Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Peristiwa Pagi Tadi.


__ADS_3

Ya... papa akan mengawal mereka,'' jawab Nano.


"Aku ikut!" seru Alexa.


"Kamu tidak perlu ikut! Biarkan kami yang kesana,'' ucap Gio.


"Sementara ini kamu berada di rumah. Anak-anak sangat membutuhkan kamu,'' suruh Martin.


"Hati-hati,'' pesan Alexa yang semakin cemas.


"Kamu juga harus hati-hati. Roth, Imron dan Derek akan kesini,'' pesan Martin balik.


Alexa semakin cemas dengan keadaan Stella. Entah kenapa pagi yang indah berubah menjadi mencekam. Sementara di lokasi Willi dan Leon memburu sang pelaku penembakan itu. Namun mereka kehilangan jejak. Mereka saling memandang dan melihat ke sekelilingnya.


"Kemana orang itu?" tanya Leon yang kehilangan jejak.


"Bukannya dia lari ke sini tadi?" tanya Leon.


"Aku enggak tahu. Orang itu lari seperti hantu saja. Aku tadi tidak bisa mengejarnya,'' keluh Willi.


"Memangnya mereka tidak menginjak tanah apa?" tanya Leon lagi.


"Nginjaklah. Tapi larinya secepat kilat,'' jawab Willi. "Apakah mereka Yakuza?"


"Bukan. Yakuza tidak akan pernah kesini selama ada Kak Gio dan Kak Lampard,' jawab Leon.


"Kita kembali ke tempat tadi. Aku harap tidak ada polisi yang mengusut kasus ini!" ajak Willi.


Sebelum mereka pergi, Willi tidak sengaja melihat CCTV yang berada di pintu masuk. Dengan senyuman devil, Leon segera menarik baju Willi sambil berkata, "Kita akan melakukannya.''


Leon menoleh dan menatap tajam ke areh Willi. Ia kesal terhadap temannya itu karena memberikan sebuah teka-teki. Leon hanya bisa menghela nafasnya sambil bertanya, "Melakukan apa?"


"Apakah kamu tidak tahu kalau di sana ada CCTV?" tunjuk Willi ke arah CCTV.


"Oh... baiklah. Kita akan menyelidikinya,'' jawab Leon yang mengambil ponselnya.

__ADS_1


Leon langsung meretas CCTV itu dengan ponselnya. Dengan keahlian ITnya, Leon dengan mudah membobol sistem jaringan hanya butuh waktu beberapa menit. Jujur... Leon sangat penasaran sekali dengan orang itu. ia sangat geram dan mengecam tindakan pria tadi.


Flashback On.


Stella yang mendapat tugas untuk menjaga Sean sangat bahagia sekali. Stella menggandeng tangan Sean sambil mengajaknya jalan santai. Ketika jalan santai Stella melihat tiga pria yang sedang berdiri memakai baju serba hitam. Tubuh Stella mulai bergetar hebat. Ia sangat ketakutan sekali melihat pria memakai pakaian serba hitam. Akan tetapi Sean tersenyum dan meminta gendong kepada mereka. Dengan senang hati pria bertubuh tegap dan tinggi itupun langsung mengangkat tubuh mungil Sean. "Apa kabar Sean?"


Mata Stella membola sempurna. Pria yang menggendong Sean itu menyapanya dengan lembut. Stella hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasakan tubuhnya semakin lemas. Ia sangat takut sekali jika pria itu akan menculik Sean.


Sean yang memiliki kepekaan tinggi segera menoleh. Sean tersenyum manis sambil memanggil Stella, "Kak... kesinilah. Mendekatlah kepadaku!"


Stella segera mendekat walau tubuhnya bergetar. Ketiga pria yang masih setia berdiri memandang wajah gadis itu sambil mengerutkan keningnya. Salah satu dari mereka langsung mendekatinya, "Jangan takut sama kami. Kami adalah pengawal tuan muda Sean. Kami bukan penculik.''


Stella menghela nafasnya dengan lega. Untung saja mereka bukan seorang penculik. Jika mereka penculik Stella sangat bersalah sekali kepada Alexa.


"Mendekatlah nona. Kami bukan orang jahat,'' ajak pria itu.


Stella menetralkan perasaanya dan mencoba untuk tidak takut. Stella mulai tersenyum manis dan menatap mereka. Kemudian Sean mengenalkan mereka satu persatu ke Stella.


"Kemarilah kak," panggil Sean dengan suara lembutnya. "Sepertinya kakak kurang dekat?"


"Silakan para paman berkenalan dengan kakak Stella cantik ini," celetuk Sean yang mulai mencairkan suasana.


