Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Bukan Asisten Biasa.


__ADS_3

Mereka tertawa terbahak-bahak karena ulah Jacob. Entah kenapa setiap kali Jacob berbicara bisa mengundang gelak tawa orang di sekitarnya. Sebenarnya wajah Jacob sangat tampan nan rupawan. Biasanya wajah seperti itu terkenal sangat dingin dan pendiam.


“Setiap kali bertemu kamu selalu meledekku. Aku doakan kamu memiliki istri yang lebih parah dariku,” ucap Martin dengan tulus.


Seluruh pria yang berada di situ berteriak amin secara serempak kecuali Jacob. Jacob hanya bisa mengelus dadanya saat melihat Martin. Iya tidak tahu harus menjawab apa saat membalas perkataan Martin. Namun sang ketua Lampard hanya bisa tertawa melihat kelakuan adik kakak itu.


“Tolong jangan diaminin doa kakakku laknat ini. Aku tidak ingin menderita seperti kakakku,”pinta Jacob dengan wajah memelas.


“Maaf Jacob, kami berharap kamu menyusul kakakmu menikah. Jadi kami serempak mengamini doa kakakmu,” ledek Ian yang membuat Jacob semakin terpojok.


“Terserahlah apa kata kalian. Lalu, apa rencana kakak?” tanya Jacob.


“Apakah kamu tahu tempat nongkrongnya Party?” tanya Lampard.


“Aku tahu,” sahut Leon dengan cepat. “dia sering nongkrong di tempat klub milik Imron.”


“Apakah kamu serius?” tanya Imron.


“Aku serius kak. Aku nggak pernah bohong,” jawab Leon.


“Hari apa saja dia kumpul?” tanya Lampard lagi yang membuat mereka kebingungan.


“Hampir setiap hari. Kecuali malam Jumat Kliwon,” jawab Leon.


“Memangnya dia kuntilanak apa?” kesal Martin.


“Entahlah. Aku juga aneh sama dia. Pokoknya jangan sekali menunggunya pas Jumat Kliwon. Lebih baik kalian bertemu di hari-hari biasa,” jawab Leon.


“Berarti hari ini ada?” tanya Lampard sambil memandang wajah Imron.


“Tahulah. Aku memang sering ke sana bersama pengawal lainnya untuk mengisi panggung,” jawab Leon.


“Aku hampir lupa kalau Leon seorang gitarisku,” ucap Imron.


“Kalau begitu baguslah. Selain jadi anak band kamu bisa mengetahui para pengunjung. Dan yang datang itu banyak sekali,” ucap Imron.


“Awalnya nggak terlalu memperhatikan. Memang dia sering ke klub bareng teman-temannya. Kala itu dia membuat onar di klub tersebut hingga beberapa pengunjung terkena serpihan gelasnya ketika dibanting. Dari situlah aku selalu mengingat Patty,” kata Leon.


“Wow... Sadis juga ya ternyata. Aku kira wajah cantik dan banyak dikagumi orang ternyata iblis,” ucap Martin.

__ADS_1


“Makanya... Jika ada yang kenal dan tahu tabiat aslinya orang itu nggak mau mendekat. Mereka berusaha menjauhinya dan memilih aman,” tambah Leon.


“Terus kenapa setiap hari ke klub?” tanya Lampard.


“Biasalah. Dia selalu mencari pria hidung belang yang sering nongkrong di sana,” jawab Leon. “Tujuannya adalah hanya mencari uang dengan menjual tubuhnya. Bisa dikatakan ah... Pasti kalian tahu.”


“Kelihatannya sih nggak ramah,” imbuh Martin.


“Itu benar. Jadi ya... Nggak merasa nyaman di dekatnya. Hanya pria dengan tatapan liar saja nyaman. Ujung-ujungnya ke hotel,” imbuh Leon.


“Lalu apa rencanamu Kak?” tanya Martin.


“Rencana utamanya adalah menjebak untuk menjadi penari striptis di klubmu,” sahut Lampard.


“Apakah kakak gila menyebarkan video seperti itu ke penggemarnya?” tanya Ian.


“Lalu, apa kamu keberatan?” tanya Lampard balik.


“Enggak sih,” ucap Ian keberatan.


“Imron,” panggil Lampard.


“Pasti kamu punya tempat privat?” tanya Lampard.


“Punya Kak. Di lantai tiga. Ruangannya itu sangat luas sekali bisa dibuat meeting juga,” jawab Imron.


“Leon, kumpulkan semua pada pengawalmu yang berada di markas untuk mengunjungi klubnya Imron. Aku ingin memberikan hadiah untuk mereka. Kamu tahu hadiah itu apa?” tanya Lampard.


“Yang pastinya bersenang-senang ditambah mabuk sampai pagi dan kalau yang ini aku nggak bisa bilang,” jawab Leon.


“Kau pintar sekali. Ambil bonusmu ke Ian sepuluh juta. Terus suruh mereka ke private room. Aku hanya meminta dua puluh orang saja dan berikan baju bagus ke mereka agar kelihatan seperti orang kaya!” Perintah Lampard. “Dan kamu Imron, aku memberikanmu tugas berpura-pura penarimu yang kau sewa tidak datang. Buat sayembara dengan harga mahal sekitar dua milyar. Pokoknya tujuannya adalah agar Patty masuk ke dalam perangkap. Apakah kamu paham?”


“Aku paham,” sahut Imron.


“Apakah di ruangan itu ada cctv-nya?” tanya Lampard.


“Ada,” jawab Imron. “Aku sengaja memasang CCTV itu guna untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. jika ada kasus di klubku maka aku cepat bertindak dan bisa melacak keberadaan acara tersebut.”


