
Kepergian Asmoro pada malam ini membuat Stella gelisah. Ia sangat ketakutan dan hampir saja tidak bernafas.
Begitu juga dengan Adelia, Adelia merasakan hal yang sama seperti Stella. Entah kenapa mereka memiliki firasat tidak enak.
Mereka memutuskan untuk berdoa. Ia bersama-sama menghadap Tuhan dan memintanya untuk melindungi Asmoro dan Ian.
Anita tidak sengaja lewat di depan kamar tiga kurcaci sedang tertidur. Tiba-tiba saja Anita sangat takjub ketika melihat kedua putrinya berdoa dengan posisi sama. Ia tersenyum sambil memanjatkan syukur kepada sang pencipta. Meskipun terpisah, mereka tetap saja memiliki ciri sama.
Sementara di jalan, Asmoro berada di samping Ian memberikan sebuah arahan. Yang dimana arahan itu membuat Ian menuju ke lokasi. Selain itu Sasmito meminta Imron berjaga-jaga sambil mengecek keberadaan Alexa. Ia juga melakukan hal sama. Ia tahu Alexa dikejar oleh Exodus.
"Cepatlah!"
Geram Asmoro.
"Sabar apa. Aku sedang mencari celah untuk keluar dari kemacetan!"
Sahut Ian yang sedang mencari celah.
Kesal.
Satu kata kesal buat kata macet. Asmoro mengutuk semua kata-kata macet. Ia selalu saja muak terjebak macet. Lalu ia hanya bisa pasrah dan meminta Derek segera mencari keberadaan Alexa dengan bantuan Imron.
Gio dan Winda memiliki akses jalan yang cukup unik. Sekalinya jalan, mereka selalu memperhatikan jalan yang tidak tahu. Ia juga sering memakai kecil ketika macet mendera. Oleh karena itu Winda dan Gio Isa dikatakan pasangan suami istri unik.
Alexa yang berada di jalan lah yang baru menyadari, kalau mobilnya ada yang mengejarnya. Ia menatap beberapa mobil yang berada di belakangnya. Ia tahu kalau beberapa mobil itu sedang mendekati mobil Alexa.
Martin dibalik kemudi sudah mengetahuinya sedari tadi. Martin mencoba untuk tenang namun otaknya berpikir. Iya akan mencari celah untuk menghabisi mobil itu. Namun untuk saat ini dirinya melihat kondisi jalanan sekitarnya.
Aksi kejar-kejaran itu pun menjadi sangat sengit. Martin yang biasanya tidak pernah bermain balapan liar, ia memang sudah menguasai skill sebagai seorang pengemudi drifting. Oleh karena itu Alexa dibuat takjub ketika suaminya menyetir dengan gaya drifting seperti itu.
Untung saja Derek bersama Roth masih berada di jalanan. Kedua asisten Martin sudah mengira kalau ini akan terjadi. Mereka sudah mengetahuinya dari ponsel Martin maupun Alexa. Martin sengaja memberikan keleluasaan untuk mengakses kedua ponselnya dan juga Alexa. Hal itu bisa memudahkan, sewaktu terjadi bahaya, mereka bisa mencarinya.
"Kak Asmoro tadi menghubungiku."
__ADS_1
Ucap Roth sambil berteriak agar Derek mengerti.
"Di mana posisi mereka?"
Tanya Derek yang masih fokus membawa mobil.
"Mereka masih berada di area kemacetan yang sungguh luar biasa. Mereka ingin mencari keberadaan Alexa. Namun untuk saat ini dia bersama Ian tidak bisa bergerak sama sekali."
Derek pun paham apa yang terjadi dengan Asmoro. Ia juga tidak bisa mengharapkan lebih banyak lagi. Di dalam hatinya, derek berdoa agar Martin bersama sang istri selamat.
Martin sengaja masuk ke dalam tol demi mengalihkan perhatian mereka. Ia tahu kalau mereka masih mengejarnya. Namun tak disangka-sangka, Gio bersama Winda langsung menghadang mereka. Gio sengaja menghubungi temannya yang berprofesi sebagai polisi. Gio meminta mereka segera ditangkap. Untung saja malam ini Dio tidak mengeluarkan sosok iblisnya.
Duarrrrrr!
