Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Pulang Ke Markas.


__ADS_3

“Nona, bisa nggak nona tidak mengeluarkan suara sensual itu?” tanya Leon.


Patty pun tertawa kecil. Dirinya tidak menyangka kalau Leon sangat takut. Baru kali ini ia bertemu dengan seorang pria menolak suara sensualnya itu. Patty mendekatinya sambil memeluk tubuhnya. Aroma maskulin mulai menguar di hidungnya. Wanita itu langsung merasakan sensasi yang tidak pernah didapatkan. Ia akhirnya tergila-gila kepada Leon.


“Kamu sangat seksi sekali,” bisik Patty di telinga Leon.


Dengan cepat Leon melepas peti dari tubuhnya. Iya tidak menyangka kalau wanita itu sangat agresif sekali. Meskipun dirinya sudah menikah, ia bisa menilai wanita dengan kode-kode yang aneh seperti itu.


Patty segera melepaskan Leon lalu menatap wajah pria itu dengan rasa membuncah. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pria yang memiliki tubuh bagus itu. Meskipun tubuh Leon dibalut pakaian formal, akan tetapi Patty bisa menilai dan merasakan tubuh tersebut.


“Meskipun Kamu memakai baju seperti ini, aku bisa merasakan kalau tubuhmu itu sangat seksi. Bisakah kamu mengajakku ke ranjang?” tanya Patty.


“Maaf nona... Saya sudah menikah dan memiliki dua orang putra. Tolong jangan ganggu saya,” ucap Leon secara jujur.


“Kenapa? Tiba-tiba saja kau menolakku? Kamu nggak tahu siapa aku? Banyak pria yang menginginkan aku untuk menjadi teman tidurnya semalam. Bahkan pria itu sudah memiliki istri dan anak. Kamu itu jangan bodoh menjadi pria. Mari kita merasakan sensasi yang aku berikan. Aku yakin istrimu itu tidak bisa memberikan sensasi yang kau dapatkan dariku,” ucap Patty.


“Maaf nona. Aku lebih menyayangi istriku dan mencintainya sepenuh hati. Karena istriku adalah bidadari terindah yang diberikan oleh Tuhan. Aku tidak mau menyakitinya maupun selingkuh. Jika anda mau Pria sepertiku maka aku berikan. Apakah Nona mengerti maksud saya?” tanya Leon.


Patty langsung terdiam dan tidak berkata apa-apa. Ila sudah kehabisan akal untuk merayu Leon. Jujur ia sangat menyukai Leon. Meski Leon sudah memiliki istri, tapi Patty sangat menyukainya. Cepat atau lambat wanita itu akan membuat rencana. Ia akan menghancurkan keluarga Leon lalu merebut pria itu.


“Awas aja kamu Leon! Aku akan merusak rumah tanggamu! Cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku selamanya!” batin Patty dengan geram.


“Kalau begitu duduklah terlebih dahulu. Kita akan membicarakan harga agar aku dan kamu mendapatkan keuntungan,” suruh Leon yang masih menahan diri agar tidak menjadi emosi.


Patty akhirnya menuruti apa keinginan Leon. Leon akhirnya duduk di hadapan Patty sambil memberikan surat kontrak. Dengan cepat Patty menandatanganinya tanpa harus membaca. Surat kontrak tersebut sudah dilegalkan oleh pengacara Martin. Tanpa disadarinya, Patty sudah masuk ke dalam jebakan.

__ADS_1


Selesai menandatangani surat itu dengan bayaran tiga miliar, Leon menyuruh Helena untuk mengantarkan Patty ke ruangan ganti. Kemudian Leon mengirimkan pesannya sambil tersenyum.


Malam semakin larut pembicaraan tentang ahli waris Kurumi selesai. Lambat segera memutuskan kembali ke markas. Ia ingin mengunjungi Stella dan melihat gadis itu apakah sudah sadar? Lalu Rinto yang masih berada di klub mengantarkan Lampard.


Markas Black Horizon.


Stella yang selesai mengisi perutnya kembali berbaring miring. Ia tidak nyaman dengan punggungnya itu. Ingin rasanya Stella menangis tersedu-sedu. Namun dirinya mengurungkan niatnya itu. Jujur Stella mengakui kalau matanya bengkak. Ia sangat membenci matanya itu. Akhirnya Stella memutuskan untuk diam.


