Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Keunikan Tiga Kurcaci.


__ADS_3

"Mamaku berada di suatu perkampungan. Di sana Mama dan Papa sedang membagikan sembako gratis buat orang-orang. Kami hari ini tidak diajak," jawab Edward.


"Ya udah kamu nggak usah marah sama mamamu. Lebih baik kamu selesaikan dulu saja permainan itu," ucap Anita.


"Tapi nek, kakek Agatha nggak mau ngalah sama aku," ucap Edward sambil memasang wajah pura-pura sendu.


"Ketimbang kalian main catur yang gak selesai-selesai. Lebih baik kita makan yuk," ajak Anita.


"Kenapa kamu tidak mengajakku?" tanya Agatha.


"Ayolah kita makan. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang," jawab Anita sambil mengajak mereka semua.


Beberapa saat kemudian Adelia bersama Sean dan juga Yamato menuju ke dapur. Sementara itu Stella mencari keberadaan Scarlett. Namun sedari tadi dirinya tidak menemukannya.


"Di mana Scarlett?" tanya Stella kepada Adelia.


"Scarlet sekarang berada bersama Kak Hatori. Mereka sedang menggambar hewan-hewan yang sangat lucu sekali," jawab Adelia.


"Memangnya Kak Hatori bisa menggambar?" Tanya Stella.


"Entahlah. Saat aku tanya tentang apapun itu. Dia pasti menjawab tidak bisa," jawab Adelia yang kesal pada Hatori.


"Lagian kamu nanyanya aneh. terus kamu minta gambarin hal-hal yang berbau mistis. Kak Hatori kan orangnya penakut. Kan pernah malam-malam jalan nyari tukang nasi goreng, Kak Hatori nggak mau lewat di perkebunan belakang apartemen ini. Jadinya kami muter. Lalu aku tanya kenapa nggak lewat situ saja? Padahal tempatnya sangat dekat sekali. Dia jawab aku nggak mau lewat situ. Aku sering ditampaki sama dress putih yang sering melayang ke atas pohon," jelas Stella dengan serius.


"Oh, jadi dia takut makhluk astral seperti itu ya? Padahal di Surabaya aku sering ikut-ikutan melihat makhluk astral di kebun belakang rumah," ucap Adelia.


Mereka baru paham kalau Hatori seorang penakut. Bahkan saking takutnya Hatori sudah tidak mau keluar dari kamar. Ia lebih memilih untuk tidur.


Akhirnya kedua wanita itu mencari keberadaan Hatori dan juga Scarlett. Tidak sengaja mereka berdua sedang duduk di sudut ruangan. Mereka akhirnya mendekati Hatori dan juga Scarlett.

__ADS_1


Melihat banyaknya kertas yang berserakan, Stella menemukan beberapa gambar yang sangat bagus sekali. Ia memutuskan untuk jongkok dan mengambil kertas-kertas itu dan melihatnya secara seksama.


"Apakah Kak Hatori yang menggambar ini?" tanya Stella.


"Kami berdua menggambarnya. Aku sudah lama tidak menggambar tentang pemandangan alam. Jadinya aku menuangkan gambaranku bersama gadis kecil itu," jawab Hatori yang mendapat anggukan dari Scarlett.


"Kami sedang gabut Kak. Kami bingung mau ngapain? Lihat kak Ed ternyata sangat membosankan sekali. Kak Ed lebih memilih bermain catur bersama kakek Agatha. Lalu kami juga melihat Kak Sean. Ini lebih parah lagi. Masa Kak Sean mengajakku berdebat. Tapi Aku menolaknya. Akhirnya Kak Sean memutuskan berdebat sama kakek buyut Yamato. Jadi aku sengaja mengajak Paman Hatori untuk melukis," jelas Scarlett.


"Tidak apa-apa. Hentikanlah dulu lukisanmu itu. Lebih baik kita makan bersama yuk. Mereka sedang menunggumu untuk makan," ajak Stella.


"Baik kak," sahut Scarlett.


Mereka akhirnya mengikuti Adelia dan Stella menuju ke dapur. Di sana mereka duduk dengan tenang. Di meja makan banyak sekali makanan yang menjadi favorit ketiga anak itu. Lalu mereka makan dengan lahapnya.


Selesai makan, mereka akhirnya bermain lagi. Namun kali ini Scarlett memutuskan untuk tidur siang. Beda lagi dengan kedua kakaknya itu. Edward masih mengajak Agatha untuk bermain catur. Sedangkan Sean berdebat lagi dengan kakek Yamato. Meskipun Sean berdebat soal politik, namun Yamato terus saja mencerca banyak pertanyaan. Memang betul apa yang dikatakan oleh banyak orang. Ketiga anak-anak Alexa memang diberikan otak di atas rata-rata.