"Ah... Iya... Aku lupa... Maafkan aku yang telah mencurigai kalian. Perkenalkan nama aku Stella Marlina. Panggil aku Stella saja."


"Nama yang cantik seperti orangnya," puji pria yang menggendong Sean.


"Paman jangan memuji Kak Stella nanti kedengaran sama Bibi Lina bagaimana?" tanya Sean sambil membisiki pria itu. "Lagian kak Stella adalah milik kakek Lampard."


"Apa?" pekik pria itu.


Sean terkekeh menatap wajah pria itu dengan tegang. Lalu pria itu memperkenalkan dirinya disertai senyuman agar Stella tidak takut.


"Namaku William panggil aku Willi. Aku adalah pria terkeren dari mereka," ucap Willi nama pria itu sambil cengengesan sambil mengulurkan tangannya.


"Baiklah... Aku akan memanggil Kak Willi," ucap Stella dengan ramah lalu menjabat tangan William.

__ADS_1


"Perkenalkan namaku Rinto Maulana. Aku adalah pria yang paling modis di antara kedua pria itu. Tenanglah aku tidak akan menggigit kamu," ucap pria yang bernama Rinto yang berdiri di samping Willi sambil mengulurkan tangannya.


"Hai... Kak Rinto," sapa Stella yang menjabat tangan Rinto.


"Dan aku adalah Leonardo. Aku adalah pria yang suka merawat rambut. Tapi kamu enggak perlu memanggil nama aku Leonardo. Panggil aku Leon saja," sapa Leon dengan hangat sambil mengulurkan tangannya.


"Baiklah. Aku akan memanggil kakak Leon," ucap Stella dengan lembut sambil menjabat tangan Leon.


"Kakak kan sudah berkenalan dengan mereka. Sean harap kakak jangan takut lagi. Jika ada orang jahat biarkan mereka yang menghadapinya," ujar Sean tersenyum manis.


"Baiklah kalau begitu," balas Stella dengan senyum manisnya.


Meskipun wajahnya seram tapi mereka memiliki hati yang sangat baik. Mereka memiliki kesan tersendiri bagi Stella ketika berkenalan. Setelah menyapa dan berkenalan, Sean akhirnya meminta turun. Lalu Sean mengajak Stella untuk membeli kembang gula. Stella menganggukan kepalanya dan mencari keberadaan penjual kembang gula.


Ketika sedang mencari pedagang kembang gula, Stella menemukan beberapa orang memakai pakaian serba hitam. Orang itu hanya terdiam dan tidak tersenyum sama sekali. Namun orang itu memperhatikan Stella secara intens. Entah kenapa Stella merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Mereka tidak mendekat dan tidak menyapa. Kalaupun mereka pengawal, Ed atau Scar, mereka akan memanggil Sean. Keadaan semakin aneh ketika Sean mulai ketakutan dan mengajak Stella menjauhi mereka.


"Kak," panggil Sean sambil memegang tangan Stella.


"Ada apa?" tanya Stella.


"Sean takut sama mereka kak. Sepertinya mereka adalah orang jahat," jawab Sean.


Stella mulai menggandeng tangan mungil Sean dan berjalan menjauhi mereka. Ketika berjalan ke arah tadi Stella bertemu dengan Alexa dan Ed. Alexa tersenyum manis sambil memberikan kembang gula ke Sean dan Stella.


"Ambilah,'' suruh Alexa sambil menyodorkan dua kembang gula itu ke arah Stella.


"Terima kasih kak,'' balas Stella yang meraih kedua kembang gula itu.


Sedangkan ketiga pria itu tersenyum devil. Mereka sengaja sedang mengincar Stella dari tadi. Namun Stella tidak menyadari akan hal itu. Salah satu dari mereka mengeluarkan ponselnya. Pria itu mencari foto seorang gadis yang sengaja dikirimkan oleh. seseorang. Ia memberitahukan kepada temannya tersebut. Dengan senyumnya yang menakutkan pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari balik jas.


Kedua pria itu terkekeh dan mengerti apa maksudnya. Mereka akhirnya memberikan sebuah perintah agar cepat melakukannya. Pria yang membawa pistol itu menganggukan kepalanya sambil mengarahkan ke arah Stella.


"Jangan sampai mengenai anak kecil itu. Jika mengenainya kamu yang celaka,'' ucap si pria yang berada di samping kanannya,


Pria itu mulai membidik ke arah Stella. Namun banyak orang yang berlalu-lalang di area itu. Dengan penuh kesabaran pria itu menunggu supaya tidak ada orang sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2