
"Aku tunggu ucapan Kakak itu," ledek Raka.
"Dasar adik nggak punya akhlak!" teriak Lampard menggelegar sampai keluar ruangan.
Sebelum mendapatkan sepatu melayang, Raka cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Menurutnya Kakak besarnya itu sangat lucu sekali ketika dikerjain. Namun hatinya tetap bersedih mengingat sang kakak masih sendiri.
Gerakan melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Stella. Di sana dirinya akan memeriksa keadaan gadis itu terlebih dahulu.
"Hai Stella," sapa Raka.
"Kak Raka," sapa Stella balik.
"Malam ini kamu akan pindah ke Mansion Kak Gio," ucap Raka.
"Kenapa aku pindah lagi? Memangnya aku salah apa?" tanya Stella.
"Maafkan aku Stella. Aku belum bisa cerita semuanya. Tunggu Kakak besarku yang akan menceritakan semuanya," batin Raka.
"Kakak, Apa salahku?" tanya Stella.
"Nggak ada yang salah. Pokoknya kamu harus pindah dari sini. Aku tidak bisa cerita sepenuhnya. Jika kamu ingin tahu tanyakan saja pada kakek tampanmu itu," jawab Raka dengan nada menekan hingga terdengar Lampard diambang itu.
"Apa yang kamu bilang Raka?" tanya Lampard dengan nada tinggi.
"Ah.... Tidak Kak. Kakak keluar dulu sana. Aku akan memeriksa keadaannya Stella terlebih dahulu," jawab Raka sambil meminta Lampard pergi.
"Mencoba mengalihkan isu ternyata. Sedari dulu kamu memang pandai bersilat lidah," kesal Lampard.
Tidak sengaja Stella menangkap raut wajah sang kakek tampan itu sedang kesal. Entah kenapa dirinya seakan ingin mengejek pria tua itu. Dengan cepat Stella membuang wajahnya ke sembarang arah. Ia tahu kalau lapar benar-benar ingin memakan orang.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memeriksanya dengan selesai!" perintah Lampard yang membuat Raka matanya kembali membola.
Entah ada setan apa? Lampard ingin berada di kamarnya. Lalu Raka hanya bisa menghembuskan nafasnya. Karena sang kakek tampan sedang bermuram durja.
"Bisakah kakek tampan keluar dulu?" Tanya Stella yang membuat Lampard terkejut.
Baru kali ini ada seorang gadis memanggil dirinya kakek tampan. Ia bingung harus berkata apa pada gadis itu. Sebenarnya dirinya ingin marah itu juga percuma. Nyatanya dirinya adalah seorang kakek.
"Jangan sebut aku kakek. Karena kakek adalah sebutan spesial untuk ketiga cucuku. Dan kamu harus memanggilku papa! Apakah kamu mengerti!" tegas Lampard.
"Tergantung," ucap Stella yang membuat Raka tertawa.
"Bisa-bisanya kamu membuat aku naik pitam. Jangan harap kamu bisa lepas dari cengkramanku! Cepat atau lambat kamu akan merasakan akibatnya," ancam Lampard.
"Jangan suka mengancamku. Aku paling tidak suka diancam seperti itu," ujar Stella yang tidak takut sama sekali dengan Lampard.
__ADS_1
Sementara Raka yang mendengar kedua insan manusia ini berdebat hanya bisa menunduk. Entah kenapa Stella yang notaben wajahnya lembut sangat berani melawan ketuanya.
"Raka," panggil Lampard sambil memandang tembok
"Iya Kak," sahut Raka.
"Setelah ini berikan gadis itu sianida. Biar dia tahu rasa!" geram Lampard yang membuat Stella matanya melotot.
"Astaga, Kenapa diriku dikelilingi sama orang gila ini?" tanya Stella dengan hati meringis.
"Kalau sudah selesai panggil aku!" perintah Lampard yang meninggalkan kamarnya.
"Baik," balas Raka.
Sembari menunggu Lampard memutuskan untuk duduk di halaman depan. Di sana dirinya sedang menatap bulan dan bintang. Ada satu kerinduan yang mendalam terhadap seseorang.
Akan tetapi kerinduan itu sepertinya lenyap ditelan angin. Rasa sakit itu masih terasa hingga sekarang. Jujur saja kalau si dia tidak selingkuh, kemungkinan besar hidupnya akan bahagia seperti orang lain.
Jujur di dalam hatinya dirinya sangat berat ketika menjadikan Stella istrinya. Tapi mau bagaimana lagi. Di sisi lain Stella juga dalam bahaya.
"Satu kata di dalam hatiku adalah rumit. Lama-lama rasa Ini seperti rasa yang tertinggal. Entah kenapa malam ini aku teringat padanya. Wanita itu yang pernah menghancurkan hidupku. Jika aku tidak menurut kepada mereka, kemungkinan besar aku hidup dalam kepalsuan cintanya. Yang namanya cinta adalah c i n t a. Membuat semua orang mabuk kepayang. Membuat semua orang patah hati. Membuat semua orang bisa menangis, tertawa dan diam. Yang lebih seringnya lagi bisa membuat orang tersenyum sendirian. Itulah namanya cinta," jelas Lampard.
"Kak," sapa Ibra yang baru saja datang.
"Eh Ibra... Tumben nggak ke sini?" tanya Lampard.