“Kalau begitu baiklah. Jacob kamu monitoring ruangan itu. Rekam semua jejak kegiatan di sana. Setelah selesai kamu ambil bagian hotnya saja. Dengan demikian kita bisa menaruh adegan itu di internet. Aku ingin berita itu cepat naik ke permukaan biar bisa dilihat sama fansnya. Oh ya satu lagi... Kejadian penyerangan Adelia apakah ada videonya?” tanya Lampard.

__ADS_1


“Ada kak. Aku sudah menyimpannya,” jawab Leon.


“Berikan pada Jacob agar bisa diupload di internet. Apakah kalian setuju niatku ini untuk menghancurkan karir wanita itu?” tanya Lampard.


“Ya.. aku setuju,” jawab Martin. “Ternyata kakakku licik juga.”


“Kalau begitu lakukanlah,” perintah Lampard dengan santai. “Jangan sampai kita yang melakukan semua ini. Aku ingin kalian kerja bersih tanpa ada yang tahu. Setelah kamu sebarkan video itu hapus semua link yang ada. Jadi kamu nggak usah ninggalin jejak di sana tapi video masih ada.”


“Baiklah kalau begitu. Aku akan melakukannya dengan bersih,” sahut Jacob.


“Gunanya di sini aku apa?” tanya Martin yang bingung dengan sang kakak.


“Hubungi pengacara nanti malam kita ketemuan di klub. Kamu tahu kan maksudku apa?” perintah Lampard.


“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan menghubungi Tama segera,” ujar Martin.


Setelah melakukan pertemuan, mereka langsung pergi meninggalkan apartemen. Mereka mulai mempersiapkan rencana jebakan untuk Patty. Sedangkan Lampard dan Martin masih stay di apartemen.


“Ini maksudnya apa kok pakai manggil pengacara segala?” jawab Martin.


“Maksudnya adalah aku ingin mendiskusikan tentang Kurumi sekaligus mengajak Tama kerjasama. Aku sudah lama tidak bekerja sama dengan anak buahku itu. Mudah-mudahan Tama bisa membantuku memecahkan kasus milik Stella. Sepertinya aku mulai curiga dengan mereka. Kemarin aku suruh Ian untuk mencari keberadaan asal usul Stella dan seluruh asetnya. Ternyata seratus persen aset yang dimiliki Stella dikuasai oleh John. Tapi mereka tidak bisa mengambilnya karena harus melalui Stella. Pemikiranku begini, jika mereka mendapatkan Stella, maka mereka akan menyuruh Stella menandatangani berkas-berkas pelimpahan aset Kurumi. Di surat kuasanya itu hanya ada nama Stella. Agatha sengaja tidak memasukkan nama Adelia dan Hatori,” jelas Lampard.


“Pintar sekali Agatha. Dia mengorbankan Stella agar melindungi asetnya. Aku nggak habis pikir sama orang itu,” kesel Martin.


“Begitu juga dengan aku. Kalau dipikir-pikir ini adalah kasus ekstrem. Aku nggak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Jujur aku melihat Stella merasa tak berdaya. Selama sekolah sampai diusir nggak pernah diurus sama sekali. Jam tiga pagi disuruh bangun dan membersihkan rumah sampai malam jam dua belas. Alexa yang punya pelayan seperti itu tidak pernah menyuruh kerja jam tiga pagi sampai jam dua belas malam. Yang ada mereka kebanyakan santai dan bercanda. Jangankan mereka, Alexa  kadang-kadang suka nimbrung. Kalau Stella nggak dikasih kebebasan apapun. Melakukan kesalahan sedikit saja langsung dihajar bertubi-tubi. Bahkan nggak makan dua  hari. Memang benar-benar gila itu keluarga,” jelas Lampard yang membuat Martin terkejut.


“Bagaimana Ian bisa membobol dan mendapatkan surat kuasa Stella?” tanya Martin.


“Oh iya... Selama ini aku nggak cerita kalau Isn adalah seorang ahli mata-mata di bidang teknologi. Memang kelihatannya somplak namun dia memiliki otak yang jenius. Begitu juga dengan Leon dan Imron. Mereka adalah mata-mataku untuk mengintai musuh. Biasanya aku sandingkan bersama Alexa untuk mencari informasi melalui dark web,” jawab Lampard.


“Aku sangat terkejut sekali mendengar pernyataan darimu. Jujur aku akui mereka bukan asisten biasa. Kamu sangat cerdas sekali memilih orang berada di sampingmu,” ungkap Martin sambil memuji sang kakak karena kepintarannya.


“Kamu juga pintar memilih asisten. Istri sendiri kamu jadikan asisten dan mata-mata. Untung saja Alexa menyerap ilmu mereka agar menjadi seorang mata-mata di bagian teknologi. Kalau begitu lanjutkanlah. Suatu Hari nanti Black Horizon akan membutuhkan Alexa untuk menjadi mata-mata dan bergabung sama mereka,” perintah Lampard.


“Iya itu benar Kak. Aku salut pada Alexa. Awal-awal pernikahan kami memang sangat kacau. Setelah kepergian pelakor aku berjanji pada diriku agar tidak menyakiti dan menyia-nyiakan seorang istri yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata,” ungkap Martin yang sangat sayang pada Alexa.


“Sebentar lagi... Salah satu dari anak kalian akan mengikuti jejak Alexa. Jika ada yang mengikuti aku akan menggemblengnya sampai sukses,” ujar Lampard dengan serius. “Apakah kamu sudah menghubungi Tama?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2