Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
What Happened?


__ADS_3

“Sudah... Kemungkinan udah meluncur,” jawab Martin.


“Ayo berangkat!” ajak Lampard.


Setelah itu mereka menuju ke klub malam milik Imron. Sepanjang perjalanan, Lampard sudah memikirkan konsekuensinya. Jujur Lampard adalah pria kejam. Tapi dirinya tidak sekejam itu pada anak-anak. Namun ketika mendapatkan informasi secara mendetail tentang kasus Stella hatinya sangat marah. Mana mungkin anak saya kecil itu disuruh kerja bersih-bersih rumah tanpa dikasih makan dan minum. Ditambah lagi Stella harus bangun jam tiga sampai jam dua belas malam, hanya untuk mengerjakan hal-hal gila atas permintaan mereka. Lalu Lampard bertanya dalam hati, di manakah hati nurani mereka menjadikan Stella sebagai pembantu?


“Kak,” panggil Martin yang fokus pada mobilnya.


“Ada apa?” tanya Lampard.


“Semenjak Stella tinggal bersama kami, wajahnya murung dan tidak ceria sama sekali. Dia jarang ngomong bila tidak ada yang mengajaknya bicara. Mungkin Stella menanggung beban hidupnya sangat berat. Andai saja Agatha tidak memisahkan saudara kembarnya itu, maka Stella tetap akan ceria walau dia harus menanggung beban tersebut,” jawab Martin yang mengetahui hidup Stella bagaimana saat berada di mansion.


“Aku juga berpikiran seperti itu. Makanya saat kamu melemparkan dua pilihan itu, aku tidak bisa memilihnya. Tanpa Stella pun kita sudah terseret oleh Exodus. Jujur aku ingin sekali menyerang markas Exodus hingga menghabisi semuanya. Aku ingin mengajak istrimu untuk membakar markas tersebut.” Ucap Lampard.


“Apakah rencana ini akan berhasil?” tanya Martin yang tidak yakin.


“Aku juga tidak yakin. Entah berhasil atau tidak aku hanya butuh video tersebut. Aku ingin video tersebut muncul ke permukaan tepat jam enam pagi,” jawab Lampard.


“Ah.... Sial kau!” geram Martin. “Apakah kakak tahu siapa agensinya? Siapa tahu nanti kita bisa mengancamnya agar keluar dari agensi tersebut. Kita juga bisa membuat para agensi tidak mau menerima ,Patty.”


“Nama agensinya kalau nggak salah Superstar's Agency,” jawab Lampard yang membuat kaget Martin tiba-tiba saja menghentikan mobilnya.


“Kenapa kamu berhenti dari sini?” tanya Lampard.


“Kamu tahu siapa pemilik agensi itu? Dan Apakah kamu tahu peraturan ketat yang dimiliki agensi tersebut? Jika nggak tahu maka kamu harus menghubungi Kak Niwa,” jawab Martin yang membuat Lampard tanda tanya.


“Memangnya ada apa dengan Niwa?” tanya Lampard.


“Hubungi segera Kak Niwa ajak ketemuan di klub Imron!” perintah Martin.


“Kenapa aku harus menghubunginya? Kamu tahu kan kalau Nano itu orangnya posesif setengah mati. Jika aku yang menghubunginya maka Nano segera menghabisiku,” jawab Lampard.


“Kalau begitu hubungi saja Kak Nano. Biar kak Nano mengajak Kak Niwa ikut. Kamu tahu Superstar’s Agency itu milik Kak Niwa. Makanya aku menyuruhmu menghubunginya,” suruh Martin.


Jujur Lampard sangat terkejut atas pernyataan Martin. Selama ini Lampard tidak mengetahui bahwa kakak iparnya itu memiliki agensi yang sangat terkenal. Saking terkenalnya agensi itu banyak melahirkan model-model kelas atas. Namun Lampard mengakui kalau dirinya tidak menyukai dunia entertainment. Pria paruh baya itu pun fokus kepada dunia bisnisnya. Terkadang jika ia membutuhkan seorang model, maka Ian atau Imron suruh memilihnya.


“Kenapa aku tidak tahu ya?” tanya Lampard.


“Kakak sangat asik berkutat pada biskuit sehat dan beberapa macam makanan untuk anak-anak. Makanya kakak tidak mengetahui berita tentang infotainment,” jawab Martin sambil meledek Lampard.

__ADS_1


“Sakarepmu,” kesal Lampard.


Markas Black Horizon.


“Eugh,” ucap Stella yang perlahan membuka matanya.


Frida yang baru saja keluar dari toilet mendengar samar-samar suara Sheila. Ia segera mendekati Stella sambil memeriksa keadaannya. Frida memegang tangannya kemudian melihat Stella yang sudah sadar. Cepat-cepat Frida mengambilkan gelas berisi air di atas nakas sambil menyodorkan ke arah Stella.


“Minum dulu nona,” ucap Frida.


Selesai menyodorkan air minum tersebut, Frida segera memanggil Raka. Sementara Stella memeriksa ruangan tersebut. Pikirannya melayang karena melihat warna ruangan tersebut sangat berbeda. Biasanya kamar orang sakit itu berwarna putih. Namun kamar di sini berwarna gelap. Seketika Stella sadar dan menahan air matanya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, apakah diriku sudah dijual kepada mafia itu?


Stella menumpahkan semua air matanya dan meremas selimut. Hidupnya sangat sial dan tidak mungkin terselamatkan lagi. Tiba-tiba saja ia mengangkat kepalanya sambil melihat Raka dan Frida. Namun dirinya kembali menangis dan mengatakan jangan bunuh aku berulang kali. Raka menghembuskan nafasnya karena tidak tega melihat Stella menangis seperti itu.


