Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Bertemu Aldo.


__ADS_3

"Nama saya Indah Bu," jawab Indah nama suster itu.


"Salam kenal indah. Kalau masalah itu Jangan dipikirkan lagi. Lupakanlah masalah itu. Ibu nggak akan marah sama kamu. Soalnya kamu benar menegakkan keadilan," ucap Rinda yang mengerti sedari tadi Indah sangat ketakutan sekali menghadapi Tutik.


"Aku nggak takut Bu. Jujur aku ini orang kecil. Saat melaporkan tentang hasil tes kesehatan ke kasir. Ibu itu telah mengancamku dan ingin merusak keluargaku," ujar Indah dengan jujur.


"Tenanglah... Ibu akan berusaha untuk melindungi keluargamu. Memang resiko menghadapi orang seperti itu harus sabar. Sekarang kembalilah bekerja," suruh Rinda.


Indah pun menganggukkan kepalanya sambil berdiri. Lalu Indah keluar dari ruangan Rinda untuk melanjutkan pekerjaan selanjutnya.


Beberapa saat kemudian datang Ian bersama Asmoro. Mereka masuk ke dalam ruangan Rinda sambil menghempaskan bokongnya secara bersamaan.


"Kenapa tiba-tiba saja kalian ke sini?" tanya Rinda yang menatap wajah Asmoro dan Ian.


"Aku perlu sama kamu. Mulai saat ini, kamu nggak usah dulu pergi ke markas. Soalnya markas sudah aku hancurkan. Jika markasku sudah berdiri lagi. Jangan sekali-sekali kamu menginjakkan kakimu di markas itu," jawab Asmoro yang melarang Rinda ke markas.


"Ada apa memangnya?" tanya Rinda.


"Aku nggak mau identitasmu diketahui oleh keluarga John. Kamu diam-diam menjadi dokter pribadinya Patty. Cepat atau lambat wanita itu akan mencari identitasmu. Jika wanita itu tahu identitasmu siapa dan Kamu anggota mafia Black Horizon. Maka kita bisa terseret semuanya. Aku harap kamu paham dengan permintaanku ini," jawab Asmoro.


"Kalau aku butuh Black Horizon bagaimana?" tanya Rinda yang malas berdebat dengan Asmoro.


"Kamu tenang saja. Kita bisa mengadakan rapat virtual. Jika kita sering kumpul di markas. Nanti ada efeknya sendiri. Jujur aku ingin mengantisipasi agar kelompok itu tidak mencari keberadaan Black Horizon. Mulai saat ini Black Horizon akan gerak dengan silent," jelas Asmoro yang membuat Rinda paham dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Kak Raka?" tanya Rinda.


"Raka masih aktif dalam dunia Black Horizon. Penyebabnya adalah Raka jarang sekali kelihatan di depan umum. Bahkan dirinya juga jarang berkomunikasi dengan pasien di rumah sakit ini," jawab Asmoro. "Aku dengar tadi kalau kamu sedang berantem bersama Tutik?"


Rinda menganggukkan kepalanya lalu bercerita tentang asal muasalnya. Kedua pria itu hanya bisa saling menatap dan tidak banyak komentar. Untung saja Asmoro memiliki feeling kuat agar bisa melindungi pengawalnya. Setelah Rinda bercerita Asmoro berencana untuk melindungi Rinda dan putrinya itu.


"Okelah terima kasih atas informasinya. Lebih baik kamu nggak usah mikirin soal itu. Aku akan memberikan beberapa pengawal untuk mengawal kalian. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.kalau dibiarkan bisa-bisa orang-orang seperti itu akan melawanmu. Sekarang pergilah bekerja. Buatlah dirimu rileks seperti biasanya. Karena para ibu hamil sangat membutuhkanmu," pesan Asmoro lalu berdiri meninggalkan ruangan Rinda dengan diikuti oleh Ian.


Melihat kepergian sang ketua, Rinda menjadi sangat lega sekali. Benar apa yang dikatakan oleh Asmoro. Bahwa dirinya tidak boleh ke markas sering-sering. Cepat atau lambat Patty akan mencari informasinya. Memang Wanita itu sangat kepo sekali dengan kegiatan orang-orang.


Di dalam perjalanan menuju ke kantor, Asmoro sedang menikmati keindahan kota. Asmoro menetap orang berlalu lalang di pinggir trotoar. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Sedangkan Ian masih fokus dalam kendaraannya itu.


"Bagaimana ini kak? Jujur kalau diturusin seperti ini kita bisa menjadi gila. Mereka tidak akan pernah melepaskan kita sedetik pun," celetuk Ian.


"Semakin rumit saja. Kalau-kalau perang Ya sudah jangan dilanjutkan. Aku nggak mengerti apa yang ada dalam pikiran mereka," sahut Ian.


