Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Permintaan Sean.


__ADS_3

"Kekasih papaku adalah mamaku sendiri," jawab Edward.


Stella malah tersenyum manis mendengar jawaban dari Edward. Entah kenapa dirinya sangat menyukai celotehan-celotehan dari Edward maupun Sean.


Sementara Martin dan Alexa sedang berdiskusi dengan Asmoro. Mereka mendiskusikan tentang brand makanan baru. Alexa sangat menginginkan makanan kering yang bisa dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat. Begitu juga dengan Martin. namun Martin meminta makanan itu tidak akan bisa membuat badan menjadi gemuk.


Selama berdiskusi mereka membiarkan anak-anak bermain dengan Stella maupun Adelia. Kemudian mereka memutuskan untuk berkumpul di ruangan Ian. Saat berjalan menuju ke sana, Sean menggandeng tangan Stella sambil bertanya, "Apakah kakak mau menjadi pacar kakekku?"


Sontak saja Stella terkejut. Permintaan Sean bagi dirinya Sangat aneh sekali. Gadis manis itu pun menggelengkan kepalanya. Ian tidak ingin membuat Sean kecewa.


Tidak sengaja Sean mendapatkan peralatan dari Stella. Namun dirinya tidak gentar untuk menawarkan sang kakek agar diterimanya.


"Kenapa Kakak tidak mau terima kakek? Padahal kakekku sudah menjadi pria yang sangat tampan sekali," rayu Sean.


"Maafkan aku Sean. Aku masih belum bisa menerima kakekmu itu. Jadi maafkanlah Aku," ujar Stella.


"Kalau begitu kakak harus menerima kakek meskipun lama sekali," ucap Sean yang agak memaksa.


Mau tidak mau Stella harus berkata iya. Jawaban iya hanya untuk melegakan hati bocah kecil itu. Namun dirinya teringat akan kejadian pada pagi hari saat berada di dalam mobil. Stella langsung menggelengkan kepalanya agar melupakan kejadian tersebut.


Sesampainya di ruangan Ian, mereka bertemu dengan Willi. Sean yang tidak sengaja melihat Willi langsung menyapanya, "Paman Willi."


"Iya Sean," sahut Willi dengan ramah.


"Apa kabar paman? Paman dari mana saja? Kok kita jarang bertemu," tanya Sean.


"Paman sekarang berada di restoran mamamu. Di sana Paman menjaga restoran karena kakak Wika sedang berlibur mengunjungi kedua orang tuanya. Kenapa kamu jarang ke sana sekarang?" tanya Willi lagi.


"Maaf paman, aku kan sekolah. Aku tidak ada yang mengantarkan ke sana. Kalau ke sana aku harus bersama mama atau papa. Paman tahu kan kalau mereka sedang sibuk sekarang untuk mengurusi makanan baru," jawab Sean.


"Apakah itu benar?" tanya Willi sambil membuka pintu. "Masuklah ke dalam."

__ADS_1


Willi mempersilakan Stella dan kedua bocah kecil itu masuk ke dalam. Lalu ia mengikutinya dari belakang sambil membawa paper bag.


"Bang Ian," seru Willi yang melihat Ian sedang bercanda dengan Scarlett.


"Oh iya," sahut Ian sambil berdiri berjalan menuju Willi dengan wajah ceria. "Kamu beli berapa?"


"Banyak bang," jawab Willi sambil menyerahkan paper bag itu.


"Kalau begitu makasih ya," balas Ian yang mengambil paper bag itu.


"Sebentar bang."


"Ada apa memangnya?"


"Ada kabar dari keluarganya John."


"Lebih baik kita ngomongnya di luar saja. Aku nggak mau Adelia dan Stella mendengarnya. Karena mereka sedang bersama anak-anak."


"Ada apa?" tanya Ian.


"Sewaktu Aku menuju ke sini, aku bersama Peter mampir membeli pesananmu. Setelah itu aku memutar dan memotong jalan agar cepat sampai. Tiba-tiba saja aku melihat ada pemadam kebakaran. Mereka sedang memadamkan api di kawasan rumah mewah. Dengan keponya aku menghentikan mobil dan melihat kebakaran itu. Ternyata lokasi kejadiannya itu adalah rumah John," jelas Willi yang membuat Ian terkejut.


"Kamu serius dengan berita itu?" tanya Ian yang mengerutkan keningnya.


