Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Aku Bapakmu!


__ADS_3

Stella menarik nafasnya sambil membuangnya secara pelan. Ia menghapus air matanya sambil menatap wajah Scarlett dan Edward lagi. Stella merasakan kebahagiaan yang belum pernah dirasakannya, ketika melihat malaikat kecil itu tertidur.


"Aku enggak boleh bersedih terus. Aku harus menjadi wanita kuat dan tangguh. Cepat atau lambat aku akan menikah dan memiliki anak-anak. Jika aku bersedih terus, bagaimana bisa merawat mereka?" tanya Stella dalam hati.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Sean yang baru saja sampai dari sekolah langsung menemui Stella. Sean segera berlari mendekati gadis cantik itu sambil merentangkan kedua tangannya, "Kakak!"


Sontak saja Stella yang sedang membatin itu terkejut. Stella menengok ke belakang lalu melihat Sean. Dengan senyum ramahnya Stella berdiri sambil merentangkan kedua tangannya, "Hey.. Sean.''


Stella berlutut lalu Sean berlari. Sean menabrak Stella hingga jatuh terlentang. Sean menciumi pipi Stella dan berkata, "Kakak sangat cantik sekali.''


Sementara Alexa yang baru saja masuk tak sengaja mendengar kata cantik dari mulut mungil Sean. Bagaimana tidak anak sekecil itu tahu wanita cantik? Darimana Sean tahu kata-kata cantik? Alexa sampai meringis karena ulah Sean.


"Sean,'' panggil Alexa.


"Ah... Iya... disini ada mama rupanya. Kok Sean baru sadar ya,'' ucap Sean sambil bangun. "Maaf ya calon nenek Sean.''


Gubrak!


Alexa semakin bingung apa yang dikatakan oleh Sean. Alexa menggelengkan kepalanya karena ulah sang putra. Ya... sang putra memang sangat konyol. Haruskah Alexa berteriak dan memanggil Martin untuk pulang? Ya... Alexa harus melakukannya.


Stella yang melihat Sean sedari tadi hanya tersenyum. Jujur saja Stella sangat terhibur sekali karena ulah Sean. Bahkan Stella mulai menahan tawanya. Melihat Stella yang sedang menahan tawanya, entah kenapa Alexa tersenyum simpul. Bahkan Alexa juga ikutan menahan tawanya.


"Sepertinya kakak Stella yang cantik ingin tertawa,'' celetuk Sean.


"Kamu sangat lucu sekali Sean,'' puji Stella.


"Kata siapa aku lucu. Kata mama aku pria yang menyebalkan. Bahkan sangking menyebalkan aku sering dihukum,'' ujar Sean yang membuang mukanya ke bawah agar Alexa tidak melihatnya.


Kedua wanita itu langsung tertawa terbahak-bahak mendengar curhatan Sean. Hingga mereka lupa kalau si kembar masih tidur. Tak lama Scar dan Ed terbangun dari tidurnya. Sambil mengucek-ngucek matanya, Scar melihat Stella tertawa terbahak-bahak. Akhirnya Scar turun dari ranjangnya dan mendekati Stella.


"Kakak,'' panggil Scar dengan imut.


Stella menghentikan tawanya lalu melihat wajah Scar yang imut. Stella meraih tubuh mungil Scar kemudian memeluknya.

__ADS_1


"Maafkan Sean ya,'' ucap Alexa.


"Tidak apa kak,'' ujar Stella. "Sean memang lucu sekali.''


"Sean memang lucu dan konyol seperti bapaknya,'' kata Alexa.


"Memangnya siapa bapakku ma?" tanya Sean yang meledek Alexa.


"Aku adalah bapakmu, Sean!" geram Martin yang baru saja datang.


"Apakah itu benar?'' tanya Sean yang mengejek Martin.


Martin hanya mengusap wajahnya. Martin tidak menyangka kalau sang putra melupakannya.


"Oh... jadi kamu lupa siapa bapakmu! Oke... selama sebulan ke depan papa bilangin ke kakekmu tidak usah transfer ke ATM kamu!" geram Martin yang pergi meninggalkan kamar si kembar.


"Huaha... papa jahat!" teriak Sean sambil berpura-pura menangis.


Alexa mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. Lalu Alexa pergi meninggalkan mereka.


"Ma,'' panggil Sean yang berdiri sambil mengejar Alexa. "Bantuin Sean!"


