
“Sepertinya
ide yang sangat bagus. Kalau boleh kapan ya?” tanya Anita yang matanya
berbinar.
“Ternyata
mama sangat semangat sekai ya?” tanya Hatori yang tersenyum manis.
“Mama
sedari dulu memang ingin memiliki restoran. Tapi apa yang dikata, gara-gara
mereka aku tidak bisa memiliki restoran,” jawab Anita yang geram terhadap
Tutik.
“Tenanglah.
Nanti kalau kita pulang ke Tokyo, papa akan membangunkan beberapa restoran buat
kamu,” hibur Yamato yang merasa sedih terhadap sang menantunya itu.
Jujur
Yamato memang sering sekali melihat bakat Anita yang sangat jago membuat
masakan. Ia tidak menyangka kalau dirinya dimanjakan oleh sang menantu. Mulai
dari makanannya selalu diperhatikan oleh sang menantu. Bahkan sang menantu
lebih cerewet jika dirinya tidak menjaga kesehatan dengan baik. Makanya ia
meminta Agatha untuk membawanya ke Tokyo setelah masalah ini selesai.
“Hemmp...
itu bisa diatur,” ucap Agatha yang menatap sang papa tersenyum puas.
“Apakah
memesan tempat di luar ruangan ketika waktu makan?” tanya Hatori.
“Ya...
papa memang sengaja memesannya. Agar pertemuan kali ini bisa menyambung tali
silaturahmi lagi,” jawab Agatha. “Ayo kita segera keluar dari sini!”
Agatha
mengajak mereka keluar dan langsung menuju kesana. Sebelum masuk ada beberapa
para pelayan yang tersenyum kepada
mereka dengan ramah. Mereka disambut dengan penuh kegembiraan dan juga
kebahagiaan.
“Selamat
datang Tuan Agatha Kanagawa,” sahut para pelayan dengan penuh keramahan.
Agatha
hanya mengucapkan terima kasih banyak karena mendapatkan sambutan. Salah satu
dar pelayan itu mengajaknya ke taman belakang. Mereka akhirnya menuju ke taman
belakang. Tidak sengaja Anita menangkap keberadaan seseorang yang dikenalnya
itu. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya dalam hati, “Kenapa ada Patty
disini?”
Disisi
lain, Agatha tidak melihatnya sama sekali. Ia hanya memandang lurus ke depan
tanpa memperhatikan siapapun. Bahkan ia sendiri tidak mengetahui kalau Patty
sedang berada di sana.
“Semoga
saja Stella tidak menemukannya sama sekali. Aku yakin jika bertemu. Maka dia
akan membuat masalah besar,” ucap Anita di dalam hatinya berharap Patty tidak
menyerang putrinya itu.
Ketika
berada di taman belakang, mereka memutuskan untuk memesan minuman saja. Mereka
sengaja tidak memesan terlebih dahulu. Karena Agatha sendiri sedang menyambut
tamu agung yang bernama James Snowden.
Di
area parkir, mobil yang ditumpangi oleh Stella bersama Asmoro sudah sampai.
Entah kenapa dirinya merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia merasakan firasat
buruk yang akan menimpanya dirinya. Ia mencoba tetap tenang dan membiarkan
__ADS_1
semuanya berjalan a[pa adanya.
“Kata
kamu papa Agatha sudah datang?” tanya Asmoro.
“Ya...
mereka sudah datang,” jawab Stella. “Mereka berada di taman belakang. Katanya
view nya sangat bagus sekali.”
“Kamu
tahu restoran ini milik siapa?” tanya Asmoro.
“Ya
punya orang. Masa punya kakak,” jawab Stella yang tidak tahu siapa pemilik
restoran tersebut.
“Memang
ini adalah milikku,” ucap Asmoro yang sengaja membuat Stella bingung.
“Apakah
kakak sudah gila?” pekik Stella.
“Aku
enggak gila. Aku masih waras,” jawab Asmoro. “Aku gila gara-gara kamu. Kalau
soal usaha aku memang belum gila.”
“Ada-ada
saja Kakek tampanku ini,” puji Stella yang tersenyum dan menatap Asmoro.
“Kamu
juga nenekku yang paling cantik,” puji Asmoro.
“Ya...
itu hanya rayuan gombal. Kamu pasti membuka pesan dari tiga kurcaci. Kamu sudah
membacanya dengan seksama. Lalu kamu baca sampai habis hingga tersenyum
menggemaskan. Lalu kamu mencoba mencontoh kata-kata rayuan itu untuk merayuku,”
ucap Stella yang menahan tawanya.
