
Sungguh sial John hari ini. Ketika ingin bertemu dengan seseorang harus membuat janji terlebih dahulu. ia meminta Harlem untuk kembali ke rumah sakit. Di dalam perjalanannya John harus memikirkan Bagaimana dirinya memiliki rumah lagi. Namun ia tidak memiliki uang sepeserpun.
Seluruh dokumen yang berkaitan dengan Kurumi, hangus terbakar tidak ada sisanya. Mau tidak mau John meminta Harlem untuk menjual beberapa aset perusahaan itu.
"Sepertinya aku harus menjual beberapa aset milik Kurumi. Jika aku tidak menjualnya kemungkinan besar tidak ada tempat yang aku bisa tinggali. Jujur saja aku sekarang menjadi orang susah," kesal John.
"Apakah aku harus menyelidiki tentang kebakaran rumah itu? Aku nggak yakin deh kalau Black Horizon membakar rumah itu. Karena mereka tidak pernah membuat ulah di negara ini," saran Harlem.
"Kamu harus yakin kalau aku mengatakan ya berarti iya. Mereka memang menginginkan kelompok geng kita habis itu!" geram Harlem.
Pria muda itu memilih diam saja. Ia tidak mungkin berdebat terus-terusan soal kebakaran rumah itu. Dirinya memutuskan untuk tidak melanjutkan penyelidikan rumah terbakar itu.
"Besok kamu pasang iklan. Pabrik yang berada di Bandung itu. Lebih baik kamu jual saja. Pokoknya harus seminggu pabrik itu terjual!" perintah John.
Sesampainya di apartemen. Asmoro dan Ian mengajak kedua gadis itu masuk ke dalam. Mereka berjalan layaknya sebagai pasangan kekasih. Asmoro yang takut dengan perempuan. Akhirnya ia bisa mendapatkan seorang pasangan. Ia berjanji akan menjaga Stella dalam keadaan apapun. Jujur saja Asmoro sedang merasakan jatuh cinta.
"Apakah kamu sudah siap bertemu dengan seseorang wanita yang sangat cantik sekali?" bisik Asmoro kepada Stella.
"Perasaan setiap wanita itu sangat cantik sekali. Kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya Stella.
"Kamu itu jadi orang terlalu jujur sekali kalau bicara. Memangnya aku salah ya kalau memuji seluruh wanita di dunia ini cantik," jawab Asmoro.
"Nggak salah. Wajarlah kalau seorang pria memuja wanita itu cantik. Bahkan teman-teman priaku yang sudah menikah saja berani blak-blakan memuji wanita tersebut," ucap Stella secara blak-blakan.
Cup.
Tiba-tiba saja Asmoro mencuri start terlebih dahulu. Dirinya sangat gemas sekali kepada Stella. Di saat berdebat, Stella selalu memasang wajah imutnya itu. Rasanya Asmoro ingin menculiknya dan mengurungnya di dalam kamar.
Sementara itu Adelia dan Ian tidak sengaja melihat serangan itu. Mereka sangat terkejut sekali Asmoro terlalu agresif. Namun Adelia tersenyum dan berharap hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan.
Bagaimana dengan tanggapan Ian?Pria itu hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Bisa-bisanya sang bos melakukan hal di luar nalar. Bukankah mereka masih dalam tahap perkenalan? Ah sudahlah.... Kemungkinan Asmoro memang membuat kejutan buat Stella.
Namun setelah sangat terkejut dan menutup wajahnya. Ia langsung memutuskan bersembunyi di belakang Adelia. Jujur saja jantung Stella berdetak kencang seperti musik disco di era 80-an. Hanya Asmoro yang berani membuat jantung gadis itu berdetak.
__ADS_1
"Apakah kalian melihat adegan ciuman aku sama Stella tadi?" tanya Asmoro.
"Iya," jawab Ian dan Adelia secara bersamaan.
Dengan wajah memerahnya, Asmoro memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka. Ia tidak bisa mengatakan apapun kepada Stella. Bisa dikatakan Asmoro sangat malu sekali.
"Kenapa kak Asmoro meninggalkan Kak Stella?" tanya Adelia.
"Kemungkinan besar Kak Asmoro sangat malu sekali kepergok kita berdua sedang berciuman dengan Stella," jawab Ian.
