Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Jawaban Stella.


__ADS_3

"Aku nggak peduli itu. Bukankah menjadi wanita single itu lebih baik? Ini adalah pendapatku. Aku sendiri tidak mau merusak hubungan orang lain. Biarkanlah saja menyendiri tanpa harus memiliki masalah besar," jawab Stella yang memakai hati nuraninya.


Asmara mulai berpikir apa yang dikatakan oleh Stella itu memang benar. Asmoro sengaja memancing sifat Stella yang sebenarnya. Ternyata gadis itu tidak memiliki bakat menjadi seorang pelakor. Bahkan Asmoro sengaja memberikan pertanyaan Stella memiliki peluang untuk menjadi pelakor. Namun pertanyaan itu bisa dipatahkan dengan jawaban cerdas.


"Kamu sangat cerdas sekali menjawab pertanyaanku itu. Kamu tahu kan Ian. Dia sering memancing wanita-wanita yang berada di sampingnya itu. Lalu jawabannya apa? Jawabannya adalah mereka akan memanfaatkan peluang itu untuk merebutnya dari istrinya," jelas Asmoro.


"Kalau begitu bekerjalah dengan giat. Jangan membahas yang aneh-aneh. Nanti aku tidak bisa menjawabnya lagi," suruh Stella.


Asmoro menganggukkan kepalanya dan melanjutkan pekerjaannya. Dirinya mulai berkutat dengan beberapa dokumen yang berada di depannya. Sedangkan Stella larut dalam pertanyaan yang dilemparkan oleh Asmoro tadi. Memang benar jawabannya itu. Lalu dirinya berpikir. Bagaimana jika ada setan di sampingnya untuk menyuruh menjadi seorang pelakor? Gadis itu mulai mengusap wajahnya berkali-kali. Ia akan bersumpah tidak akan melakukannya.


Seketika Stella teringat pada Patty. Ia tidak menyangka memiliki saudara yang begitu kejam. Ia pernah merencanakan sesuatu untuk merusak rumah tangga orang bersama Tutik. Tutik pun setuju dengan rencana Patty. Di situlah Patry mulai belajar menjadi seorang pelakor.


"Kamu kenapa mengusap-ngusap kan wajahmu itu? Memangnya aku jelek apa?" Tanya Asmoro sekilas melirik Stella.


"Aku nggak apa-apa. Memang membahas pelakor itu tidak ada habisnya."


"Janganlah jadi pelakor. Jadilah wanita baik di mata setiap pria. Jagalah martabatmu itu sebagai seorang wanita. Hanya itu saja pesanku kepadamu."


Setelan mengangguk tanda setuju. Dirinya akan menyimpan nasihat itu di dalam hatinya. Ia merasa bersyukur karena masih ada orang yang mengingatkan tentang kebaikan. Mulai hari ini ia akan menjadi seorang pribadi yang baik. Itulah prinsip yang sedang dipegangnya.


Lex Cafe N' Resto.


Patty yang sedang menunggu seseorang mencoba melihat keadaan. Wanita itu mencari-cari mangsa untuk nanti malam. Berhubung hari ini masih siang. Patty tidak menemukan banyaknya pria di tempat ini. Kemungkinan besar mereka sedang bekerja demi anak istrinya


"Kenapa kau tidak menemukan seseorang yang berada di sini. Bagaimana nanti malam? Aku sudah rindu akan belaian seseorang," batin Patty.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian ponsel yang bermerek apel yang tidak utuh itu berdering. Ia mengerutkan keningnya sambil menatap layar tersebut. Kemudian matanya dengan serius melihat angka-angka di sana.


"Siapa yang telepon aku siang-siang begini? Memangnya ada orang yang membuatku bisnis apa?" ucap Patty dalam hati sambil mengangkat ponselnya itu.


"Halo, ini siapa ya?" tanya Patty.


"Gue Aldo. Lu nggak pulang apa?" tanya Aldo yang berada di lokasi rumah Patty.


"Gue lagi nunggu seseorang. Please jangan ganggu gue," jawab Patty dengan nada ketus.


"Ya sudah kalau Lu nggak pulang sama sekali ke rumah. Lu tahu kan janji yang sudah gua lontarkan tadi?" Tanya Aldo.


"Janji apa itu?" Tanya Patty balik.


