Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Pertemuan Anita Bersama Winda.


__ADS_3

"Terserah kamu saja. Kasihan Hatori yang tidak memiliki saudara lagi setelah ini," jawab Anita.


"Kenapa Hatori tidak menikah saja?" tanya Agatha.


''Hatori tidak memiliki seorang kekasih. Setiap aku tanya pasti jawabannya nunggu beberapa tahun kemudian. Yang lebih kesalnya lagi Hatori mengatakan kalau gadis yang diinginkannya akan datang. Jujur Hatori mengatakan Gadis itu Mama kenal," jawab Anita.


"Ada-ada saja sih itu Hatori. Kalau aku menyuruhnya menikah sekarang, bagaimana menurutmu?'' tanya Agatha.


"Kamu nggak boleh memaksakan kehendak yang berada di dalam hatimu itu. Kamu pernah mengatakan sesuatu kalau jodoh dipaksakan itu tidak baik. Lebih baik Hatori saja yang menunggu sang kekasihnya itu datang sendiri. Aku tidak menjadi masalah akan hal itu," ucap Anita yang tidak ingin Agatha menyuruh Hatori menikah terlebih dahulu.


"Apa yang kamu katakan itu benar. Aku tidak boleh menang sendiri dalam melakukan semuanya ini. Putri aku sudah memiliki hidup sendiri. Tapi aku selalu mengawasinya agar berbuat pada kebaikan. Aku rindu pada kedua putriku itu. Ke mana para pria membawanya aku juga tidak tahu. Padahal aku baru bertemu beberapa bulan yang lalu. Aku benar-benar sangat mencintai mereka," ungkap Agatha yang rindu pada Adelia dan juga Stella.


"Mereka sedang bersenang-senang untuk menikmati hari barunya bersama sang kekasihnya itu. Tapi aku mendukung mereka. Karena mereka aman bersama kekasihnya. Andai saja Stella tidak kabur dari rumah itu. Kemungkinan besar kita tidak akan bertemu seperti ini," ucap Anita yang hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan.


"Ayo kita makan. Seharusnya kita tidak perlu mengingat lagi soal masa lalu. Aku ingin masalah ini dijadikan pelajaran banyak orang. Kita harus waspada kepada setiap orang yang memiliki sifat welas asih. Namun kenyataanya menusuk dari belakang," ujar Agatha yang sengaja memperingatkan Anita.


Anita segera mempersiapkan seluruh makan siang untuk Agatha. Ia teringat akan pada Hatori sembari melihat jam. Ia menatap wajah Agatha sambil bertanya, "Dimana putraku?"


"Putramu sedang sibuk bekerja. Dia memang ingin menimba ilmu dari Gio. Mumpung Gio berada disini," jawab Agatha.


Mendengar nama Gio, mata Anita berbinar. Ia tidak menyangka kalau Anita bisa bertemu dengan Gio.


"Apakah Giovanni Banderas. Si bocah yang suka tawuran itu jika di sekolah?' tanya Anita.


"Ya... Memang. Tapi dia sekarang bukan bocah tawuran. Dia sekarang menjadi seorang pengusaha sukses," jawab Agatha.


"Hmmp... Syukurlah. Hampir setiap hari sekolah kita selalu tawuran," ucap Anita yang mengingat masa lalu ketika tawuran.


"Kamu itu masih ingat saja masa sekolah. Apakah kamu masih mengingatku sebagai orang Jepang yang suka jahil kepada kamu?' tanya Agatha yang sengaja mengingatkan masa lalunya dulu.


"Ya... Tapi kamu orangnya sedingin es. Ada maunya kamu mendekatiku lau merayu dengan segepok uang," jawab Anita yang ingat akan masa lalunya itu.


"Itu benar," sahut Agatha.


Mereka tertawa bersama ketika mengingat masa lalunya itu. Lalu Anita menemaninya makan siang bersama dengan nikmat.


Tepat jam setengah satu, Anita langsung membersihkan alat makannya itu. Ia sengaja menyisihkan satu bekal makan untuk Hatori. Ia segera menuju ke pantry untuk mencuci piring dan membuatkan kopi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian datang Winda. Wanita paruh baya itu sengaja datang kesana hanya untuk membuat kopi.


Selesai mencuci tempat makannya, Anita sengaja mengeringkannya terlebih dahulu. Ia menoleh dan tidak sengaja melihat Winda.


"Winda," seru Anita.


Merasa namanya dipanggil, Winda menoleh dan melihat Anita. Ia tersenyum manis sambil mendekatinya.


"Kamu Anita?" tanya Winda.


"Ya... Aku memang Anita," jawab Anita sambil mengulas senyuman yang indah.


