Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Keinginan Anita.


__ADS_3

“Sepertinya


ide yang sangat bagus. Kalau boleh kapan ya?” tanya Anita yang matanya


berbinar.


“Ternyata


mama sangat semangat sekai ya?” tanya Hatori yang tersenyum manis.


“Mama


sedari dulu memang ingin memiliki restoran. Tapi apa yang dikata, gara-gara


mereka aku tidak bisa memiliki restoran,” jawab Anita yang geram terhadap


Tutik.


“Tenanglah.


Nanti kalau kita pulang ke Tokyo, papa akan membangunkan beberapa restoran buat


kamu,” hibur Yamato yang merasa sedih terhadap sang menantunya itu.


Jujur


Yamato memang sering sekali melihat bakat Anita yang sangat jago membuat


masakan. Ia tidak menyangka kalau dirinya dimanjakan oleh sang menantu. Mulai


dari makanannya selalu diperhatikan oleh sang menantu. Bahkan sang menantu


lebih cerewet jika dirinya tidak menjaga kesehatan dengan baik. Makanya ia


meminta Agatha untuk membawanya ke Tokyo setelah masalah ini selesai.


“Hemmp...


itu bisa diatur,” ucap Agatha yang menatap sang papa tersenyum puas.


“Apakah


memesan tempat di luar ruangan ketika waktu makan?” tanya Hatori.


“Ya...


papa memang sengaja memesannya. Agar pertemuan kali ini bisa menyambung tali


silaturahmi lagi,” jawab Agatha. “Ayo kita segera keluar dari sini!”


Agatha


mengajak mereka keluar dan langsung menuju kesana. Sebelum masuk ada beberapa


para pelayan yang  tersenyum kepada


mereka dengan ramah. Mereka disambut dengan penuh kegembiraan dan juga


kebahagiaan.


“Selamat


datang Tuan Agatha Kanagawa,” sahut para pelayan dengan penuh keramahan.


Agatha


hanya mengucapkan terima kasih banyak karena mendapatkan sambutan. Salah satu


dar pelayan itu mengajaknya ke taman belakang. Mereka akhirnya menuju ke taman


belakang. Tidak sengaja Anita menangkap keberadaan seseorang yang dikenalnya


itu. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya dalam hati, “Kenapa ada Patty


disini?”


Disisi


lain, Agatha tidak melihatnya sama sekali. Ia hanya memandang lurus ke depan


tanpa memperhatikan siapapun. Bahkan ia sendiri tidak mengetahui kalau Patty


sedang berada di sana.


“Semoga


saja Stella tidak menemukannya sama sekali. Aku yakin jika bertemu. Maka dia


akan membuat masalah besar,” ucap Anita di dalam hatinya berharap Patty tidak


menyerang putrinya itu.


Ketika


berada di taman belakang, mereka memutuskan untuk memesan minuman saja. Mereka


sengaja tidak memesan terlebih dahulu. Karena Agatha sendiri sedang menyambut


tamu agung yang bernama James Snowden.


Di


area parkir, mobil yang ditumpangi oleh Stella bersama Asmoro sudah sampai.


Entah kenapa dirinya merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia merasakan firasat


buruk yang akan menimpanya dirinya. Ia mencoba tetap tenang dan membiarkan

__ADS_1


semuanya berjalan a[pa adanya.


“Kata


kamu papa Agatha sudah datang?” tanya Asmoro.


“Ya...


mereka sudah datang,” jawab Stella. “Mereka berada di taman belakang. Katanya


view nya sangat bagus sekali.”


“Kamu


tahu restoran ini milik siapa?” tanya Asmoro.


“Ya


punya orang. Masa punya kakak,” jawab Stella yang tidak tahu siapa pemilik


restoran tersebut.


“Memang


ini adalah milikku,” ucap Asmoro yang sengaja membuat Stella bingung.


“Apakah


kakak sudah gila?” pekik Stella.


“Aku


enggak gila. Aku masih waras,” jawab Asmoro. “Aku gila gara-gara kamu. Kalau


soal usaha aku memang belum gila.”


“Ada-ada


saja Kakek tampanku ini,” puji Stella yang tersenyum dan menatap Asmoro.


“Kamu


juga nenekku yang paling cantik,” puji Asmoro.


“Ya...


itu hanya rayuan gombal. Kamu pasti membuka pesan dari tiga kurcaci. Kamu sudah


membacanya dengan seksama. Lalu kamu baca sampai habis hingga tersenyum


menggemaskan. Lalu kamu mencoba mencontoh kata-kata rayuan itu untuk merayuku,”


ucap Stella yang menahan tawanya.