Sebelum memasuki lift, Asmoro kembali lagi dan mengulurkan tangannya ke arah Stella. Lalu Stella menatap tangan kekar itu dan memegangnya.
"Kenapa kembali lagi sih?" tanya Stella.
"Aku pergi kamu nggak menyusulku," tanya Asmoro balik.
"Bukannya aku nggak mau menyusul. Kamunya saja yang pergi," elak Stella.
Mata Stella membulat sempurna. Apa yang diucapkan Asmoro membuat Stella terkejut. Tiba-tiba dirinya sudah diklaim untuk menjadi istrinya. Lalu ia bingung mau menjawabnya.
Sedangkan Adelia mengajak Ian pergi dari sana. Karena Adelia memberikan ruang untuk sang kakak berkenalan dengan Asmoro lebih dalam lagi. Ian pun setuju dan langsung meninggalkan tempat itu sambil menggandeng Adelia.
"Jawab aja iya. Kenapa juga dirimu susah menjawab? Lagian juga kamu akan menjadi milikku selamanya," sahut Asmoro.
"Kamu itu memang aneh sekali. Baru kenalan dua hari langsung mengajak menikah. Harusnya kamu mengajakku berpacaran terlebih dahulu hingga tiga bulan. Malah langsung nembak ingin menikah."
"Kita kan sudah dewasa. Kita bukan anak kecil lagi. Aku memang memutuskan untuk menikah ketimbang harus berpacaran. Ada enaknya dan ada nggaknya juga. Kamu pasti paham soal itu."
"Rasanya aku bingung dengan keputusanmu itu. Kalau aku nggak mau bagaimana?"
"Aku akan tetap memaksamu untuk datang ke kantor catatan sipil. Lalu memaksamu menandatangani surat pernikahan kita."
"Kamu itu sungguh pemaksa sekali. Percuma ngomong sama orang pemaksa seperti itu. Ujung-ujungnya aku pasti kalah dari kamu."
__ADS_1
"Kamu tahu selain aku menikahimu. Aku memang ingin melindungimu dari John dan keluarganya itu. Memang aku sedikit memaksa. Karena kamu hidup dalam bahaya. Begitu juga dengan Adelia. Cepat atau lambat Adelia juga akan menikah. Kami sebagai pria akan melindungi para istri dari orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Kanagawa."
Mendengar nama John disebut dari mulut Asmoro, Stella sungguh terkejut sekali. Entah kenapa dirinya tidak akan pernah rela. Jika mereka mendekati keluarganya dan menghabisinya satu persatu. Mau tidak mau Stella menerima pernikahan ini.
"Andai saja kalau aku bisa pergi dari negara ini. Aku akan pergi dan melanjutkan hidup di negara lain," ucap Stella yang sedang berputus asa.
"Meskipun kamu pergi ke luar negeri pun. Mereka memiliki koneksi yang kuat. Apalagi mereka memiliki jaringan yang sangat luas di dunia ini. Kamu lari ke negara manapun mereka juga mengajar kamu."
"Apakah mereka orang besar sehingga bisa mengejarku?"
"Kamu akan mengerti jika kamu sudah menikah denganku. Nanti akan aku beritahu Kenapa mereka sangat kuat sekali."
"Apakah kamu yakin bisa melindungiku? Aku kan orangnya nyebelin? Tapi aku bukan wanita manja."
"Aku akan membuat kamu manja kepadaku sekaligus bergairah untuk memandangiku setiap hari."
"Jangan nakal gitu ah. Nanti aku laporin papa kalau kamu nakal gitu."
"Laporin saja. Ujung-ujungnya papa mendukungku untuk menjadi pria nakal di matamu."
"Apakah kita akan di sini terus? Melihat mobil-mobil yang terparkir dan menghitungnya satu persatu?"
"Sepertinya tempat ini sangat romantis sekali untuk berpacaran."
"Bisa nggak kalau ngomong serius dikit?"
"Memangnya selama ini aku tidak pernah ngomong serius sama kamu?"
"Serius sih. Tapi kamunya aja yang gak romantis sama sekali. Mana ada orang berpacaran di basement? Harusnya di taman atau melaksanakan makan malam gratis."
"Apakah itu harus?"
"Memangnya kamu nggak pernah pacaran apa?"
__ADS_1