
Beberapa hari kemudian Asmoro mendatangi Stella. Dengan gaya coolnya dan memakai baju formal dirinya mengetuk pintu berkali-kali.
Stella yang baru saja bangun keluar dari kamar. Stella mendengar ada orang yang mengetuk pintu. Dengan cepat dirinya di pintu itu dan membukanya.
Betapa terkejutnya Stella melihat Asmoro yang sudah rapi. Lalu ia bertanya, "Kamu mau ke mana? Ini masih sangat subuh."
"Izinkan aku masuk ke dalam," pinta Asmoro.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Stella.
"Meskipun kamu tidak memberikan aku izin. Aku akan tetap masuk," jawab Asmoro yang masuk ke dalam.
Mata Stella membulat sempurna. Bagaimana bisa dirinya dipaksa oleh Asmoro? Lalu Stella berdiri di hadapan Asmoro.
"Mau apa kamu ke sini? Ini masih subuh. Kamu gila subuh-subuh begini sudah ada di sini," tanya Stella sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu harus pergi bersamaku tepat pukul enam. Aku tidak mau kita terlambat ke kantor catatan sipil," jawab Asmoro sambil melihat kecantikan Stella.
"Bukannya begitu. Aku harus meminta izin dulu kepada papa. Kamu nggak bisa membawaku begitu saja," kesal Stella.
"Semalam aku udah izin melalui pesan singkat. Kalau kamu akan ikut aku ke kantor catatan sipil. Di sana kita harus menandatangani berkas-berkas pernikahan. Jika tidak aku tetap memaksamu ke sana," ujar Asmoro dengan tenang.
"Bisa nggak sih tanpa harus memaksaku seperti itu? Kamu nggak bilang ke aku kalau ada acara seperti itu. Kamu itu selalu dadakan saja membuat aku kalang kabut seperti ini. Lebih baik kamu saja yang ditandatangani. Aku mau belajar membuat kue dari mama," jelas Stella sambil mencari alasan agar tidak ikut dengan Asmoro.
"Kamu nggak boleh alasan seperti itu. Sudah aku katakan. Kalau kita akan menikah hanya melalui kantor catatan sipil saja. Aku tidak mau Tutik dan keluarganya mengetahui pernikahan ini. Seperti yang kita tahu kalau mereka adalah suka memburu orang-orang yang dekat denganmu," jelas Asmoro.
"Sebegitukah dirimu sangat mengkhawatirkan hubungan ini?"
"Aku tidak khawatir soal itu. Apakah kamu lupa kasus yang menimpa kedua orang tuamu itu? Jika mereka tahu kamu menikah denganku. Cepat atau lambat mereka akan mencari cara agar merebutnya darimu. Itulah kenapa Aku sengaja menyembunyikannya untuk sementara waktu," jelas Asmoro yang membuat Stella menganggukkan kepalanya.
Mengingat kasus kedua orang tuanya, Stella berubah menjadi sendu. Bagaimana bisa jika dirinya membayangkan seperti itu? Kalau itu terjadi pada dirinya. Kemungkinan besar Stella tidak bisa menerima keadaan ini.
Memang, sebelum datang ke sini, Asmoro sudah meminta restu ke Agatha. Ia memperoleh restu itu dengan mudah. Namun Asmoro harus memenuhi persyaratan.
Tapi persyaratan yang diberikan oleh Agatha sangat mudah sekali. Agatha hanya meminta untuk melindungi putrinya dari mereka. Dengan senang hati Asmoro berjanji akan melindungi Stella dari mereka.
__ADS_1
"Mau nggak mau kamu harus mau. Aku sudah berjanji pada papamu untuk menikahimu sekarang. Cepat atau lambat kamu harus mendapatkan perlindungan ekstra dari aku. Mengingat masalah mereka masih hidup," jelas Asmoro.
"Aku tahu itu. Bukankah aku mendengar berita kalau rumah masa kecilku terbakar hangus hingga menjadi rata?" tanya Stella.
"Kamu benar. Sudah lupakan saja rumah itu. Nanti aku akan membangun rumah impian kamu," jawab Asmoro.
"Aku tidak memperdulikan rumah itu. Untung saja dokumen-dokumenku sudah berada di tanganku sekarang. Kemungkinan besar surat-surat yang pernah dibicarakan oleh papa masih berada di sana dan terbakar hangus," jelas Stella.
"Bukannya dokumen itu palsu?" tanya Asmoro.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu soal dokumen itu. Lebih baik aku tidak akan mengusik masalah itu lagi. Aku ingin hidupku penuh dengan kebahagiaan," jawab Stella.
"Seharusnya kamu memikirkan soal itu. Jangan sampai kamu cuek sama keadaan. Kamu berhak mendapatkannya. Karena kamu dan Adelia begitu juga Hatori orang yang tepat memegang perusahaan tersebut," jawab Asmoro yang tidak ingin Stella melepaskannya begitu saja.
"Suatu hari nanti kami akan membahasnya. Papa masih menyusun sebuah rencana dan mengincar Tutik dan Patty," ucap Stella.
Asmoro menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis. Cepat atau lambat Agatha akan meraih perusahaannya kembali.
"Ya sudah dech... aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu," pamit Stella yang meninggalkan Asmoro disana sendirian.
