
Pagi yang cerah di kota Jakarta. Hatori segera terbangun dan melihat jam di dinding. Hatori bersyukur lalu menarik nafasnya dan berdoa. Setelah berdoa Hatori langsung menuju ke toilet. Namun sebelum masuk, ia membuka gorden untuk memastikan, apakah beneran siang atau masih malam?
Benar apa yang dilihatnya? Ternyata hari ini sudah pagi. Hatori tersenyum manis sambil berkata, "Sungguh hari ini sudah pagi. Aku tidak ingin mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Bertemu Ani ternyata hantu. Memang cakep sih. Tapi dia sangat mengerikan sekali. Kok aku jadi takut begini sama hantu. Padahal kalau pulang malam setelah mengantarkan buah. Aku selalu saja bertemu dengan poci. Padahal poci itu sangat menyeramkan. Tapi nyatanya tidak sama sekali."
Hatori melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toilet. Di sana Hatori memikirkan Bagaimana caranya untuk bertemu dengan Scarlett? Di toilet Hatori semakin bingung karena rindu kepada gadis kecil milik Alexa. Sebelum pergi ke kantor, Hatori akan mampir ke rumah Alexa terlebih dahulu.
Anita yang baru saja selesai memasak, langsung rindu kepada sang anak. Betapa tidak dua putrinya pergi ke Manchester semuanya. Kalau pagi mereka bertiga sangat kompak sekali menyiapkan sarapan. Kemudian datang Agatha bersama Yamato. Kedua pria berbeda generasi itu paham atas kesedihan Anita. Mereka tersenyum sambil duduk di kursi.
"Sabarlah. Mereka sedang berliburan bersama kedua pacarnya. Rasanya kemarin kamu baru saja melahirkan. Mereka sudah tampak besar dan cantik-cantik. Aku bangga kepada mereka berdua. Mereka memang anak yang mandiri," puji Agatha kedua putrinya.
__ADS_1
"Apakah kalian akan berangkat kerja hari ini?" tanya Yamato.
"Ya, kami akan berangkat kerja. Sebenarnya sih aku mampu mendirikan perusahaan. Berhubung misiku belum selesai. Aku masih numpang bekerja di perusahaan menantuku sendiri. Papa jangan marah terlebih dahulu. Aku harus menyesuaikannya semua," jawab Agatha.
"Tidak menjadi masalah. Kamu harus menyelesaikannya satu persatu. Bila perlu mereka tidak boleh mengganggu keluargamu lagi. Kalau mereka sampai mengganggu kalian. Mereka harus lenyap melalui tanganku," jelas Yamato.
"Maksudnya bukan itu. Aku sendiri saja masih bingung dengan peristiwa silam. Rasanya aku ingin menangis jika mengingatnya. Harusnya Kami bahagia dan menempuh pernikahan ini tanpa ada gangguan orang lain. Tapi apa mereka sudah merusaknya. Mereka sangat serakah ingin mendapatkan seluruh aset Kurumi. Mereka iri dengan kebahagiaan Anita. Padahal Anita dulu sering sekali membantu biaya pendidikan Tutik hingga lulus sekolah," jelas Agatha yang tidak ikhlas dengan kejadian masa lalunya.
"Ikut saja. Papa hari ini harus menghadiri banyak meeting dari beberapa divisi. Kamu tidak akan bisa mengganggunya sama sekali. Kamu akan boring di sini," ajak Agatha sambil menatap Yamato.
__ADS_1
"Ya itu benar. Soalnya ini mau akhir bulan. Kami harus mengadakan meeting dengan beberapa divisi. Aku harap kamu tidak keberatan," ucap Yamato dengan jujur.
"Apakah Papa tidak apa-apa kalau aku tinggal seharian?" tanya Anita yang takut Papa mertuanya marah.
"Tidak apa-apa. Aku nggak jadi masalah soal itu. Kami sangat sibuk sekali dan tidak bisa mengobrol denganmu. Aku takut kamu malah boring di dalam rumah. Lebih baik pergilah bersama Agatha dan bersenang-senanglah," jawab Yamato sambil tersenyum.
"Baiklah. Aku akan ikut pergi bersama Agatha. Karena aku ingin dekat dengan Agatha," ucap Anita yang menunggu Hatori.
"Kenapa kita tidak makan terlebih dahulu?" tanya Agatha sambil menatap wajah Anita.
__ADS_1
"Tunggulah anak bujangmu itu. Dia juga ingin merasakan kebersamaan seperti ini," jawab Yamato yang sengaja menunggu Hatori makan bersama.
"Apakah Hatori tidak apa-apa? Setelah beberapa malam bertemu dengan hantu," tanya Agatha.