Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Utang Penjelasan.


__ADS_3

"Kamu tahu aku mendapatkan pesan dari Alexa. Jika obat-obatan terlarang sudah menyebar ke penjuru negeri ini. Mereka yang mengkonsumsi obat itu langsung mati," jawab Lampard.


"Bukannya kita sudah menghalau obat-obatan itu?" tanya Ian.


Lampard menggelengkan kepalanya sambil menghempaskan bokongnya, "Meskipun kita sudah menghalaunya. Kita tetap kecolongan. Kemungkinan besar ada seseorang yang membuat obat itu."


"Apakah itu John?" tanya Ian.


"Bisa jadi," jawab Lampard. "Jika Alexa sudah mengetahui di mana pabrik itu berada, cepat atau lambat Alexa akan membakar semuanya."


"Apakah kamu tidak merevisi surat perjanjian itu?" tanya Ian.


"Sepertinya itu tidak perlu. Aku akan meminta Alexa untuk menyembunyikannya di mansion. Aku masih menunggu laporan tentang Stella dari Jacob," jawab Lampard.


"Jika Stella adalah ahli waris Kurumi Company?" tanya Ian dengan menggantung.


"Aku tidak habis pikir, kenapa masalah lalu akan berulang kembali? Menurutku ini akan lebih parah ketimbang Alexa," jawab Lampard yang memprediksikan kejadian lampau.


"Setelah dari Surabaya. Aku ingin ke Jogjakarta untuk mengunjungi kedua orang tuaku," pinta Ian.


"Kamu masih utang penjelasan kepadaku. Sekarang jelaskan kepadaku, ada apa dengan orang tuamu itu?" tanya Lampard ke Ian.


"Baiklah. Aku akan menceritakan semuanya. Malam itu ketika kedua orang tuaku sedang terlelap tidur. Ada beberapa orang yang masuk ke dalam rumah. Mereka menghabisi kedua orang tuaku dengan keji. Hingga sekarang aku belum mengetahui apa motifnya," jawab Ian yang merasakan dadanya sesak. "Aku yakin kalau sang pembunuh itu masih berkeliaran dengan bebas."


"Ya kamu benar. Apakah aku perlu membantumu untuk menyelidiki kasus kedua orang tuamu?" tanya Lampard.


"Aku sudah berhutang budi banyak. Aku tidak bisa memberikan apapun itu. Aku hanya memberikan nyawaku untuk melindungi kakak," jawab Ian.


"Jangan berkata seperti itu. Kamu adalah pria baik. Cepatlah menikah jangan jadi jomblo abadi seperti aku," ucap Lampard yang menyuruhnya menikah.


"Aku masih belum menemukan yang cocok," sahut Ian.


"Apakah kamu masih mencintai Dilla?" tanya Lampard.


"Tidak," jawab Ian. "Aku sudah menganggap Dila adalah adikku. Aku lagi menyukai seseorang pelayan Alexa yang bernama Adelia."


"Apakah kamu serius?" tanya Lampard.


"Ya aku serius," jawab Ian.

__ADS_1


"Aku harap Adelia mau menerimamu dengan tulus," ucap Lampard dengan tulus.


"Aku tidak berharap banyak kak. Kakak tahukan kalau aku adalah anggota mafia. Yang di mana aku memiliki sifat iblis. Hanya anggota inti saja mengetahui akan hal itu," ujar Ian.


"Kamu jangan terlalu minder soal itu. Jika kamu menyukainya aku akan mendukungmu," sahut Lampard.


"Apakah kita akan kembali ke Jakarta?" tanya Ian yang mengalihkan pembicaraan untuk tidak membahas kisah cintanya itu.


"Cih... Pake mengalihkan pembicaraan. Kamu tahu aku sangat sebal dengan kamu soal itu," kesal Lampard.


Ian tersenyum jika melihat Lampard sangat kesal. Lalu Ian menyodorkan satu porsi sarapan ke arah Lampard sambil berkata, "Jangan merajuk seperti itu. Jika ada Scarlett di sini bisa dipastikan tertawa mengejekmu!"


Lampard langsung merubah wajahnya kembali datar. Lampard memang sengaja memasang wajah seperti itu hanya karena menghibur Ian yang bersedih. Mereka sangat cocok dalam hal apapun. Kemudian Ian membuka kotak nasi dan mengambil sendok, "Sepertinya Gio akan mengirimkan kamu untuk latihan bersama Blue Diamond."


"Aku sudah mendengar itu. Tapi aku enggak tahu tepatnya kapan. Apakah Kak Martin mengijinkan mereka?" tanya Ian.


