
"Itu benar. Aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau melihat putriku menderita karena politik perusahaan. Aku sendiri tidak ingin mengambil keuntungan dari hubungan itu. Kamu tahu kan mereka bisa melakukan apapun demi mendapatkan keuntungan besar dari hubungan ini? Kalau kamu nggak tahu tanyakan saja pada papamu. Pasti papamu akan menjelaskan apa itu pernikahan politik perusahaan. Apalagi di negaranya itu bisa sangat mengerikan sekali," jawab Martin yang sengaja menyuruh Hatori bertanya kepada Agatha.
"Dulu aku pernah mendengar kata-kata itu dari kakek Yamato," sahut Hatori.
"Sepertinya aku mengenal dengan nama itu. Apakah dia adalah Yamato Kanagawa?" tanya Martin yang melipat kedua tangannya di dada.
"Iya. Beliau adalah kakekku sendiri. Aku tidak menyangka, kalau aku memiliki seorang kakak seorang pengusaha hebat dari Jepang," jawab Hatori dengan bangga.
"Kamu benar. Kamu harus bangga kepada keluargamu itu. Jika saja kamu tidak mengirimkan buah seminggu sekali ke sini. Maka kami tidak akan bisa melacakmu untuk menyatukan keluarga Stella. Kamu harus banyak belajar untuk menjadi pemimpin yang hebat. Soal Stella dan Adelia, Kamu jangan terlalu khawatir. Mereka memiliki pasangan hidup yang sudah mumpuni dalam dunia bisnis maupun dunia kriminal," tutur Martin. "Soal Scarlett kamu tenanglah. Kamu jangan terlalu khawatir dengan putriku itu. Kalau yang namanya jodoh. Kalian akan bertemu lagi. Tetap semangat untuk menjalani hidup kedepannya. Jangan pernah takut sama mereka. Mereka itu orang tidak berguna sama sekali. Melainkan mereka adalah seorang benalu yang ingin menumpang hidup kepada kedua orang tuamu. Tapi mereka sudah menikam dengan memakai belati. Suatu hari nanti kejahatan mereka terbongkar di depan umum."
__ADS_1
Hatori menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia tidak menyangka kalau dirinya memang didaulat mendampingi Scarlett ketika sudah dewasa. Setelah itu Hatori berpamitan ke pabrik. Martin pun mengizinkannya. Kemudian mereka keluar dari ruangan itu. Lalu Hatori langsung menuju ke pabrik.
Tidak sengaja Alexa mendekati Martin. Iya menatap wajah Martin sambil bertanya, "Ada apa? Sepertinya kamu serius berbicara dengan Hatori."
"Kamu tahu Putri kita sedang diincar oleh Hatori. Tapi aku menyuruhnya untuk menunggu hingga dewasa nanti," jawab Martin sambil tersenyum simpul.
"A-Apakah kamu serius? Hatori sudah dewasa," jawab Alexa.
"Jarak usia antara Hatori dengan Scarlett sangat jauh sekali. Biarkanlah Scarlett mencari Cinta sejatinya sendiri. Jangan pernah menjodohkan Scarlett dengan Hatori. Aku tidak menyukainya sama sekali," pinta Alexa yang tidak ingin menjodohkan Scarlett dengan siapapun.
__ADS_1
"Aku tahu itu. Memang jaraknya sangat jauh sekali. Lalu jika mereka berjodoh dan menikah. Apakah kamu akan melarangnya?" tanya Martin.
"Aku tidak melarangnya. Tapi belum waktunya membicarakan soal itu. Kita tahu kalau Scarlett masih sangat kecil. Dia juga belum mengerti apa artinya tentang pernikahan ini. Aku kira kita harus menyimpannya terlebih dahulu," jawab Alexa dengan jujur.
"Tapi apakah kamu merestuinya? Aku tahu kamu sangat berat untuk masalah ini. Aku harap yang namanya cinta sejati itu tidak pernah mengenal usia. Seperti contohnya aku dan kamu," jelas Martin.
"Aku dan kamu," ucap Alexa sambil mengerutkan keningnya. "Maksudnya gimana?"
"Masa kamu nggak tahu. Kalau usiaku itu sudah kepala empat. Kamu sendiri belum kepala tiga. Begitu juga dengan Kak Asmoro dan juga Stella. Mereka memiliki perbedaan usia yang sangat jauh sekali. Bayangkan saja kak Asmoro berusia lima puluh dua tahun. Sedangkan Stella sendiri berusia dua puluh lima tahun. Bedanya kan sangat jauh sekali. Aku sendiri baru menyadari akan hal itu," Martin yang masih melihat Alexa bingung.
__ADS_1
"Apa iya?" tanya Alexa.