"Mereka sengaja ingin menguasai planet ini. Itulah yang jadi jawaban utamanya. Aku belum pergi ke apartemen Raka. Demi mencari tanda bukti obat apa yang bisa membuat manusia itu menjadi zombie. Memang tidak masuk akal tapi ini real. Kalau diteruskan John bisa menghancurkan seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi ini," jelas Asmoro.


Kedua pria itu memilih untuk diam. Satu hal yang sedikit lagi terpecah. Ternyata apa yang dikatakan Kuncoro memang benar. Jika Raka bisa menemukan bahan baku yang dipakai obat tersebut. Kemungkinan besar Asmoro akan mencarinya dan menghancurkan zat itu.


Tutik bersama Patty akhirnya keluar dari rumah sakit. Mereka sangat kesal karena John tidak bisa dihubungi. Mau tidak mau kedua wanita berbeda generasi itu sangat kesal. Karena John sendiri tidak memberikan uang untuk membayar rumah sakitnya itu.


Mereka memutuskan untuk mencarinya di kantor. Mereka ingin dan menyediakan tempat tinggal. Setelah sampai di kantor, Tutik mendapati laporan kalau John pergi ke apartemen. Mereka mengejutkan keningnya sambil bertanya-tanya.

__ADS_1


"Sejak kapan papa memiliki apartemen? Harusnya bapak cerita dong kalau memiliki apartemen. Jadi kita nggak perlu susah payah mencari tempat tinggal," kesal Patty.


Tutik mengedikkan bahunya karena tidak tahu. Lalu sang asisten John memberikan alamat apartemen tersebut. Mau tidak mau mereka akhirnya pergi meninggalkan kantor itu.


Mereka akhirnya menuju ke apartemen tersebut. Dengan penuh amarah mereka akan menghajar John saat itu juga. Bagaimana bisa anak istrinya dibiarkan saja? Sementara dirinya memiliki apartemen sendiri. Seharusnya ketika pulang dari rumah sakit. Mereka sudah memiliki tempat tinggal. Namun mereka tidak memilikinya sama sekali. Kalau dipikir-pikir mereka bisa saja tinggal di rumah sanak saudaranya. Namun mereka memiliki gengsi yang sangat besar. Karena gengsi itulah yang bisa membunuh mereka secara perlahan.


Sesampainya di apartemen, Patty dan Tutik langsung mencari keberadaan John. Di saat Tutik menemukan alamat tersebut, Patty tidak sengaja menatap keberadaan Aldo. Patty pun terkejut atas kedatangan Aldo.


Lalu Aldo pun mendekatinya sambil mengancamnya, "Kalau kamu tidak menurut denganku. Aku tidak akan membuka blokiran kartu kreditmu. Jika kamu masih sombong sama aku. Tiada maaf bagimu. Akulah orang yang akan merusak hidupmu hingga nyawamu terpisah dari ragamu! Camkan itu!"


Patty dan Tutik terkejut melihat Aldo. Mereka tidak menyangka kalau bertemu Aldo di saat begini. Tutik yang melihat tubuh Aldo dan pakaiannya serba mahal itu langsung terpesona. Tutik pun mendekatinya sambil mengajaknya berkenalan.


Saat berkenalan Aldo merasa muak dengan Tutik. Pria muda itu pun tahu siapa Tutik sebenarnya. Dengan malasnya Aldo berkenalan dengan Tutik. Terpaksa Aldo berbasa-basi sebentar saja. Hanya demi membuat sebuah taktik di kepalanya dengan cepat.


Setelah berkenalan Tutik tersenyum bahagia melihat Aldo. Kemudian Aldo berpamitan agar tidak kelamaan di sana. Lalu Aldo segera pergi dari sana.


"Keren kan orang itu. Sepertinya kamu bisa mengambil sedikit hartanya untuk membangun rumah kita. Jadi kita nggak usah perlu susah payah mendapatkan uang yang banyak namun instan," bisik Tutik yang membuat Patty ilfil.


Patty pun hanya menatap malas kepada sang ibunya. Bisa-bisanya sang ibu berpikiran seperti itu. Jujur dirinya tidak mau melakukannya. Karena Aldo memiliki sifat yang kejam dan semaunya sendiri.


"Mama mencari Aldo atau papa sih ke sini!" Kesal Patty.


"Ya pasti papamu lah. Mama kesel sama papamu itu. Bisa-bisanya kita keluar dari rumah sakit tidak memiliki rumah satupun," ucap Tutik.

__ADS_1


"Seharusnya kita bisa hidup bersama Naufal untuk sementara waktu," ujar Patty yang memberikan solusi buat Tutik.


__ADS_2