Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Prinsip Stella.


__ADS_3

Apa yang dikatakan oleh Stella itu benar. Wanita mana yang mau disakiti dan dikhianati seperti itu. Kalau ada Wanita itu sangat bodoh sekali. Sejelek-jeleknya wanita tidak ada yang mau dikhianati seperti itu.


Anita dan Adelia mengacungkan jempolnya tanda setuju. Mereka juga mengerti perasaan Stella. Apalagi Asmoro sekarang sangat tampan bak pangeran nan rupawan.


Di sisi lain Stella memiliki wajah cantik dan rupawan. Kulitnya yang putih seperti susu membuat Stella menjadi wanita yang sempurna. 


"Taraaaa!" teriak Anita yang membuat kedua putrinya terkejut. 


"Mama," pekik mereka dengan serempak. 


"Ada apa?' tanya Anita sambil menaruh puding buah di meja. 


"Yummy," seru Stella. "Sepertinya enak ini?" 


"Ada satu lagi," ucap Adelia yang menaruh puding di dalam kulkas. 


"Ya sudah deh... kita bawa ke depan. Mereka sepertinya sangat merindukan kalian," celetuk Anita sambil membawa puding itu. 


"Biarkan aku yang membawa puding itu ma," pinta Stella. 


"Biar Mama saja. Jika kamu membawa puding itu. Mereka akan menyerbu. Mama yakin mereka sangat ingin memelukmu," ujar Anita yang berjalan duluan. 


Stella dan Adelia terpaksa berjalan di  belakang Anita sambil membawa piring kecil dan juga garpu.


Sesampainya di sana, Anita menaruh puding itu di atas meja. Adelia dan juga Stella juga menaruh peralatan makanannya di samping puding tersebut. 


Tak lama Adelia dan Stella tersenyum mereka bertiga sedang anteng. Mereka sedang bermain bersama Agatha. Yang lebih lucunya lagi, mereka sering berkata absurd. 


"Stella," panggil Asmoro. 


"Ada apa kak?" tanya Stella. 


"Apakah kamu nanti sore ada acara?" tanya Asmoro sambil melihat Stella yang sedang menatap Stella yang bermain tebak-tebakan bersama Agatha. 


"Tidak. Aku tidak kemana-mana. Aku jasanya ingin menunggu kamu pulang ke rumah," jawab Stella. 


Tak lama Alexa masuk ke dalam dan tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Stella. Alexa mendekati Stella lalu mendekatinya, "Kamu ngomong apa? Menunggu siapa tadi?" 


"Menungguku," sahut Asmoro. 


Mata Alexa membulat sempurna. Ia menatap Asmoro sambil mengerutkan keningnya, "Tumben... papa meminta Stella menunggunya." 


"Memangnya enggak boleh apa? Lagian juga Stella adalah neneknya Sean, Scarlett dan Edward," ucap Asmoro yang membuat Alexa terkejut. 

__ADS_1


"Apakah kakek serius? Kalau Kak Stella adalah nenek kamu?" tanya Edward dengan senyum merekah.


"Ya... memang... Sekarang Kak Stella adalah nenekmu," jawab Asmoro. 


Senyum ceria menghiasi wajah kedua pria kecil dan satu gadis kecil mungil itu. Tidak pernah mereka duga. Mereka bahagia karena memiliki nenek baru. Mereka akhirnya menyerbu Stella. 


Dengan cepat Stella berlutut sambil merentangkan kedua tangannya. Lalu mereka akhirnya mereka memeluk Stella dengan bahagia. 


Tidak kuat menahan beban, Stella akhirnya jatuh. Namun di belakang Stella adalah tembok. 


Melihat Stella terjatuh seperti itu, mereka tertawa terbahak-bahak. Jujur peristiwa ini sangat lucu sekali. Bahkan mereka bilang peristiwa ini sangat langka sekali. 


"Sepertinya Stella sudah siap memiliki seorang anak?" celetuk Anita yang matanya melihat Agatha. 


Agatha tersenyum lebar dan menganggukan kepalanya. Ia merasa bahagia bisa berkumpul dengan semuanya. walau di sana ada di kembar, Sean dan Alexa. Mulai saat ini Agatha menganggap mereka sebagai keluarga besarnya. 


Sejam berlalu, mereka masih saja bercanda. Agatha mulai mengerjakan pekerjaannya di S&T maupun Ayashi Groups. Tidak lupa juga ia sesekali ikut nimbrung. 


S&T Company. 


Hatori yang sedang sibuk dengan pekerjaannya dikejutkan oleh kedatangan kedua pria yang memakai baju santai. Ia mengetuk meja sambil melihat pekerjaan Hatori. 


