
“Setelah itu aku bersama kamu jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Sebelumnya aku bedong kamu dengan memakai jaketku. Lalu di box kamu, aku ganti dengan boneka. Aku sengaja mendadaninya memakai bedongan ala bayi.”
Jawab Martin.
“Hmmp... makanya kamu kok pintar sekali merawat bayi yang baru lahir.”
Puji Ian yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.
“Semuanya itu karena Alexa. Aku sudah menyayanginya ketika masih kecil.”
Ujar Martin dengan jujur.
“Setelah itu aku kamu apain yang?”
Tanya Alexa.
“Ya... setelah berjalan-jalan berdua. Aku bersama pengawal duduk di foodcourt. Lalu aku mendapatkan pesan dari Kak Winda kalau Alexa menghilang dari kamar. Aku biarkan saja dulu. Biarkan saja mereka semakin panik.”
Jawab Martin yang jujur pada ceritanya itu.
“Kamu sedari dulu jahil banget. Kasihan Kak Winda tahu.”
Kesal Asmoro yang membuat Martin cekikikan.
“Berarti aku selamat?”
Tanya Alexa yang kebingungan.
“Ya... selamat. Kamu bisa tertawa lagi bersama Papa dan mamaku.”
Jelas Martin.
“Untung saja ada Martin yang berada di mansion. Jika tidak ada, kamu akan hilang.”
Ucap Asmoro yang sangat sayang kepada Alexa.
“Apakah papa sangat mencintai Stella?”
Tanya Alexa yang tiba-tiba saja memandang wajah Asmoro lalu melihat sesuatu di mata sang papa.
“Kenapa kamu tanyakan itu padaku?”
Tanya Asmoro yang mengerutkan keningnya.
“Kalau papa nggak cinta sama Stella, lepaskanlah. Aku nggak mau Stella akan patah hati selamanya.”
Jawab Alexa yang memberikan opsi.
“Aku akan jujur sama kamu. Kalau aku memang sangat mencintainya. Biarkanlah usia kami yang terpaut jauh. Tapi aku bisa merasakan ketulusannya. Aku ingin melindunginya dan juga menyayanginya seperti pria pada umumnya. Aku memang merasakan kegagalan cinta. Tapi apakah aku akan berhenti mencintai seseorang? Tidak. Aku memang sengaja membiarkan hatiku membeku untuk sementara waktu. Karena aku sangat trauma dengan wanita seperti mantan pacarku. Mereka hanya mengambil keuntungan dariku. Mereka menganggap aku kaya dan tajir. Tapi mereka tidak pernah mencintaiku. Oleh karena itu, jariku sendiri yang akan memilihnya. Jadi kesimpulannya aku sangat mencintai Stella. Dia sekarang adalah hidupku.”
Jelas Asmoro.
Tiba-tiba saja Stella mendengar apa yang dikatakan oleh Asmoro. Betapa beruntungnya ia dicintai olehnya. Dirinya tidak menyangka kalau hidupnya berhasil keluar dari penderitaan. Stella berjanji akan mencintai Asmoro dengan sepenuh hatinya.
Memang benar cinta hadir tak kenal usia. Stella sengaja mencari yang sangat tulus dan tidak memintanya lebih. Stella selalu berdoa ketika dirinya menderita. Oleh karena itu, Stella berharap ada seorang pria baik untuk menjadikannya sebagai istrinya.
Apakah Stella menyesal menikah dengan pria berusia lima puluh dua tahun? Jawabannya adalah tidak. Stella malah bersyukur dan akan mengabdikan dirinya untuk mencintai Asmoro.
Stella kembali ke kamar si kembar. Mereka sedang terlelap tidur. Ia sangat menginginkan seorang anak dari Asmoro. Mulai malam ini dirinya akan berdoa untuk meminta bayi lucu kepada sang pencipta.
Sejak berlalu. Asmoro masuk di dalam kamar. Ia menatap wajah Stella tampak lelah. Lalu Asmoro mendekatinya dan memegang tubuh mungil sang istri.
“Lebih baik kamu tidur saja. Aku tahu kamu sudah lelah.”
Pinta Asmoro sambil berbisik di telinga Stella.
__ADS_1
“Aku belum mengantuk.”
Jawab Stella sambil mencium bibir Asmoro.
Stella sekarang sudah tidak malu-malu lagi. Jika ia ingin mencium Asmoro. Ia sudah mengklaim Asmoro sebagai miliknya dengan utuh. Ia memandang wajah Asmoro dengan wajah memerah karena malu.
“Maafkan aku. Karena aku telah memulainya.”
