
“Baik,” balas Asmoro.
Asmoro mengulurkan tangan kanannya sambil menunggu tangan Stella memegangnya. Stella tersenyum manis dan mendekati Asmoro sambil berkata, “Tapi jangan diapa-apain ya.”
Sontak saja mereka tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Stella. Mereka paham apa yang dikatakan oleh gadis polos tersebut. Dengan cepat Adelia mendekati Stella sambil berbisik, “Cepatlah... berikan adikmu ini keponakan yang lucu.”
Asmoro pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya sambil menarik tangan Stella lalu pergi meninggalkan mereka. Asmoro menggandeng tangan Stella dan merasakan jantungnya berdetak kencang. Jujur saja hati yang membeku selama dua puluh delapan tahun itu akhirnya meleleh seperti es.
Asmoro langsung merangkul lengan Stella. Ia mengajak masuk ke dalam lift. Ia menekan tombol untuk naik ke atas.
“Aku tahu kamu masih sangat takut masuk ke dalam lift,” bisik Asmoro.
“Aku sudah takut lagi. Semenjak ada kamu yang menyiarkan kamu keberanian yang nyata,” jawab Stella menundukkan wajahnya yang mulai memerah karena malu.
“Harus,” bisik Asmoro lagi. “sekarang kamu harus memiliki keberanian. Karena kamu adalah seorang istri dari pengusaha terkenal.”
“Aku harus banyak belajar dari kakak,” ucap Stella.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Asmoro mengajak Stella keluar dari lift. Lalu Stella menatap wajah Asmoro. Stella sangat mengagumi wajah Asmoro yang sangat sempurna.
Tiba-tiba saja....
Cup.
Asmoro sengaja mencium bibir merah milik Stella. Ia memang sengaja mencuri start terlebih dahulu. Karena Asmoro sudah tidak tahan lagi sama wajah Asmoro.
“Kakak mencuri ciuman pertamaku ya?’ tanya Stella sambil menahan malu.
Tanpa banyak bicara Asmoro tersenyum dan melepaskan Stella. Ia merogoh kantongnya dan mencari kartu akses untuk bisa masuk ke dalam.
“Aku memiliki alasan tersendiri ketika mencium bibir merah kamu,” ucap Asmoro yang menempelkan kartu itu dan terdengar klik.
“Alasan apa?” tanya Stella.
“Masuklah,” jawab Asmoro yang menyuruh Stella masuk ke dalam.
Stella masuk ke dalam dan melihat keadaan apartemen milik Asmoro. Tak ada yang berubah setelah ia datang ke sini untuk pertama kalinya. Ia menghempaskan bokongnya sambil bertanya, “Apakah kamu sudah makan?”
“Malam ini aku belum makan,” jawab Asmoro. “Kamu nggak perlu masak.”
“Kenapa nggak perlu masak?” tanya Stella yang bingung. “Bukankah seorang istri memiliki kewajiban masak buat sang sang suami?”
“Memang betul,” jawab Asmoro yang membuka jasnya dan melemparkan ke arah sofa. “Tapi masalahnya di kulkas banyak sekali bir.”
Mata Stella membulat sempurna. Ia sangat terkejut sekali mendengar apa isi kulkas Ian. Ia tidak menyangka kalau isi kulkas tersebut berisi bir.
“Bagaimana kamu bisa makan lalu isi kulkas kamu isinya bir semua?” tanya Stella.
__ADS_1
“Tenang saja. Aku sudah memesan makanan via online. Kalau kamu mau masak nanti aku akan membelikan kulkas baru untuk menyimpan persediaan bahan makanan kamu,” jawab Asmoro sambil tersenyum ambil menunjukkan pesona kepada Stella.
Melihat Asmoro tersenyum, Stella menelan salivanya dengan susah payah. Jujur Stella tidak pernah melihat pria dingin ini tersenyum. Sekalinya tersenyum Stella masuk ke dalam jurang yang dinamakan cinta terlalu dalam.
“Apakah kamu sering tersenyum seperti itu kepada wanita lain? Atau karyawati lainnya?” tanya Stella.
“Sepertinya kamu cemburu,” jawab Asmoro sambil menatap wajah Stella.
“Aku tidak cemburu akan hal itu,” jawab Stella.
“Kalau kamu cemburu kamu bilang saja,” ucap Stella sambil tersenyum manis.
“Agak,” Stella mengakui kalau dirinya cemburu.
“Aku nggak pernah tersenyum kepada siapapun. Aku juga tidak pernah mengenali perempuan manapun,” ucap Asmoro berkata dengan jujur. “Lebih baik kamu pertahankan aku. Karena cepat atau lambat banyak sekali wanita yang terjerat dalam ketampananku.”
Stella menganggukan kepalanya dan membenarkan apa kata Asmoro. Memang diluar sana banyak sekali wanita yang akan terpikat dengan ketampanan Asmoro.
Sebelum meminum air di sumur itu, Asmoro sudah sangat tampan sekali. Ia termasuk hot Daddy. Badannya yang kekar dan juga berkharisma menambah sensasi sangat wow sekali.
“Apakah kamu sudah bertemu dengan Ratu Noe?’ tanya Asmoro yang tiba-tiba saja ingin tahu.
“Aku sudah menemuinya. Dia sangat cantik sekali,” jawab Stella dengan sendu. “Aku sangka itu hantu. Tapi...”