Sontak saja Hatori sangat kaget sekali. Ia segera mengangkat kepalanya sambil berkata, "Kak Jacob dan Kak Imron."


"Aku baik-baik saja kak," jawab Hatori. "Kakak di sini ngapain?" 


"Mau nyari bosmu itu," jawab Jacob sambil menatap ke sekeliling ruangan.


"Sepertinya Pak Bos sedang berada bersama istrinya di dalam kamar," jawab Hatori. 


 


Mereka sangat terkejut dengan pernyataan Hatori. Mereka menatap langsung ke arah Hatori.


"Ada apa memangnya?" tanya Hatori. "Apakah aku salah mengucapkan seperti itu?" 


"Kami sangat terkejut dengan pernyataan kamu. Apakah yang kamu katakan itu benar?" tanya Jacob balik. 


"Semuanya itu benar. Pak bos berada di kamar apartemen yang bersama sang istri," jawab Hatori. 


"Kapan nikahnya?" tanya Imron sangat penasaran sekali dengan Asmoro. 


"Kemarin nikahnya. Tapi sayangnya pas waktu pernikahan itu tidak dibesar-besarkan. Hanya masuk ke dalam catatan sipil saja," jawab Hatori dengan jujur. 

__ADS_1


"Ini adalah kabar gembira. Ternyata pak bos mengalami perubahan yang signifikan," puji Imron. 


"Kamu bener. Kapan lagi Kak Asmoro mendapatkan jodoh yang begitu mendadak dan langsung diajak nikah?" tanya Imron sambil menatap wajah Hatori yang mulai menahan tawa. 


"Seenggaknya ada yang menjaga di hari tua nanti. Sebab Pak Asmoro sudah mulai tua," jawab Jacob yang melihat Hatori menahan tawa. 


"Kamu kenapa? Sepertinya kamu ingin meledakkan tawamu di sini," tanya Imron yang penasaran sekali dengan Hatori. 


"Kamu nggak tanya siapa istrinya? Apakah kalian tidak ingin berkenalan?" tanya Hatori. 


"Eh iya... Memangnya siapa istrinya? Secara kita nggak pernah tahu siapa kekasihnya Kak Asmoro?" tanya Imron. 


"Dia adalah adikku sendiri," jawab Hatori. 


Hampir saja jantung mereka melompat dari tempatnya. Lalu mereka saling menatap. Mereka menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya akan hal ini. 


"Aku nggak percaya kalau Kak Asmoro menikahi Adelia," ucap Imron. 


Hatori akhirnya meledakkan tawanya. Bisa-bisanya Imron mengatakan kalau sang bos menikahi Adelia? Ia sengaja tidak ingin berbicara apapun. Jujur ada sifat jahil di dalam hati Hatori. Sifat jahil itu adalah suka mengerjai orang-orang di sekitarnya. 


"Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau Kak Asmoro menikahi Adelia. Dengan siapa Ian nantinya? Kasihan juga itu Ian. Tiba-tiba saja dikhianati oleh bosnya sendiri," ujar Jacob. 


Jam menunjukkan pukul 04.00 sore. Jacob dan Imron memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang mereka berpamitan terlebih dahulu.


"Kita nggak bisa lanjut ngobrolnya. Sebenarnya aku ke sini hanya untuk mengamankan sistem keamanan saja. Berhubung Kak Asmoro nggak ada di sini. Maka aku memutuskan untuk kembali," pamit Imron.


"Apakah kamu mau ikut dengan kami?" Tanya Jacob yang memberikan tumpangan kepada Hatori. 


"Aku akan naik busway saja. Sampai sana langsung tepat berada di depan apartemen," jawab Hatori. 


"Kalau begitu ya sudahlah. Jangan pulang kemalaman. Malam-malam biasanya tidak aman sama sekali," pesan Jacob yang peduli dengan Hatori. 


"Baiklah," balas Hatori. 


Setelah menemui sang sekretaris Asmoro, Imron dan Jacob saling menatap satu sama lain. Mereka teringat akan jam macet. Imron menganggukkan kepalanya sambil menuju ke Hatori. 


"Hatori," panggil Imron.


"Ada apa lagi? Aku sangka kalian sudah jauh dari sini," tanya Hatori.


"Kita kesini tidak ingat waktu. Perjalanan menuju apartemen sangat macet. Aku harap kamu ikut dengan kami. Agar kami ada teman yang mengobrol," pinta Imron.


"Maksud kamu apa?" Tanya Hatori.

__ADS_1


__ADS_2