
"Maafkan aku yang mencurigai kamu semenjak kedatanganmu sedari tadi," ucap Alexa.
"Tidak apa-apa nyonya. Aku paham kepada nyonya. Karena akhir-akhir ini saya sering mendengar penculikan anak dengan berbagai modus. Jadi wajar jika anda mencurigai saya," sahut Stella.
"Sepertinya wajahmu sangat familiar ya," celetuk Alexa sambil menatap wajah Stella. "Apakah kita sering bertemu?"
"Sepertinya tidak. Kita dalam kasta yang berbeda," jawab Stella.
"Di sini tidak ada kasta rendah atau tinggi. Aku tidak pernah membeda-bedakan siapa pun itu orangnya. Kalau kamu sudah di sini kami akan menganggapmu keluarga. Apakah kamu lapar?" tanya Alexa. "Aku akan menyuruh pelayan menyajikan makan malam."
"Tidak perlu nyonya. Aku sudah makan malam di rumah sakit. Maafkan aku nyonya jika merepotkanmu," ucap Stella.
"Tidak... Tidak... Itu tidak merepotkan sama sekali. Setelah ini aku akan menyuruh pelayan untuk menyajikan makan malam. Aku tidak mau kamu kelaparan," ujar Alexa.
"Terima kasih banyak nyonya," balas Stella.
"Tidak perlu berterima kasih," kata Alexa sambil tersenyum manis.
Tak lama datang Pelayan yang mendekati Alexa. Lalu Pelayan itu melaporkan kalau kamarnya sudah selesai dibersihkan. Kemudian Alexa meminta agar pelayan itu menyiapkan makan malam untuk Stella.
"Ayo kita pergi ke kamarmu!" ajak Alexa yang pergi terlebih dahulu.
Stella menganggukkan kepalanya dan mengikuti Alexa. Sungguh bahagia hati Stella karena di dunia ini masih ada orang yang baik bahkan dermawan. Sedari dulu Stella mengagumi sosok Alexa seorang wanita yang mempunyai bakat bisnis sejak kecil. Namun Stella baru menemuinya malam ini. Stella berdoa agar keluarga Alexa diberikan keberkahan yang melimpah. Sesampainya di kamar Alexa mempersilahkan Stella masuk.
"Stella," panggil Alexa.
"Iya nyonya," jawab Stella.
"Inilah kamarmu," ucap Alexa yang mempersilahkan Stella masuk ke dalam.
__ADS_1
Stella melangkahkan kakinya dan melihat kamar yang berukuran 4x4 persegi. Ruangannya sangat sederhana hanya ada ranjang, lemari, meja dan kursi. Meskipun sederhana menurut Stella kamar yang akan ditempatinya bisa dikatakan mewah.
"Kalau ada perlu apa-apa jangan sungkan memanggil para pelayan," tutur Alexa dengan lembut.
"Baiklah nyonya. Terima kasih banyak," ujar Stella.
"Ya udah aku pergi dulu," pamit Alexa.
Alexa pergi meninggalkan Stella di kamar itu. Entah kenapa rasa sesak di dalam dada seakan menjalar ke seluruh tubuh. Airmatanya menetes dan hatinya meronta-ronta memanggil papa.
"Papa... Papa... Stella rindu sama papa. Mama telah membuangku ke jalanan hingga terlantar. Aku di dunia ini tidak memiliki siapa-siapa," ucap Stella dalam hati sambil terisak.
Ceklek.
Pintu terbuka.
"Ah... Iya," ucap Stella dengan ramah.
"Saya taruh sini ya," ujar pelayan itu sambil menaruh nampan itu di meja. "Kalau ada perlu panggil saja kami."
"Terima kasih kak," balas Stella dengan tulus.
"Kami permisi dulu," ucap pelayan itu segera meninggalkan Stella.
Stella merasakan lapar yang tidak tertahankan. Lalu Stella mendekati meja dan makan malam dengan tenang. Airmatanya mulai menetes dan mengingat masa-masa kecilnya dulu. Yang di mana papanya sangat memanjakannya. Tidak lupa juga sang papa sering mengingatkan untuk saling berbagi dan berkawan sama siapa saja. Namun Stella merasakan itu hanya sebentar. Papanya mendadak meninggalkan dirinya selamanya. Sang mama mengatakan kalau papanya mempunyai penyakit jantung. Selama Stella bersama sang papa, Stella melihat papanya bergaya hidup sehat. Hingga saat ini Stella mencari penyebab kematian sang papa tersebut.
