Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Restu Dari Kakak Besar Kedua.


__ADS_3

Ian yang berada di dalam terkejut mendengar suara Lampard. Pria bertubuh tinggi itu memutuskan untuk keluar dari sana.


"Ada apa?" tanya Ian.


"Siapkan beberapa pengawal untuk mengawalku menuju ke Mansion Kak Gio!" perintah Lampard.


"Kapan bro?" tanya Ian yang mulai membuat sang bos merasa geram.


"Kalau bisa menunggu langit runtuh baru kamu kirimkan beberapa pengawal untukku!" kesal Lampard dengan nada meninggi.


"Bos," panggil Ian yang sedang mengirim pesan ke Leon untuk meminta beberapa para pengawal.


"Ada apa?" tanya Lampard.


"Lagi jatuh cinta ya bro?" tanya Ian menatap wajah Lampard.


"Ya enggaklah. Lu itu ada-ada aja. Umur gue udah tua tahu," jawab Lampard.


"Kalau jatuh cinta ya nggak papa bro. Gue nggak akan marah kok. Gue malah seneng lihat temen lagi kasmaran," ucap Ian.


"Gue kagak jatuh cinta," ucap Lampard. "Bagaimana hubungan lo sama Adelia?"


"Lha... Kok malah ngalihin pembicaraan. Please bro... Jujur saja nggak papa," jawab Ian.


"Bukan maksud gue mengalihkan pembicaraan. Gue mau tanya, Bagaimana hubungan lo sama Adelia? Lu udah mau serius nggak? Kalau lu ada niatan serius, gue yang bayar semua resepsinya," ucap Lampard dengan tulus.


"Gue memang serius sama Adelia. Tapi gue belum bisa sekarang. Atau nggak gini aja. Kita buat kejutan buat mereka. Pertama-tama kita temukan dulu si Hatori. Kedua kita temukan Agatha. Setelah mereka ketemu, kita satukan mereka dalam satu keluarga. Rencananya setelah ini gue akan melamar Adelia. Jujur saja gue sayang banget sama Adelia. Gue bingung mau nikah sekarang tapi orang tuanya belum terkumpul. Itu yang gue pikirin sekarang," jelas Ian.


"Kalau lu mau. Bantu gue juga. Gue juga akan nikahi Stella. Soalnya, gue nikahin itu hanya butuh status. Biar Stella aman bersama gue," ujar Lampard.


"Lu sudah ngasih tahu belum silsilah keluarganya?" tanya Ian.

__ADS_1


"Gue sudah ngasih tahu semuanya tadi. Jujur saja Stella sangat syok berat. Jadi selama ini Stella tidak tahu apa-apa. Malahan Stella bingung. Kenapa semuanya ini terjadi? Ditambah lagi dengan perusahaan. Stella juga bertanya-tanya, apa hubungan dirinya dengan Kurumi? Jadi gue menarik kesimpulan, kalau John tidak memberitahu tentang perusahaan itu. Padahal ahli warisnya adalah Stella. Meskipun dia diusir dari rumahnya, Stella sering melihat TV tentang dirinya disangkut pautin ke Kurumi. Inilah yang membuat Stella nggak habis pikir," jelas Lampard yang mengambil keputusan dengan tepat.


"Keputusanmu sangat tepat bro. Gue yakin kalau Stella itu adalah anak baik. Gue nggak mau kalau lu nyakitin hati Stella. Gue berharap kalau lu bisa bahagia selamanya," ucap Lampard dengan tulus.


Beberapa saat kemudian datang Leon bersama beberapa orang. Mereka memberi hormat dan mengucapkan salam. Namun sebelum mengucapkan salam, Ian memberikan kode agar tidak bersuara. Hal ini mencegah Stella tidak melihatnya.


"Aku menurunkan dua puluh orang. Mereka akan mengawal Kakak sampai ke Mansion Kak Gio," ucap Leon.


"Cukup. Segini kebanyakan. Tapi nggak papa. Mudah-mudahan di jalanan aman," ujar Lampard.


"Kakak menyetir sendiri?" tanya Leon.


"Iya," jawab Lampard.


"Kalau begitu kami akan ikut Kakak juga. Untuk mengawal Kakak dari belakang. Sekalian aku akan pulang ke rumah," pinta Leon.


"Baiklah. Begitu juga dengan Ian. Ian juga harus ikut. Nggak mungkin kan kamu tinggal di sini? Besok pagi ada meeting bersama Alexa," ucap Lampard.


