
"Kalian adalah orang yang terpilih. Mau tidak mau kamu harus menerima takdir hidupmu seperti ini. Aku harap kamu mengerti apa yang akan terjadi di kemudian hari," jelas Ibra.
"Jika aku mundur bagaimana?" tanya Raka dengan serius.
"Kamu nggak bisa mundur begitu saja. Kamu harus menerima semua ini. Kalau begitu ayo kita pergi dari sini. Kita harus melawan mereka. Jika tidak markas akan menjadi berantakan oleh mereka. Aku tidak mau markas berantakan," ajak Ibra sambil menarik Raka untuk meninggalkan rumah sakit dengan cepat.
Kedua dokter tampan itu langsung meninggalkan rumah sakit. Mereka langsung menuju ke markas. Tidak sengaja di dalam mobil, ada seseorang yang muncul secara tiba-tiba. Orang itu bisa membuat Raka terkejut. Untung saja Raka tidak memiliki penyakit jantung secara mendadak.
"Siapa orang itu? Perasaan tadi di dalam mobil tidak ada siapa-siapa?" tanya Raka yang terkejut.
"Dia adalah penjagaku. Beberapa hari ini dia sering muncul ke permukaan. Entah apa yang diminta oleh penjagaku itu," jawab Ibra yang santai membawa mobil.
"Sangat mirip sama kamu. Tidak ada yang membuang sama sekali. Dingin tapi mematikan," ujar Raka.
"Hai.. kata siapa aku dingin mematikan?" kesal Abraham dan ingin sekali menghajar Raka.
"Kamu bisa bicara?" tanya Raka.
"Jangan suka meremehkan orang. Aku memang bisa bicara. Kenapa kamu bilang kalau aku nggak bisa bicara?" tanya Abraham balik.
"Benar-benar kamu sangat ajaib sekali," jawab Raka.
"Malam ini kamu akan merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam tubuhmu. Kamu harus pergi ke belakang markas. Di sana ada sumur tua. Kamu harus meminum airnya. Jika tidak aku yang akan memaksamu meminum air itu!" perintah Abraham.
"Apa-apaan ini? Kau memaksaku? Jangan pernah paksa Aku," kesal Raka.
"Mau tidak mau kamu harus meminumnya. Jika tidak aku yang akan menarikmu dan melemparkanmu ke dalam sumur itu!" tegas Abraham.
__ADS_1
"Lakukanlah saja apa yang kamu mau. Aku malas menanggapi hal konyol terhadapmu. Kalau begitu Pergilah dariku malam ini juga," udah berapa yang keras kepala dan tidak mau dipaksa.
"Ya sudah kalau begitu. Tepat malam bulan purnama aku yang akan menarikmu dan melemparkanmu ke dalam sumur. Mau tidak mau kamu harus mau," kesal Abraham.
"Tenang bro... Jangan marah seperti itu. Ingat nanti jantungmu kumat," ledek Ibra ke Abraham.
"Sialan lu. Enak saja," kesal Abraham yang memukul kepala Ibra.
Tiba-tiba saja Raka tertawa terbahak-bahak melihat Ibra menderita. Lalu Ibra mengerem mobilnya secara mendadak. Hingga akhirnya kepala Abraham mau putus dari tempatnya. Untung saja Abraham adalah penjaga Ibra. Ia bukan seorang manusia. Melainkan pasukan penjaga sumur itu.
Memang konyol Abraham dan Kuncoro itu. Dua penjaga gila itu sering keluar tanpa ada aba-aba.
"Nasib... nasib... Setiap ada Abraham keluar selalu saja diriku yang sial ini. Kenapa juga dirinya keluar secara tiba-tiba? Kalau begitu ya sudahlah. Aku tidak tahu apalagi yang harus dilakukan?" tanya Ibra yang membuat Abraham ingin memukulnya lagi.
"Aku ke sini hanya untuk memenuhi perintah dari penjaga sumur. Aku kan sudah bilang lewat mimpi.penjaga sumur itu mengatakan pasukannya masih kurang. Tuh yang namanya Exodus membuat masalah. Mereka sedang menghancurkan makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Jika kalian tidak bergerak cepat dan menghasilkan ilmu yang kuat. Kalian akan kalah kelak dari Exodus itu," jelas Abraham.
"Apakah itu benar? Apa yang dilakukan oleh Exodus?" tanya Ibra.