"Iya bang aku serius. Rumah milik Stella sudah terbakar habis. Aku tidak bisa membayangkan, gimana rasanya jika Stella tahu. Rumah itu adalah rumah masa kecilnya Stella. Meskipun kehidupan di sana sangat gelap sekali," jawab Willi.


"Apa yang menyebabkan kebakaran itu?" tanya Ian.


"Dari pihak kepolisian, rumah itu sengaja dibakar oleh seseorang. Tapi orang itu tidak menampakan wajahnya. Kemungkinan besar orang itu adalah musuh keluarga tersebut. Selama ini kita tahu kalau keluarga mereka memiliki masalah. Bahkan banyak kasus yang sudah diciptakannya dan merugikan banyak orang. Itu hanya analisisku saja," jelas Willi.


"Ya kamu benar. Sudah banyak orang yang menjadi korbannya. Kalau begitu aku akan memberitahukan Stella pelan-pelan saja. Jujur Stella akan sedih karena rumah itu sudah menjadi abu," ucap Ian.

__ADS_1


"Tapi aku berpesan, jangan diberitahukan kepada ketiga bocil itu. Jika sampai tahu habislah kita," pesan Willi.


"Sebelum kamu pergi Aku ingin bertanya. Apakah para pengawal sering melihat drakor?" tanya Ian.


"Sepertinya sih iya. Jangankan mereka. Aku sendiri dan lainnya sering lihat drakor rame-rame. Apalagi drakornya itu bergenre action," jawab Willi yang tersenyum manis membuat Ian frustasi. "Kenapa memangnya?"


"Scarlet sekarang mulai mengenal anggota Boys Before Flowers. Jujur aku sendiri nggak paham soal itu. Dia mengaku melihat film itu bersama para pengawal," jawab Ian.


"Sepertinya kamu harus ikut nimbrung menonton mereka. Aku saranin film itu sangat bagus sekali," saran Willi. "Ya udah deh bang. Aku pengen ke markas. Di sana ada barang yang baru saja datang. Aku harus mengecek kualitas barang tersebut."


"Oke. Kalau ada barang yang bagus. Berikan pada Kak Asmoro, Kak Gio, kak Winda, kak Martin dan juga Alexa. Jika ragu kamu bisa meminta Jacob maupun Imron untuk memeriksanya kembali. Aku tahu mereka sangat lihai memilih barang-barang bagus," tambah Ian.


"Aku nggak bisa menghubungi mereka. Aku tidak ingin mengganggu mereka. Karena mereka sedang menciptakan sebuah virus baru beserta antivirusnya," jelas Willi.


"Hubungi mereka saja. Karena aku sendiri tidak tahu kapan ke sana. Pekerjaanku semakin lama semakin banyak. Sebentar lagi akan ada launching produk baru yang akan dipasarkan secara serempak di sini maupun di luar," imbuh Ian.


"Aku usahakan bang," balas Willi.


Setelah terjadi pembicaraan, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke posisi masing-masing. Willi yang rencananya ingin ke markas langsung menancapkan gasnya menuju ke sana. Sedangkan Ian melanjutkan pekerjaannya dan mengecek seluruh pengeluaran hari ini.


Meskipun tempatnya sangat berisik sekali, Ian sangat bangga mendengar teriakan anak-anak itu. Sambil bekerja Ian membayangkan memiliki keluarga yang lengkap dan utuh. Namun dirinya paham akan keadaan Adelia.


Waktu bergulir dengan cepat. Siang hari sudah menjadi sore. Kemudian mereka mulai bersiap-siap untuk meninggalkan kantor.


"Hari ini pekerjaan telah menguras semua tenagaku. Beberapa hari ini aku akan memutuskan untuk lembur," ucap Ian yang didengarkan oleh Adelia.


"Kamu serius ingin lembur?" tanya Adelia.


"Iya aku serius. Tapi aku nggak lembur di kantor. Kemungkinan besar aku lembur di apartemen," jawab Ian.


"Kenapa nggak di rumahnya Kak Gio? Jika kamu berada di rumah itu. Aku bisa membantumu meneliti semua laporan yang sudah diserahkan oleh beberapa divisi," jelas Adelia yang ingin memperingan pekerjaan Ian.

__ADS_1


"Apakah kamu yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Ian.


__ADS_2