Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Apa Yang Dicari Oleh John?


__ADS_3

"Maaf tempatnya sangat berantakan sekali. Aku akan membereskan semuanya dan meninggalkan barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi. Semoga saja mang Dicky tidak marah," jawab Stella. 


"Kamu tenang saja. Rumah ini akan segera menjadi milikku," ucap Asmoro yang membuat mata Stella membulat sempurna.


Stella hanya menghembuskan nafasnya secara kasar. Bisa-bisanya Asmoro mengklaim rumah ini akan segera menjadi miliknya. Lalu Stella menatap wajah Asmoro sambil bertanya, "Jangan mengada-ada ah. Lagian rumah ini adalah milik mang Dicky."


"Ini rumah sengaja aku beli untuk aku dirikan tempat tinggal para karyawan yang jauh dari rumahnya. Jadi Ian sekarang mengurus kepemilikan rumah itu. Setelah rumah ini resmi Aku akan merombaknya kembali dan membangun sebuah mess buat mereka," ucap Asmoro dengan jelas.


"Jadi seperti itu?" tanya Stella.


"Kalau keberatan, kamu bisa merubahnya menjadi sebuah istana," jawab Asmoro yang menghempaskan bokongnya di atas ranjang busa. 


"Aku tidak mau membangun istana. Aku tidak mau tinggal di sini lagi. Kalau bisa aku ingin tinggal di tempat lain. Karena rumah ini memiliki kenangan yang buruk buat aku sendiri," ucap Stella.


"Terserahlah. Jika kamu menginginkan rumah ini maka aku akan membangunnya lagi. Jika kamu tidak menginginkannya. Dengan senang hati aku akan membuat rumah ini sebagai tempat tinggal sementara bagi karyawan-karyawanku yang jauh dari rumahnya," jelas Asmoro yang menyandarkan punggungnya di tembok. 


"Terserah kamu saja. Aku hanya mengikuti kamu. Karena aku tidak berhak dengan rumah ini," ujar Stella yang memasukkan pakaiannya di dalam tas ranselnya.


"Memangnya orang-orang itu ngapain ke sini?" tanya Asmoro yang sangat penasaran sekali atas kedatangan Harlem dan John di rumah ini. 


"Orang-orang itu ingin mengambil dokumen-dokumen penting milikku. Tapi mereka tidak menemukannya. Mereka kira aku pernah mengambil dokumen-dokumen mereka dan membawanya kabur," jawab Stella yang membuat Asmoro menganggukkan kepalanya.


"Memang parah sekali. Bisa-bisanya mereka mengambil bukan hak miliknya. Tapi kamu bersyukur tidak membawa dokumen-dokumen penting milik mereka," sergah Asmoro.


"Setelah ini kita akan pulang ke apartemenku. Kalian akan aku pertemukan dengan seseorang. Aku harap kalian tidak akan bersedih lagi setelah ini," tambah Asmoro.


"Baiklah," balas Stella.

__ADS_1


Tak lama Asmoro menatap Adelia yang sedari tadi diam saja. Asmoro mengerutkan keningnya lalu bertanya, "Kenapa kamu sedari tadi diam saja? Bukannya kamu sering berbicara jika berada ada Stella?" 


"Aku dari tadi diam saja untuk menghormati kakak. Bukannya kakak berbicara dengan Kak Stella? Harusnya Aku menghormati kalian dan membiarkan berbicara terlebih dahulu," jawab Adelia yang sengaja dari tadi diam saja.


"Aku sangka kamu diam untuk menjadi patung," ledek Asmoro ke Adelia.


Tiba-tiba saja Stella tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa Stella sangat terhibur sekali dengan apa yang dikatakan oleh Asmoro. Melihat sang kakak tertawa, Adelia menjadi tersenyum kembali. Untunglah hari ini Stella tidak kenapa-napa. Adelia berharap sang kakak menderita lagi hanya karena ulah mereka.


"Sebenarnya aku ingin menunjukkan sifat asliku kepada kalian. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Karena Kak Asmoro adalah orang yang sangat penting sekali. Masa aku harus blak-blakan kalau berbicara dengan kalian?" ucap Adelia.


"Aku bukan orang besar. Aku adalah manusia biasa yang di mana masih makan nasi. Kamu nggak boleh berpikiran seperti itu. Karena kita di mata tuhan itu semuanya sama," ujar Asmoro yang tidak mau dibedakan. 


