
Stella yang membawa kembang gula memberikan ke Sean satu. Mereka memutuskan makan bersama. Saat makan bersama terdengar suara tembakan. Dengan cepat Stella meraih tubuh mungil Sean dan memeluknya. Stella mulai ketakutan dan memohon kepada Tuhan agar menjauhkan suara tembakan itu. Rasa trauma yang dialami Stella ketika ada letusan dari pistol belum hilang. Ditambah lagi dengan suara pistol itu terdengar begitu kencang.
Dor...
Dor....
Kedua peluru itu tepat masuk ke dalam punggung Stella. Wajahnya sangat pucat sambil berkata, "Apakah kamu tidak apa-apa Sean?"
"Aku tidak apa-apa kak," jawab Sean yang melihat Stella yang mulai pucat.
Alexa yang melihat itu segera mendekap wajah Ed. Alexa berharap anaknya itu tidak melihat kejadian. Namun sayang Ed sempat melihatnya dan menangis dengan lirih.
Leon, Rinto dan Willi yang menjaga Sean terkejut mendengar tembakan dua kali. Mereka tidak sengaja menangkap bayangan ketiga pria tadi dan langsung memburunya. Kedua pria itu berlari dengan lurus karena ketahuan. Satunya pria itu lari ke arah jam tiga. Namun sial kedua pria tadi sangat cepat sekali menghilang. Sehingga mereka kehilangan jejak.
Flashback Off.
"Apakah kamu sudah menemukan siapa pelakunya?" tanya Willi.
"Sudah. Ketika kita akan sampai kesini orang itu langsung melesat jauh. Ternyata orang itu masuk ke dalam mobil,'' jawab Leon.
"Bener-bener dah,' kesal Willi.
Tak lama ponsel Leon berbunyi. Leon langsung mengangkat ponsel jitu sambil menyapa orang yang berada di seberang sana, "Halo.''
"Leon... gue udah nangkep pelakunya,'' seru Rinto.
"Oke... bawa segera ke markas. Kita ketemu disana,'' sahut Leon.
Leon segera mematikan ponselnya dan mengajak Willi pergi dari sana. Namun ketika mereka pergi ada seorang pria berbadan tegap dan kekar mendekatinya. Pria itu tersenyum devil dan memukul kepala Leon.
Leon yang merasa akan dipukul langsung menghindar. Leon segera menendang pria itu hingga jatuh tersungkur. Kemudian Leon menatap pria itu sambil tersenyum iblis, "Hey... bung! Jangan buat kekacauan di sini. Kamu tahu di sini adalah area tempat umum. Aku enggak mau imageku yang sudah dibangun hancur karena orang sampah sepertimu!"
Wlli yang merasakan tidak ada Leon di sampingnya langsung membalikkan badannya. Willi melihat Leon yang dihadang oleh seseorang. Ia segera mendekat dan menatap wajah pria itu. Willi membisiki sesuatu ke telinga Leon. Hingga akhirnya Leon menganggukan kepalanya sambil tersenyum devil.
Pria itu langsung berdiri sambil menatap tajam. Dalam tatapannya pria itu ingin membunuh Leon dan Willi. Kemudian Leon mendekatinya sambil bertanya dengan suara lantang, "Ada apa bung? Tiba-tiba saja Anda menyerang kami.''
__ADS_1
"Berikan Stella padaku! Jika tidak aku yang akan menghabisi kalian!" gertak pria itu.
"Ada urusan apa kamu dengan Stella?" tanya Leon.
"Bukan urusanmu! Sekarang berikan Stella padaku!" geram pria itu lagi.
"Oh... kamu memaksaku untuk memberikan Stella! Ok... aku sudah lama tidak bertarung! Jangan harap kamu akan selamat dari genggaman tanganku!" geram Leon.
"Kalau begitu kita bertarung!" ajak pria itu semakin berapi-api.
"Baiklah,'' balas Leon.
Pria itu segera menyerang Leon dengan membabi buta. Namun Leon tetap diam dan membaca arah serangan lawannya. Dengan tenangnya Leon melihat serangan demi serangan. Akan tetapi pria itu tidak dapat memukul Leon sama sekali. Pria itu geram dan mencari kelemahan Leon. Lalu pria itu...
