ingin melihat barang-barangku masih ada di sana atau tidak. Jika tidak ya sudahlah aku akan mengikhlaskannya saja," ujar Stella.
Menurut Asmoro ini sangat aneh sekali. Mana mungkin John yang memiliki kekayaan itu mengobrak-abrik milik Stella. Ingin tertawa tapi itu tidak lucu. Lalu Asmoro menatap Ian sambil bertanya-tanya.
"Jujur saja aku sangat terkejut sekali melihat mereka berada di rumah Stella. Waktu sudah menunjukkan malam. Kita akan bertemu dengan Tuan Agatha dan nyonya Anita," jawab Asmoro yang membuka kunci pintunya.
Kemudian akhirnya mereka keluar. Beberapa saat kemudian ada seorang pria paruh baya mendekatinya. Pria paruh baya itu pun menatap Stella dengan tubuh bergetar. Jujur saja pria itu sangat ketakutan sekali.
"Neng Stella," panggil pria itu.
Seketika Stella menoleh dan melihat pria itu. Lalu Stella menatap wajah pria itu sambil bertanya, "Mamang Dicky kenapa? Kok sepertinya mamang ketakutan seperti itu?"
"Aduh neng…ini sangat gawat sekali. Baru saja kami kedatangan dua pria bertubuh besar. Pria itu menyuruhku untuk membuka pintu rumah kontrakan neng," jawab Mang Dicky yang penuh dengan ketakutan.
Stella mengerutkan keningnya sambil menatap Pak Dicky yang ketakutan. Rasanya jawaban dari mang Dicky sangat aneh sekali. Stella menangkap nang Dicky sangat ketakutan sekali.
"Sebentar mang. Memangnya kenapa mereka meminta kunci itu?" tanya Stella.
__ADS_1
"Katanya sih mau mencari dokumen penting di rumah itu," jawab mang Dicky.
"Terima kasih mang," ucap Stella.
"Neng masih mau ngontrak di sini?" Tanya mang Dicky.
Tiba-tiba saja Stella diam dan tidak bisa menjawab. Lalu Asmoro menatap mang Dicky dan menjawab pertanyaannya, "Stella tidak akan tinggal di sini lagi mang. Stella akan ikut saya bekerja di kantor."
"Syukurlah Mas. Akhirnya Stella ada yang menolongnya," ucap mang Dicky dengan lega.
"Memangnya kenapa dengan Stella mang?" tanya Asmoro.
"Mang sebentar ya. Aku mau ke sana dulu sama adikku ini," pamit Stella sambil menggandeng tangan Adelia.
"Baiklah. Rumahnya belum dikunci kok. Masuk saja," sahut mang Dicky.
"Oke deh mang. Aku sekalian mau beres-beres dan pindah," ucap Stella yang meninggalkan mang Dicky dan Asmoro.
Melihat kepergian Stella, Asmoro menatap mang Dicky. Kemudian Asmoro bertanya, "Memangnya ada apa mang dengan Stella?"
"Haduh Mas… Stella disini sering disiksa oleh satu pria yang tadi ke sini sama perempuan yang wajahnya sangat cantik sekali. Tapi wanita itu memiliki hati iblis. Stella sering dipukul hingga pingsan. Seluruh warga di sini tidak berani menolongnya. Kalau orang itu masih berada di sini," jawab mang Dicky.
"Ternyata benar apa yang dikatakan Adelia. Stella menceritakan kejadian itu ke Adelia. Setelah bercerita Adelia menceritakan kepadaku dan meminta tolong untuk membantu Stella," ucap Ian.
"Ternyata mereka keluarga yang sangat kejam sekali. Aku tidak akan membiarkan mereka menghajar Stella seperti itu lagi," kesal Asmoro.
"Yang lebih parahnya lagi. Stella hampir saja menghembuskan nafasnya," kata mang Dicky dengan jujur.
"Apakah itu benar mang? Bagaimana kronologinya mang?" tanya Asmoro.
__ADS_1