
"Ya... Aku akan melakukannya sendiri. Cepat atau lambat aku harus menyingkirkannya semua. Aku tidak mau kejahatanku terbongkar," jawab jawab dengan semangat.
"Singkirkanlah mereka! Aku juga tidak mau mereka terus mengusik keberadaan Exodus di Asia!" perintah Thomas.
John tidak menjawab hanya mengangguk saja. Jujur keadaan John dan keluarganya terancam. Jika mereka mengendus kejahatannya, bisa jadi mereka dapat menyingkirkannya dengan mudah. Apalagi sering melakukan kecurangan-kecurangan terhadap lawan bisnisnya itu. Cepat atau lambat mereka akan memasukkannya ke dalam penjara.
Bagi yang cerah di kota Jakarta. Banyak penduduk kota Jakarta sudah melakukan aktivitasnya masing-masing. Begitu juga dengan Asmoro. Pria itu memakai kaos putih dan celana olahraga. Ia sengaja berlari-lari kecil di taman belakang.
Tak lama datang Stella dan Adelia sambil memakai baju olahraga lengkap. Kedua gadis itu tidak sengaja melihat Asmoro sedang jogging. Jujur saja Sheila terpanah melihat Asmoro sedang berolahraga itu. Ia membuang wajahnya ke sembarang arah. Agar Asmoro tidak melihatnya. Namun tanpa sadar Asmoro sudah berdiri di hadapannya. Kemudian dirinya bertanya, "Apakah luka tembakmu sudah sembuh?"
"Sudah. Aku harus sering-sering menggerakkan tubuhku untuk tidak kaku. Kata Kak Raka jika tubuhku tidak digerakkan kemungkinan besar aku bisa lumpuh secara permanen," jawab Stella yang bingung dengan pertanyaan Asmoro.
"Syukurlah kalau begitu. Bergeraklah pelan-pelan jangan terlalu dipaksa. Jangan berlari-lari kecil sepertiku. Karena kondisi tubuhmu baru pulih," jelas Asmoro tidak sengaja melihat Stella bingung.
"Aku harus memanggilmu apa?" tanya Stella.
"Kamu boleh memanggilnya sayang atau cinta," saran Ian dengan membawa beberapa air mineral untuk Asmoro.
Mata kedua gadis itu membelalak sempurna. Bagaimana bisa Ian memberikan satu saran yang tidak bagus sekali? Stella menggelengkan kepalanya dan mencari jawaban yang tepat.
"Berapa usia kamu sekarang?" tanya Stella secara blak-blakan untuk menentukan panggilan yang tepat.
"Usiaku adalah lima puluh dua tahun," jawab Asmoro dengan jujur.
"Usianya kok sama dengan Tuan Lampard?" tanya Stella yang bingung dengan usia Lampard.
"Apakah itu benar?" tanya Asmoro yang pura-pura lupa dengan nama aslinya sendiri.
"Iya... Tuan Lampard sendiri yang berkata seperti itu. Aku harus memanggilmu apa?" tanya Stella kembali.
__ADS_1
"Panggil saja kak atau apa. Jangan dengarkan Ian berbicara," jawab Asmoro dengan jujur.
"Ya sudah aku panggil kamu kakak saja. Tidak mungkin Aku memanggilmu kakek," ucap Stella.
Asmoro teringat pada ketiga cucunya itu. Dulu dirinya sering dipanggil kakek oleh Scarlett, Edward dan Sean. Namun sekarang dirinya bingung dengan keadaannya sendiri. Jujur Asmoro sangat menyayangi mereka bertiga. Jadi ia harus mencari panggilan yang tepat untuk dirinya ketika bertemu dengan cucunya itu.
"Aku tidak percaya kalau kamu berusia lima puluh dua tahun. Jika kamu mengakui usiamu dua puluh lima tahun kemungkinan besar aku percaya.kalau begitu aku akan memanggilmu kakak saja," ucap Stella sekali lagi yang mendapat anggukan dari Asmoro.
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku terserah kamu saja manggilnya apa. Buatlah dirimu nyaman di sisiku," sahut Asmoro dengan penuh percaya diri.
"Bagaimana kamu tahu jika tulangku terkena tembakan peluru?" tanya Stella.
"Aku diberitahukan kepada Ian. Ian sudah diberi cerita tentang kamu dan kondisimu sebenarnya seperti apa? Katanya kamu akan menikah ya?"
"Kata siapa? Pacar aja nggak punya gimana mau nikah? Kalau nikah harus punya pacar terlebih dahulu."
"Kalau begitu jadilah pacarku. kamu pasti tidak akan menolak dengan pesona dan ketampananku ini."
