Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Merebut Kembali.


__ADS_3

“Iya kakak benar,” jawab Ian. “Apakah aku harus mencari informasi tentang mereka?”


“Tidak perlu,” jawab Asmoro.


“Kenapa kakak tidak melacaknya?” tanya Ian yang mengerutkan keningnya.


“Jangan dulu. Biarkan saja mereka menyerang tipis-tipis,” jawab Asmoro.


“Kakak ini sangat lucu sekali. Bagaimana bisa melepaskan masalah ini dengan santai?” tanya Ian yang belok ke kiri lalu menancapkan gasnya menuju ke pabrik S&T dengan kecepatan rata-rata.


“Jangan terlalu gegabah. Aku ingin semuanya menikmati perdamaian dengan indah,” jawab Asmoro yang tersenyum smirk.


Di pinggiran kota Patty dan Tutik sangat kesal sekali. Bagaimana bisa mereka menikmati hidup miskin seperti ini? Sering sekali mereka berteriak seperti orang gila. Terkadang mereka juga saling menyalahkan satu sama lain. Pokoknya mereka membuat kegaduhan. Yang di mana kegaduhan itu membuat para warga tidak mempedulikan.


“Kita harus bagaimana?” tanya Tutik yang mulai bosan.


“Jalan satu-satunya kita akan pergi ke Pak Feri. Kita bisa meminta bantuan kepadanya,” jawab Patty yang tiba-tiba saja menemukan sebuah ide.


“Ngapain kita ke sana?” tanya Tutik.


“Masa Mama enggak paham sih?” tanya Patty yang membuat Tutik penasaran.

__ADS_1


“Mama enggak paham. Lalu apa maksud kamu?” tanya Tutik yang sudah malas dengan apa yang dipikirkan oleh Patty.


“Bukankah Pak Feri adalah orang bisa diajak kerja sama?”


“Kerja sama apalagi?”


“Masa Mama enggak tahu apa maksud aku? Mama sangat payah sekali.”


“Jelaskan secara detail! Jangan aku bicara bertele-tele seperti itu!”


“Baiklah aku jelaskan apa maksud aku. Begini... kita suruh Pak Feri untuk menerbitkan surat kepemilikan Kurumi Company atas nama kita. Setelah itu kita bisa merebutnya kembali dari tangan papa.”


“Ya... siapa tahu papa setelah ini sadar dari kesalahannya. Aku tahu papa orangnya saat itu sedang khilaf.”


“Kamu bodoh ya! Jangan sekali-sekali kamu memanggil John papa! Dialah orang yang bodoh! Ditambah lagi sampai sekarang kita tidak bisa merebut Kurumi.”


Mendengar nama Kurumi, Patty sangat terkejut sekali. Seharusnya dirinya tidak bisa mau memanggil papa. Semenjak kejadian kemarin, Patty sangat kesal sekali. Ia teringat dengan pengakuan John. Laku Patty mulai bertanya siapa sebenarnya, “Siapakah ayahku sebenarnya? Sedari dulu aku tidak mirip sama papa?”


“Papamu bukan John. Dia adalah seorang karyawan dari bengkel kecil. Entah tidak tahu itu bengkel masih ada apa tidak. Aku rasa bengkel itu sudah tidak ada. Aku tidur bersama salah karyawan di sana. Hingga melakukan hubungan terlarang. Aku sudah melakukannya berkali-kali. Hingga jadi kamu. Seharusnya kamu tinggal sama ayah biologismu. Tapi aku tidak tega melepaskanmu.”


“Kenapa Mama tidak melepaskanku bersama ayah kandungku?”

__ADS_1


“Kamu ini bodoh atau apa sih? Bisa-bisanya aku melepaskanmu begitu saja. Dengan kehadiran dirimu, aku bisa merebut Kurumi dari Anita dan juga Agatha.”


“Oh... Jadi itu rupanya. Jika Stella berusia dua puluh lima tahun. Berarti usiaku berapa? Jangan-jangan usiaku sama dengan Stella.”


“Memang usiamu sama dengan Stella. Bahkan saat Anita hamil. Aku juga hamil. Aku memang sengaja menyembunyikan kehamilanku itu. Agar seluruh orang tidak tahu kalau aku mengandung.”


“Ada benarnya juga mama. Karena usiaku dipotong tiga tahun. Mereka menganggapku adiknya Stella. Jadi itu alasannya?”


“Memang alasannya seperti itu. Apakah kamu paham sekarang?”


“Mama sangat pandai sekali dalam hal mengurangi umur. Terima kasih ma. Kalau nggak begitu. Aku tidak bakalan seperti ini.”


“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”


“Merebut kembali Kurumi Company. Cepat atau lambat kita harus mendapatkannya dan menguras seluruh aset milik Stella. Jujur selama ini aku ingin mencicipi kursi CEO itu. Bagaimana rasanya duduk di sana dan menyuruh orang lain untuk mengerjakan semua tugas-tugasku?”


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2