“Biarkan saja dia menangis,” ucap Raka.


“Tapi tuan?” tanya Frida yang menggantungkan pertanyaannya.


“Gadis itu sangat kasihan. Dia sudah dijual ke mafia kartel obat-obatan terlarang di Meksiko,” jawab Raka yang membuat Frida terkejut.


“Benarkah itu?” tanya Frida sambil menahan emosi.


“Dokter jangan mengatakan itu. Jujur dok, aku memang hampir melupakannya. Jika ada waktu dan kekuatan aku pasti ingin membalasnya,” jawab Frida yang menahan air matanya.


“Jangan bersedih. Yang berlalu biarlah berlalu. Kejadian masa lalu buatlah kenangan indah meskipun menyakitkan. Jika kamu ingin membuangnya maka buanglah. Dan raihlah masa depanmu dengan wajah tersenyum. Kelak kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati hadir dalam hidupmu,” ujar Raka yang memberikan wejangan untuk partner kerjanya.


Frida pun mengganggu sambil berkata, “Terima kasih dok.”


“Di mana Sinta?” tanya Raka.


“Sinta sedang beristirahat,” jawab Frida.


“Kalau begitu aku tinggal. Biarkanlah dia mencurahkan perasaannya terlebih dahulu. Jika sudah selesai menangis segera panggil aku!” perintah Raka.


“Baik dok,” balas Frida.


Raka memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut. Dalam diam ia merasakan rasa sesak di dada. Hatinya berkecamuk seperti dipukul berkali-kali. Raka memang sengaja tidak memeriksa Stella terlebih dahulu. Karena ia mengizinkan Stella untuk mencurahkan isi hatinya. Saat berbelok Raka melihat Natalie yang sudah berdiri. Hampir saja Raka jatuh sebab tidak memperhatikan orang di depannya.


“Ada apa?” tanya Raka.

__ADS_1


“Aku ke sini mengunjungi Stella,” jawab Natalie. “Apakah Stella sudah sadar?”


“Baru saja sadar. Tapi aku belum tempat memeriksanya,” jawab Raka yang memasukkan tangannya ke dalam kantong celana.


Mata Natalie membola sempurna.Bagaimana bisa seorang dokter membiarkan pasien yang sudah sadar tidak diperiksa. malah dirinya sedang santai dan tersenyum. Ingin rasanya Natalie menendang dokter itu ke samudra Pasifik.


“Bisa-bisanya kamu nggak memeriksa Stella?” tanya Natalie.


“Bukannya aku tidak mau memeriksa. Stella sedang menangis karena terkejut. Kemungkinan dia sangat syok dan pikirannya sedang melayang. Kamu kasih tahu jawabannya,” jawab Raka.


“Apakah Stella berfikir, kalau dirinya sudah dijual ke mafia?” tanya Natali.


“Pastinya. Jujur jika aku menjadi Stella setelah sadar dan membuka mata lalu melihat ke sekelilingku. Yang aku lihat adalah sebuah ruangan yang tidak seperti ruangan kamar orang sakit. Otomatis terkejut dan menangis. Kemungkinan besar otakku berpikir kalau aku sudah dijual ke mafia,” jelas Raka.


“Baiklah... Aku paham soal itu. Jujur aku merasa kasihan sama dia. Di mana Papa Lampard dan papa Gio?” tanya Natalie.


“Tak tahu. Aku baru saja datang dan langsung ke sini,” jawab Raka sambil mengedikkan bahunya.


Klub malam Clark 80.


Dentuman lagu disco menggema hingga suaranya keluar dari klub itu. Martin yang baru saja sampai langsung menarik Lampard  masuk ke dalam. Saat Martin menarik, Lampard tidak bergerak sama sekali.


“Kenapa?” tanya Martin.


“Bisa tidak aku masuk melalui  pintu belakang?” tanya Lampard yang sangat kesal pada Martin.


“Imron belum membuat pintu khusus untuk kakak. Katanya dia lupa. Jadi terpaksa kita masuk melalui pintu ini,” jawab Martin sambil menunjuk pintu masuk.


Entah kenapa Martin lupa dengan keadaan Lampard. Seorang bos besar memiliki nama yang menggaung di dalam maupun luar negeri tidak pernah menginjakkan kakinya ke klub malam. Hal itu sangat aneh sekali buat yang mengetahuinya. Akhirnya Martin mengambil ponselnya dan menghubungi Imron. Martin meminta Imron untuk mengosongkan klub malam selama lima belas menit. Imron yang paham dengan keadaan Lampard langsung menyuruh pegawainya mematikan sound systemnya. Mereka disuruh menyingkir dan membukakan jalan yang lebar. Seluruh pengunjung pun menyetujui permintaan pegawai tersebut.


Kemudian Martin mengajak Lampard masuk ke dalam. Suasana yang ramai berubah menjadi hening. Untung saja pegawai di sana tidak menyalakan lampunya. Dengan elegan Lampard dan Martin langsung menuju ke ruangan Imron. Beberapa pegawai yang melihat Lampard memasuki ruangan Imron segera melanjutkan kembali musik disco tadi. Pegawai itu banyak yang membicarakan Lampard karena menurutnya sangat aneh. Bahkan mereka menjulukinya seorang pria misterius.


“Ada-ada saja Tuan Imron. Orang lagi rame malah suruh berhenti. Untung saja pengunjung mengerti dan tidak berbuat onar,” gerutu salah satu pekerja di sana.


“Sudah jangan menggerutu seperti itu. Tidak baik kamu ngomongin orang. Nanti kalau Tuan Imron dengar maka kamu akan diberhentikan secara tidak hormat,” tegur Leon.


 


 

__ADS_1


__ADS_2