"Baiklah kalau itu permintaan kakak. Aku jadi sangat bahagia berteman dengan orang-orang seperti kakak," cetus Adelia. 


"Apakah kalian sudah selesai membereskan pakaiannya?" tanya Asmoro. 


"Ayo kita keluar dari sini! Iyan sudah menunggu kalian untuk pulang ke apartemen!" ajak Asmoro lalu berdiri dan keluar dari rumah itu dengan diikuti oleh Stella dan Adelia. 


Mereka akhirnya keluar dari rumah itu. Sebelum melangkah, Stella tersenyum sambil melambaikan tangannya. Di rumah inilah Stella mendapatkan pelajaran kehidupannya. Meskipun perih ia tidak akan pernah melupakan rumah itu. 


Saat masuk ke dalam mobil, Stella menghembuskan nafasnya dengan lega. Dirinya tidak menyangka akan meninggalkan masa lalunya. Ia memutuskan untuk menyambut hari baru tanpa ada kesakitan lagi. Ditambah keluarga aslinya akan berkumpul. 


"Aku bersyukur kepada Tuhan. Hari ini aku lepas dari masa lalu yang kelam. semoga kedepannya aku bisa menjalani hariku dengan baik dan banyak senyuman," ucap Stella sambil berdoa di dalam hati. 


"Tetap semangat Kak. Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Suatu Hari nanti kita akan melawan mereka," sahut Adelia yang membaca isi kata hati sang kakak. 


Stella tersenyum sambil mengepalkan tangannya di udara. Lalu Stella berteriak sambil mengucapkan, "Semangat!" 

__ADS_1


Asmoro yang berada di depan itu pun tersenyum bahagia. karena sang calon istrinya mulai bangkit kembali dari masa suramnya. Lalu Asmoro menoleh ke belakang sambil berkata, "Jadikanlah harimu yang lalu sebagai pelajaran. Jangan pernah menoleh ke belakang Jika kamu merasa hatimu perih. Aku berpesan kepada kalian berdua. Jangan takut untuk menghadapi hari esok."


Kedua gadis itu pun tersenyum bahagia. Bagaimana tidak? Asmoro ternyata bisa mengayomi mereka berdua. Ditambah lagi Asmoro membagikan pesan yang bijak untuk kehidupan di masa mendatang. 


Sementara itu Ian datang lalu masuk ke dalam mobil. Pria yang memiliki postur tinggi itu menatap wajah Adelia dan Stella. Kemudian pandangannya beralih ke wajah Asmoro. 


"Bagaimana?" tanya Asmoro. 


"Semuanya beres. Besok kemungkinan besar Tama akan mengurusnya semuanya. Semoga saja Tama bisa mengganti nama pemilik rumah itu menjadi nama kamu," jawab Ian sambil memakai seat belt. 


"Jangan pakai namaku. Pakai nama perusahaan. Aku sudah menawarkan rumah itu ke Stella. Tapi Stella sudah menolaknya. Jika Stella sudah menolaknya, mau tidak mau rumah itu akan menjadi persinggahan karyawan yang jauh dari rumah," jelas Asmoro. 


Ian mengangguk paham lalu menyalakan mobilnya. Kemungkinan besok pagi Ian akan membicarakan masalah ini ke Tama. Setelah itu Ian akan menancapkan gasnya menuju ke apartemen milik Asmoro. 


Di tempat lain Harlem dan John melihat rumah Farrel. Lalu John menatap wajah Harlem sambil bertanya, "Apakah di sini rumahnya Farrel?" 


"Itu benar. Kemungkinan besar jika malam-malam begini, Farrel berada di klub malam. Kalau kita ingin bertemu harus buat janji terlebih dahulu," jawab Harlem. 


"Sialan kau! Kenapa kamu nggak Buat janji terlebih dahulu? Bukankah kamu harus memberikan informasi agar aku bisa menemuinya dengan cepat!" geram John sambil menahan emosi. 


"Maaf, Baru saja saya mendapatkan informasi dari pengawal. Sebelum datang ke sini pengawal milik Farrel memberikan sebuah informasi terlebih dahulu. Dia mengatakan kalau tuannya itu tidak bisa diganggu sewaktu-waktu," jelas Harlem. 


"Sia-sia sudah aku datang ke sini!" kesal John. 


"Kalau begitu saya akan membuatkan janji agar anda bisa bertemu dengan Farrel," sahut Harlem.


"Kapan itu?" tanya John dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2