
"Tuh, Winda! Lihatlah menantu kamu yang super resek!" geram Gio.
Agatha sangat terkejut sekali melihat kelakukan Giovanni dan Martin. Orang mengira, kalau kedua pria itu memiliki sifat dingin. Bahkan saking dinginnya, mereka tidak bisa disentuh sama sekali. Namun kenyataannya sangat berbeda jauh. Mereka suka bercanda.
"Sebenarnya kalian siapa sih? Kok aku baru mengenal kalian?" tanya Agatha.
"Dia masih tetap Gio dan Martin. Mereka memiliki sifat slengekan. Yang lebih parahnya lagi beginilah kalau mereka bercanda. Memang di luar mereka dingin sekali bagai es di Antartika," jelas Winda.
"Rencana kalian apa?" tanya Agatha.
"Rencana pertama, aku melemparkan Alexa kesana," jawab Martin.
"Sudahlah. Itu kurang efesiensi. Enggak usah bawa-bawa Alexa. Biarkan kasus ini ditangani langsung oleh Agatha," ucap Gio yang membuat Martin memicingkan matanya.
"Lagian Sean sebentar lagi ujian. Alexa harus mendampinginya. Ditambah lagi seluruh resto yang dimiliki Alexa sangat rame sekali," jelas Winda yang tidak membiarkan Alexa dalam kegiatan penyerbuan nanti malam.
"Benar juga. Kalau begitu baiklah," ucap Martin dengan mengalah.
Apa yang dikatakan oleh Winda memang benar. Winda tidak akan membiarkan alexa ikut penyerbuan nanti malam. Sebab malam ini anak-anak sangat membutuhkan sama sekali. Jadi Martin akhirnya mengalah.
Sementara itu Hatori berada di dalam mobil. Hatori tidak habis pikir, mengapa dirinya ingin diculik oleh seseorang. Yang dimana demi uang lima milyar tega untuk dirinya.
"Kita menuju ke lokasi," seru Akashi.
"Apakah kamu akan melakukannya?" tanya Hatori.
"Tuan muda aku tidak berani melakukannya. Aku hanya disuruh oleh Tuan Agatha," jawab Akashi dengan cepat.
"Bukan itu maksud aku. Apakah kamu akan menghabisi Pak Kevin?" tanya Hatori.
"Tentu tidak Tuan. Kami memang disuruh menjalankan rencana Tuan Agatha. Kalau ku disuruh membunuh kami terpaksa melakukannya," jawab Akashi.
"Bagaimana kalau aku tidak menyuruh kamu membunuh?" tanya Hatori yang melihat wajah Akashi seorang pembunuh.
"Ini sangat berat buat kami. Jika tuan besar menyuruh kami membunuhnya maka kami bergerak. Jika kami mendapatkan perintah dari Tuan muda, kami merasa bimbang. Sebab perintah tertinggi adalah perintah dari Tuan Agatha. Lebih baik anda membicarakan hal ini kepada Tuan besar terlebih dahulu. Kalau keputusannya sudah final, maka kami akan akan mendapatkan perintah sesungguhnya dari hasil keputusan besar," jelas Akashi yang bingung dengan keputusan tuan mudanya.
Hatori menganggukan kepalanya tanda setuju. Lalu Hatori sendiri akan membicarakan hal ini ke sang papa untuk mengambil keputusan.
"Apakah ada seorang hacker disini?" tanya Hatori.
__ADS_1
"Ada. Saya sendiri," jawab Akashi.
"Kalau begitu saya akan memberikan tugas untuk kamu," ucap Hatori.
"Perintah apa itu?" tanya Akashi.
"Tolong kamu cari informasi tentang Pak Kevin sang Manager HRD di perusahaan S&T Company!" perintah Hatori.
"Dengan senang hati Tuan Hatori," ucap Akashi sambil meraih ponselnya.
Manchester Inggris.
Stella yang sedang mengelus-elus singa tersebut membuat Asmo menjadi tenang. Namun ponselnya Asmoro berdering. Ia memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya terlebih dahulu.
"Siang-siang begini siapa yang telepon?" tanya Stella.
Asmoro segera melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Lalu ia menatap wajah Stella sambil bertanya balik, "Apakah kamu tidak bertemu dengan Natalie?"
"Untuk saat ini tidak sama sekali," jawab Stella.
"Kenapa?" tanya Asmoro. "Apakah kalian sedang marahan?"