“Ya...


aku memang sengaja. Aku bukan seorang pujangga yang pandai merangkai kata,” ujar


“Kamu


memang patut aku pertahankan. Karena jika tidak, aku tidak akan memiliki sorang


suami yang baik dan langka seperti kamu,” ungkap Stella dengan penuh


kebahagiaan.


Tak


lama datang beberapa mobil mewah yang masuk ke dalam parkiran. Ia tersenyum


sambil merasakan kebersamaan yang akan menjadikannya malam nanti sangat indah


sekali. Sudah hampir setahun mereka tidak berkumpul seperti ini. Ketika


bertanya kapan kumpul, mereka memiliki banyak pekerjaan. Inilah yang membuat Asmoro


menjadi sedih.


“Apakah


Kak Natalie dan Dilla akan datang?” tanya Stella.


“Mereka


akan datang. Dilla sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Snowden. Mama


Linda sudah mengangkatnya sebagai anak angkat. Bahkan beberapa bulan Dilla


sudah resmi menyandang sebagai nama Snowden,” jawab Asmoro.


Stella


sangat bersyukur karena keluarga Snowden adalah keluarga yang sangat baik


sekali. Bahkan Stella sendiri sudah merasakan aura yang sangat positif ketika


berada di lingkungan Snowden. Jika saja dirinya tidak bertemu dengan Asmoro,


maka hidupnya sudah tidak berada di sini.


Lalu


Asmoro tidak sengaja melihat keberadaan Scarlett dan Rara. Kedua gadis kecil


itu sedang menunggu kedua orang tuanya turun. Dengan jahilnya Asmoro sengaja


mengebelnya. Hingga mereka berdua terkejut dan menuju ke arahnya.

__ADS_1


“Kamu


ternyata suka jahil sama anak-anak ya,” kesal Stella.


“Biarkan


saja. Mereka layak mendapatkannya,” celetuk Asmoro yang sengaja membiarkan


mereka kesini.


Asmoro


segera membuka pintunya dan melihat Scarlett dan Rara yang melipat kedua


tangannya. Mereka sangat marah karena terkejut. Namun Asmoro mengeluarkan kartu


black card kepada mereka. Seketika mereka tidak marah lagi dan tersenyum.


“Besok


kita beli baju sama nenek Stella yang sangat cantik itu,” rayu Asmoro yang


membuat mereka menganggukan kepalanya.


Stella


hanya bisa menepuk jidatnya. Jujur Asmoro sangat loyal jika menyangkut uang.


Bahkan kepada cucunya, Asmoro sengaja memberikan semua fasilitas buat mereka.


“Dimana


nenek aku yang cantik itu?” tanya Scarlett.


“Itu,”


jawab Asmoro yang menunjuk Stella yang membuka pintunya.


Stella


keluar dari mobil lalu memutarinya. Ia segera menampakkan wajahnya lalu jongkok


agar tinggi badan mereka sama.


“Halo


Scar,” sapa Stella. “Halo Rara.”


“Halo


nenek cantikku,” sapa mereka balik dengan serempak.


Mereka


langsung memeluk Stella dan mencium aroma tubuh itu. Mereka melepaskan Stella


sambil tersenyum.


“Nenek


sangat wangi sekali,” puji Rara.


“Iya...


masa mau bertemu kalian nenek enggak wangi sama sekali,” ucap Stella.


Mereka


tersenyum manis dan saling memandang dengan bahagia. Selang beberapa menit


kemudian, Asmoro keluar dari mobil. Asmoro menatap mereka dan mengulurkan


tangannya.


“Apakah


kalian tidak masuk ke dalam?” seru Martin yang hampir saja kehilangan putri kecilnya


itu.


“Kami


akan masuk ke dalam bersama nenek Stella dan kakek Asmoro,” seru Scarlett.


Tubuh


Martin mulai melemas. Bagaimana bisa putrinya itu memanggil Stella dengan


sebutan nenek? Mau tidak mau Martin mendekati Stella untuk meminta maaf.


“Maafkan


putra-putriku ini!” tunjuk Martin ke arah Scarlett.


“Memang


aku menyuruhnya untuk memanggil nenek. Tidak pantas jika mereka memanggil aku


kakak. Nanti dikira aku anaknya Kak Asmoro jika berada di suatu tempat banyak


orang,” jelas Stella.


“Enggak


apa-apa jika mereka memanggil Stella nenek. Lagian juga mereka menyayangi


Stella seperti Mama Linda dan Kak Winda,” tambah Asmoro.

__ADS_1


“Ketimbang


disini terus-terusan disini, lebih baik kita masuk ke dalam,” ajak Stella.


__ADS_2