“Dia bukan hantu. Dia adalah istri dari Kuncoro. Yang dimana sekarang sedang mengikuti aku. Aku mau mengusirnya. Tapi Kuncoro tidak mau pergi. Mereka sudah menentukan takdir kita untuk membasmi sebuah organisasi hitam di dunia ini.”
“Apakah aku harus ikut?” tanya Stella.
“Mau nggak mau kamu harus ikut. Karena kamu sudah ditakdirkan untuk bersamaku,” jawab Asmoro.
“Kamu akan tidur di kamarku,” jawab Asmoro.
“Iya baiklah,” ujar Stella yang tidak menolak keinginan Asmoro. “Bagaimana jika aku tidur di tempat lain?”
“Aku ingin tidur denganku,” jawab Asmoro. “Apakah kamu takut sama aku?”
“Yang jamannya baru Noah pasti takut dengan suaminya,” jawab Stella yang menahan malu.
Selang beberapa menit kemudian ponsel Asmoro berbunyi. Ia segera mengambil ponsel itu dan melihat nama yang tertera di sana.
“Kamu buka pintu sana. Ada pengawalku yang membawakan makan malamku,” jawab Asmoro.
Stella berdiri dan meninggalkan Asmoro. Gadis cantik itu membuka pintu dan melihat pria bertubuh kekar membawa paper bag. Pria itu langsung memberikannya ke Stella dan langsung pergi.
Stella menutup pintunya sambil berkata, “Pengawal kakak sangat aneh sekali.”
Asmoro terkekeh mendengar keluhan dari Stella. Yang dikatakan Stella memang benar apa adanya. Seluruh pengawal milik Asmoro rata-rata orangnya pendiam. Ditambah lagi mereka jarang sekali berbicara.
“Percuma kamu maki mereka. Mereka tidak pernah bicara sama sekali,” ucap Asmoro sambil melihat Stella cemberut.
“Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada pengawal itu,” jelas Stella.
__ADS_1
“Kamu nggak usah mengucapkan terima kasih. Aku sudah memberinya uang tips cukup banyak,” jawab Asmoro.
“Ya udah deh. Ayo kita ke dapur,” ajak Stella yang membawa paper bag itu lalu diikuti dengan Asmoro.
“Aku boleh meminta satu enggak sama kamu?” tanya Stella,
“Kamu minta apa?”
“Aku minta laptop. Siapa tahu nanti aku menginginkan model baju yang sedang happening banget. Lalu aku merajutnya dan kupakai,” pinta Stella.
“Ngapain dirajut?” tanya Asmoro. “Lebih baik kamu beli saja di toko online.”
“Iya ya... aku kok jadi aneh seperti ini,” sahut Stella sambil masuk ke dalam dapur dan menaruh paper bag itu di atas meja.
“”Bukan aneh. Tapi kamu takut meminta baju sama aku kan?” tanya Asmoro yang menghempaskan bokongnya di kursi dan melihat Stella mengambil piring.
“Aku tidak tahu meminta. Aku sungkan sama kamu. Rasanya aku harus mencari uang sendiri,” jawab Stella menaruh pudding itu.
“Kamu nggak boleh sungkan seperti itu. Sudah sepantasnya aku memberikan nafkah. Jika kamu ingin memiliki uang lebih baik kamu merajut benang itu. Atau kamu membuat desain baju,” saran Asmoro.
“Aku nggak bisa desain baju Kak. Tapi aku pandai mendekor ruangan. Lebih tepatnya mendesain ruangan,” ucap Stella.
“Apakah kamu termasuk arsitek?’ tanya Asmoro.
“Bukan,” jawab Stella. “Apakah kamu masih ingat ketika aku bekerja di sebuah EO?”
“Ya... aku ingat akan hal itu,” jawab Asmoro.
“Aku sering sekali membuat konsep acara dan mendesain tempat itu menjadi indah,” ucap Stella sambil menghidangkan makanan itu untuk Asmoro.
“Jadi kamu sebagai itu?” tanya Asmoro yang menerima makanan itu.
“Ya... aku seperti itu,” jawab Stella.
“Kalau begitu kenapa nggak dicoba lagi? Kelak kamu bisa memiliki EO atau WO?” tanya Asmoro.
“Bagaimana caranya? Sementara ini aku tidak bekerja? Apakah Kak Farrel sedang mencariku?” tanya Stella.
“Sepertinya,” celetuk Asmoro.
“Aku harus mencari cara lain. Supaya tahu aku memiliki pendapatan sendiri,” ujar Stella.
“Apa itu?” tanya Asmoro.
“Entahlah,” jawab Stella sambil mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
“Beberapa bulan lagi S&T Company akan berulang tahun. Aku harap kamu bisa melakukannya,” ucap Asmoro. “Belajar mendekor ruangan.”
“Temanya bagaimana dulu? Aku tidak bisa menentukan bagaimana jadinya,” jawab Stella. “Jika tema sudah ditentukan. Aku bisa memikirkan langkah selanjutnya.”
“Sepertinya aku harus memanggil seluruh divisi untuk menentukan tema ultah S&T tahun ini,” ucap Asmoro.
__ADS_1
“Jangan lama-lama ya menentukan temanya,” pinta Stella.
“Berapa lama yang kamu minta?” tanya Asmoro yang mulai memakan nasi goreng itu.