“Ya...
aku memang sengaja. Aku bukan seorang pujangga yang pandai merangkai kata,” ujar
“Kamu
memang patut aku pertahankan. Karena jika tidak, aku tidak akan memiliki sorang
suami yang baik dan langka seperti kamu,” ungkap Stella dengan penuh
kebahagiaan.
Tak
lama datang beberapa mobil mewah yang masuk ke dalam parkiran. Ia tersenyum
sambil merasakan kebersamaan yang akan menjadikannya malam nanti sangat indah
sekali. Sudah hampir setahun mereka tidak berkumpul seperti ini. Ketika
bertanya kapan kumpul, mereka memiliki banyak pekerjaan. Inilah yang membuat Asmoro
menjadi sedih.
“Apakah
Kak Natalie dan Dilla akan datang?” tanya Stella.
“Mereka
akan datang. Dilla sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Snowden. Mama
Linda sudah mengangkatnya sebagai anak angkat. Bahkan beberapa bulan Dilla
sudah resmi menyandang sebagai nama Snowden,” jawab Asmoro.
Stella
sangat bersyukur karena keluarga Snowden adalah keluarga yang sangat baik
sekali. Bahkan Stella sendiri sudah merasakan aura yang sangat positif ketika
berada di lingkungan Snowden. Jika saja dirinya tidak bertemu dengan Asmoro,
maka hidupnya sudah tidak berada di sini.
Lalu
Asmoro tidak sengaja melihat keberadaan Scarlett dan Rara. Kedua gadis kecil
itu sedang menunggu kedua orang tuanya turun. Dengan jahilnya Asmoro sengaja
mengebelnya. Hingga mereka berdua terkejut dan menuju ke arahnya.
__ADS_1
“Kamu
ternyata suka jahil sama anak-anak ya,” kesal Stella.
“Biarkan
saja. Mereka layak mendapatkannya,” celetuk Asmoro yang sengaja membiarkan
mereka kesini.
Asmoro
segera membuka pintunya dan melihat Scarlett dan Rara yang melipat kedua
tangannya. Mereka sangat marah karena terkejut. Namun Asmoro mengeluarkan kartu
black card kepada mereka. Seketika mereka tidak marah lagi dan tersenyum.
“Besok
kita beli baju sama nenek Stella yang sangat cantik itu,” rayu Asmoro yang
membuat mereka menganggukan kepalanya.
Stella
hanya bisa menepuk jidatnya. Jujur Asmoro sangat loyal jika menyangkut uang.
Bahkan kepada cucunya, Asmoro sengaja memberikan semua fasilitas buat mereka.
“Dimana
nenek aku yang cantik itu?” tanya Scarlett.
“Itu,”
jawab Asmoro yang menunjuk Stella yang membuka pintunya.
Stella
keluar dari mobil lalu memutarinya. Ia segera menampakkan wajahnya lalu jongkok
agar tinggi badan mereka sama.
“Halo
Scar,” sapa Stella. “Halo Rara.”
“Halo
nenek cantikku,” sapa mereka balik dengan serempak.
Mereka
langsung memeluk Stella dan mencium aroma tubuh itu. Mereka melepaskan Stella
sambil tersenyum.
“Nenek
sangat wangi sekali,” puji Rara.
“Iya...
masa mau bertemu kalian nenek enggak wangi sama sekali,” ucap Stella.
Mereka
tersenyum manis dan saling memandang dengan bahagia. Selang beberapa menit
kemudian, Asmoro keluar dari mobil. Asmoro menatap mereka dan mengulurkan
tangannya.
“Apakah
kalian tidak masuk ke dalam?” seru Martin yang hampir saja kehilangan putri kecilnya
itu.
“Kami
akan masuk ke dalam bersama nenek Stella dan kakek Asmoro,” seru Scarlett.
Tubuh
Martin mulai melemas. Bagaimana bisa putrinya itu memanggil Stella dengan
sebutan nenek? Mau tidak mau Martin mendekati Stella untuk meminta maaf.
“Maafkan
putra-putriku ini!” tunjuk Martin ke arah Scarlett.
“Memang
aku menyuruhnya untuk memanggil nenek. Tidak pantas jika mereka memanggil aku
kakak. Nanti dikira aku anaknya Kak Asmoro jika berada di suatu tempat banyak
orang,” jelas Stella.
“Enggak
apa-apa jika mereka memanggil Stella nenek. Lagian juga mereka menyayangi
Stella seperti Mama Linda dan Kak Winda,” tambah Asmoro.
__ADS_1
“Ketimbang
disini terus-terusan disini, lebih baik kita masuk ke dalam,” ajak Stella.