Asmoro dan Stella memutuskan untuk keluar dari apartemen. Asmoro mengajak Stella untuk berjalan-jalan mengelilingi apartemen. Untung saja apartemen itu adalah miliknya Martin. Asmoro memiliki kartu privilege yang diberikan oleh Martin. Kartu free village itu dikhususkan untuk mengakses segala ruangan di apartemen tersebut.


"Sudah ikut saja. Aku ingin mengajakmu pergi ke rooftop," jawab Asmoro.


"Memangnya kita boleh pergi ke sana? Bukankah di tempat itu tidak boleh dikunjungi oleh orang siapapun?" tanya Stella.


"Kamu mau tahu nggak gedung ini milik siapa?" tanya Asmoro yang membuat Stella bingung.


"Aku nggak tahu Kak. Katanya sih sang pemilik orangnya sangat serius sekali," jawab Stella yang mengetahui kalau Martin itu seorang pengusaha misterius.


"Kamu benar. Sang pemilik gedung ini sangat misterius. Dia jarang sekali hadir ke publik. Jika ada sesuatu maka asistennya lah yang mengerjakan seluruhnya. Tapi kamu sering kok bertemu dengannya," ucap Asmoro yang menarik tubuh mungil Stella.


"Memangnya siapa Kak?" tanya Stella.

__ADS_1


"Gedung ini adalah miliknya Martin Snowden. Yang di mana Martin sendiri membangun gedung ini untuk ketiga anaknya. Tapi anak-anaknya masih kecil. Jadi gedung ini difungsikan sebagai apartemen," jawab Asmoro.


"Oh jadi begitu ya... Beruntung ya Kak Alexa memiliki suami yang tajir."


"Kamu juga memiliki suami yang tajir."


"Iya aku juga."


"Stella, besok kita jadi berangkat ke Manchester. Kita akan pergi pada jam-jam segini."


"Bolehkah aku membantumu?"


"Tentu boleh. Nanti aku berikan materinya. Kamu memiliki rencana apa nanti ceritakan kepadaku."


"Kalau aku tidak memiliki rencana?"


"Ya haruslah. Kamu harus belajar sedikit demi sedikit. Jangan jadi orang pasif seperti itu. Musuhmu bukan kaleng kaleng. Musuhmu beneran musuh. Mereka bisa saja menghancurkanmu dalam waktu sekejap. Kamu harus ingat ancamannya. Kamu harus menjadi wanita berkelas. Bagaimana caranya kamu harus belajar? Kalau kamu tidak menjadi wanita berkelas. Aku bisa direbutnya."


"Memang susah Kak. Aku nggak tahu kenapa orang-orang seperti itu masih hidup hingga sekarang. Aku kesel sama mereka. Sedari dulu mereka tidak menginginkan aku bahagia. Mereka menginginkanku menderita hingga akhir hayatku."


"Kamu berhak bahagia. Karena kamu memiliki hak. Bahagia itu dengan cara sederhana. Nggak usah yang namanya dengan barang mewah. Kamu tahu, ketika ketiga kurcacinya Alexa datang. Hatiku merasa bahagia. Aku memutuskan bergabung dengan mereka."


"Maafkan aku Kak, mengalihkan mereka ke apartemen kakak."


"Kamu nggak salah. Nggak ada yang mengalihkan ke apartemen kakak. Kalau Kakak sedang libur, mereka selalu mengunjungiku di sini. Biarkanlah mereka bersenang-senang dan bermain. Selain itu banyak sekali yang menemaninya. Mereka adalah para pengawal yang sudah aku pilihkan buat ketiga kurcaci tersebut.


"Apakah kakak serius memilihkan mereka pengawal?"


"Semua yang berhubungan dengan pengawalan ketat. Itu berada di tanganku semuanya. Jangan heran jika aku sering keluar malam. Aku bersama lainnya sedang berkumpul di markas. Kalau kamu mau ikut nggak apa-apa. Pintu markas itu selalu terbuka untukmu. Sebentar lagi Adelia juga ikut denganmu. Adelia harus paham dengan pekerjaan Ian sebenarnya."

__ADS_1


"Bagaimana dengan kakek dan papaku? Yang sebenarnya mereka adalah seorang pendiri Klan Kanagawa?"


__ADS_2