"Gue udah janji sama lu tentang rumah kesayangan. Lu sudah melanggar perjanjian sama gue. Sebentar lagi rumah lo akan menjadi abu dan rata dengan tanah," jawab Aldo sambil memberikan kode untuk pengawalnya membakar rumah Patty.


Ketika hatinya mulai panas Aldo mematikan ponsel dan menyuruh beberapa pengawal untuk membakar rumah tersebut. Aldo sudah tidak peduli lagi dengan ancaman wanita gila itu. Dalam hatinya Aldo akan tetap mengganggunya sampai menderita.


Itulah Aldo. Aldo tidak akan gentar membuat Patty menderita. Begitu juga dengan keluarganya. Dirinya akan melakukan sesuatu untuk membunuhnya secara perlahan.


"Bahkan semuanya rumah itu. Jangan sampai tersisa apapun. Kamu sudah memberikan uang kata tanya tetangga yang terkena dampak rumah Patty?" tanya Aldo kepada Ryan sang asistennya.


"Ya Tuan. Aku sudah memberikan uang kompensasi untuk mereka. Mereka mau dan berencana ingin pindah dari sana," jawab Ryan yang membuat Aldo puas dengan dirinya.


Kemudian Ryan menyuruh anak buahnya membakar rumah itu. Dua jam sebelumnya Ryan sudah menghubungi mereka dan memberikan uang kompensasi sebanyak dua ratus juta per keluarga. Maka dari itu mereka rela pindah dari sana.

__ADS_1


Setelah mendapat perintah, para pengawal itu langsung menyediakan bensin ke rumah Patty. Selesai menyeramkan mereka mulai menjauh dari lokasi. Lalu rayon membuka korek api dan melemparkannya ke arah rumah itu.


Ketika korek itu terjatuh api mulai menyambar dan mengelilingi rumah tersebut. Perlahan tapi pasti. Rumah Patty dan kedua orang tuanya itu mulai di lalap si jago merah. Untung saja Patty tidak memiliki asisten rumah tangga. Karena saya dari dulu mereka tidak pernah memakai pelayan.


Lima belas menit kemudian. Ada sebuah ledakan besar di dalam rumah Patty. Mereka memutuskan untuk kembali ke markas besar. Kemudian Aldo memutuskan untuk kembali ke kantor. Saat menuju kantor, Aldo tersenyum kemenangan. Karena sudah membalas dendamnya kepada Patty.


Ketika istirahat tiba. John memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia tidak sadar kalau rumahnya sudah terbakar. Ia melajukan mobilnya ke arah rumah tersebut. Saat masuk ke dalam gang. Pihak kepolisian langsung menahannya agar tidak ke dalam.


Dengan perasaan bingung John mengerutkan keningnya dan bertanya, "Ada apa Pak? Kenapa saya tidak boleh masuk ke dalam?"


"Maaf tuan John. Rumah anda terbakar dua jam lalu," jawab polisi tersebut yang masih memegang John agar tidak masuk ke dalam terlebih dahulu.


Pria paruh baya itu pun menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Anda salah rumah kali. Rumahku baik-baik saja. Kalau begitu izinkanlah aku masuk ke dalam."


Dengan terpaksa polisi itu melepaskan John dan membiarkan masuk ke dalam sana. John yang masih santai melangkahkan kakinya dan mencium aroma menyengat di area tersebut.


"Bau gosong ternyata," ucap John dalam hati.


Semakin lama John mulai mendekati dan melihat banyaknya mobil pemadam kebakaran. Ia berhenti karena terkena siraman air dari petugas tersebut.


"Siapa sih yang berani menyeramkan seperti ini?" tanya John dengan nada yang ketus.


Petugas itu tidak memperdulikan omelan dari John. Justru petugas itu mengingatkan karena teman-temannya sudah berteriak untuk berhenti. Namun John tidak menggubrisnya sama sekali. Hingga akhirnya John mengangkat kepalanya dan melihat rumahnya yang sudah rata menjadi tanah.


"Rumahku," ucap John dengan mulut bergetar.

__ADS_1


John tidak menyangka kalau rumahnya sudah hangus. Tiba-tiba saja dirinya teringat akan banyaknya dokumen yang tersimpan di sana.


"Kenapa rumahku bisa terbakar seperti ini? Apakah kalian bisa menyelamatkan dokumen-dokumen di sana?" tanya John sambil memohon kepada mereka dengan wajah pucatnya.


__ADS_2