Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Pertemuan Stella dan Adelia.


__ADS_3

"Sabtu," jawab Ian ragu.


"Jangan Sabtu atau Minggu. Kamu tahukan ketiga cucuku mengajakku bermain," ucap Lampard.


"Kemungkinan besar pulang dari Surabaya. Aku akan mengalihkan jetmu mendarat ke markas," ujar Ian.


"Ok setuju. Apakah kamu sudah membuat surat perjanjian antara aku dengan Stella?" tanya Lampard lagi.


"Ya aku sudah membuatnya. Tinggal kamu menyetujuinya. Aku sudah mengirimkan surat itu ke emailmu. Jika kamu tidak menyukainya, kamu bisa merubahnya beberapa poin tersebut," jawab Ian.


"Baiklah," balas Lampard.


"Ayo kita berangkat. Heli akan segera mendarat," ajak Ian.


Stella yang selesai membersihkan kamarnya terkejut karena kedatangan pelayan. Stella menghela nafasnya sambil tersenyum melihat para pelayan itu, "Kamu ini membuat aku kaget saja. Maaf..."


"Maaf nona saya tidak tahu kalau di sini sudah ada nona," ucap sang pelayan yang usianya sepantaran dengan Stella.


"Tidak apa. Aku tidak marah sama kamu. Oh ya... Siapa nama kamu?" tanya Stella.


"Nama saya Adelia. Panggil saja Adel," jawab Adel nama pelayan itu. "Nona, saya ke sini ingin membersihkan kamar ini."


"Hmmp... Tidak usah. Aku sudah membersihkannya. Dari dulu aku suka bersih-bersih," ucap Stella dengan ramah. "Di mana nyonya Alexa?"


"Nyonya berada di taman sedang memandang bunga mawarnya sedang merekah," jawab Adel.


"Kalau begitu bisakah kamu mengantarkan aku?" tanya Stella.


"Baiklah nona. Saya antar nona ke nyonya," jawab Adelia.


Lalu Adelia mengantarkan Stella ke taman. Sepanjang perjalanan Stella merasakan jantungnya berdetak kencang. Baru pertama kali melihat Adelia sepertinya ada perasaan yang sedang menjalar ke seluruh tubuh. Sesampainya di taman, Adelia memanggil Alexa dengan lembut. Hingga yang mempunyai nama itupun menoleh dan terkejut. Alexa segera mendekati Adelia dan Stella untuk menelisik wajah mereka dengan seksama. Saat ingin mengatakan mereka ada kemiripan Alexa tersenyum dan menyimpan pertanyaannya itu. Lalu Scarlett dan Edward berteriak memanggil mereka satu-persatu hingga suasana cair.


"Mama... Kakak Stella... Kakak Adel," teriak si kembar secara serempak.


"Eh... Sudah absen belum sama Madam Winda?" tanya Alexa.

__ADS_1


"Belum ma. Madam Winda akan segera ke sini bersama madam Rinda. Karena sebentar lagi akan belajar matematika,'' jawab Ed.


"Apakah Rara juga ikut?" tanya Alexa.


"Ya... Rara selalu ikut ke mana madam Rinda pergi," jawab Scarlett.


"Kalau begitu tunggulah di sini," pinta Alexa.


Si kembar itu akhirnya menganggukan kepalanya dan mengajak bermain. Saat bermain Stella meminta izin kepada Alexa untuk pergi ke tempat kerjanya sebentar. Namun Alexa menolaknya dengan alasan demi keamanan dirinya.


"Nyonya... Bisakah aku keluar sebentar untuk meminta izin kepada bos saya?" tanya Stella yang ketakutan.


"Kamu jangan keluar dari mansion dulu sebelum papa Lampard datang. Aku yakin pacarmu akan mencari keberadaanmu," jawab Alexa.


"Lalu bagaimana dengan bos saya?" tanya Stella.


"Siapa nama bosmu?" tanya Alexa.


"Namanya adalah Farrel Ardiansyah nyonya. Bos saya termasuk pria baik," jawab Stella dengan memuji kebaikan Farrel.


"Farrell? Sepertinya aku mengenal orang itu. Bukannya dia adalah seorang CEO dari ARD Groups yang merangkap sebagai EO yang bernama Metalindo?" tanya Alexa yang mengingat siapa itu Farrell.


"Dia temanku satu sekolah. Bahkan satu kelas. Farrell memang orang baik. Kalau begitu aku hubungi dan meminta izin kepadanya. Aku harap dia mengerti situasi dan kondisimu," usul Alexa.


"Tapi nyonya jangan katakan masalah besar ini ke tuan Farrell," pinta Stella.


