
"Ya itu benar," jawab Lampard.
"Papa seperti pria yang berkarismatik. Tampan dan berwibawa. Papa seperti orang yang memiliki jabatan tinggi. Pekerjaan papa itu paling cocok sebagai CEO," ucap Stella malu-malu.
"Aku memang seorang CEO," ujar Lampard.
"Apakah itu benar?" tanya Stella yang matanya membola.
"Ya... Aku memang seorang CEO dari perusahaan S&T Company," Lampard yang membuat Stella terkejut.
Sontak saja Stella terkejut mendengar pengakuan dari Lampard. Baru kali ini setelah bertemu dengan sosok CEO S&T Company. Biasanya sang CEO jarang sekali ditemui. Bahkan seluruh media pun tidak pernah bisa mengakses pertemuan dengan beliau.
Bagi Stella ini sangat kejutan sekali. Dirinya tidak menyangka kalau CEO S&T adalah pria yang menolongnya. Ia hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Kalau kamu tidak percaya. Kamu boleh tanyakan pada doktermu itu. Dia banyak tahu tentang aku," ucap Lampard.
"Bukan Aku tidak percaya. Aku sangat shock sekali mendengarnya. Bagaimana bisa aku bertemu dengan orang penting sepertimu. Jarang ada orang yang berhasil menemuimu. Contohnya wartawan yang ingin tahu tentang kehidupanmu," ujar Stella yang masih tidak percaya.
"Aku tidak ingin menemui wartawan atau siapapun yang tidak ada kepentingan khusus. Aku sudah berpesan pada asistenku untuk tidak membuat schedule bertemu dengan wartawan ataupun lainnya. Lebih baik aku memilih untuk beristirahat di kantor maupun di apartemenku," jelas Lampard.
"Bukankah nama Papa sedang naik daun di dunia bisnis?"
"Aku tidak peduli itu. Yang aku pedulikan adalah mengumpulkan prestasi."
"Bukan itu maksudku. Banyak orang yang ingin tahu tentang kehidupan papa."
"Kehidupanku bukan konsumsi publik. Aku ingin hidup tenang tanpa ada yang menggangguku. Sekarang aku bertanya padamu, Bagaimana kalau dirimu berada di posisiku? Apa yang akan terjadi? Kemanapun kamera selalu mengawasimu. Keesokan harinya nama kamu terpampang di headline news. Apa yang kamu lakukan akan menjadi konsumsi publik. Apa yang akan kau rasakan?"
"Jujur aku tidak nyaman dengan semuanya itu. Aku ingin hidup di dunia ini tanpa harus ada beban ke orang lain."
"Begitu juga dengan diriku. Aku tidak akan mau hidupku diusik oleh para pencari berita."
"Apa benar kalau kamu adalah ahli waris Kurumi Company?" tanya Lampard.
Mendengar kata Kurumi hati Stella mencelos. Air matanya mulai keluar kembali. Di titik inilah Stella merasa dipermainkan oleh takdirnya.
"Ada apa dengan Kurumi?" tanya Lampard.
"Jujur saja aku tidak mengerti soal itu. Banyak orang yang menginginkan aku keluar di publik. Tapi aku tidak tahu soal ini," jawab Stella yang membuat Lampard tertunduk.
"Maafkan Aku. Yang telah membuat papa kecewa," jelas Stella.
"Kamu tidak salah. Tenang saja, aku hanya baik-baik saja," sahut Lampard.
"Aku masih penasaran dengan perusahaan itu. Ada apa sebenarnya? Setiap orang membicarakan perusahaan tersebut. Namaku selalu tersangkut. Sampai sekarang belum ada jawabannya," ungkap setelah yang kebingungan.
Lampard mengerti Kalau Stella baru mengetahui tentang perusahaannya itu. Lalu, hatinya bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa dengan Stella ini?
"Tidak usah dibahas soal itu. Aku tidak keberatan dengan perusahaan itu. Aku juga tidak memikirkannya. Aku anggap saja adalah angin lalu," tambah Stella.
"Enak saja kamu ngomong seperti itu. Kamu kira perusahaan itu yang mendirikan oleh orang lain apa? Itu perusahaan yang mendirikan adalah papa kamu sendiri. Papa kandung kamu. Janganlah berkata seperti itu. Apakah kamu paham soal itu?"
__ADS_1
"Aku belum paham sepenuhnya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Soalnya kamu tidak paham sama sekali. Dan mereka adalah bukan keluarga aslimu. Mereka adalah benalu untukmu. Yang setiap hari ingin menggerogotimu demi mendapatkan aset Kurumi."
"Memangnya ada ya?"
"Kamu belum mengetahuinya. Mulai saat ini kamu harus bersiap mencari semua jawabannya bersamaku."
"Kenapa harus bersama papa?"
"Jika kamu sudah sembuh total. Maka aku akan membimbingmu. Perlahan pasti kamu akan mengetahui semuanya. Dan mencari papa mamamu."
"Keluarga? Papa dan Mama?"
"Iya kamu memilikinya. Mereka masih hidup. Mamamu berada di Surabaya. Papamu berada di Tokyo Jepang."
"Apakah itu benar? Lalu, siapakah mereka yang berada di rumahku?"
"Itulah yang harus kamu cari siapa mereka? Merekalah yang menggerogoti aset kamu. Oh iya... Aku akan memberitahumu sesuatu. Semoga kamu tidak terkejut sama sekali."
"Apa itu?"