"Kamu mau apa ke butik?" tanya Asmoro.
"Bukannya nanti sore akan ada acara ulang tahun teman kakak yang sangat brengsek itu?" tanya Stella balik.
Mata Asmoro membola sempurna. Ia tidak menyangka perkataan Stella telah memberitahukan kalau temannya sangat brengsek sekali. Darimana sang istri tahu, kalau Joe Malti adalah orangnya brengsek?
"Dari mana kamu tahu kalau Joe Malti adalah orangnya brengsek?" tanya Asmoro yang mengerutkan keningnya.
"Ya... tahulah. Aku kan anaknya Tuan Agatha. Aku bisa saja memberikan sebuah perintah kepada anggota Klan Kanagawa untuk mencari informasi tersebut," jawab Stella.
Asmoro hanya bisa menganggukkan kepalanya berkali-kali. Ia tersenyum manis melihat kecerdasan Stella. Memang benar, apa yang dikatakan oleh Stella. Kalau sang istri sudah diberikan sebuah akses untuk memerintahkan para anggota Klan Kanagawa.
"Kalau begitu belilah sebuah gaun, jangan sebuah gaun dech. Banyak gaun yang sangat bagus sekali!" perintah Asmoro yang mengambil dompetnya di laci.
"Satu saja sudah cukup. Enggak usah banyak-banyak," ujar Stella.
"Terserah kamu dech. Yang penting kamu bahagia dan senang. Kamu mau membelinya semuanya juga boleh," suruh Asmoro yang memberikan kartu hitam.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Stella yang mengerutkan keningnya.
"Kartu hitam," jawab Asmoro yang menaruhnya di meja.
"Buat apa aku memakai itu?" tanya Stella. "Mending kamu kirimkan uang yaang pantas buat aku."
"Uang yang pantas buat kamu? Maksud kamu uang cash?" tanya Asmoro.
Stella menggelengkan kepalanya dan hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia menaruh singa kecil itu di atas sofa. Ia berdiri dn mendekati Asmoro sambil berkata, "Maksud aku bukan begitu."
"Lalu?" tanya Asmoro.
"Kirimkan uang itu ke rekeningku. Aku tidak akan membawa uang cash. Aku akan membawa ponsel satu saja," jawab Stella yang membuat otak Asmoro tidak loading sama sekali.
Entah kenapa otak Asmoro tidak peduli sama sekali. Seharusnya ia tidak perlu susah payah memberikan sebuah kartu hitam untuk sang istri. Ia hanya perlu transfer ke rekeningnya Stella. Lalu tella dapat memakinya melalui e-banking atau e-wallet yang berada di negara ini.
"Maksud aku, kamu hanya kirimkan uang ke rekening aku. Selanjutnya aku akan membayarnya melalui e-banking atau e-wallet. Bukankah teknologi pembayaran sekarang sudah canggih?" tanya Stella yang mengambil kartu hitam itu ke tangan Asmoro.
Seketika Asmoro terkejut mendengar pernyataan dari Stella. Ia baru menyadari atas kebodohannya itu. Ia langsung tersenyum manis sambil berkata, "Gara-gara kamu sangat cantik sekali. Tiba-tiba saja kecerdasan aku menghilang sempurna."
"Apa?" pekik Stella.
"Iya itu benat. Kamu adalah seorang bidadari yang berada di surga," jawab Asmoro.
"Dari mana kakak belajar bahasa itu?" tanya Stella.
"Dari Sean dan Edward," jawab Asmoro.
Mata Stella membulat sempurna. Bagaimana bisa Asmoro belajar semuanya ini? Apakah Asmoro berguru dari anak kecil.
"Apakah kakak berguru pada anak kecil?" tanya Stella.
"Ya... aku memang berguru pada dia. Mereka bisa merangkai kata-kata yang bisa membuat wanita bertekuk lutut," jawab Asmoro yang tersenyum lucu.
Tiba-tiba saja tubuh Stella melemas. Ia tidak bisa membayangkan kalau Asmoro berguru dengan anak kecil. Jujur ini dunia sudah benar-benar terbalik. Ia semakin bingung dengan keadaan saat ini.
"Bukannya kamu tahu kalau mereka sangat jago merayu?'' tanya Asmoro.
"Bukannya begitu. Apakah kakak serius bertanya sama mereka?" tanya Asmoro.
__ADS_1