"Besok aku mau periksa kejiwaanku," ujar Lampard.
"Boleh. Kakak tinggal ngomong kapan? Aku akan mengosongkan waktuku beberapa jam untuk memeriksa kakak," sahut Ibra.
"Aku merasa jiwa iblisku akan segera keluar. Aku tidak mau berdampak pada ketiga cucuku," ucap Lampard.
"Bagaimana jiwa iblis Kakak keluar? Sementara jiwa itu sudah Kakak kurung?" tanya Ibra.
"Entahlah. Aku nggak tahu bagaimana caranya bisa keluar. Kemungkinan besar jiwa itu keluar karena saat penembakan Stella," jawab Lampard.
"Apakah kakak menahannya?" tanya Ibra lagi.
"Aku sengaja menahannya dan tidak menghancurkan mereka secara membabi buta. Mengingat di sana banyak pengunjung terutama anak-anak kecil yang sedang liburan. Jujur aku bingung sekali Bagaimana cara mengendalikan ini semua?" ucap Lampard.
"Syukurlah Kakak menahannya. Sepertinya kakak harus diisolasi lagi. Tapi itu tidak mungkin. Karena banyak musuh yang mulai berdatangan," jelas Ibra.
"Kalau begitu aku akan menyuruh Ian untuk mencari agar kamu bisa mengobatiku," kata Lampard. "Bagaimana kabar rumah sakit?"
"Kabar rumah sakit baik-baik saja. Semoga kedepannya tidak ada pertarungan sengit antar mafia di dalam rumah sakit," jawab Raka yang datang dari kejauhan.
__ADS_1
"Sepertinya kamu menyindirku soal kemarin itu?" tanya Lampard malas.
"Aku tidak menyindirmu. Tapi itu kenyataan," jawab Raka.
"Bagaimana dengan keadaan Stella?" tanya Lampard.
"Keadaan Stella baik-baik saja. Tinggal menyembuhkan lukanya yang basah itu. Kurang lebih semingguan akan kering. Aku akan menyuruh Sinta dan Frida ikut bersamamu. Mereka yang akan menjaga Stella," jawab Raka.
"Apakah sudah siap semua?" tanya Lampard.
"Jangan bilang memakai mobil sport untuk menuju ke sana," jawab Raka.
"Hey bro... Meskipun aku kejam. Tapi aku tidak pernah menyakiti seorang wanita, yang sedang sekarat seperti itu. Lebih baik aku menghabisi para penyusup. Kamu paham. Kalau nggak paham tanyakan saja pada rumput bergoyang!" geram Lampard.
Ibrah dan Raka menggelengkan kepalanya secara serempak. Entah kenapa Lampard berubah menjadi aneh seperti itu. Biasanya sang kakak tidak pernah aneh. Ketemu sama seorang wanita, sang Kakak jarang seperti itu.
"Mungkinkah ini yang dinamakan cinta!" Teriak Ibra dengan suara menggelegar hingga membuat para penjaga terkejut.
Pletakkkkk!
"Augh!" ringis Ibra yang membuat Raka menjadi aneh.
Raka segera meninggalkan area itu. Mengingat sang Kakak sedang jatuh cinta namun tidak mengakuinya. Jujur dirinya ingin meledeki sang kakak, namun niatnya diurungkan begitu saja.
Menurut Raka Ini memang aneh sekali. Ketika orang jatuh cinta seharusnya bahagia. Malah sebaliknya tidak, dirinya sering terkena lemparan sepatu dari sang kakak.
Untung saja Raka mengumpulkannya satu persatu. Hingga dirinya akan melelang di badan amal milik Alexa. Lalu, Apakah Lampard akan marah? Tidak, tidak akan marah sama sekali.
Tepat jam delapan malam. Lampard masuk ke dalam kamarnya. Ia sedang melihat Stella yang masih berbaring miring. Kemudian dirinya mendekatinya dan menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Lampard yang memegang tangannya Stella.
"Masih sakit dan perih. Berapa lama lagi aku seperti ini?" tanya Stella yang berputus asa.
"Bersabarlah. Karena luka itu agak lama sembuhnya," jawab Lampard yang pernah merasakan rasa sakit itu.
"Maafkan aku yang telah membuatnya semakin kacau," ucap Stella dengan tulus.
"Kamu tidak perlu meminta maaf. Karena masalah ini di luar kehendak kamu. Jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi. Walaupun itu sakit Kamu harus melakukannya," jelas Lampard.
"Jika aku tidak ada saat itu. Kemungkinan besar Sean dan Edward tidak akan ketakutan," ujar Stella yang menyesal.
"Itulah hidup di dunia. Banyak sekali orang yang mencari musuh hanya demi sesuap nasi. Aku yang seharusnya meminta maaf atas kejadian kemarin. Jika para pengawalku mengetahui siapa mereka, kemungkinan besar tidak akan terjadi," jelas Lampard dengan suara beratnya.
"Maafkan aku juga tadi. Bukan bermaksud untuk menyinggung papa," ucap Stella dengan lirih hingga terdengar di telinga Lampard.
__ADS_1
"Itu tidak jadi masalah. Jika kau belum pernah mengenalku. Maka semua orang akan bilang kalau aku adalah pria sombong. Semuanya itu salah. Aku ingin menjadi pria lembut," celetuk Lampard.
"Apakah itu benar?" tanya Stella.