Di sebuah klub malam Jacob bersama Imron sedang duduk santai. Mereka menikmati hingar bingar musik classic rock. Imron sengaja membuat acara itu karena rindu masa lalunya. Namun setelah diteliti lagi yang bermain adalah para pengawalnya yang lihai memainkan alat-alat musik. Memang Imron tidak mau rugi soal keuangan klub malamnya itu.
Tidak sengaja mata Jacob melihat seorang gadis yang sedang mabuk parah lewat di depannya. Lalu gadis itu tersenyum penuh gairah membuat Jacob bergidik ngeri. Kemudian gadis itu perlahan mendekatinya sambil meliuk-liukkan tubuhnya. Jacob mendorong gadis itu hingga jatuh tersungkur. Setelah jatuh Jacob berlari ketakutan. Jujur saja Jacob sangat anti sekali dengan gadis seperti itu. Meskipun Jacob orangnya sangat ramah. Namun Jacob sungguh sangat ketakutan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian gadis itu bangun dan menggeram. Gadis itu bergumam sambil menatap kepergian Jacob, "Cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku!"
Setelah itu gadis tersebut di panggil oleh pria yang bisa dikatakan om-om. Lalu gadis itu tersenyum dan mendekatinya sambil menyapanya dengan centil, "Hi... Om."
"Hi juga," balas pria itu. "Gimana rencana malam ini?"
"Aku ingin berjalan lancar. Kita akan melakukannya tanpa pengaman. Jika aku hamil nanti. Aku ingin berencana untuk menjebak Stella dan mengumumkannya ke luar. Agar seluruh pemegang saham mendepaknya untuk tidak menjadi ahli waris Kurumi Company," jawab gadis itu dengan senyuman iblisnya.
Pria tua itu menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Lalu pria itu segera mengajak gadis tersebut keluar dari klub malam. Sepanjang perjalanan gadis itu berharap rencananya akan berhasil. Siapakah gadis itu yang mempunyai rencana licik? Apakah gadis itu termasuk dalam keluarganya Stella atau bukan? Apa tujuan sebenarnya gadis itu kepada Stella?
Pagi yang cerah di kota Jakarta. Seluruh penghuni kota Jakarta sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Seperti ibu-ibu sudah berbelanja, anak-anak yang akan pergi ke sekolah. Bahkan bapak-bapak juga sudah bersiap bekerja. Ian yang melihat aktivitas kota dari rooftop apartemen Lampard. Entah kenapa pikiran Ian ingin membuat pabrik S&T di tengah-tengah masyarakat. Tak lama Lampard keluar dengan setelan jas mahalnya. Setelah itu Lampard menaruh tas laptopnya dan melihat Ian.
"Jam berapa berangkat?" tanya Lampard.
"Dua puluh menit lagi heli akan mendarat," jawab Ian.
"Pakai heli?" tanya Lampard.
"Kita terpaksa melakukannya. Aku sudah meminjam heli milik Kak Gio. Kamu tahu kan pagi ini Jakarta super sibuk. Rasanya kita berangkat dari apartemen ke bandara bisa terlambat," jawab Ian. "Kak... Apakah kita akan membuka pabrik baru di kawasan Jakarta?"
"Buat apa kita membuatnya?" tanya Lampard.
"Buat mengurangi jumlah pengangguran," jawab Ian. "Nanti kita buat bubur kering dalam kemasan atau permen atau minuman."
"Hmmp... Ide kamu bagus juga. Sebaiknya kita akan membicarakan ini dengan para pemegang saham di meeting selanjutnya," usul Lampard.
"Apakah kakak tidak tertarik mendirikan apartemen dan hotel di Jakarta atau kota lain di Indonesia?" tanya Ian.
"Tidak tertarik. Kamu tahu kalau aku sudah memiliki banyak hotel dan apartemen hampir seluruh di negara-negara Amerika. Menurutku itu sudah banyak sekali," jawab Lampard. "Jika aku membangunnya lagi buat apa? Aku berencana ingin memperbesar S&T Company. Membuat banyak pabrik di kota-kota besar di Indonesia. Aku ingin berencana membuat berbagai macam produk. Kita bisa menjual ke berbagai kalangan dari ekonomi kelas bawah hingga atas. Setelah ini aku akan membidik kota Bandar Lampung dan juga Samarinda. Selanjutnya Jakarta... Ya kalau bisa ketiga-tiganya untuk membangun tiga pabrik sekaligus," jawab Lampard. "Kapan ada waktu luang buatku? Aku ingin mencoba senjata airsoft gun buatan Mr. Wu."
__ADS_1