"Kamu sebenarnya tidak sendiri. Kamu memiliki dua saudara kembar. Satu saudara kamu sudah ditemukan. Tinggal satu saudara lagi."
Stella sungguh sangat terkejut sekali mendengar pernyataan Lampard. Ia bingung untuk mengatakan sepatah kata pun.
"Kamu mungkin kebingungan soal ini. Tenanglah... Pelan-pelan kita akan membuka tabir rahasia keluargamu. Suatu saat nanti kamu akan bertemu siapa mereka?"
"Apakah kamu sudah siap untuk dipindahkan?"
"Kenapa aku dipindahkan lagi? Memangnya aku salah apa? Apakah aku salah ketika melihat Papa berganti baju?"
"Kamu tidak salah apa-apa. Apakah kamu masih ingat tentang mafia itu?"
"Maaf ya yang mana? Apa itu mafia? Kenapa aku ingin dijual ke sana?"
"Aku juga tidak tahu."
"Kalau papa tidak tahu. Bagaimana saya tahu?"
"Sini aku jelasin yang sebenarnya. Aku sengaja memindahkanmu demi keamananmu. Jika kamu masih di sini. Cepat atau lambat tempat ini akan diserang juga. Karena tadi sore sudah ada orang yang masuk ke sini sebagai penyusup. Kamu pasti tahu tentang Harlem. Bukankah dia kekasihmu?"
"Kekasih dari mana? Seenaknya dia jual aku ke mafia? Memangnya aku salah apa sama dia? Makan dan hidupnya saja minta uang ke aku!"
"Kasihan sekali ya dirimu. Ternyata selama ini kamu dimanfaatkan sama pria gila itu."
"Entahlah."
"Atau mungkin Harlem bekerja sama dengan adikmu itu?"
"Adik kembarku maksudnya?"
__ADS_1
"Kamu itu lucu sekali ya."
"Lucu bagaimana?"
"Mana ada saudara kembar menjual saudaranya lagi? Bukankah saudara kembarmu itu sangat kesepian sekali. Karena tidak memiliki saudara satupun."
"Apa maksudnya? Kok Papa memberikan aku sebuah teka-teki?"
"Teka-teki bagaimana?"
"Ya itu teka-teki?"
"Oh baiklah... Terpaksa aku jelaskan semuanya. Ya nggak semuanya sih. Sedikit saja. Kalau semuanya... Aku pastikan hidupmu akan terkejut setengah mati lagi."
"Papa juga suka ngelawak ya?"
"Kamu orang kesekian yang bilang seperti itu."
"Aish... Kok jadi begitu ya."
"Apa yang kamu katakan itu benar apa adanya. Banyak semua orang mengatakan kalau aku adalah seorang pelawak. Nyatanya bukan. Aku Prio biasa yang memiliki jokes garing."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Tugasmu adalah tersenyumlah dan hilangkan semua beban di pikiranmu itu. Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan semua jawabannya."
"Baiklah kalau begitu. Makasih atas sharingnya pa."
"Sama-sama. Apakah kamu sudah siap dipindah?"
"Kalau demi kepentingan bersama, baiklah."
"Kalau begitu aku yang akan menggendongmu."
Stella memilih diam saja dan menganggukkan kepalanya. Ia hanya menuruti keinginan sang papanya Itu. Dirinya tidak sengaja melihat ada kasih sayang disorot mata Sang papa. Namun di sisi lain Stella sangat ketakutan. Karena baginya Papa Lampard adalah orang lain.
Lampard segera berdiri lalu membungkukkan badannya. Tangannya mulai menyentuh tubuh Stella. Ia sedang mencari lukanya dan menandainya. Setelah menemukan lukanya, Lampard tidak akan menyentuhnya. Karena di titik itulah luka setelah masih dalam keadaan basah.
Yang jadi pertanyaannya adalah Kenapa Lampard tidak memakai ambulans? Sebagai pengingat saja, Kalau tempat ini sangat rahasia sekali. Tidak banyak orang tahu tentang tempat ini. Kalau pun tahu mereka adalah para pengawal dan para petinggi Black Horizon dan Blue Diamond. Makanya mereka jarang sekali mengekspos tempat ini di sosial medianya masing-masing.
"Papa," panggil Stella.
"Ada apa?" tanya Lampard dengan lembut.
"Jangan sampai menyentuh lukaku. Lukaku masih sakit sekali," jawab Stella yang sengaja melingkarkan kedua tangannya di leher Lampard.
"Luka yang mana dulu? Luka hati atau luka tembak?" tanya Lampard yang membuat setelah bingung menjawabnya.
Lampard sengaja melemparkan jokes garing kepada Stella. Tapi Stella memilih untuk diam. Namun Lampard tidak mengetahui kalau isi hati Stella sedang berbunga-bunga.
Jika Lampard tahu, maka dirinya juga bahagia. Saat keluar menggendong Stella, Ian tidak sengaja melihat Lampard. Matanya membulat sempurna. Mulutnya menganga seakan tidak percaya. Apa yang telah dilakukan oleh Lampard kepada Stella? Jujur Baru kali ini sang atasan memegang tubuh perempuan yang penuh dengan kasih sayang. Menurutnya ini sangat aneh sekali. Bahkan Ian sepertinya sangat syok sekali.
__ADS_1
Telah keluar dari markas, Lampard langsung memasukkan Stella ke dalam mobilnya. Lalu pria itu berteriak memanggil sang asisten, "Ian... Keluarlah kamu dari markas ini!"