Mata Stella membulat sempurna mendengar kata drama dari Ed. Stella tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh anak-anak Alexa. Mungkin pikirnya mereka mengenal kata-kata itu dari teman-temannya. Namun Stella menyadarinya kalau mereka jarang sekali keluar rumah.


"Scar," panggil Stella.


"Iya kak,'' sahut Scar sambil mendongakkan kepalanya melihat Stella.


"Darimana kalian tahu istilah drama seperti itu? Yang kakak tahu kalian jarang sekali keluar dari mansion ini,'' tanya Stella.


"Kami diajari oleh Paman Ian, Paman Jacob, Paman Imron dan Paman Roth. Jadi kami mencontoh deh kata-kata mereka,'' jawab Scar dengan polos.


Stella hanya manggut-manggut saja apa yang dikatakan oleh Scar. Lalu Stella tidak tahu siapa mereka. Stella tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh mereka.


"Masih jam dua. Apakah kalian tidak tidur lagi?" tanya Stella.


"Apakah kakak menemani kami tidur siang?" tanya Ed dengan sendu.

__ADS_1


"Baiklah... kita akan tidur bersama!" ajak Stella.


Tepat jam empat sore. Jet pribadi milik Lampard telah mendarat sempurna di bandara Soekarno-Hatta. Mereka segera turun dan menuju ke jalur VVIP. Lampard dengan langkah tegasnya meminta Ian menyuruhnya ke kantor sebentar. Ian pun menyanggupinya dan meminta sang sopir stand by di pintu keluar.


Setelah keluar dari bandara Ian merasakan ada yang tidak beres. Ian membukakan pintu untuk Lampard lalu matanya berkeliling di area parkir. Jujur saja Ian sangat terkejut apa yang dilihatnya itu. Ian segera menutup pintu mobil lalu beralih ke kursi penumpang di depan. Ian membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.


"Ada apa kak?" tanya Rinto yang menyalakan mobilnya.


Lampard yang sibuk mengecek email dari Martin merasakan Ian sangat aneh. Lampard hanya memandang ponselnya dan tidak bertanya.


"Apakah kamu membawa pengawal?'' tanya Ian.


"Untuk saat ini tidak. Mereka sedang sibuk latihan,'' jawab Rinto.


"Lalu, kenapa banyak sekali orang-orang yang memakai baju serba hitam di jalur VVIP?" tanya Ian.


"Nah... itu kak... aku sudah curiga ketika datang. Aku tidak keluar dari mobil sama sekali. Jarak antara kemunculan mereka dan kakak hanya lima menit. Mereka datang terlebih dahulu. Aku juga memperhatikan mereka sepertinya bukan orang Indonesia melainkan orang luar. Lalu untuk apa mereka datang ya?'' tanya Rinto yang kembali bertanya.


Lampard mengerutkan keningnya sambil memandang mereka di dalam mobil. Ketika Rinto ingin menancapkan gasnya, Lampard menyuruhnya stay di sini. Lampard dan Ian memperhatikan mereka dengan seksama. Lalu tidak sengaja ada seorang pria paruh baya memakai pakaian formal berwarna putih. Lampard memperhatikan gerak-geriknya sambil memanggil Ian dengan tegas.


"Ian,'' panggil Lampard.


"Apa kak?" tanya Ian yang menoleh ke belakang.


"Coba perhatikan pria yang memakai baju putih. Apakah dia adalah John Smith?" tanya Lampard.


Ian dan Rinto memandang pria itu kembali. Matanya membulat sempurna dan tersenyum manis. Entah kenapa mereka menaruh curiga terhadap pria tadi. Ya... mereka mengenalnya. Dia adalah John Smith. Kemudian mereka menaruh curiga terhadap John. Kenapa John menyambut mereka dengan hangat? Lalu mereka siapa? Ketimbang di sana terus Lampard memintanya Rinto jalan.


Taurus Corps.


Gio yang selesai menandatangani tugas-tugasnya terkejut akan kedatangan Jacob. Gio memandang wajah Jacob yang menurutnya aneh. Gio langsung mengeluarkan suaranya sambil bertanya, "Ada apa?"


"Apakah Kak Lampard akan pulang sekarang?" tanya Jacob.


"Sepertinya sih,'' jawab Gio. "Ada apa?''


"Kak... apakah kakak pernah berteman dengan Mr. Agatha Kanagawa?" tanya Jacob.

__ADS_1


"Agatha Kanagawa?'' pekik Gio yang menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


"Apakah kakak mengenalnya?'' tanya Jacob yang penasaran.


__ADS_2