
“Maksud
kamu apa?” tanya Gio.
“Maksud
aku pas berangkat ke sini, apakah kakak melihat ada seseorang yang mengikuti
kakak?” tanya Ian.
“Entahlah,”
jawab Gio. “Memangnya ada penyusup?”
“Ada.
Ketika kami sedang mengobrol ada yang mengintai kita,” jawab Ian yang membuat
Lampard terkejut.
“Apakah
itu benar?” tanya Lampard.
“Iya,”
jawab Ian.
“Di mana
sekarang?” tanya Lampard.
“Dia
berada di ruangan bawah tanah,” jawab Ian.
“Sepertinya
kita mendapatkan masalah baru. Cepat atau lambat mereka akan menyerang markas,”
ujar Lampard dengan tenang.
“Kamu
kok tenang gitu sih?” tanya Gio yang mengerutkan keningnya.
“Lalu
aku harus bagaimana? Bukannya kita sering mendapatkan serangan demi serangan
dari pihak lawan?” tanya Lampard balik.
“Pikirkan
calon istri kamu itu,” jawab Gio yang membuat Lampard menggelengkan kepalanya.
“Lalu?”
tanya Lampard.
“Dasar
adik sialan! Bukannya kamu melindungi malah membiarkan saja,” kesal Gio yang
membuat Lampard tersenyum tengil.
“Tolong
ya... kakak lindungi Stella,” pinta Lampard sambil menatap Gio yang mulai
geram.
“Maksudnya
gimana? Kok gue disuruh melindungi Stella?” tanya Gio yang mulai berapi-api.
“Berulah
lagi devh si bos,” ledek Ian.
“Kamu
betah kerja sama bos dengan potongan seperti ini?” tanya Gio.
“Terpaksa
aku memiliki bos seperti ini,” jawab Ian beranjak berdiri lalu melangkahkan
kakinya.
“Aku
tidak akan mengucurkan bonus bulan ini. Aku tangguhkan sepuluh tahun kemudian!”
teriak Lampard dengan serius.
Mendengar
kata bonus yang akan ditangguhkan, Ian langsung menoleh sambil melihat Gio.
Lalu Ian tersenyum manis dan memberikan kode agar Gio menolongnya. Gio
mengangkat kedua tangannya yang berarti dirinya tidak mau ikut campur.
“Aku
tidak mau ikut campur soal ini. Lebih baik kamu tunggu bonus hingga sepuluh
tahun ke depan,” jawab Gio yang menahan tawanya sambil melihat Ian sedang
kesusahan.
“Enggak
jadi nikah dech gue,” keluh Ian.
“Gampang...
tunggu sepuluh tahun lagi,” ejek Lampard yang beranjak berdiri.
“Cepat atau
__ADS_1
lambat Adelia akan mencari yang baru karena kelamaan menungguku,” ucap Ian
dengan lemah.
Kedua
pria itu hanya bisa menahan tawanya karena melihat Ian yang menderita.
Sebenarnya kalimat yang dilontarkan Lampard hanya candaan recehnya. Ia tidak
akan membuat sang asisten merasa kesusahan. Bahkan ketika sang asisten izin
menikah, Lampardlah orang yang pertama kali memdukungnya. Ia juga mempersiapkan
dana untuk pernikahan sang asisten tersebut. Bisa dikatakan kalau Lamard adalah
sang bos loyal.
“Kakak,”
seru Leon yang baru saja datang dan membawa sebuah chip di tangannya.
“Ada
apa?” tanya Ian.
“Penyusup
itu memakai sebuah chip yang ditanamkan di rambutnya,” jawab Leon.
“Apa?”
teriak Lampard.
“Ini
masalah gawat kak. Bisa dipastikan mereka akan menyerang markas ini dengan
cepat,” jawab Leon yang mengira-ngira akan terjadi serangan.
“Siapkan
seluruh pasukan untuk mengantisipasi kedatangan musuh. Kita harus bergerak
dengan silent!” perintah Lampard.
“Baik
kak,” sahut Leon yang menyodorkan chip itu ke Ian.
Ian
mengambil chi itu lalu melihatnya. Ia terkejut dengan bentuk chip tersebut.
Beberapa bulan yang lalu Ian pernah melihat chi itu di sebuah artikel. Ia
memastikan chip ini hanya digunakan dalam bidang medis. Yang di mana chip ini
bisa mendeteksi seluruh penyakit di dalam tubuh manusia.
“Chip
ini hanya dipakai dalam bidang medis,” ucap Ian.
“Lalu
“Chip
ini hanya bisa mendeteksi suatu penyakit di dalam tubuh seseorang. Aku tidak
tahu apakah chip ini berbahaya atau tidak? Tapi kenapa musuh menaruhnya di
tubuh seseorang begini ya?” tanya Ian yang tidak mengerti.