"Kalau begitu baiklah. Aku akan merahasiakan ini ke Farrell. Aku pergi dulu," pamit Alexa yang mulai menghilang dari pandangan mata.


"Baik nyonya," balas Stella yang melihat kepergian Alexa.


Melihat kepergian Alexa, Stella tersenyum manis. Stella memuji kebaikkan Alexa. Lalu Adelia mendekati Stella dan berkata, "Kamu tahu nyonya Alexa sangat baik sekali. Sering sekali nyonya Alexa membatu dan menolong kami dalam kesusahan."


"Berapa lama kamu bekerja di sini?" tanya Stella.


"Aku sudah lama semenjak usiaku tujuh belas tahun," jawab Adel. "Sebelum ikut Nyonya muda aku sudah ikut nyonya besar selama empat tahun. Sisanya aku di sini."

__ADS_1


"Apakah kamu mempunyai orang tua?" tanya Stella.


"Aku hanya memiliki seorang ibu di desa Jawa Timur. Aku tidak memiliki ayah. Karena kata ibu ayahku meninggal saat aku berada di dalam kandungan. Aku hanya sekolah hingga SMP," jawab Adel.


"Maaf membuatmu sedih," ucap Stella turut berduka cita.


"Lalu bagaimana kamu?" tanya Adel balik.


"Aku sebenarnya mempunyai perusahaan. Namun perusahaan itu sedang dikuasai oleh mama dan papa tiriku. Saat selesai sekolah aku ditendang dari mansion tanpa uang sepeserpun. Aku menggelandang hampir tiga bulan. Aku bertemu dengan Rini dan mengajakku tinggal di rumahnya cukup lama. Setelah itu aku bekerja di tuan Farrell sebagai desain pesta," jawab Stella yang menjelaskan tentang asal usulnya.


"Ternyata orang kaya begitu ya. Meskipun bukan haknya masih saja klaim," kesal Adel.


"Well, enggak selamanya orang kaya begitu. Jika orang kaya sudah dikuasai oleh hawa nafsu keserakahan. Mereka akan melakukan berbagai cara apapun. Padahal hidup di dunia ini simpel bahkan terlalu simpel. Bahagia juga tidak selalu membutuhkan uang banyak. Contohnya melihat bunga mawar merah yang tumbuh di taman ini bisa membuat bahagia," ujar Stella dengan bijak.


"Kamu benar," sahut Adel yang membenarkan perkataan Stella sambil melihat Scarlett sedang mewarnai. "Bisakah kita menjadi teman?"


"Bisa. Bahkan aku sangat menyukai kamu. Kamu adalah gadis yang baik," jawab Stella yang menyunggingkan senyumnya.


Di sudut pojok sedari tadi Alexa tidak sengaja menguping pembicaraan Stella dan Adelia. Entah kenapa Alexa merasakan ada perasaan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Alexa baru tahu kalau Stella adalah ahli waris dari perusahaan. Namun perusahaan mana yang dimaksudnya Alexa belum mengetahuinya. Alexa tidak akan turun tangan untuk membantu Stella. Jika Stella tidak memintanya.


Sementara Lampard dan Ian sudah sampai ke Bangkok Mereka beristirahat sejenak di bandara sambil menunggu kedatangan asisten keduanya yang menjemputnya.


"Apakah aku harus memberikannya pekerjaan buat Stella?" tanya Lampard sambil menimbang-nimbang.


"It's all up to you dude," jawab Ian yang memberikan keputusan tersebut.


"Aku masih bingung, kenapa aku memberikan pekerjaan kepada Stella? Sedangkan kamarku Leonlah yang membersihkannya. Kalau soal makan aku lebih memilih Willi yang sangat pandai sekali memasak. Terkadang aku jarang di apartemen lebih memilih bersama ketiga cucuku," jawab Lampard yang bingung.


"Tapi kak... Sepertinya gadis itu mempunyai tekanan besar. Wajahnya seperti ketakutan," ucap Ian.


"Apakah kamu ingin menjadikan pelayanmu?" tanya Lampard.


"Nope. Aku tidak perlu pelayan. Aku biasa mengerjakan tugas rumah sendiri," jawab Ian.


"Kalau begitu aku menampungnya. Sebaiknya Willi dan Leon akan berkonsentrasi merekrut pengawal baru untuk kawasan Asia. Aku berencana ingin memperbesar Black Horizon," ujar Lampard.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian datang Damian sang asisten Lampard. Damian segera mendekati Lampard sambil membungkuk dan memberi hormat, "Selamat siang tuan Lampard."


Lampard menoleh dan memandang wajah Damian. Lalu Lampard menyuruhnya untuk duduk, "Duduklah dahulu."


__ADS_2