Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Asal Muasal Stella Takut Naik Lift 1.


__ADS_3

"Aku baik-baik saja. Tapi, Aku sangat takut sekali jika berada di dalam lift sendirian," jawab Stella.


"Kenapa kamu takut? Jika terjadi kerusakan kamu bisa menekan tombol lonceng dan beritahukan kepada maintenance kalau lift sedang rusak," jelas Asmoro yang masuk ke dalam ruangan dan menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya.


"Aku tahu itu.tapi aku benar-benar takut jika tidak ada orang di dalamnya. Aku memiliki trauma yang mendalam di dalam lift," ucap Stella.


"Masuklah. Jangan biarkan dirimu berada di luar sana. Karena kamu bukanlah seorang pembantuku," sahut Asmoro.


Akhirnya setelah masuk ke dalam ruangan kerja milik Asmoro. Ruangan yang didominasi berwarna serba putih itu sangat elegan sekali. Tidak banyak foto-foto yang terpampang di dinding ruangan tersebut. Bahkan barang antik pun tidak ada sama sekali. Asmoro adalah pria yang suka dengan ruangan tidak memiliki banyak barang apapun.


"Ini ruangan kamu?" tanya Stella yang melihat ruangan itu kosong.


"Ya... Aku memang sengaja tidak mengisinya dengan apapun. Karena aku adalah tipe orang yang simple. Ditambah lagi Aku jarang sekali membeli barang-barang antik dan ditaruh di ruangan ini.jadi wajarlah jika ruanganku ini sangat membosankan bagi setiap orang mengunjungiku," jelas Asmoro.


"Enggak. Aku malah menyukai ruangan seperti ini. Jadi tidak memiliki banyak tenaga untuk membersihkannya."


"Kalau kamu suka syukurlah. Biasanya seorang perempuan paling pandai menata ruangan kamar maupun ruangan lainnya."


"Memang. Sudah aku bilang, di rumahku aku tidak memiliki ruang gerak sama sekali."


"Ya aku tahu itu. Setelah menikah kamu akan tinggal di apartemenku. Terserah kamu mau menata seluruh ruangan apartemenku seperti apa. Aku menerimanya."


"Bisa nggak aku tinggal bersama Nyonya Alexa atau nyonya Winda?"


"Kenapa?"


"Karena mereka masih memburuku. Cepat atau lambat jika mereka menemukanku."


Asmoro teringat dengan Patty. Tiba-tiba saja kenangan sebelum berubah menjadi Asmoro. Dirinya pernah melihat peti bersama seseorang berada di apartemen dan di lantai yang sama. Jujur saja dirinya sangat terkejut sekali. Bagaimana bisa ia akan tinggal bersama Stella di apartemen itu? Kemungkinan besar Asmoro tidak akan tinggal di apartemen itu. Sebab Patty sering keluar masuk ke dalam apartemen tersebut.

__ADS_1


"Nanti deh dipikirkan. Aku juga belum bisa mengambil keputusan. Jika membeli rumah juga percuma. Nanti mereka bisa melacakmu dengan mudah," ucap Asmoro sambil menatap wajah Stella.


"Jujur... Kalau aku boleh memilih enakan tinggal di apartemen. Banyak fasilitas yang berada di sana. Tapi aku masih ragu tinggal di sana. Apalagi Patty memiliki sejumlah relasi dan meminta kepada mereka mencariku sampai ketemu," ujar Stella.


Asmoro mengangguk dan menyetujui pernyataan Stella. Ia juga sadar atas kelemahan Stella yang begitu penakut sekali. Mau tidak mau Asmoro harus mencari cara agar Stella tidak ketakutan lagi.


"Nanti aku pikirkan lagi selanjutnya bagaimana. Aku ingin membuat kamu nyaman tinggal bersamaku dan menjalin hubungan lebih dekat lagi. sekarang ceritakan Kenapa kamu sangat takut masuk ke dalam lift sendirian," pinta Asmoro.


"Apakah itu penting buat kamu?" Tanya Stella.


"Itu sangat penting sekali. Karena aku ingin tahu tentang kamu. Jika kamu tidak cerita dan terjebak dalam lift. Aku nggak tahu harus bagaimana," jawab Asmoro.


"Baiklah akan aku ceritakan. Aku harap kamu nggak akan pernah menyesali mendengar ceritaku," jelas Stella yang mendapat anggukan dari Asmoro.


