Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Bersiap Menunggu Serangan.


__ADS_3

“Maksud


kamu apa?” tanya Gio.


“Maksud


aku pas berangkat ke sini, apakah kakak melihat ada seseorang yang mengikuti


kakak?” tanya Ian.


“Entahlah,”


jawab Gio. “Memangnya ada penyusup?”


“Ada.


Ketika kami sedang mengobrol ada yang mengintai kita,” jawab Ian yang membuat


Lampard terkejut.


“Apakah


itu benar?” tanya Lampard.


“Iya,”


jawab Ian.


“Di mana


sekarang?” tanya Lampard.


“Dia


berada di ruangan bawah tanah,” jawab Ian.


“Sepertinya


kita mendapatkan masalah baru. Cepat atau lambat mereka akan menyerang markas,”


ujar Lampard dengan tenang.


“Kamu


kok tenang gitu sih?” tanya Gio yang mengerutkan keningnya.


“Lalu


aku harus bagaimana? Bukannya kita sering mendapatkan serangan demi serangan


dari pihak lawan?” tanya Lampard balik.


“Pikirkan


calon istri kamu itu,” jawab Gio yang membuat Lampard menggelengkan kepalanya.


“Lalu?”


tanya Lampard.


“Dasar


adik sialan! Bukannya kamu melindungi malah membiarkan saja,” kesal Gio yang


membuat Lampard tersenyum tengil.


“Tolong


ya... kakak lindungi Stella,” pinta Lampard sambil menatap Gio yang mulai


geram.


“Maksudnya


gimana? Kok gue disuruh melindungi Stella?” tanya Gio yang mulai berapi-api.


“Berulah


lagi devh si bos,” ledek Ian.


“Kamu


betah kerja sama bos dengan potongan seperti ini?” tanya Gio.


“Terpaksa


aku memiliki bos seperti ini,” jawab Ian beranjak berdiri lalu melangkahkan


kakinya.


“Aku


tidak akan mengucurkan bonus bulan ini. Aku tangguhkan sepuluh tahun kemudian!”


teriak Lampard dengan serius.


Mendengar


kata bonus yang akan ditangguhkan, Ian langsung menoleh sambil melihat Gio.


Lalu Ian tersenyum manis dan memberikan kode agar Gio menolongnya. Gio


mengangkat kedua tangannya yang berarti dirinya tidak mau ikut campur.


“Aku


tidak mau ikut campur soal ini. Lebih baik kamu tunggu bonus hingga sepuluh


tahun ke depan,” jawab Gio yang menahan tawanya sambil melihat Ian sedang


kesusahan.


“Enggak


jadi nikah dech gue,” keluh Ian.


“Gampang...


tunggu sepuluh tahun lagi,” ejek Lampard yang beranjak berdiri.


“Cepat atau

__ADS_1


lambat Adelia akan mencari yang baru karena kelamaan menungguku,” ucap Ian


dengan lemah.


Kedua


pria itu hanya bisa menahan tawanya karena melihat Ian yang menderita.


Sebenarnya kalimat yang dilontarkan Lampard hanya candaan recehnya. Ia tidak


akan membuat sang asisten merasa kesusahan. Bahkan ketika sang asisten izin


menikah, Lampardlah orang yang pertama kali memdukungnya. Ia juga mempersiapkan


dana untuk pernikahan sang asisten tersebut. Bisa dikatakan kalau Lamard adalah


sang bos loyal.


“Kakak,”


seru Leon yang baru saja datang dan membawa sebuah chip di tangannya.


“Ada


apa?” tanya Ian.


“Penyusup


itu memakai sebuah chip yang ditanamkan di rambutnya,” jawab Leon.


“Apa?”


teriak Lampard.


“Ini


masalah gawat kak. Bisa dipastikan mereka akan menyerang markas ini dengan


cepat,” jawab Leon yang mengira-ngira akan terjadi serangan.


“Siapkan


seluruh pasukan untuk mengantisipasi kedatangan musuh. Kita harus bergerak


dengan silent!” perintah Lampard.


“Baik


kak,” sahut Leon yang menyodorkan chip itu ke Ian.


Ian


mengambil chi itu lalu melihatnya. Ia terkejut dengan bentuk chip tersebut.


Beberapa bulan yang lalu Ian pernah melihat chi itu di sebuah artikel. Ia


memastikan chip ini hanya digunakan dalam bidang medis. Yang di mana chip ini


bisa mendeteksi seluruh penyakit di dalam tubuh manusia.


“Chip


ini hanya dipakai dalam bidang medis,” ucap Ian.


“Lalu


“Chip


ini hanya bisa mendeteksi suatu penyakit di dalam tubuh seseorang. Aku tidak


tahu apakah chip ini berbahaya atau tidak? Tapi kenapa musuh menaruhnya di


tubuh seseorang begini ya?” tanya Ian yang tidak mengerti.