“Tuhan... Aku terima kasih padamu. Berulang-ulang kali aku lolos dari maut. Entah kenapa diriku ini menjadi sasaran keluargaku sendiri. Aku bingung, mereka itu siapa aku? Hampir setiap hari mereka selalu mencelakaiku. Tapi Tuhan... Kalau boleh memilih izinkan aku pergi dari dunia ini. Aku melepaskan semua yang kumiliki,” ucap Stella dalam doa.


Tanpa disadarinya, Stella teringat mimpinya pada waktu belum sadar. Ia mengingat sosok pria di sebuah taman. Lalu ia juga mengingat Adelia. Kemudian setelah bertanya-tanya dalam hati, Kenapa dirinya sangat mirip dengan Adelia dan pria itu?


“Siapa pria itu? Wajahnya sangat mirip sekali dengan diriku. Apalagi Adelia, banyak yang mengira aku adalah saudaranya. Entah kenapa feelingkuh mengatakan kalau mereka adalah saudaraku? Jika saudaraku mengapa kami terpisah seperti ini?” batin Stella dalam hati.


Lampard yang sudah sampai di markas langsung melihat keadaan sekitarnya. Ia mulai waspada mulai menyelidiki setiap sudut hutan itu. Setelah dirasa aman, Lampard masuk ke dalam. Kemudian ia melihat beberapa pengawal sedang menikmati kopi.


“Kenapa Stella berada di kamarku?” tanya Lampard dalam hati.


Lampard bergegas mencari Raka di lantai atas. Ia sangat kesal sekali terhadap Raka. Bisa-bisanya Stella dirawat di dalam kamarnya itu. Ingin rasanya Lampard menghabisi Raka saat ini juga.


Tak sengaja lempar berpapasan dengan Ibra. Matanya menyala sambil meminta pertanggungjawaban atas Stella.


“Apakah kamu menaruh Stella di dalam kamarku?” tanya Lampard dengan serius.


“Sepertinya sih nggak?” jawab Ibra dengan ragu.

__ADS_1


“Kok kamu jawabnya ragu seperti itu?” tanya Lampard menyelidik.


“Aku nggak ragu. Aku nggak tahu kenapa Stella masuk dalam kamarmu? Saat Stella dipindahkan, aku tidak ikut. Aku ada meeting mendadak dengan para dokter. Setelah itu aku memutuskan ke sini untuk melihat perkembangan Stella,” jawab Ibra.


“Tapi kenapa Stella di dalam kamarku? Bukannya di sini banyak kamar?” tanya Lampard dengan serius.


“Kalau begitu tanyalah pada Raka. Karena Raka adalah ketua tim Dokter Stella. Maaf, kali ini aku tidak menjadi ketua tim dokter. Karena harus mengurusi rumah sakit terlebih dahulu,” ucap Ibra.


Lampard hanya menghembuskan nafasnya karena mendengar jawaban Ibra. Ketika ia menyelidikinya, Lampard tidak menemukan suatu kebohongan di dalam Ibra. Memang betul saat pemindahan Stella, Ibra tidak ikut bersamanya. Ibra sedang mengurusi rumah sakit tersebut.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Lampard memutuskan berdiri di ambang pintu. Matanya sedang mencari keberadaan Raka. Namun sosok yang dicarinya pun tidak ada. Hanya ruangan kosong dijumpainya.


“Ke mana Raka?” tanya Lampard.


“Sepertinya Raka berada di gudang senjata,” jawab Ibra. “Raka pernah bilang kalau dirinya Sudah lama tidak berlatih.”


Lampard tidak menyahuti pernyataan dari Ibra. Dirinya memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Ia kembali ke kamarnya dengan hati kacau. Sesampainya di dalam kamar, Lampard membuka jaketnya itu. Ia tak sengaja melemparkan ke arah Stella. Hingga setelah terkejut dan berteriak, “Apa yang kamu lakukan!”


Tempat yang mendengar suara Stella juga terkejut. Dirinya langsung menatap wajah Stella. Ia menatap tajam ke wajah Stella. Dengan suara beratnya, Lampard berteriak, “Apa yang kamu lakukan di dalam kamarku?”


Sontak saja Stella terkejut dengan pertanyaan Lampard. Ia menangkap wajah pria tua itu sambil menghela nafasnya. Jujur dirinya tidak tahu kalau tidur di kamar ini.

__ADS_1


“Apa maksud tuan?” tanya Stella ketakutan.


__ADS_2