"Bener juga. Kok gue lupa sih," kesal Ian.


Kemudian Ian dan Leon masuk ke dalam mobil terpisah. Mereka akan mengawal lempar hingga ke Mansion Gio.


Sedangkan Adelia yang baru saja makan malam melihat Winda sedang sibuk. Adelia memberanikan diri untuk menawarkan bantuan.


"Nyonya," panggil Adelia.


"Ada apa?" tanya Winda yang mengangkat kepalanya sambil mengulas senyum.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Adelia.


"Tidak perlu. Ini hampir selesai. Oh iya... Duduk dulu gih," pinta Winda.

__ADS_1


"Baik," Adelia menghempaskan bokongnya di hadapan Winda.


"Bagaimana kabar ibu?" tanya Winda.


"Kabar Ibu baik-baik saja di Surabaya. Aku rindu pada ibu," jawab Adelia.


"Kenapa kamu nggak pulang?Kamu bisa mengambil cuti beberapa hari ke depan? Alexa tidak sekejam itu kepadamu. Bahkan kepada karyawan lainnya. Jika mau mengajukan cuti ambillah," Winda memberikan saran kepada Adelia.


"Bukan begitu nyonya. Jika aku pulang nanti, bagaimana dengan si kembar? Lalu, Bagaimana kabar Tuan Muda Sean? Sedangkan tuan muda masih bersekolah. Jika aku nanti pulang ke Surabaya belum waktunya liburan, kasihan mereka yang ingin ikut," ucap Adelia yang sangat menyayangi mereka.


"Susah juga ya. Kalau aku ganti Stella?" tanya Winda yang menggantung karena Stella belum sembuh.


"Tapi nyonya, Stella belum sembuh total. Aku sempat bertanya kepada tuan Ian. Stella masih berbaring di ranjang," jawab Adelia.


"Jujur, ketiga cucuku sangat aneh sekali. Mereka tidak bisa menerima orang yang baru dikenalnya. Baru kali ini hanya Stella yang mau menerimanya. Kalau mau cari ganti untuk waktu sebentar, kemungkinan itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin mengambil libur lagi. Soalnya beberapa hari terakhir perusahaan sedang sibuk. Begitu juga dengan Alexa, aku sering memintanya untuk membantu perusahaan," keluh Winda. "Kenapa juga aku tidak memiliki dua anak lagi? Biar bisa membantuku di perusahaan?"


"Tidak apa-apa nyonya. Jangankan Nyonya Alexa, Tuan Martin pun ikut juga membantu perusahaan," jawab Adelia.


"Pendidikan kamu terakhir apa?" tanya Winda.


"Pendidikan terakhir saya adalah SMA. Ingin kuliah tapi biayanya tidak ada," jawab Adelia dengan malu.


"Tidak perlu malu begitu. Nyonyamu juga hanya lulusan SMA. Meskipun hanya lulusan SMA, kalau kamu mampu belajar yang lebih, maka kamu akan mendapatkan tingkatan lebih tinggi. Apakah kamu mau belajar denganku? Siapa tahu nanti kamu bisa memimpin perusahaanmu? Meskipun perasaanmu hanya kecil saja, kamu bisa mengolahnya. Apalagi ibumu jago sekali membuat kue dan roti kering. Kemungkinan besar kamu bisa mengembangkannya lebih luas lagi," saran Winda.


"Rencana saya begitu. Tapi belum ada biaya. Saya juga sedang belajar otodidak bisnis," ujar Adelia.


"Bagus sekali. Jika kamu ingin kuliah, maka aku akan membiayaimu," Winda menawarkan kuliah ke Adelia.


"Itu tidak perlu nyonya. Kemungkinan besar aku akan belajar sendiri. Di sosial media dan Kak Ian pun sering mengajariku untuk belajar bisnis," ucap Adelia dengan jujur.


"Apakah kamu sangat menyukai Ian?" Tanya Winda yang membuat Adelia menunduk.

__ADS_1


"Iya nyonya. Tuan Ian sangat baik sekali kepadaku," jawab Adelia.


"Jika kamu serius sama Ian. Kenapa tidak? Serumpun keluarga di sini tidak pernah membeda-bedakan satu sama lain. Jujur saja kamu sama Ian sangat cocok sekali. Aku berharap kamu bisa menjadi pendamping hidupnya Ian," ucap Winda dengan tulus.


__ADS_2