“Apakah


chip ini bisa melacak keberadaan seseorang?” tanya Lampard.


“Bisa.


Sang pencipta memang sengaja menaruh sistem pelacakan super canggih. Tapi?”


jawab Ian yang menggantung.


“Kenapa


jawaban kamu menggantung seperti itu?” tanya Lampard. “Apakah kamu bisa


melacaknya?”


“Aku


bingung mau mengatakan apa? Ini susah sekali dijelaskan. Sang pencipta chip itu


sengaja membuat pernyataan seperti ini, jika ada yang melacak chip ini maka perusahaan


bisa menuntutnya,” jawab Ian yang membuat Lampard terkejut.


“Sepertinya


kita harus mencari perusahaan itu lalu membumihanguskan!” geram Gio.


“Itu ide


yang bagus,” kesal Lampard.


“Atau


kita bisa menuntutnya balik. Bisa jadi chip ini dijadikan alat untuk para mafia


agar bisa masuk ke dalam mafia lainnya. Mereka akan mudah menemukan sebuah


celah untuk mendapatkan informasi lebih,” tambah Gio.


“Apa


yang akan kakak lakukan sekarang?” tanya Ian.


“Jika


mereka sudah menemukan keberadaan markas Black Horizon. Mereka akan menyerang

__ADS_1


suatu saat nanti. Mungkin malam ini, besok atau lusa. Yang jadi pertanyaan


sekarang adalah bagaimana nasib Stella? Mereka bisa menemukan Stella di sini,”


jawab Gio.


“Dengan


terpaksa aku menitipkan Stella di mansion Kak Gio untuk sementara waktu sampai


terciptanya surat nikah,” ucap Lampard yang berharap Gio ingin menolongnya.


“Kakak


jadi menikahinya?” tanya Ian dengan serius.


“Ya...


aku akan menikahinya. Bukan berarti aku mencintainya. Aku hanya melindunginya,”


jawab Lampard. “Kalau begitu siapkan dokumenku dan Stella! Aku ingin seminggu


surat nikah itu terbit!”


“Pilihan


yang bagus sekali,” puji  Gio yang


tersenyum sambil menberi kode ke Ian.


“Kalau


begitu baiklah,” balas Ian.


“Siapkan


kepindahan Stella ke mansionku!” titah Gio.


“Baik


kak,” balas Ian yang segera meninggalkan mereka berdua.


Melihat


kepergian Ian mereka langsung menuju ke ruangan bawah tanah. Mereka sangat


penasaran dengan sang penyusup itu. Jujur Gio yang sedari berangkat dari kantor


tidak mengetahui keberadaan sang penyusup.


Sementara


itu Leon yang berada di luar sedang memeriksa area markas itu. Leon sangat


teliti memeriksa area markas itu dengan dibantu beberapa pengawal. Tak lama


mobil sport berwarna hitam datang menghampirinya. Sang pemilik mobil itu


langsung menurunkan kacanya sambil bertanya, “Ada apa?”


“Kak


Derek?” pekik Leon.


Sang


pemilik mobil itu bernama Derek. Ia adalah kaki tangannya Martin. Ia juga


sering membantu Black Horizon dalam bentuk persenjataan. Lalu Derek keluar dari


mobilnya sambil menepuk pundak Leon kemudian bertanya, “Ada apa?”


“Ada


penyusup yang sengaja mengintai markas ini kak,” jawab Leon yang mulai berubah


ramah.


“Mungkinkah


mereka sudah bergerak?’ tanya Derek.


“Iya


kak. Mereka adalah anggota Exodus,” jawab Leon.


“Sudah


aku duga,” ucap Derek.


“Apakah


kakak sudah tahu masalah ini?’ tanya Leon.


“Iya.Kemungkinan


besar mereka sedang mengincar keberadaan Kak Lampard dan Kak Ian. Karena mereka


adalah saksi mata pembuangan mayat itu. Yang satu lagi mereka akan


menghancurkan markas ini demi mengibarkan bendera kemenangan,” jawab Derek yang


mulai menganalisa keadaan.


“Ternyata


mereka sangat gawat sekali,” celetuk Leon.


“Memang


sangat gawat sekali. Mereka ingin menguasai dunia demi menjadi raja di


organisasi gelap ini,” ujar Derek.


“Apa


yang akan kita lakukan?” tanya Leon. “Apakah kita akan menyerangnya?”


“Menyerang


bukanlah perkara mudah. Mereka selalu memakai cara licik dan sering playing

__ADS_1


victim,” jawab Derek. “Ke mana Kak Lampard dan Kak Gio?”


__ADS_2