“Apakah
chip ini bisa melacak keberadaan seseorang?” tanya Lampard.
“Bisa.
Sang pencipta memang sengaja menaruh sistem pelacakan super canggih. Tapi?”
jawab Ian yang menggantung.
“Kenapa
jawaban kamu menggantung seperti itu?” tanya Lampard. “Apakah kamu bisa
melacaknya?”
“Aku
bingung mau mengatakan apa? Ini susah sekali dijelaskan. Sang pencipta chip itu
sengaja membuat pernyataan seperti ini, jika ada yang melacak chip ini maka perusahaan
bisa menuntutnya,” jawab Ian yang membuat Lampard terkejut.
“Sepertinya
kita harus mencari perusahaan itu lalu membumihanguskan!” geram Gio.
“Itu ide
yang bagus,” kesal Lampard.
“Atau
kita bisa menuntutnya balik. Bisa jadi chip ini dijadikan alat untuk para mafia
agar bisa masuk ke dalam mafia lainnya. Mereka akan mudah menemukan sebuah
celah untuk mendapatkan informasi lebih,” tambah Gio.
“Apa
yang akan kakak lakukan sekarang?” tanya Ian.
“Jika
mereka sudah menemukan keberadaan markas Black Horizon. Mereka akan menyerang
__ADS_1
suatu saat nanti. Mungkin malam ini, besok atau lusa. Yang jadi pertanyaan
sekarang adalah bagaimana nasib Stella? Mereka bisa menemukan Stella di sini,”
jawab Gio.
“Dengan
terpaksa aku menitipkan Stella di mansion Kak Gio untuk sementara waktu sampai
terciptanya surat nikah,” ucap Lampard yang berharap Gio ingin menolongnya.
“Kakak
jadi menikahinya?” tanya Ian dengan serius.
“Ya...
aku akan menikahinya. Bukan berarti aku mencintainya. Aku hanya melindunginya,”
jawab Lampard. “Kalau begitu siapkan dokumenku dan Stella! Aku ingin seminggu
surat nikah itu terbit!”
“Pilihan
yang bagus sekali,” puji Gio yang
tersenyum sambil menberi kode ke Ian.
“Kalau
begitu baiklah,” balas Ian.
“Siapkan
kepindahan Stella ke mansionku!” titah Gio.
“Baik
kak,” balas Ian yang segera meninggalkan mereka berdua.
Melihat
kepergian Ian mereka langsung menuju ke ruangan bawah tanah. Mereka sangat
penasaran dengan sang penyusup itu. Jujur Gio yang sedari berangkat dari kantor
tidak mengetahui keberadaan sang penyusup.
Sementara
itu Leon yang berada di luar sedang memeriksa area markas itu. Leon sangat
teliti memeriksa area markas itu dengan dibantu beberapa pengawal. Tak lama
mobil sport berwarna hitam datang menghampirinya. Sang pemilik mobil itu
langsung menurunkan kacanya sambil bertanya, “Ada apa?”
“Kak
Derek?” pekik Leon.
Sang
pemilik mobil itu bernama Derek. Ia adalah kaki tangannya Martin. Ia juga
sering membantu Black Horizon dalam bentuk persenjataan. Lalu Derek keluar dari
mobilnya sambil menepuk pundak Leon kemudian bertanya, “Ada apa?”
“Ada
penyusup yang sengaja mengintai markas ini kak,” jawab Leon yang mulai berubah
ramah.
“Mungkinkah
mereka sudah bergerak?’ tanya Derek.
“Iya
kak. Mereka adalah anggota Exodus,” jawab Leon.
“Sudah
aku duga,” ucap Derek.
“Apakah
kakak sudah tahu masalah ini?’ tanya Leon.
“Iya.Kemungkinan
besar mereka sedang mengincar keberadaan Kak Lampard dan Kak Ian. Karena mereka
adalah saksi mata pembuangan mayat itu. Yang satu lagi mereka akan
menghancurkan markas ini demi mengibarkan bendera kemenangan,” jawab Derek yang
mulai menganalisa keadaan.
“Ternyata
mereka sangat gawat sekali,” celetuk Leon.
“Memang
sangat gawat sekali. Mereka ingin menguasai dunia demi menjadi raja di
organisasi gelap ini,” ujar Derek.
“Apa
yang akan kita lakukan?” tanya Leon. “Apakah kita akan menyerangnya?”
“Menyerang
bukanlah perkara mudah. Mereka selalu memakai cara licik dan sering playing
__ADS_1
victim,” jawab Derek. “Ke mana Kak Lampard dan Kak Gio?”