Markas Besar Meksiko.
"Kemana Merry?" tanya Liam.
"Merry berada Jakarta Indonesia. Karena Merry sedang menjemput John untuk datang kemari," jawab Bella yang membawa sarapan Liam.
"Siapa suruh Merry datang ke Indonesia? Ha!" bentak Liam dengan nada meninggi.
"Aku tidak menyuruhnya. Tapi Merry yang memintanya ke sana. Karena anak itu sudah jatuh cinta pada John," kilah Bella.
"Oh jatuh cinta ya. Jangan harap cinta mereka menyatu. Tahu kenapa aku tidak merestui putriku itu dengan John? Aku ingin Meri menikahi seorang anak mafia yang berasal dari Argentina. Jika mereka menikah, kemungkinan besar Exodus menjadi sangat besar sekali. Siapkan pesawatku untuk terbang ke Jakarta. Aku akan menghentikan kekonyolan Merry!" geram Liam.
Dengan terpaksa Bella menuruti keinginan sang suami. Iya pun menghubungi seseorang untuk menyiapkan pesawat. Namun dalam hatinya sangat kesal terhadap Liam. Bagaimana bisa dirinya terjebak dalam permainannya sendiri?
Kenapa Bella terjebak dalam permainannya sendiri? Karena dirinya memiliki rencana yang besar. Rencana yang akan membuat para mafia menjadi bermusuhan satu sama lain.
__ADS_1
"Sial! Kenapa Liam meminta untuk pergi ke Jakarta? Aku tidak bisa mencegahnya. Habislah aku! Padahal aku sendiri ingin meminta John pulang ke sini. Semua rencanaku berantakan!" Bella menggeram dalam hati dan ingin sekali menghajar Liam.
Mau tidak mau Bella menuruti keinginan diam. Semua rencana yang telah disusun menjadi berantakan.
Jakarta Indonesia.
Stella yang sudah memakai pakaian formal menatap saudara kembarnya itu. Ia tidak sengaja melihat Adelia yang sedang membuatkan minuman.
"Kakak," panggil Adelia sambil menaruh sendoknya di wastafel.
"Ada apa?" tanya Stella.
"Kakak mau ke mana? Sepertinya Kakak sudah rapi memakai baju formal seperti ini. Apakah kakak ingin ikut dengan Kak Asmoro?" tanya Adelia yang sangat penasaran sekali dengan Stella.
"Aduh! Bagaimana aku bilang ya? Kalau Kak Asmoro sedang mengajakku menikah. Aku harus mencari jawaban yang tepat buat Adelia," ucap Stella dalam hati.
Beberapa saat kemudian datang Agatha dan Anita. Mereka mendekati Stella sambil menatap wajah sang putri.
"Maafkan papa. Papa harus menyerahkan kamu kepada Asmoro. Ini demi kebaikan kamu dan kita. Kalau kamu tidak menikahi Asmoro. Cepat atau lambat mereka akan mengejar kita. Saat ini Papa sedang membuat rencana untuk menghancurkan mereka semuanya," ucap Agatha sambil menahan air matanya.
Terasa berat Agatha melepaskan Sang Putri untuk menikah dengan Asmoro. Sebab Asmoro sudah berjanji kalau dirinya akan melindungi Stella. Agatha mengatakan ini demi kebaikan kita semua. Memang itu benar. Ada kemungkinan kalau musuh akan menyerang dari segala arah. Jika itu terjadi mereka harus bersiap-siap untuk menata rencana baru.
Bagaimana dengan Adelia? Gadis berpanas cantik itu pun langsung memeluk sang kakak kembarnya. Diam-diam Adelia menangis. Baru beberapa minggu bertemu, dirinya harus kehilangan sang kakak. Sang kakak akan menjadi milik orang lain. Sesungguhnya Adelia bahagia jika mereka berkumpul menjadi satu seperti ini. Di sisi lain Adelia harus melepaskan sang kakak untuk mendapatkan kebahagiaan dan pengamanan.
Syukurlah... Semalam Ian mengajak Adelia mengobrol panjang lebar. Jujur diam-diam sang kekasih telah menghiburnya. Maka dari itu Adelia tidak sampai menangis dengan kencang.
Bagaimana dengan Hatori? Jujur sebagai kakak laki-laki, dirinya belum rela melepaskan Stella. Meskipun Asmoro adalah bosnya sendiri.
Sebelum pergi mereka memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Saat sarapan Agatha meminta Asmoro agar menjaga Stella. Asmoro pun mengiyakan. Asmoro mengerti kalau Agatha sangat mengkhawatirkannya. Semoga langkah ini sangat tepat untuk kedua belah pihak.
Selesai sarapan Asmoro dan Stella memutuskan untuk pergi ke kantor catatan sipil. di dalam perjalanan jantung mereka berdetak dengan kencang.
Stella bingung apa yang harus dilakukan setelah menjadi istri dari Asmoro. Bahkan Stella adalah gadis yang sangat polos sekali. Sedangkan Asmoro, Asmoro sudah membuat rencana. Rencana itu membuat otaknya tiba-tiba saja menjadi liar. Entah kenapa Asmoro tidak bisa mengenyahkan isi otaknya itu.
"Stella," panggil Asmoro yang masih fokus membawa mobil.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Stella.