"Terserah apa katamu. Pokoknya kamu harus bertanggung jawab atas terkejutnya temanku ini," kesal Ibra.
"Malas aku bertanggung jawab. Aku juga meminta istrinya ikut bergabung dalam pasukan khusus. Jika tidak Aku akan melakukan hal yang sama terhadap Raka," ucap Abraham yang tiba-tiba saja menghilang.
Ibra hanya menggelengkan kepala sambil menghembuskan nafasnya secara kasar. Memang malam ini jalanan sangat sepi sekali. Tetapi mereka tidak takut ada seseorang yang menghilang baru saja.
"Memang gila. Ini zaman modern. Yang di mana zaman modern sudah memakai alat-alat teknologi yang sangat canggih bahkan super. Masih ada saja yang seperti ini," ucap Raka.
"Nanti kalau sang penjaga sumur itu sudah menggenapkan pasukannya. Bisa jadi sang penjaga sumur itu akan jujur apa yang telah terjadi. Selama ini aku tidak tahu pasti. Kenapa diriku menjadi seperti ini? Seharusnya aku sudah pensiun dari kedokteran. Tapi mau apa lagi. Ini namanya misi yang harus dikerjakan," jelas Ibra sambil menyalakan mobilnya dan menancapkan gasnya menuju ke markas besar Black Horizon.
__ADS_1
Di dalam perjalanan mereka tidak merasakan ada hal yang aneh. Mereka akhirnya menuju ke markas dengan tenang. Bagaimana dengan tanggapan Raka? Raka hanya biasa saja dan tidak memperdulikannya sama sekali. Omongan sang penjaga Ibra hanyalah bualan belaka. Entah apa yang akan terjadi nanti kita tidak tahu.
Taurus Corps.
Gio yang sedang membereskan mejanya merasakan ada yang aneh. Gio segera menoleh ke samping dan melihat kembarannya itu. Untung saja kembarannya itu tidak mengejutkannya seperti yang lainnya.
"Ada apa lagi sih?" tanya Gio.
"Aku ke sini ada beberapa hal yang disampaikan. Dari tadi kamu sibuk dengan berkas-berkas sialanmu itu. Aku pikir kamu memperdulikanku. Tapi ternyata tidak," jelas Guntur.
"Kenapa lagi sih? Kamu kalau datang tidak diundang. Muncul secara tiba-tiba. Untung saja di tempat ini sangat sepi sekali," kesal Gio.
Sedangkan kembarannya Gio hanya bisa menatap pria itu apa yang dilakukannya. Namun dengan cepat sang kembaran itu mendekatinya dan menunjukkan jarinya untuk mengeluarkan sebuah sinar. Akan tetapi Gio menatapnya terlebih dahulu agar tidak berbuat macam-macam.
"Sudah hentikan! Aku nggak mau sinar yang keluar dari tanganmu itu bisa membakar kertas-kertas sialan ini," ucap Gio dengan nada dingin.
"Sepertinya kamu sangat marah sekali soal ini. Kalau begitu ya sudahlah. Aku akan menunggumu sampai selesai," ucap Guntur.
"Terserah apa kata kamu saja. Setiap Aku membutuhkanmu selalu saja nggak datang. Apalagi yang aku minta adalah untuk mengurusi bisnis perusahaan ini."
"Kamu ini enak saja memintaku untuk mengurusi bisnis ini. Sudah aku bilang, kalau aku tidak pandai mengurusi soal bisnis seperti ini. Aku hanya mampu mengurusi kekuatan kamu saja. Ditambah lagi aku harus menarik putrimu dan menantumu itu," jelas Guntur.
"Habislah aku. Aku akan membunuhmu jika menyentuh putriku dan menantuku itu!" geram Gio.
"Sudah ditakdirkan. Anakmu Dan menantumu itu akan menjadi pasukan khusus," ucap Guntur yang membuat Gio ingin menghajarnya.
"Kalau kamu nyata. Aku akan menghajarmu sekarang juga. Tapi kamu tidak nyata. Kamu hanyalah sebangsa orang-orang yang tidak kelihatan," kesal Gio.
__ADS_1
Tak lama Guntur melihat wajah Gio yang sedang kesal. Lalu Guntur hanya terkekeh melihat wajah Gio, "Percuma kamu menolaknya. Cepat atau lambat orang yang di sekelilingmu itu akan kami kunci untuk mengemban tugas yang sebenarnya?"
"Tugas apa lagi ini?" tanya Gio.