"Syukurlah," ucap Winda yang penuh rasa syukur.


Pertemuan ini tidak terduga bagi mereka. Memang dari awal Anita sangat merindukan Winda. Teman sekolahnya dulu yang sudah mengetahui keluarga besarnya itu. Di sisi lain, Winda sebenarnya ingin sekali menolong Anita pada waktu itu. Semuanya terlambat dan tidak bisa tertolong lagi. Penyebabnya adalah Winda saat itu ditugaskan merekrut beberapa wanita untuk dijadikan sebagai pengawal bayangan buat Linda.


Setelah mengeringkan tempat makanannya, Anita segera membuat kopi. Winda undur diri dulu untuk menyerahkan kopi itu kepada Gio. Sedangkan Anita juga ke kantor Agatha. Disana Anita bercerita tentang pertemuannya bersama Winda. Sungguh bahagianya Agatha melihat Anita telah kembali ke mode awal bertemu dengannya dulu.


Satu kata buat Anita yaitu.


Meskipun Anita usianya sudah tidak muda lagi. Anita masih memiliki jiwa muda. Bahkan Anita sendiri bisa mengimbangi putra-putrinya.


Winda juga sama lalu bercerita pertemuannya bersama Anita. Betapa bahagianya Winda saat ini. Bercerita sembari mengingat masa lalunya. Satu rahasia yang Alexa tidak tahu tentang Gio terbongkar semuanya.


Manchester Inggris.


"Aku lelah banget hari ini,'' ucap Stella yang selesai melayani Asmoro.


"Lebih baik kamu beristirahat saja!'' perintah Asmoro sembari telungkup melihat Stella.


"Bagaimana aku beristirahat?" tanya Stella.


"Tidurlah dengan nyenyak," jawab Asmoro.


"Percuma kamu menyuruh aku tidur," kesal Stella.


"Lha, terus?" tanya Asmoro.

__ADS_1


"Nanti kalau tenagaku pulih, kamu menyuruhku bercinta habis-habisan," jawab Stella.


"Tergantung," ucap Asmoro.


"Ya... Itu tergantung buat kamu. Buat aku kamu sangat menyeramkan sekali," ujar Stella.


Asmoro tersenyum kegirangan mendengar perkataan Stella. Ia tidak menyangka kalau Stella mengatakan hal itu kepadanya. Dibalik itu semuanya Asmoro tidak sakit hati.


"Sekarang aku tanya. Kenapa kamu menghembuskan nafas di dadaku?" tanya Asmoro.


"Aku hanya mencium aroma tubuh kamu yang maskulin itu," jawab Stella dengan jujur.


"Ya... Kamu memang sengaja menghembuskan nafas itu ke dada. Lalu kamu harus bertanggung jawab atas kejadian ini," jelas Asmoro.


"Tanggung jawab?" tanya Stella dengan mata membola. "Sepertinya kamu salah."


"Aku benar apa yang aku katakan. Lalu apa salahnya sekarang?" tanya Asmoro.


"Enggak ada yang salah. Maaf aku sengaja melakukannya karena tubuh kamu memiliki aroma maskulin pria," jawab Stella yang sedikit menyesal atas kekonyolannya tadi. "Apakah aku boleh memegang senjata?"


"Untuk saat ini ya. Aku akan mengajari kamu sendirian," jawab Asmoro.


"Kalau begitu ayo kita pergi ke lapangan tembak," seru Stella yang bangun sambil melihat ranjang berantakan sekali.


"Hmmp... ayolah kalau begitu," ajak Asmoro senang melihat Stella bersemangat.


"Kalau begitu aku akan membereskan ranjang ini. Sebaiknya kamu bangun dulu dan segera berdiri," pinta Sella.


"Enggak usah perlu repot-repot untuk membersihkan ranjang ini," ucap Asmoro. "Nanti akan ada pengawal yang menggantinya."


"Aku malu sama mereka. Hampir setiap hari aku selalu mengganti sprei bersama bed cover," ucap Stella yang benar-benar malu kepada pengawalnya.


"Aku yang membayar mereka. Kenapa kamu harus malu dengan mereka. Lagian ini kegiatan suami istri adalah kegiatan yang lumrah," celetuk Asmoro.


"Ya... Enggak gini kali kak. Seminggu sekali ganti tidak menjadi masalah. Lagian ini hampir setiap hari. Sampai-sampai Kak Natalie hapal banget tentang masalah ini," jelas Stella sembari menutup wajahnya karena malu.


"Hmmmp... Berarti dia menghapalkan semuanya?" tanya Asmoro.

__ADS_1


__ADS_2