Ucap Stella.
“Apakah kamu mau?”
Tanya Asmoro sambil menggoda Stella dengan wajah cerianya.
“Mau apa?”
Tanya Asmoro sambil menggoda istri kecilnya itu.
“Mau apa?”
Tanya Stella balik yang tidak paham dengan kode milik Asmoro.
“Apakah kamu mau bercocok tanam?”
Tanya Asmoro sambil menatap wajah Stella memerah.
Blush.
Stella langsung pergi meninggalkan Asmoro. Ia sangat malu sekali terhadap Asmoro. Kenapa coba dirinya diajak bercocok tanam malam-malam begini?
“Ngapain bercocok tanam pada malam-malam begini?”
Tanya Stella yang membayangkan malam-malam menanam padi di sawah.
“Memangnya kita akan menanam padi malam-malam begini?”
Tanya Asmoro yang paham dengan Stella.
Stella menganggukan kepalanya sambil tersenyum memamerkan giginya ke arah Asmoro. Ia tertawa ceria sambil kebingungan. Stella sebenarnya tahu apa artinya bercocok tanam. Tapi ada Asmoro, arti bercocok tanam berubah drastis.
“Aku nggak milik sawah sayang. Aku memiliki kebun gandum di Liverpool. Bagaimana caranya aku kesana? Jika kebun gandum aku jauh.”
Tanya Asmoro.
“Oh... bisakah kamu mengajakku ke sana? Aku ingin bermain-main ke kebun?”
Tanya Stella yang membuat Asmoro menganggukan kepalanya.
“Sepertinya itu Irak akan terjadi sekarang. Semakin hari dunia tidak akan. Kelompok Exodus sudah menguasai dunia. Mereka ingin membuat seluruh manusia dijadikan zombie.”
Jawab Asmoro yang tersenyum.
Mendengar kata zombie, Stella berubah menjadi sangat ketakutan. Bagaimana bisa dunia ini dijadikan tempat zombie? Ini sungguh sangat mengerikan.
“Aku tidak bisa membiarkan zombie itu berkeliaran!”
Kesal Stella sambil mengepalkan kedua tangannya.
Stella sangat marah sekali. Cepat atau lambat bumi ini akan dijadikan zombie. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Ia harus bertindak dan menghancurkan Exodus.
“Aku akan menghancurkan mereka!”
Kesal Stella.
“Apakah kamu mau ikut denganku?”
__ADS_1
Tanya Asmoro.
“Kemana?”
Tanya Stella.
“Sebentar lagi kita akan berpetualangan untuk mencari sumur tua milik Kerajaan Deep. Jika kita sudah menemukannya, kita bisa menghancurkan sumur itu dengan cara menutupinya lalu dibakar.”
Jelas Asmoro.
“Kapan itu?”
Tanya Stella yang ingin ikut berburu.
“Nanti Raja Noe yang akan memberitahukan kapan. Kamu harus sudah siap untuk ikut dengan kami.”
Jelas Asmoro yang menatap wajah Stella.
Stella menganggukan kepalanya lalu tersenyum. Ia hampir saja lupa kalau dirinya adalah jelmaan dari Ratu Noe. Ah... sepertinya ini sangat menyenangkan baginya.
“Sepertinya ini sangat menyenangkan.”
Ucap Stella.
“Kamu benar.”
Sahut Asmoro yang membuat Stella tersenyum manis.
“Oh.. iya... aku mau pamit ke lab milik Ibra bersama Martin dan Ian. Kami ingin mengetahui obat apa yang dipakai untuk bahan-bahan makanan di pabrik.”
Ucap Asmoro.
“Bolehkah aku ikut dengan kamu?”
Tanya Stella.
“Kamu nggak perlu ikut dengan kami. Temani Putri angkatmu itu.”
Jawab Asmoro yang membuat Stella paham.
“Kak Alexa ikut kesini?”
Tanya Stella.
“Iya. Alexa akan menginap disini hingga besok pagi. Kasihan ketiga cucu kita sedang tertidur lelap.”
Jelas Asmoro.
“Oh... baiklah. Aku akan menjaganya.”
Ucap Stella menurut.
“Kamu jangan terlalu malam tidurnya.”
Pesan Asmoro kepada Stella.
“Iya... habis ini aku tidur.”
Ucap Stella yang mendekati Asmoro dan menatap mata indah milik Asmoro khas seperti orang Eropa.
Asmoro mengelus kepala Stella dan berbisik, “Tidurlah. Aku akan kembali besok pagi.”
“Lalu bagaimana dengan kami?”
Tanya Stella.
__ADS_1