Flashback on.


Siang hari ketika Stella bersama teman-temannya sedang mengunjungi pusat perbelanjaan. Mereka mengelilingi lantai atas pusat perbelanjaan tersebut.


"Itu saudara lu bukan?" tanya gadis berambut panjang yang bernama Diva.


"Mana? Gue nggak punya saudara tahu!" Ketus Patty yang menemukan Stella di toko jualan baju. "Oh itu... Dia pembantu gue bukan saudara!''


"Kok dia bisa ke sini sih? Memangnya dia punya duit apa?" Tanya gadis berambut pendek yang bernama Lina.


"Mungkin saja dia bekerja di klub malam. Bisa jadi kan. Kalau mama gue tahu habislah itu orang!" Kesal Patty yang tidak ingin melihat Stella bersenang-senang.


Sementara itu Stella sedang memilih pakaian untuk dikenakan di hari kelulusannya. Untung saja dirinya memiliki uang karena sering membantu teman-temannya mendekor sebuah ruangan. Maka dari itu Stella bisa membeli pakaian sendiri tanpa harus meminta kepada mereka


"Bagus ya ini. Aku suka baju ini," tanya Stella kepada Rina.

__ADS_1


"Ya itu bagus sekali. Cocok sekali dengan kulitmu yang putih itu. Tapi aku heran. Kenapa kulitmu seperti kulit orang Jepang?" Tanya Martha.


"Entahlah. Apakah aku ini keturunan Jepang?" Tanya Stella yang tidak tahu asal-usulnya.


"Mungkin saja. Lihat saja dari bola matamu itu aku bisa menebak. Kalau tidak mamamu atau papamu yang berasal dari Jepang," jelas Rina.


"Tapi aku nggak merasa, kalau aku orang Jepang. Ya sudahlah enggak usah dipikirin. Aku aja bingung mikirin diriku ini," celetuk Stella.


"Jangan dibuat sedih seperti itu. Buatlah tersenyum manis agar keluarga gila mu itu tidak membuatmu menderita lagi," ujar Martha yang tahu penderitaan Stella.


"Baiklah. Aku nggak jadi masalah soal itu. Yang penting diriku bisa lulus dari sekolah," sahut Stella.


Selesai memilih pakaian, Stella dan teman-temannya memutuskan untuk pergi dari toko baju itu. Kemudian mereka memilih tempat makan buat beristirahat sejenak.


"Jujur, tempatnya di sini sangat asik sekali. Meskipun sederhana Aku sangat menyukainya," ucap Stella yang tiba-tiba saja mengagumi tempat makan tersebut.


"Kita buat basecamp aja di sini. Tempat ini bisa menjadi tempat pertemuan kita," ujar Marta.


"Kamu jadi, kuliah di Inggris?" Tanya Stella kepada Rina.


"Jadilah. Ayah sudah mendaftarkan aku Birmingham university. Kemungkinan besar dua minggu lagi aku berangkat ke Inggris. Di sana Aku juga belajar tentang perusahaan ayahku," jawab Rina. "Kalau kamu mau kuliah di Inggris maupun di Amerika. Kamu daftarkan saja ke kampus yang terkenal dengan jalur beasiswa. Semoga saja nasibmu beruntung dan bisa mencari keluarga aslimu."


"Sebentar ya, Aku mau ke toilet," pamit Stella.


"Ya udah hati-hati. Cepat kembali nanti pesananmu datang," sahut Martha sambil memperingatkan salah agar tidak lama-lama di toilet.


"Baiklah," balas Stella yang berdiri lalu meninggalkan area foodcourt itu.


Kemudian Stella menuju ke toilet yang berada di ujung sana. Sesampainya di sana Ada petugas yang melarang Stella masuk. Lalu Stella bertanya, Kenapa dirinya tidak boleh masuk? Petugas itu menjawab, toiletnya sedang rusak.

__ADS_1


Terpaksa Stella memutuskan turun ke lantai bawah. Kemudian dirinya menaiki lift dan turun ke bawah. Saat turun ke bawah, lift berhenti mendadak. Stella menekan-nekan tombol itu sambil berteriak. Namun sial bagi Stella. Lift itu sengaja berhenti cepat berada di pertengahan lantai. Jadi dirinya berteriak tidak ada yang menyahutinya.


"Tolong aku... Tolong aku....," Teriak Stella berulang kali.


__ADS_2