
"Kan sudah aku bilang. Kalau aku tidak pernah berpacaran sama sekali. Kamu harus mengerti aku. Dan Aku akan mengerti dirimu," jawab Asmoro sambil mengajak Stella pergi dari basement.
Di tempat lain, seorang Pria yang usianya kira-kira dua puluh delapan tahun sedang menikmati anggur. Pria itu sedang menatap layar ponselnya. Tiba-tiba saja ada seorang pria berbaju hitam mendekatinya. Pria itu membungkuk sambil memberikan hormat, "Selamat malam Tuan Farrel."
"Malam bro. Kamu itu nggak usah hormat-hormat seperti itu. Kita semua sama. Kamu dan aku adalah bawahan Kak Gio. Memangnya ada apa?" tanya Farrel yang kesal melihat pria itu.
"Kamu kan sudah naik tahta. Bukan seorang pengawal lagi," ucap pria itu.
"Priyono," sahut Leon sambil membawa gelas yang berisikan bir.
"Apa tuan?" tanya Priyono nama pria itu
"Kenapa sih kamu itu selalu memanggil kita sebagai tuan? Sudah aku bilang kalau kita itu adalah sama. Kamu tahu Black Horizon itu sifatnya kekeluargaan. Tidak ada yang namanya pengawal maupun atasan. Kak Gio maupun lainnya sudah menganggap kalian itu sebagai keluarga besarnya. Begitu juga dengan aku dan juga Farrel," jawab Leon sambil memberikan nasehat agar tidak memanggil Tuan kepada Priyono.
"Duduklah. Ngapain juga kamu hormat-hormat seperti itu!" perintah Farrel.
Akhirnya Priyono pun menuruti permintaan Farrel. Lalu Priyono duduk di sofa single. Dirinya menatap Farrel sambil bertanya, "Apakah di sini tidak ada perempuan sama sekali?"
"Aku sudah memutuskan untuk tidak mengajak perempuan-perempuan ke sini lagi. Kamu tahu gara-gara aku mengajak mereka. Aku mendapatkan ceramah dari Kak Gio maupun kak Winda. Kedua Kakak besar itu sangat marah sekali. Jika mereka mengetahui kalau aku berbuat tidak baik seperti itu," jelas Farrel.
"Ada benarnya juga nasehat dari kakak besar. Kamu juga terlalu over.setiap hari kamu selalu membawa perempuan-perempuan untuk dimasukkan ke dalam rumah ini. Aku harap kamu sadar akan akibatnya," jelas Priyono yang mendukung dua Kakak besarnya itu.
"Aku malah disuruh memeriksa keadaan tubuhku ke Kak Ibra. Semoga tidak ada apa-apa di dalam tubuhku ini," ucap Farrel.
"Semoga kamu baik-baik saja. Oh iya... Aku sudah mengirimkanmu sebuah video," sahut Priyono.
__ADS_1
"Video apa?" tanya Farrel yang penasaran sekali dengan video Priyono.
"Video yang di mana rumahmu didatangi oleh seseorang. Tapi mereka tidak jadi masuk ke dalam. Karena kamu sedang berada di sini," jawab Priyono yang sedang bersandar di sofa.
"Kenapa juga ada yang mencariku?" tanya Farrel yang meraih ponselnya lalu melihat video kiriman dari Priyono.
"Ujung-ujungnya pasti nyari Stella. Aku tahu gadis itu sedang dicari oleh seseorang," celetuk Leon yang dari tadi diam saja.
"Paling males jika berurusan dengan itu. Aku sudah bilang. Kalau aku hanya membantunya saja tanpa perlu pamrih. Kenapa juga banyak orang yang mencariku? Ada apa dengan Stella sebenarnya?" Tanya Farrel.
"Lebih baik kamu tanyakan saja pada Kak Asmoro. Aku takut salah jika menjelaskan siapa Stella sebenarnya," jawab Leon sambil memberi saran.
"Selama Stella tidak memiliki kasus kepadaku. Aku tidak akan mengusik gadis itu. Kehidupan pribadinya aku tidak begitu jelas juga. Dia memang bekas pegawaiku dan asistenku ketika masih bekerja denganku. Selama dia bekerja, Dia nggak pernah membuat masalah sekalipun. Aku juga sangat care kepadanya. Tapi aku care hanya sebagai atasan dan bawahan," jelas Farrel.