"Masalah ini masih dibicarakan. Aku harap kamu tidak keberatan. Bahkan Alexa dan Martin berencana ikut latihan," jawab Lampard.


"Aku tidak mau lama-lama membiarkan schedule kamu berantakan," sahut Ian.


"Tenang saja. Aku akan meminjam Imron dalam beberapa Minggu. Aku harap Jacob paham dengan latihan ini," ucap Lampard.


"Palingan dia ikut latihan. Kamu tahu jika kakak tarik sang asisten somplaknya itu. Kemungkinan besar Jacob ngambek," sahut Ian.


"Entahlah... Jacob selalu saja begitu. Jadi biarkan saja Jacob melakukan hal gila," jawab Ian tersenyum devil.


Jakarta Indonesia.


Stella yang duduk di taman merasakan hatinya berdenyut. Entah kenapa potongan demi potongan masa lalunya kembali hadir. Stella mengingat saat perlakuan ibunya yang kejam itu. Sering sekali Stella mendapatkan kekerasan fisik hanya kesalahan kecil. Dalam diam Stella menangis terisak.


Beberapa saat kemudian datang Alexa yang membawa puding coklat. Alexa menaruhnya di meja dan menoleh ke arah Stella, "Stella."


Stella yang mendengar suara Alexa terkejut. Stella mengangkat wajahnya sambil menghapus airmatanya dan menyembunyikan perasaan sedihnya. Namun Alexa mendekatinya sambil duduk di samping Stella dan menatap matanya yang sembab, "Ada apa?"


"Aku tidak apa-apa kak," jawab Stella.


"Kamu pasti ada masalah besar," ucap Alexa yang menebak.


"A... A... Aku tidak ada masalah besar kak. Aku tidak apa-apa," jawab Stella yang berusaha menutup masalahnya itu.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksamu. Ya sudah kalau begitu. Pokoknya kalau di sini jangan pernah bersedih lagi," pinta Alexa yang tersenyum ramah.


"Tidak kak. Tidak lagi," ujar Stella.


"Kalau begitu makanlah puding coklat buatanku. Aku harap kamu suka," suruh Alexa.


"Kakak sudah terlalu baik sama aku. Aku tidak bisa membalas kebaikan kakak," ungkap Stella.


"Kamu tidak perlu membalasnya. Kamu hanya membalasnya dengan senyuman terbaikmu," ujar Alexa yang menghibur Stella.


"Apakah aku boleh bekerja?" tanya Stella.


"Selama papa Lampard belum pulang ke Jakarta, aku tidak berani mengizinkan kamu bekerja," jawab Alexa. "Apakah kamu bosan?"


"Tidak. Tapi aku tidak enak hati sama Kak Martin," jawab Stella.


"Kak Martin berharap kamu berada di sini untuk menemaniku," ungkap Alexa dengan bahagia. "Apakah kamu bekerja menjadi asistenku?"


"Asisten apa kak? Apakah asisten rumah tangga?" tanya Stella dengan mata berbinar.


"Tidak. Aku tidak akan mengangkat kamu sebagai asisten rumah tangga. Aku ingin kamu bekerja bersamaku di perusahaanku," jawab Alexa.


"Tapi," ucap Stella dengan ragu.


"Tapi apa?" tanya Alexa yang mengerutkan keningnya.


"Aku hanya lulusan SMA. Aku tidak kuliah," jawab Stella.


"Tak apa. Aku juga hanya SMA. Aku ingin kuliah dilarang paman Martin. Lalu paman Martin mengajariku soal seluk beluk bisnis. Kamu tahu kalau Paman Martin adalah seorang pembisnis yang handal," kata Alexa.


"Ya aku mengetahuinya. Aku juga kagum dengan suami kakak itu. Terkadang aku ingin seperti itu," pinta Stella sambil menatap langit.


"Doamu akan terkabul. Tapi kamu harus berusaha sekuat tenaga," sahut Alexa yang mendoakan secara tulus.


"Ke mana Ed dan Scar? Sedari tadi aku belum melihatnya?" tanya Stella.


"Mereka tertidur pulas di kamarnya. Kamu tahukan kalau tidur siang bagus buat anak-anak. Maka aku menyuruh mereka untuk tidur siang," jawab Alexa.


"Mereka anak yang sangat lucu dan menggemaskan sekali," puji Stella. "Apalagi melihat Scar kalau sedang ngambek."

__ADS_1


"Kata mama Linda, Scar kalau ngambek seperti paman Martin sewaktu kecil. Jika lagi ngambek aku sering menahan tawa. Begitu juga dengan yang lainnya," balas Alexa yang melihat jam. "Apakah kamu mau menolongku?"


"Apa itu?" tanya Stella balik.


__ADS_2