Salah satu mobil dari mereka tidak sengaja menabrak mobil pengendara lainnya. Hingga sang pemilik mobil itu pun keluar. Dengan penuh amarah, sang pemilik mobil mendekatinya dan menggebrak kap mobil. Begitu juga dengan mobil lainnya, beberapa mobil itu juga menabrak mobil pengendara lainnya.
Seluruh pemilik mobil keluar bersama-sama dan mendekati mereka. Lalu mereka menggebrak mobil itu secara serempak. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan Exodus. Yang penting mereka meminta orang-orang yang berada di dalam mobil itu mau bertanggung jawab.
Asmoro dan Derek tidak sengaja melihat orang-orang yang akan bertengkar. Mereka mengerutkan keningnya sambil mencari informasi. Namun niat itu diurungkan untuk sementara waktu. Mereka sedang mencari keberadaan Martin maupun Alexa. Akan tetapi mereka tidak menemukannya sama sekali.
"Kak."
Panggil Ian yang dari tadi melihat orang-orang sangat marah sekali.
"Ada apa?"
Tanya Asmoro yang masih memperhatikan mereka.
"Kenapa mereka sensi sekali ya?"
Tanya Ian.
"Entahlah. Sepertinya ada baku hantam di antara mereka."
__ADS_1
Jawab Asmoro yang memprediksi keadaan.
Baru saja Asmoro mengatakan, sebentar lagi ada baku hantam, ternyata mereka sudah melakukannya. Mereka sungguh marah sekali. Karena mobil mereka yang kinclong menjadi penyok seketika. Semakin lama pengemudi yang mengejar Alexa pada babak belur semua.
Bayangkan saja para pengemudi yang mobilnya rusak parah tidak mau terima sama sekali. Asmoro meminta Ian untuk berputar balik. Mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen. Mereka sudah tidak mempedulikannya lagi. Karena Imron sudah mengkonfirmasi, kalau yang baku hantam itu adalah para pengejar Alexa. Imron sendiri sudah memberitahukan keberadaan Alexa. Mereka sedang menuju ke apartemen Asmoro. Dengan hati laki-laki mereka bisa melanjutkan perjalanan pulang.
Sedangkan Stella bersama Adelia masih mencoba menghubungi Ian maupun Asmoro. Namun mereka terkejut, karena ponsel yang dihubungi berada di rumah. Itulah mereka yang memiliki beberapa ponsel cadangan. Ponsel yang dibawa bukan ponsel sering dihubungi oleh Adelia. Mereka sengaja memiliki banyak ponsel, sebab ponsel itu bisa dilacak oleh para musuh. Maka dari itu mereka sering bergonta-ganti ponsel.
Beberapa saat kemudian Sean terbangun dari tidurnya. Ia melihat kedua adiknya masih terlelap tidur. Ia tidak sengaja menatap wajah Adelia dan juga Stella. Lalu Sean turun Dari ranjang dan mendekati mereka.
"Apakah mamaku sudah berada di sini?"
Tanya Sean sambil mengulas senyumnya yang indah.
Melihat senyuman Sean, Stella tersenyum manis. Ia mengangkat tubuh mungil Sean lalu menggendongnya.
"Mama dan papamu belum sampai. Mungkin perjalanannya masih jauh kali. Ya sudah kamu tidur lagi aja."
Jawab Stella sambil menatap Adelia.
"Bolehkah aku menginap di sini?"
Tanya Sean lagi.
"Boleh. Kata siapa kamu tidak boleh tinggal di apartemen kakekmu ini? Aku akan senang jika kamu berada di sini."
Jawab Stella sambil membetulkan rambut Sean.
"Bisakah aku tidur bersama kalian berdua?"
Stella terkejut dengan pernyataan Sean. Baru kali ini dirinya tidak bisa menjawab. Kalau tanpa Asmoro sih setelah masih mau tidur sama Sean. Tapi sekarang dirinya bersama Asmoro.
Jujur dirinya tidak mau mengganggu Asmoro dengan mengajak Sean. Sebab asmara sedang gencar-gencarnya membuat program bayi yang banyak. Asmoro menginginkan kalau dirinya memiliki banyak anak. Stella paham akan hal itu. Maka dari itu, Stella menyenggol Adelia untuk mencarikan jawaban yang tepat.
__ADS_1