"Ya itu benar. Jika aku menambahkan diri di depan umum. Semua perempuan akan tergila-gila padaku. Itu yang membuat aku jengkel.makanya aku ingin memiliki seorang kekasih agar perempuan-perempuan itu tidak memandangku seperti orang kelaparan."
"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
"Boleh."
"Kenapa kamu tidak menikah saja? Bukannya menikah itu hanya untuk melindungi dirimu saja? Agar seluruh perempuan-perempuan itu tidak akan mengejarmu lagi. Apalagi jika istrimu sedang hamil. Para perempuan-perempuan itu mundur pelan-pelan dan tidak jadi mengejarmu."
"Ide kamu sangat bagus sekali. Kalau begitu ayo kita menikah saja. Ketimbang harus berpacaran seperti ini."
Mata Stella membelalak sempurna. Bagaimana bisa dirinya terjebak dalam omongannya sendiri. Dengan cepat Stella menggelengkan kepalanya lalu menolaknya secara halus, "Maaf, kita tidak saling mengenal satu sama lain. Bagaimana kita menikah kalau belum mengenal satu sama lain seperti ini. Aku harus mengenalmu terlebih dahulu. dan kamu juga harus mengenalku terlebih dahulu. Supaya kamu tidak kecewa nantinya."
__ADS_1
"Apakah pacaran harus mengenal satu sama lain? Jawabannya tentu tidak. Pacaran itu sama saja dengan menyukai seseorang. Aku harap kamu paham apa maksudku. Aku menikahimu karena ingin mengenalmu lebih dalam. Itulah prinsip pernikahan sesungguhnya buatku sendiri. Kalau pacaran kita bersenang-senang ke sana kemari dan memamerkan hubungan kita ke semua orang. Jika menikah kita akan saling mengenal satu sama lain mulai dari awal pernikahan hingga menutup mata.itulah kenapa aku mengajakmu menikah bukan untuk berpacaran."
"Tapi kamu belum tahu latar belakangku seperti apa?"
"Tinggal sekali sentuh saja di layar ponselku bisa menemukan siapa kamu sebenarnya? Kamu tidak perlu takut dengan aku. Karena aku adalah pria yang penuh dengan cinta. Yang akan memberikanmu kebahagiaan sepanjang hari dan sepanjang masa."
"Aku tidak tahu harus apa lagi. Sementara itu keluargaku terpecah belah."
"Jangan berkata seperti itu. Bukankah kedua orang tuamu akan menyatukan diri dalam ikatan pernikahan kembali? Janganlah kamu takut. Masa lalumu aku sudah mengetahuinya. Biarkanlah orang-orang yang menyerangmu akan mendapatkan kebahagiaan di neraka."
"Lebih baik aku pikirkan terlebih dahulu."
"Tidak. Kamu tidak perlu memikirkannya lebih lanjut. Tiga hari lagi kita akan pergi ke kantor catatan sipil untuk menandatangani berkas-berkas pernikahan. Keesokan harinya kita akan pergi ke gereja untuk mengucapkan janji suci yang indah di altar pernikahan di depan pendeta. Aku harap kamu bisa bahagia bersamaku."
Tanpa sadar pembicaraan mereka didengarkan oleh Adelia dan Hatori bersama Ian. Jujur saja Adelia dan Hatori terkejut mendengarnya. Kenapa tiba-tiba saja Stella mendapat seorang pria yang ingin menikahinya? Apalagi orang itu sangat asing baginya. Bukankah dulu Lampard yang akan menikah? Kenapa berubah menjadi Asmoro?
"Jika kalian ingin menikah maka meminta izin lah kepada orang tuaku. Jangan seperti nanti kalian tidak akan mendapatkan Restu dari mereka," saran Hatori buat Asmoro.
"Kalau begitu baiklah. Kapan Mama dan Papa mau pulang?" tanya Asmoro.
"Malam kemarin mereka sudah sampai di apartemen. Aku belum sempat ke sana karena sangat sibuk sekali dengan pekerjaan," jawab Hatori.
"Pekerjaan apa?" tanya Asmoro.
"Tentang kue kering yang akan diekspor ke Sydney," jawab Hatori. "Aku harus mengecek beberapa dokumen itu terlebih dahulu sebelum diberangkatkan."
"Baguslah. Jika sudah selesai semua taruhlah dokumen itu di meja kerjaku," jawab Asmoro yang memerintahkan Hatori menaruh dokumen tersebut di mejanya.
Hatori semakin bingung dengan Asmoro. Bukankah meja itu adalah milik Lampard. Kenapa Asmoro menyuruhnya menaruh dokumen itu di sana?
__ADS_1
"Jangan bingung seperti itu. Sepertinya kamu harus menaruhnya di sana," ujar Ian.
"Kalau begitu di mana Tuan Lampard berada?" tanya Hatori.