"Tidak ada yang seru di sana. Di sana hanya ada para pengawal sedang latihan besar-besaran. Oh ya ada kabar... Kak George akan ke sini dan menduduki sebuah jabatan tinggi. Otomatis aku dan kalian akan berada di bawah naungannya Kak George," ucap Leon.
"Orang itu lagi. Sering sekali kami berdebat tiada habisnya. Tapi aku sangat merindukannya. Kenapa kak George ke sini?" tanya Farrel. "Kenapa kak George ke sini?"
"Karena Black Horizon di Eropa mati untuk sementara waktu. Di Eropa sudah dikuasai oleh Exodus. Mau tidak mau Black Horizon harus dibunuh sementara waktu."
"Kelompok itu lagi. Semakin hari kelompok itu semakin menjadi. Bahkan di negara Asia mereka sudah mendirikan banyak markas termasuk di negara ini," jelas Farrel.
"Sepertinya kamu ingin menyerangnya ya?" tanya Leon.
"Tentu tidak. Jika aku menyerangnya berarti bunuh diri. Aku tidak ingin menjadi orang bodoh hanya karena kelompok sialan itu," jawab Farrel.
__ADS_1
"Kalau begitu kita ke markas. Kamu nggak pernah ke markas. Sekali-sekali kamu itu setor muka kepada para petinggi Black Horizon dan lainnya!" ajak Leon yang kesal terhadap Farrel karena tidak pernah hadir di markas.
Mau tidak mau Farrel akhirnya menuruti keinginan Leon. Ia sudah lama tidak pergi ke markas. Jujur ia lebih memilih untuk menjadi mata-mata ketimbang hadir di markas.
Sesampainya di kamar apartemennya Asmoro. Stella memandangi ruangan apartemen tersebut. Gadis itu hanya terdiam dan terpaku. Secara tidak sadar Stella melihat ruangan tamu seperti lapangan bola yang cukup luas. Barang-barang di sana memang tertata rapi. Beberapa foto penghargaan membuat Stella sangat penasaran sekali. Gadis itu mendekatinya dan melihat satu persatu penghargaan Lampard.
Ada senyuman manis yang terbit dari bibir mungil Stella. Gadis itu ternyata memuji Stella karena kehebatan di dunia bisnis. Dirinya membaca satu persatu penghargaan itu. Sungguh bahagia Stella bisa bertemu dengan orang penting di dunia bisnis.
Asmoro yang berada di kamar selesai mengganti bajunya. Dirinya memang tidak menyukai memakai baju formal. Ia lebih memakai baju biasa agar terlihat santai. Setelah itu Asmoro keluar dari kamar dan melihat Stella.
"Lagi ngapain kamu?" tanya Asmoro sambil mendekati Stella.
"Aku sedang melihat beberapa penghargaan darimu. Aku sangat bangga bertemu dengan orang penting sepertimu," jawab Stella dengan jujur.
"Itu belum seberapa. Masih banyak lagi yang tersimpan di dalam ruangan kerjaku. Aku memang sengaja menyimpannya dan tidak memasang di sana," ucap Asmoro yang merendah.
"Sepertinya aku harus belajar darimu. Aku ingin menjadi orang hebat sepertimu. Tapi aku memiliki pendidikan rendah. Tidak mungkin aku bisa menjadi orang hebat," sahut Stella yang bersedih.
"Jangan pernah kamu merendahkan dirimu seperti itu. Siapa saja pasti bisa menjadi orang hebat. Kamu adalah sosok wanita yang sangat kuat sekali. Mulai sekarang aku minta kamu menjadi wanita tangguhku. Kamu harus berani menerima kenyataan. Karena hidup di muka bumi ini sangat kejam sekali," pinta Asmoro yang menguatkan Stella.
"Rasanya nyaman tinggal di sini," puji Stella.
"Ini rumahku satu-satunya. Aku tidak memiliki rumah lagi. Kalau kamu jadi istriku. Kamu akan tinggal di sini bersamaku. Atau kamu boleh memilih sebuah rumah yang kita bisa tinggalkan bersama," bisik Asmoro.
"Kapan aku jadi istrimu?" tanya Stella.
__ADS_1