BUGH!
Hanya sekali pukul dari Leon pria itu jatuh tersungkur. Leon menatap pria itu sambil jongkok dan berkata, "Kamu salah cari lawan bung. Lain kali cari lawan yang sepadan.''
Setelah melihat pertarungan yang menurut Willi aneh itu, mereka menunggu para pengawal untuk mengamankan pria itu. Willi tersenyum kepada Leon sambil berkata, "Semakin hari ilmu tenaga dalam kamu semakin hebat."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi sama Stella. Yang aku tahu kemarin rumah sakit diserang oleh orang tidak dikenal dan ingin menculik Stella. Kami kewalahan menghabisi mereka. Karena orang itu memakai obat dengan dosis tinggi,'' ucap Willi.
Di rumah sakit, rombongan Gio datang dan memenuhi lorong itu. Gio menatap Lampard yang sepertinya bingung. Gio langsung memukul pundak Lampard sambil menggelengkan kepalanya, "Kenapa kamu seperti orang bingung?"
"Aku tidak apa-apa kak,'' jawab Lampard.
"Kenapa?" tanya Gio.
"Aku bersalah sama Alexa. Aku tidak ingin membuat ketiga cucuku ketakutan,'' jawab Lampard.
"Kamu enggak salah dengan masalah ini. Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Gio.
"Gio benar. Mereka hanya menyerang Stella. Kamu tahu masalah ini semakin pelik buat Stella,'' hibur Nano.
"Apakah kita akan melepaskan Stella begitu saja?" tanya Lampard.
__ADS_1
"Sebelum kita bahas biarkan Martin membawa mereka ke dalam. Biarkan mereka diperiksa lalu diambil darahnya,'' suruh Nano.
"Baik kak,'' balas Martin.
Martin segera membawa mereka ke ruangan Raka. Namun sebelum kesana mereka dipanggil oleh Raka saat keluar dari ruangan operasi.
"Aku enggak mau kamu melepaskan Stella. Kamu tahu Scar, Ed dan Sean sangat menginginkan Stella menjadi temannya,'' jawab Gio.
"Aku stres Gio. Jika Stella berada di dekat mereka, maka mereka tidak akan aman. Jika Stella kita lepaskan bagaimana Stella akan hidup tenang?'' tanya Lampard yang menarik rambut pirangnya itu.
"Bukannya dari dulu kita hidup mencekam seperti ini?" tanya Nano.
"Bagi kita sudah terbiasa. Lalu mereka? Mereka masih kecil dan belum tahu apa-apa. Jika mereka melihat kejadian seperti tadi, apa yang ada dalam pikiran mereka?'' tanya Lampard.
"Papa Lampard benar. Kita harus memikirkan psikis anak-anak. Mereka masih terlalu kecil untuk melihat hal itu. Aku takutnya mereka akan mengalami trauma dan ketakutan hingga dewasa nanti,'' jelas Nathalie.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Lampard sambil memandang mereka.
"Melepaskan atau mempertahankan! Jawabannya itu saja,'' sahut Martin yang baru saja datang.
"Kak... Ada enggak opsi yang lain?" tanya Nathalie.
"Tidak ada," jawab Martin dengan cepat.
Lampard memejamkan matanya sambil memikirkan jawaban sesungguhnya. Namun di kepalanya hanya ada dua jawaban. Dan Lampard harus memilihnya salah satu. Memang kedua opsi itu sangat sulit dipecahkan. Karena masalah Stella ada kaitannya dengan dunia mafia.
"Kamu tahu masalah ini ada kaitannya dengan Exodus?" tanya Martin.
"Ya... Kamu benar. Tapi sebelum Stella muncul kita sudah berurusan dengan Exodus," jawab Lampard.
"Memang benar sebelum ada Stella kita sudah memiliki kasus sama Exodus beberapa bulan terakhir ini. Mereka yang menyerang lebih dulu. Tapi kalau ada kaitannya dengan Stella baru-baru ini kan. Jadi jangan menyimpulkan masalah ini dengan Stella," jelas Gio.
"Cukup rumit dan membingungkan," celetuk Nano yang sedari tadi hanya mendengarkan mereka berbicara.
"Ada yang perlu kita cari tahu," sahut Nathalie.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Gio.