Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Panggil Aku Papa.


__ADS_3

“Kalau bisa secepatnya,” jawab John dengan cepat. “Aku tidak ingin menundanya lagi.”


“Baiklah kalau begitu,” balas Tutik.


Markas Black Horizon.


Setelah Rinda pergi meninggalkannya, Stella melihat kamar ini sangat kosong. Dirinya menunduk dan terdiam dan merasakan sesak di dada. Namun Stella mengangkat kepalanya sambil menatap lurus ke depan. Ia segera tersenyum sambil memegangi dadanya sambil berkata hati, “Aku tidak boleh menyerah sama sekali. Aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Suatu hari aku bisa merebut apa yang kulihat dari orang-orang yang serakah. Jika aku tidak bangun dari keterpurukan. Aku bisa diinjak-injak oleh mereka. Lalu, aku harus apa?”


Stella memejamkan matanya sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia mulai memikirkan cara bagaimana dirinya akan bangkit.


“Aku harus mencari seseorang yang bisa membantuku. Tapi orang itu siapa?” tanya Stella.


“Jika kamu ingin bangkit dari keterpurukan kamu, maka kamu harus yakin. Kata yakin harus kamu tanamkan di dalam pikiran dan otakmu. Kelak jika kamu sudah sembuh dari lukamu, kamu bisa berdiri tegak seperti pohon kelapa yang di mana pohon itu memiliki filosofi hidup,” jelas Lampard yang memberikan semangat kepada Stella.


“Ah... tuan mengagetkan saja,” ucap Stella yang tersenyum tipis.


Seketika Lampard terdiam dan tidak sengaja menatap senyuman manis milik Stella. Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan. Dengan cepat Lampard mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.


“Yang tuan katakan itu benar. Filosofi pohon kelapa itu sangat unik sekali. Sangking uniknya tidak ada orang yang bisa memahami hal itu,” ujar Stella dengan serius.

__ADS_1


“Sebagian ada dan sebagian enggak. Kamu harus menjadi pohon kelapa itu. Cepat atau lambat kamu akan mendapatkan misi hidup dari Sang Pencipta. Misi itu harus dilaksanakan secara berurutan,” jelas Lampard.


“Baik tuan,” balas Stella.


“Jangan panggil aku tuan. Aku bukan tuanmu. Kamu juga bukan pelayanku,” ujar Lampard.


“Aku harus memanggil tuan apa?” tanya Stella.


“Panggil papa. Karena umur kamu sama Alexa tidak beda jauh hanya berjarak dua tahun!” perintah Lampard.


“Baik pa,” balas Stella.


“Terima kasih papa,” seru Stella yang membuat Lampard membalikkan badannya sambil mengacungkan jempolnya.


Setelah itu Lampard meninggalkan Stella. Dirinya masih merasakan jantungnya berdetak kencang tidak beraturan. Tetapi Lampard tidak merasakan tubuhnya berkeringat dingin. Ia juga tidak merasakan apa-apa di sekujur tubuhnya. Menurutnya ini sangat aneh sekali. Kenapa dirinya bisa seperti ini?


Tak selang berapa lama Gio datang dengan membawa tas. Gio langsung menaruh tas itu di atas meja. Matanya tidak sengaja menangkap Lampard yang berdiri di dekat jendela kaca. Lalu ia segera mendekatiya sambil bertanya, “Ada kabar apa?”


“Apakah kakak sudah baca?” tanya Lampard tidak menoleh sama sekali.

__ADS_1


“Sudah... besok ya acaranya?” tanya Gio yang menatap keindahan kota yang sangat ramai sekali.


“Kita harus mempersiapkan acara ini dengan serius,” jawab Lampard.


“Ya... kamu benar. Mereka sudah mengibarkan bendera peperangan,” jawab Gio. “Aku tidak mau obat-obatan itu akan membuat para generasi muda rusak.”


“Kata Alexa kalau bisa sekalian saja pabriknya dihancurkan,” usul Lampard yang membuat Gio menggelengkan kepalanya.


“Kita bisa berkoordinasi sama pihak interpol bagian negara Meksiko untuk menghancurkan mereka. Ujung-ujungnya percuma saja. Lagian mati nanti hidup lagi,” ujar Gio yang membuat Lampard terkejut.


“Maksudnya?” tanya Lampard.


“Kamu harus tahu dengan taktik Liam yang licik. Dia bisa melakukan playing victim dan menuduh kita untuk menghabisi mereka dengan alasan tidak masuk akal. Kemudian Liam melaporkan kasus ini ke kepolisian,” jawab Gio.


“Sepertinya cukup rumit. Ditambah dengan koneksinya yang berada di mana-mana. Mau tidak mau kita harus memiliki sebuah taktik yang lebih canggih dari mereka,” ujar Lampard.


“Kita harus membentuk kekuatan. Kita juga harus mencari koneksi yang lebih mumpuni dari mereka. Kamu tahukan apa maksudnya?” tanya Gio.


“Aku paham kak,” jelas Lampard. “Apakah kakak tahu? Kenapa setiap meeting selalu diadakan di  markas?’ tanya Lampard.

__ADS_1


__ADS_2